Thursday, 16 December 2010

Chapter 5: the Rondo of Thunder God & Flame Emperor

CHAPTER 5 : THE RONDO OF THUNDER GOD & FLAME EMPEROR

“bukan kah aku yang kau inginkan?” ucap Maria seraya mengarahkan revolvernya ke arah Siegfred, kemudian Siegfred tertawa.

“nee-san apakah kau yakin bisa menyakiti adik mu ini?” Tanya Siegfred seraya tersenyum, tangan Maria bergetar dan sama sekali tidak menekan pelatuk revolver miliknya.

“sudah ku duga tidak bisa kan?” ucap Siegfred yang muncul di depan Maria seraya mengangkat broadswordnya, dan mengayunkannya ke arah Maria.

“ojou-sama!!!” teriak Eliza yang berusaha bangun tetapi tidak bisa.

“cish Maria-tan” teriak Wilson yang juga berlari ke arah Siegfred, tetapi tiba-tiba muncul sesosok binatang yang terjun dari langit dan berdiri dengan kedua kakinya, binatang tersebut berbentuk banteng, dia juga memilik tangan seperti manusia, mahluk tersebut menahan glaive Wilson.

“jangan ganggu tuan Siegfred…” ucap mahluk tersebut.

“kau beastman, Reigner?!!” ucap Wilson yang berusaha menarik glaivenya, Natsume yang melihat Maria akan di tebas berusaha menggerakan tubuhnya tetapi luka yang terdapat di sekujur tubuhnya membuatnya susah untuk bergerak.

“tenang saja nee-san kau tidak akan mati, aku hanya perlu membuat mu tidak bisa melawan!!” teriak Siegfred.

“Maria!!!” teriak Natsume, tiba-tiba di depan Siegfred muncul siluet hitam, siluet tersebut menahan serangan Siegfred.

“kau?!!” ucap Siegfred terkejut yang melihat pria berambut hitam, dan berseragam hitam di depannya.

“Ace?!” ucap Natsume melihat Ace yang menahan serangan Siegfred.

“Ace? Jangan-jangan kau Thunder God Sarchex yang seharusnya menghilang beberapa tahun yang lalu?!” teriak Siegfred.

“hah siapa dia? Aku tak mengenalnya” ucap Ace seraya menjedukan kepalanya ke kepala Siegfred membuat Siegfred terdorong, kemudian Ace menebaskan pedangnya menciptakan hempasan angin yang besar dan membuat Siegfred terdorong.

“Thunder God apa maksudnya?” Tanya Natsume yang kebingungan, kemudian Eliza tersenyum.

“ada empat orang overlord yang mendapat julukan sesuai nama element dasar di dunia ini, mereka mendapatkan julukan tersebut karena mereka seperti memiliki kemampuan dari masing-masing elemen, Thunder God Sarchex, Flame Emperor Ciel, Earth Cluster Reigner, dan Water Mistress Aria, dua tahun lalu Sarchex menantang Ciel, tetapi dia di kalahkan dengan mudah oleh Ciel, karena itu dia membuang julukan Thunder God sebelum dia berhasil mengalahkan Ciel, itulah yang dia katakan waktu itu” ucap Eliza, kemudian Ace menghilang, Siegfred yang terkejut mencoba mencari keberadaannya tetapi tidak menemukannya.

“aku di sini~” ucap Ace dari belakang Siegfred seraya menebas punggung Siegfred, Siegfred meringis seraya menebaskan broadswordnya ke belakang tetapi Ace sudah kembali menghilang.

“hei kau lihat ke mana!!” teriak Ace yang menendang Siegfred dari atas, Siegfred kembali menebaskan pedangnya ke atas, dan Ace kembali menghilang.

“hah? Ada apa kau tidak bisa mengejar ku?” Tanya Ace yang kembali muncul di belakang Siegfred dan kembali menebas Siegfred.

“kau!!!” teriak Siegfred menghantamkan pedangnya ke tempat Ace yang sudah kembali menghilang.

“cuman segini kemampuan mu?” ucap Ace yang muncul di depan Siegfred dan menghantam muka Siegfred menggunakan kakinya dan membuatnya terhempas, Reigner yang melihat Siegfred terlempar mencoba menangkapnya sampai tiba-tiba sebuah pisau melesat ke arahnya dan tertancap di tanah dekat kakinya, Reigner terkejut dan melihat ke arah pria berambut merah yang berdiri di atas pagar pembatas atap sekolah.

“Ciel!!” teriak Reigner yang terlihat kesal.

“kau yang mengatakan agar tidak menganggu Siegfred kan? Kalau gitu ku katakan hal yang sama Reigner, jangan ganggu Sarchex…” ucap Ciel dengan tenang, kemudian Reigner tertawa.

“hehehe baiklah kalau itu memang mau mu! Aku juga ada urusan dengan mu, orang-orang mengatakan bahwa di antara kita berempat kau yang terkuat, tapi kali ini akan kubuktikan kalau aku lebih kuat dari mu!!” teriak Reigner yang melompat ke arah Ciel, kemudian Reigner menghantamkan tinjunya ke arah pagar tempat Ciel berdiri, Ciel melompat dan menginjak kepala Reigner.

“dasar bodoh…” ucap Ciel seraya melempar pisaunya ke arah Reigner, pisau tersebut meledak begitu mengenai Reigner, Reigner meraung dan berbalik ke arah Ciel.

“Ciel!!!” teriak Reigner yang berlari ke arah Ciel.

“orang-orang itu salah… bukan aku yang kuat, tapi kau yang lemah…” ucap Ciel seraya mengeluarkan dua pisau di tangannya, Ciel melempar kedua pisau itu ke kaki Reigner, kedua pisau tersebut menahan dan menusuk kaki Reigner, membuat Reigner tidak dapat berjalan.

“overdrive , first tier, Meteor Blast…” ucap Ciel seraya melompat ke atas dan melempar kedua pisaunya ke arah Reigner, kedua pisau tersebut di lapisi oleh aura bewarna merah menyala, ketika kedua pisau tersebut menusuk Reigner, kedua pisau itu meledak menciptakan ledakan yang jauh lebih besar dari ledakan sebelumnya Reigner kembali meraung dan terjatuh, setelah itu Reigner mencoba kembali berdiri.

“sudah Reigner hentikan! Untuk sementara kita mundur dulu!” teriak Siegfred, Reigner terlihat tidak setuju dengan ucapan Siegfred, tetapi dia tetap berjalan ke arah Siegfred, keduanya di selimuti oleh cahaya putih.

“Ciel berikutnya kita bertemu akan ku buktikan bahwa aku jauh lebih kuat dari diri mu!!” teriak Reigner.

“tunggu!!” seru Wilson seraya berlari ke arah Siegfred dan Reigner, tetapi keduanya sudah menghilang di telan cahaya tersebut, Wilson berhenti dan terjatuh.

“sial!!” teriak Wilson seraya memukul tanah.

“Ciel aku tidak mengira kau akan datang!” teriak Ace seraya berjalan ke arah Ciel dan tersenyum, tetapi Ciel menatap Ace dengan sinis seraya berjalan meninggalkannya.

“Karena kalau aku tidak datang, pelawak seperti kalian berdua tidak akan bisa apa-apa” ucap Ciel yang pergi meninggalkan Ace dan Wilson.

“apa kau bilang?!! Hei urusan kita juga belum selesai!!” teriak Ace yang hanya bisa melihat Ciel pergi.

Natsume merasa kesadarannya mulai hilang, dia menutup matanya, sebelum terjatuh, dia dapat mendengar suara Maria dan Eliza yang memanggilnya, kemudian semua yang ada di sekelilingnya menjadi gelap.

***

Natsume membuka matanya dia berada di kegelapan pekat kemudian dia mendengar suara seorang perempuan.

“di mana ini? Kenapa aku di sini?”

Natsume yang mendengar suara tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri tetapi dia tidak bisa melihat apa-apa.

“kenapa aku lahir? Tidak… aku tidak ingin lahir jika untuk hidup saja aku harus membebani orang itu”

Natsume mencoba memanggil pemilik suara tersebut.

“siapa di sana!!” teriak Natsume, tetapi tidak ada jawaban, setelah Natsume terdiam, Natsume kembali mendengar suara tersebut.

“kau? Kenapa kau di sini? Kau tidak seharusnya berada di sini!”

“apa maksud mu siapa kamu?”

“aku adalah diri mu…”

“hah? Di mana kau berada?” Tanya Natsume lagi seraya mencoba berjalan, tetapi tiba-tiba kegelapan di bawahnya mulai menelan kakinya dan perlahan-lahan menelan Natsume.

“apa yang terjadi?! Graah!!” teriak Natsume yang tertelan oleh kegelapan tersebut sepenuhnya.

***

Natsume terbangun dan terkejut menyadari dirinya tertidur di atas sebuah kasur, kemudian dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, dan dia melihat seluruh tubuhnya yang di perban, Natsume mencoba menggerakan tangannya, tetapi dia merasa tangannya di tahan oleh sesuatu, kemudian Natsume menoleh dan melihat Maria yang tertidur dan memegang tangannya menggunakan kedua tangan miliknya, muka Natsume memerah melihat Maria yang tertidur.

“hee apa yang kau pikirkan sampai muka mu jadi merah begitu?” ucap sebuah suara dari belakang Natsume, Natsume terkejut dan melihat Eliza yang tersenyum dan berdiri di dekatnya.

“ah maaf lanjutkan imajinasi mu aku tidak akan menganggu kok” ucap Eliza sambil tertawa kecil.

“a-aku tidak memikirkan apa-apa!!” teriak Natsume sambil membuang mukanya dari Eliza.

“oh ya? Kau yakin? Bukan kah kau sudah menyatakan cinta mu ke ojou-sama?” Tanya Eliza, muka Natsume semakin memerah, dia teringat kembali dengan kejadian siang tadi.

“a-apa maksud mu? aku tidak pernah melakukan itu!!” teriak Natsume lagi.

“oh ya? Bukan kah itu kau yang mengatakan cinta kepada perempuan yang dulu kau temui dua belas tahun lalu, di depan perempuan itu sendiri dan lucunya tanpa kau sadari?” ucap Eliza yang meledek Natsume.

“b-berhenti meledek ku!!”

Kemudian Natsume merasakan gerakan di tangannya, kelihatannya Maria akan bangun kapan saja, kemudian Eliza tertawa dan berjalan ke arah pintu ruangan tersebut.

“ahahaha kau memang sangat menyengkan untuk di goda” ucap Eliza seraya membuka pintu ruangan itu.

“oh ya Natsume… menurut ku kalau kau ada masalah, ada baiknya kau menceritakan itu ke orang lain, kau tahu?” ucap Eliza yang melihat ke arah Natsume sebelum keluar, Natsume yang mendengar itu terdiam, kemudian Eliza pergi meninggalkan Natsume, Maria terbangun dari tidurnya dan melihat Natsume.

“kau sudah sadar Natsume?” Tanya Maria yang mengucek matanya, rambutnya sudah di gerai kembali, dan kelihatannya dia juga sudah mengenakan contact lensnya.

“kenapa kau tidak pernah memberitahu ku…” ucap Natsume seraya memandang ke arah lain, ekspresi Maria berubah, terlihat ekspressi bersalah di mukanya.

“dua belas tahun lalu… kecelakaan itu… semuanya aku penyebabnya… karena aku lah kau tidak sadarkan diri selama dua belas tahun”

“itu bukan salah mu…”

“tapi kalau seandainya kau tidak mengejar ku…”

“sudah ku bilang itu bukan salah mu…”

“kalau saja kau tidak bertemu deng—“

“sudah ku bilang kan!! Itu bukan kesalahan mu!!” teriak Natsume tiba-tiba, Maria terdiam mendengar teriakan Natsume.

“itu bukan salah siapa-siapa, itu salah ku yang tidak hati-hati… lalu yang di katakan Eliza itu…” ekspresi Maria memperlihatkan keterkejutan.

“dia tidak menceritakan apa-apa kan?” Tanya Maria.

“apa yang kau lakukan dua belas tahun lalu Maria?! Kenapa aku masih hidup?!” bentak Natsume, Maria kembali terdiam.

“begitu… sepertinya Eliza menceritakan semuanya… mengertilah Natsume… aku tidak ingin kau mati jadi aku…”

“memberikan sebagian kekuatan mu atau kutukan mu?” Tanya Natsume, Maria terkejut mendengar ucapan Natsume, perlahan dia meneteskan air matanya, Natsume bangun dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu ruangan tersebut.

“aku ingin mencari udara segar…” ucap Natsume seraya mengenakan seragamnya dan membanting pintu, Maria hanya terdiam, dan menangis .

Ciel terdiam dan bersender di luar jendela ruangan tersebut, dia mencuri dengar pembicaraan Maria dan Natsume tanpa di sadari oleh mereka berdua, setelah itu Ciel berjalan meninggalkan Maria yang menangis.

***
Natsume berjalan meninggalkan sekolah setelah mengambil tasnya dia izin pulang cepat ke Dave dengan alasan terjatuh dari tangga, dia berjalan di tengah kota Shibuya sendirian di antara ribuan orang yang berlalu lalang di sana, Natsume melihat ke arah vending machine tempat dia membeli kopi untuk Maria dan dirinya kemarin malam, dia membeli sebotol kopi di sana dan duduk di kursi kayu di dekatnya, seorang pria setengah baya berambut pirang dan berkaca mata duduk di sebelahnya.

“yo anak muda boleh ku duduk di sini?” ucap pria tersebut tersenyum, Natsume hanya terdiam dan memandang pria itu dengan tatapan sinis.

“hah anak muda zaman sekarang tidak ada yang sopan ya?”

“apa mau mu? ku rasa kau tidak hanya duduk di sebelah ku hanya karena ingin duduk kan?”

“wow! anak muda zaman sekarang juga hebat ternyata”

“heh lame, jadi apa yang kau mau?”

“kau sedang banyak pikiran kan? Mau ku bantu refresing?”

“hah? Buat apa? aku tidak butuh bantuan mu?”

“kalau begitu bagaimana kalau aku bilang kau akan mendapatkan kekuatan yang sama dengan mereka?” ucap pria itu sambil tersenyum, Natsume menjatuhkan minumannya.

“dari mana kau tahu mengenai mereka?” ucap Natsume dengan ekspresi yang terlihat marah dan bisa meledak sewaktu-waktu.

“tidak penting, bagaimana kau berminat?” Tanya pria tersebut, Natsume terdiam, kemudian dia teringat ketidak berdayaan dirinya melihat Maria yang akan di lukai oleh Siegfred.

“baiklah” ucap Natsume, pria tersebut terlihat senang.

“bagus!! Perkenalkan nama ku adalah Blitz! Sekarang bisa kah kau mengikuti ku?” Tanya Blitz, Natsume mengangguk dan berjalan mengikuti Blitz, mereka berjalan menjauhi keramaian kota Shibuya dan menuju sebuah gang kecil di antara dua buah gedung kumuh.

“oh sebelum itu aku ingin memberi tahu mu sesuatu…” ucap Blitz sambil tersenyum.

“ada apa?”

“bisa kah kau ke sini sebentar?” Tanya Blitz, Natsume berjalan ke arah Blitz, dan tiba-tiba Blitz memegang kepala Natsume menggunakan satu tangan dan mengangkatnya, Natsume meronta dan mencoba melepaskan dirinya.

“k! kau!!!” teriak Natsume yang meronta.

“aku ingin memberi tahu mu kalau aku… aku bohong! Wee!!” teriak Blitz seraya menjulurkan lidah.

“a-apa?!!”

“ternyata benar apa yang di katakan Reigner dan Siegfred!! Kau adalah manusia yang penuh oleh penderitaan!! Dan aku sangat bahagia menemui mu!!!” teriak Blitz sambil tertawa, perlahan-lahan asap hitam keluar dari seluruh tubuh Natsume.

“k-kau!!! Apa yang kau mau!!!” teriak Natsume masih mencoba melepaskan diri.

“yang aku mau? mengextract penderitaan mu dan menciptakan binatang peliharaan ku!! lahirlah!!! Nocturnal terkuat!!” teriak Blitz, seketika Natsume merasakan sesuatu menjulur keluar dari dalam hatinya, setelah itu terjadi ledakan asap hitam di tubuh Natsume, tubuh Natsume menjadi lemas dan asap hitam yang keluar dari tubuhnya mulai bergumpal membentuk sesuatu.

“terima kasih atas Nocturnalnya!!” ucap Blitz yang melihat ke arah gumpalan asap hitam seraya menjatuhkan badan Natsume yang tidak berdaya, kemudian Blitz mendengar langkah kaki di belakangnya, Blitz menoleh dan melihat Ciel.

“maaf aku mengganggu mu… tapi kau tidak akan ku biarkan pergi begitu saja… aku butuh informasi dari mu… dari Siegfred…” ucap Ciel.

“siapa kau?” Tanya Blitz, Ciel mengeluarkan salah satu pisaunya.

“Flame Emperror Ciel, orang yang bersumpah akan melindungi Water Mistress Aria, perempuan yang pernah kau jadikan bahan percobaan mu…”

TO BE CONTINUED

“what will happen to the boy? The despair had been extracted, Can the boy face his own nocturne?”

Wednesday, 15 December 2010

Chapter 4: Association Apocalypse

CHAPTER 4: ASSOCIATION APOCALYPSE



Ace berdiri di depan Natsume sambil memegang pedangnya dengan posisi terbalik dan tangan kirinya di kantung celananya, Natsume yang melihat pedang yang di pegang oleh Ace terkejut.



“itu kan senjata tajam? Sejak kapan kau membawanya? Seingat ku kau tidak membawa apa-apa tadi?” Tanya Natsume yang kebingungan.



“tidak ada waktu untuk menceritakannya, kau berlindung lah” balas Ace.



Setelah itu Ace menghilang dan muncul di atas naga tersebut seraya menebas naga itu, naga itu meraung mencoba mengigit Ace, tetapi Ace kembali menghilang dan muncul di bawah perut naga tersebut seraya menebasnya kembali, dan ketika naga itu menghantamkan cakarnya ke arah Ace, lagi-lagi Ace kembali menghilang dan muncul di depan kepala naga itu, Ace menendang kepala naga tersebut dengan kuat, membuat naga tersebut terjatuh dan setelah itu Ace kembali berpindah tempat ke punggungnya kali ini Ace menusuk punggung naga tersebut, naga itu meronta seraya melebarkan sayapnya, Ace kembali berpindah tempat ke daratan dan melompat menjauhi naga tersebut.



“h-hebat… dia seperti bukan manusia gerakannya sama sekali tidak tertangkap oleh mata…” ucap Natsume yang takjub melihat Ace menyerang naga tersebut.



“Ace Sarchex, salah satu dari anggota terkuat di Apocalypse, tittlenya adalah Hero’s Reincarnation” ucap sebuah suara yang di kenal Natsume, Natsume menoleh ke arah asal suara tersebut dan melihat si rambut hijau yang mengedipkan matanya.



“perkenalkan nama ku adalah Eliza Ravenhalt”



“Eliza? Kenapa kau memberitahukan hal itu kepada ku?” Tanya Natsume yang kebingungan.



“itu karena kau juga memiliki kemampuan yang sama dengannya, kau adalah seorang overlord” balas Eliza.



“overlord… aku?” ucap Natsume seraya melihat tangannya.



“tidak kah kau berpikir kenapa kau masih hidup sampai sekarang? Apakah kau kira bertahan hidup itu gratis? Sebagai ganti untuk hidup yang di berikan kepada mu… kehidupan mu sebagai manusia biasa telah berakhir dua belas tahun yang lalu, kau yang sekarang bukan lah manusia, kau yang sekarang memiliki sebagian kemampuan ras ku”



“ras mu… tunggu! Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sekarat dua belas tahun yang lalu?!!”



“bukan sekarat, tapi mati, ya kau sudah mati Natsume Lindwurm” ucap Eliza sambil tersenyum.



“aku mati? Musta—“ kemudian terdengar ledakan dari belakang Natsume, Natsume menoleh dan melihat ke arah Ace yang terhempas ke tanah dan menghantam tanah.



“haah itulah akibatnya karena dia terlalu banyak main-main” ucap Eliza seraya meembody sebuah scytche bewarna hitam, Natsume yang melihatnya terkejut.



“itu sama seperti Ace?” ucap Natsume yang terkejut, kemudian Eliza melesat ke arah naga tersebut dan melompat ke arah kepalanya, seraya menembakan bola api ke arah kepala naga tersebut, naga tersebut kembali meraung dan membalas serangan Eliza dengan cara menembakan napas apinya ke arah Eliza, Eliza menciptakan tembok es raksasa yang menahan serangan tersebut, setelah itu Eliza menebas tembok es tersebut, membuatnya pecah dan serpihannya berhamburan ke naga itu, naga itu meraung, darah bermuncratan dari luka naga tersebut.



“sekarang Ace!!”



“cish dasar tante girang… aku tidak perlu bantuan mu” ucap Ace seraya berlari sambil menyeret pedangnya di tanah, gesekan pedang tersebut menimbulkan api besar yang mengikuti laju gesekan pedang Ace.



“overdrive!! first tier!! Blade of Punishment!!” teriak Ace seraya menebaskan pedangnya ke atas dan mengirimkan serangan api berukuran besar ke arah naga tersebut, serangan tersebut memotong tubuh naga itu menjadi dua, setelah itu naga tersebut berubah menjadi asap hitam yang menghilang perlahan-lahan, Eliza mendarat di dekat Ace dan berjalan menuju Ace.



“Ace-kun tadi kau memanggil ku apa?” ucap Eliza sambil tersenyum.



“tante girang?” jawab Ace dengan polos.



“haah? Aku tidak mendengarnya?” balas Eliza lagi, terlihat ekspressi marah di mukanya.



“err maaf menganggu tapi aku tidak melihat Eliza lebih tua dari ku malah aku rasa dia lebih muda… maksud ku bukan kah dia baru berumur enam belas tahun?” Tanya Natsume yang kebingungan.



“kau saja yang belum tahu, sebenarnya dia ini berumur empat pu—“ tiba-tiba sebuah sabit tertebas ke arah Ace dan hampir memotong kepala Ace, Ace yang terkejut langsung tidak melanjutkan kalimatnya.



“maaf tangan ku kepleset” ucap Eliza sambil tersenyum.



“wanita ini menakutkan…” pikir Ace yang memegang lehernya yang berdarah.



“lalu apa yang kau maksud dengan aku sudah mati?” ucap Natsume yang berjalan ke arah Eliza dan Ace, Eliza juga berjalan mendekati Natsume, memegang dagunya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Natsume, wajah Natsume terlihat memerah melihat wajah Eliza dari dekat.



“nee Natsume-chan menurut ku aku ini apa?” Tanya Eliza sambil tersenyum.



“manusia bukan?”



“sayangnya kau salah, aku bukan manusia, aku dracus, atau orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan vampire, lihat…” ucap Eliza seraya membuka mulutnya dan memperlihatkan dua taring kecil yang menonjol dari deretan giginya.



“sudah ku bilang kan dia itu vampire makanya umur di—“ tiba-tiba Eliza mengayunkan sabitnya kembali dan berhenti tepat di depan hidung Ace.



“kau masih mau hidup kan?” Tanya Eliza yang mulai terlihat kesal.



“i-iya ok, ok aku diam…” ucap Ace yang ketakutan.



“vampire? Mahluk seperti itu ada dan nyata?!! Bukan kah itu mustahil?!!” teriak Natsume seraya berjalan mundur menjauhi Eliza.



“oh ya mustahil? Hahahaha kenapa kau tidak Tanya ayah mu saja mustahil atau tidaknya?”



“a-ayah? Apa hubungannya dengan ayah?!!”



“kau lugu sekali ya Natsume? Ayah mu sama seperti kita seorang overlord begitu juga dengan ibu mu, apa dia tidak pernah menceritakannya? Lalu!” ucap Eliza seraya mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arah Natsume.



“kau sendiri bukan manusia… dan juga seorang overlord, dua belas tahun lalu, perempuan yang kau temui itu adalah seorang dracus, dan dia adalah orang yang menyelematkan mu, dia memberikan sebagian darahnya untuk memberikan kemampuan regerenasi kepada mu…”



“aku seorang dracus?” Tanya Natsume, kemudian Eliza menggeleng kepalanya.



“kau bukan seorang dracus, kau hanya memiliki kemampuan regerenasi milik dracus, ya itu membuat mu orang pertama yang menjadi half dracus, dan orang yang menyelematkan mu itu adalah pemimpin tertinggi dari Apocalypse, association tempat aku dan Ace berada”



“association?”



“pendeknya association adalah perkumpulan overlord yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan, dan association kita bernama Apocalypse” ucap Eliza.



“the hell?!! Kau kira aku akan percaya dengan semua bualan mu?!! aku hidup bukan karena aku berubah menjadi suatu mahluk khayalan!! Aku hidup karena memang takdirku adalah untuk terus hidup!!” teriak Natsume seraya berlari meninggalkan Eliza dan Ace.



“oi nggak apa-apa tuh?” Tanya Ace.



“nanti dia akan mengerti sendiri, dan ketika dia bisa menerima hidupnya yang baru dia akan datang sendiri ke kita” balas Eliza yang melihat Natsume berlari meninggalkannya.



***



Natsume terus berlari, dia tidak tahu sudah berapa lama dia berlari, tapi dia tahu bahwa dia tidak memiliki tujuan, dan bahwa dia sudah terlambat untuk masuk ke dalam kelas, setelah sampai di halaman belakang sekolah Natsume bersender di salah satu pohon dan duduk di bawah pohon tersebut.



“dracus… apakah yang di katakan perempuan itu benar… kalau begitu… apakah mata ini juga…” bisik Natsume seraya memegang mata kanannya, kemudian Natsume menghantam pohon di belakangnya menggunakan kepalan tangannya.



“sial!! Aku tidak tahu apa-apa!! lagipula aku sudah tidak memiliki tujuan hidup dari awal!! Seandainya aku mati saja waktu itu mungkin itu memang lebih baik daripada terus hidup tapi tidak mengerti apa-apa sama sekali!!” teriak Natsume, kemudian Natsume teringat dengan perempuan berambut perak yang di temuinya dua belas tahun lalu.



“di mana kau… siapa kau… dan apa yang sebenarnya kau lakukan dua belas tahun lalu…” ucap Natsume.



“itu lah tujuan hidup mu…” ucap sebuah suara yang berasal dari belakang pohon, Natsume tidak perlu melihat siapa yang berbicara, karena dia tahu siapa orang itu.



“apa mau mu? jangan ganggu aku, dan kalau tujuan mu adalah untuk menceritakan cerita bualan lain seperti teman mu itu lebih baik kau pergi saja” ucap Natsume ke Ace yang sedang bersender di sisi lain pohon tempat dia duduk.



“Nocturnal adalah manifesti dari penderitaan manusia, semakin menderita seseorang, semakin kuat Nocturnal yang di ciptakan, kau tahu maksud ku?”



“apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”



“jangan menyimpan penderitaan mu sendiri… kau memiliki teman bukan, berbagilah penderitaan itu kepada teman-teman mu… oh kau tidak ingin pikiran mu menciptakan Nocturnal kan? Karena kalau ya, sebaiknya jangan lakukan itu, orang yang seorang master dari Nocturnal akan terus di liputi penderitaan di dirinya”



“aku tidak akan menciptakan mahluk seperti itu…”



“yakin sekali kau…”



Keduanya terdiam, kemudian terdengar suara lagu dari suatu tempat.



“itu handphone ku” ucap Ace yang mengambil handphonenya dan mengangkat telpon untuknya, beberapa saat kemudian terdengar suara Eliza yang berteriak.



“Ace di mana kamu!! Bantu aku dan Wilson!! Musuh telah menunjukan dirinya!!!” teriak Eliza dari handphone tersebut.



“argh!! Berisik tenangkan diri mu!!” balas Ace.



“bagaimana bisa tenang!! Ada siswa lain di sini!!”



“siapa sih?”



“Maria!! Kita harus memberikan perlindungan kepadanya” Natsume yang mendengar nama Maria terkejut.



“Maria dia dalam bahaya” pikir Natsume.



“di mana?!!” Tanya Ace.



“atap gedung sekolah!!” balas Eliza, setelah mendengar posisi Maria, Natsume berdiri dan berlari menuju ke arah atap sekolah.



“o-oi!! Natsume!!” teriak Ace.



“ada Natsume di sana?!” Tanya Eliza.



“begitulah dan dia berlari ke arah mu sekarang…” ucap Ace, Eliza terdiam dan setelah beberapa menit dia kembali berbicara.



“biarkan dia… yang penting kau cepat ke sini orang ini jauh lebih kuat dari dugaan ku” balas Eliza, setelah itu Eliza menutup telponnya, Ace hanya bisa menghela napas dan berjalan dengan santainya ke arah atap sekolah.



***



Seorang lelaki berambut perak panjang tersenyum melihat Eliza dan seorang anak laki-laki bernama Wilson yang menggunakan Glaive terdesak, Eliza memasukan teleponnya ke kantung bajunya dan kembali mengangkat sabitnya, di belakang Eliza terdapat Maria yang sedang membantu Hirasawa yang terluka.



“apa mau mu Siegfred-sama?” Tanya Eliza.



“mau ku? Mungkin melihat mu memakai seragam lama mu, seragam maid itu, ahahaha aku hanya bercanda kok” ucap Siegfred, Eliza terlihat murka dan sudah bersiap untuk menyerang Siegfred.



“Wilson…” ucap Eliza pelan, kemudian Wilson mengangguk dan berlari ke arah Siegfred mengangkat glaivenya dan menghantamkannya ke arah Siegfred, Siegfred menahan hantaman glaive Wilson hanya dengan menggunakan satu tangan, setelah itu Wilson melompat, dan di belakangnya muncul bola api yang mengarah ke arah Siegfred, Siegfred meembodykan sebuah broadsword dan menebas bola api tersebut menjadi dua, setelah itu Siegfred kembali muncul di depan Eliza sambil memegang dagu Eliza.



“Eliza padahal kau bagitu cantik, tidak cocok kalau kau marah” ucap Siegfred, kemudian Eliza menebaskan sabitnya kembali ke arah Siegfred, Siegfred melompat menghindari serangan Eliza, kemudian Wilson terjun dari atas seraya mengarahkan glaivenya ke arah Siegfred.



“Siegfred!!!” teriak Wilson, Siegfred menebaskan broadswordnya dan membuat Wilson terlempar dan terguling, setelah itu Siegfred menancapkan broadswordnya ke tanah.



“cukup main-mainnya! Aku ke sini hanya untuk menjemput nee-san, bagaimana kalau kalian berhenti menganggu ku dan—“ tiba-tiba pintu di dekat Maria di dobrak terbuka, Natsume keluar dari pintu itu dan berlari ke arah Maria.



“Maria!! Kau tidak apa-apa?” Tanya Natsume yang membantu Maria meletakan tubuh Hirasawa yang tidak sadarkan diri.



“Natsume kenapa kau di sini?” Tanya Maria kebingungan.



“panjang ceritanya yang penting kita harus segera pergi dari sini di sini berbahaya!” ucap Natsume, Eliza dan Wilson hanya melihat ke arah Natsume yang mengajak Maria pergi dari situ.



“oi, oi, apa-apaan kau tiba-tiba masuk dan kau ingin pergi begitu saja? Kau kira kau akan ku biarkan pergi begitu saja?” Tanya Siegfred seraya mencabut broadswordnya dan menembakan api hitam ke arah Natsume, Natsume yang terkena api hitam tersebut terlempar ke arah pagar pembatas atap sekolah.



“Siegfred-sama!!” teriak Eliza yang menyerang Siegfred tiba-tiba, Siegfred menahan serangan Eliza dan menendang perutnya membuat Eliza juga terlempar dan terjatuh di dekat Maria.



“Eliza-san kau tidak apa-apa?” Tanya Maria yang khawatir melihat Eliza yang terluka.



“jadi kau yang ingin melukai teman ku? Majulah aku akan melawan mu!!” teriak Natsume yang berjalan ke arah Siegfred dengan keadaan terluka.



“Natsume hentikan kau tidak akan mampu melawan Siegfred-sama apalagi kemampuan mu sebagai overlord belum bangkit” ucap Eliza.



“apa-apaan kau manusia? Sombong sekali kau!!” teriak Siegfred seraya menebas Natsume, Natsume yang tertebas mengeluarkan darah yang banyak dan terjatuh, tetapi dia kembali berdiri dan tersenyum.



“k-kau?!! Kau mau mati ya?!!” teriak Siegfred yang menebas Natsume berkali-kali tetapi Natsume sama sekali tidak tumbang.



“hehehe bagaimana pun juga seharusnya aku sudah mati dua belas tahun lalu… ku rasa kalau aku mati lagi tidak masalah tapi setidaknya aku ingin melakukan sesuatu sebelum mati lagi…” ucap Natsume seraya mengangkat tangannya dan menghantam muka Siegfred, membuat Siegfred terlempar.



“kekuatan ini!! Siapa dia?!!” pikir Siegfred yang terlempar.



“yaitu menghajar mu!” ucap Natsume, kemudian Siegfred tertawa dan kembali berdiri, dia mengangkat pedangnya menciptakan api hitam raksasa di atas pedangnya.



“hehehe ahahaha!! Baiklah kalau kau ingin benar-benar mati!! Overd—“



“hentikan!!!” teriak Maria, Siegfred terkejut mendengar teriakan Maria, dan melihat ke arahnya, begitu juga denga Natsume.



“Eliza…” ucap Maria pelan.



“ada apa?! pergilah selagi bisa!! bawa Natsume bersama mu! berbahaya di sini” ucap Eliza.



“Eliza…” ulang Maria.



“apa yang kau tunggu kau tidak ingin mati kan?!!”



“Eliza!!!” teriak Maria dengan suara yang lebih kencang, Eliza terdiam, begitu juga dengan Wilson dan Natsume, Eliza mengangguk.



“dasar kau ini banyak maunya… padahal kau sendiri yang menyuruhku untuk diam…” ucap Eliza seraya mengambil dua ikat rambut dari kantung roknya.



“maaf dan terima kasih…” ucap Maria seraya mengambil ikat rambut tersebut.



“ahahahaha!! Ada apa?!! apakah kau sudah capek bersandiwara?!! Eh nee-san?!!” teriak Siegfred.



“nee-san apa maksudnya?” pikir Natsume, yang juga melihat ke arah Maria, Maria berdiri seraya mengenakan ikat rambut yang di berikan Eliza, Maria mengikat rambutnya menjadi dua, dan setelah itu menaruh jarinya di matanya mengeluarkan contact lensnya, dia memberikan contact lens tersebut ke Eliza, Eliza hanya bisa tersenyum melihat Maria yang berdiri, dan Natsume akhirnya menyadari sesuatu, bahwa selama ini orang yang dia cari selalu ada di dekatnya dan selalu bersamanya.



“k-kau? Maria? Kau dua belas tahun la-lalu?” ucap Natsume yang terkejut, Maria melihat ke arah Natsume dengan tatapan sedih.



“maaf aku menyembunyikannya Natsume…” ucap Maria, kemudian Maria menatap Siegfred.



“bukan kah aku yang kau inginkan?!! Majulah Siegfred!!” teriak Maria seraya meembody revolver hitam dan mengarahkannya ke arah Siegfred.



“Maria… dan perempuan yang aku cari selama ini adalah orang yang sama?” bisik Natsume, kemudian dia teringat perbincangan dia dengan Maria siang tadi, dan dia teringat ketika Maria menjatuhkan buku data siswanya, seketika juga wajah Natsume berubah menjadi merah padam seperti daging yang sedang di rebus.



TO BE CONTINUED

Chapter 3: a Hero or a Slacker

CHAPTER 3: A HERO OR A SLACKER



Natsume bangun dari tidurnya dia memandang jam dan terkejut melihat jamnya yang menujukan jam enam pagi, dengan cepat dia mengganti seluruh pakaiannya menjadi seragam sekolahnya.



“bu? Apakah tadi Riku kesini?!” teriak Natsume dari kamarnya.



“ya, cuman tadi ibu suruh dia berangkat lebih dulu! Karena kamu belum bangun!” balas Claire yang suaranya terdengar dengan jelas dari bawah, setelah itu Natsume berlari turun dari kamarnya mengambil roti yang ada di meja, dan setelah itu pergi meninggalkan rumahnya setelah berpamitan ke ibunya, dan tidak menyapa ayahnya yang dari tadi berusaha mengganggunya, dalam perjalanannya Natsume melihat anak laki-laki yang kemaren di lihatnya ketika dia menuju ruang OSIS.



“yo Natsume-san” ucap Sarchex, tetapi Natsume tidak memedulikannya dan terus berjalan.



“begitukah kau apabila di sapa? Padahal aku ingin memberitahu mu informasi soal orang yang kau cari” ucap Sarchex, Natsume berhenti kemudian dia berbalik.



“aku tidak punya banyak waktu, apa mau mu?” ucap Natsume seraya memperlihatkan tatapannya yang serius.



“santai saja Natsume, pertama-tama biarkan aku memperkenalkan diri nama ku adalah Ace Sarchex anggota OSIS oh kau bisa memanggil ku dengan panggilan Ace saja” ucap Ace.



“ya, ya, cukup dengan basa-basinya jadi apa yang kau tahu tentang orang yang aku cari? Dan apa maksud kata-kata mu kemaren, soal ada pengkhianat di antara teman-teman ku?”



“bukan kah sudah ku bilang untuk santai saja, soal penkhianat di antara teman mu adalah maksud ku di antara errr siapa namanya? Ah ya Daichi dan Riku ada satu orang yang ak—“ tiba-tiba Natsume terkejut mendengar nama Daichi dan Riku, dengan cepat dia berlari ke arah Ace mencekik lehernya dan mengangkatnya di udara.



“jangan pernah menyebut mereka pengkhianat” ucap Natsume, Ace memperlihatkan senyum.



“kekuatan ini… ku rasa ojou-sama memang benar-benar melakukan itu” ucap Ace sambil tersenyum, Natsume melepaskan cekikannya dan berjalan mengambil tasnya.



“baiklah aku ke sini hanya ingin memperkenalkan diri ku, soal informasi tentang orang yang kau cari itu, orang yang kau cari berada di sekolah yang sama dengan mu, ku sarankan kau mencari orang itu di informasi siswa itupun apabila kau bisa menemukannya” ucap Ace yang berjalan meninggalkan Natsume yang terpaku.



“perempuan itu ada satu sekolah dengan ku?” pikir Natsume, kemudian Natsume menggenggam tangannya dan berlari ke arah sekolahnya, berharap mendapatkan informasi mengenai orang yang dia cari.



***



Bel istirahat berbunyi, Natsume dengan sigap berlari meninggalkan kelas dia tetap berlari walaupun Daichi memanggilnya.



“ada apa dengan dia si Natsume?” Tanya Daichi ke Riku, Riku hanya bisa menggelengkan kepalanya.



Natsume yang berlari melihat Dave yang akan memasuki ruang guru, kemudian Natsume memanggil Dave, Dave yang sadar bahwa dia di panggil Natsume berbalik dan menoleh ke arah Natsume, setelah berhasil mengejar Dave, Natsume mengambil udara yang ada untuk bernapas, dia terlihat kelelahan dan berkeringat.



“ada apa Natsume?” Tanya Dave yang kebingungan.



“maaf pak kalau boleh tahu apakah saya bisa melihat daftar siswa sekolah ini?” Tanya Natsume dengan polosnya.



“sayangnya tidak bisa… data siswa adalah rahasia milik sekolah dan tidak ada yang boleh melihatnya…” Natsume menghela napas menandakan kekecewaannya, kemudian dia berbalik dan berjalan meninggalkan Dave.



“tapi, mungkin ketua OSIS bisa membantu mu kalau kau mencari data seorang atau dua orang siswa” ucap Dave seraya memasuki ruang guru sambil tersenyum.



“terima kasih pak!” ucap Natsume yang berlari dengan kecepatan penuh menuju ruang OSIS, sesampainya di sana, Natsume mendobrak pintu sampai terbuka, di dalamnya terdapat dua orang perempuan sebaya dengannya, yang satu berkaca mata, berambut poni hitam, dan terlihat seperti satu tingkat di bawah julukan meronko, sementara yang satu lagi berambut hijau, dan kebalikannya dari perempuan yang di sebelahnya perempuan yang ini memiliki karakteristik pettan, dan bermata merah, keduanya menggunakan seragam sekolah yang sama, hanya saja keduanya menggunakan jaket OSIS bewarna merah, yang berambut hijau juga mengenakan pita merah di rambut bagian belakangnya.



Natsume sempat terpesona dengan penampilan si rambut hijau, tubuhnya terlihat kecil seperti gadis rapuh, dan kulitnya terlihat pucat, begitu juga dengan wajahnya yang manis dan cantik, beberapa orang akan mengira bahwa dia baru berumur enam belas tahun.



“keliatannya kau ada tamu Hirasawa-san jadi kurasa aku akan pergi dulu” ucap si rambut hijau seraya berdiri.



“baiklah… jangan lupa pesan ku… oh ya Eliza kalau bisa, bisakah kau memberikan ini ke pak Garde dalam perjalanan mu ke kelas” Tanya si rambut hitam yang bernama Hirasawa seraya mengeluarkan secarik kertas.



“ok, sebenarnya aku agak malas tapi baiklah” ucap Eliza yang mengambil kertas yang di berikan oleh Hirasawa dan berjalan keluar ruangan, ketika di berpapasan dengan Natsume dia menatap Natsume seraya mengedipkan matanya dan berkata.



“berjuanglah aku sudah memberikan waktu untuk mu berdua dengannya hehehe” ucap Eliza dengan nada yang menggoda dan pergi meninggalkan Natsume, sekilas wajah Natsume memerah, setelah itu Natsume kembali bisa mengendalikan dirinya.



“ada perlu apa?” Tanya Hirasawa, suara Hirasawa sepertinya berhasil menyadarkan Natsume dari renungannya.



“a-ah maaf apakah kaichou ada?” Tanya Natsume.



“dia sedang pergi keluar mungkin sebentar lagi dia akan kembali”



“b-begitu? B-boleh ku tunggu dia? Di sini?” Tanya Natsume, Hirasawa hanya menjawab dengan anggukan seraya mengambil salah satu buku yang ada di tumpukan buku di dekatnya, Natsume melihat ke arah salah satu buku yang terletak tidak jauh di tumpukan tersebut, tetapi kondisi buku tersebut masih terlihat bagus seperti di jaga dengan baik, Natsume melihat judul buku tersebut.



“Castor Legacy?” ucap Natsume seraya membuka buku tersebut.



“buku favorit ku… pengarangnya adalah Ryou Kurokaze salah satu dari Ae—“ tiba-tiba Hirasawa menghentikan ucapannya.



“Ae?” Tanya Natsume kebingungan, Hirasawa dengan cepat membereskan bukunya, mengambil ‘Castor Legacy’ miliknya dan berjalan keluar.



“lupakan apa yang ku katakan barusan, oh kau tunggu saja di sini mungkin beberapa menit lagi kaichou datang” ucap Hirasawa seraya berjalan meninggalkan ruangan, Natsume duduk di salah satu sofa di ruangan itu, beberapa menit setelah dia terdiam, Maria memasuki ruangan tersebut, dan terkejut melihat Natsume.



“Natsume? Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Maria yang kebingungan.



“ah kaichou, sebenarnya aku ingin meminta bantuan mu…”



“bantuan ku? Memangnya kau memerlukan apa dari ku?” Tanya Maria seraya duduk di mejanya di tengah ruangan tersebut.



“sebenarnya aku… err bagaimana yah…”



“tidak usah basa-basi cepat katakan!” tegur Maria.



“b-baik! Sebenarnya aku mencari data seorang siswa… tetapi aku tidak tahu namanya, menurut anggota OSIS bernama Ace dia bilang katanya orang itu bersekolah di sini…”



“haah? Kau mau meminta bantuan ku mencari data seorang siswa tapi kau sendiri tidak tahu namanya? Bagaimana mungkin aku bisa membantu mu?”



“tapi aku tahu ciri-ciri orang itu, dia berambut perak sama seperti ketua hanya saja mata dia bewarna merah, dan rambutnya di kepang menjadi dua”



“baiklah akan ku bantu semampu ku tapi aku tidak janji bisa menemukannya yah…” ucap Maria seraya berbalik dan mengambil sebuah buku besar di raknya, dia membuka buku tersebut serta membalik halaman demi halaman.



“memangnya kenapa kau ingin mencari orang ini?” Tanya Maria yang masih sibuk membalik halaman-halaman buku tersebut”



“kenapa ya? Sebenarnya dua belas tahun yang lalu aku pernah bertemu dengannya”



“lalu…”



“tetapi perempuan tersebut lari begitu melihat ku mungkin karena memang wajah ku jelek dulu”



“terus…”



“aku mencoba mengejarnya tetapi alih-alih menemukan dia aku malah terkena kecelakaan dan koma selama dua belas tahun”



“dan kenapa kau mencarinya, bukan kah itu berarti dia yang menyebabkan kecelakaan mu?”



“masalahnya waktu itu dia menangis melihat aku yang terluka, wajahnya waktu itu terlihat manis, bahkan aku masih ingat wajahnya dua belas tahun yang lalu… dan aku kira mungkin sebenarnya aku mencintainya… karena kadang jantung ku berdebar kalau mengingatnya, ahahaha terdengar seperti anak kecil yah?” Tanya Natsume, kemudian Natsume mendengar sebuah buku terjatuh, dan terdengar sangat keras, Natsume yang terkejut melihat ke arah Maria yang menjatuhkan bukunya dan memegang tanganya.



“ada apa Maria?!”



“t-tidak apa-apa, tadi tangan ku keseleo sebelum ke sini jadi masih sakit, dan sepertinya tidak terlalu kuat untuk mengangkat buku besar ini” ucap Maria sambil memegang tangannya.



“biar ku bantu!” ucap Natsume yang mengambil dan menaruh buku yang terjatuh tersebut ke atas meja.



“Natsume… jadi kau sudah menyukai seseorang ya?” Tanya Maria dengan nada pelan, Natsume yang mendengar itu terkejut.



“ya mungkin, mungkin perempuan tersebut adalah cinta pertama ku… makanya aku ingin menemukannya…”



“begitu… oh ya setelah ku cari tidak ada siswa yang memiliki ciri-ciri seperti itu, mungkin Ace salah memberi mu informasi… biar ku tegur dia nanti bagaimana pun juga sekarang sudah saatnya masuk ke kelas! Jadi cepat kau kembali ke kelas mu!” teriak Maria seraya mendorong Natsume keluar dari ruangan OSIS dan mengunci ruangan tersebut.



“baka Natsume…” ucap Maria pelan sambil meneteskan air mata.



***



Natsume berjalan ke arah kelasnya, kemudian dia bertemu dengan Ace yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan.



“yo bagaimana sudah ketemu orang yang kau cari itu?” Tanya Ace.



“tidak… berhentilah memberi ku informasi palsu!” ucap Natsume dengan nada kesal.



“haaa? Padahal aku yakin aku pernah melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti itu di sekolah ini… atau mungkin kau belum mencarinya dengan sungguh-sungguh?” Tanya Ace.



“lagipula bagaimana kau bisa tahu ciri-ciri orang yang aku cari? Memangnya kau paranormal apa?”



“bukan! Tapi karena ak—“ tiba-tiba terdengar suara ledakan yang besar dari luar sekolah, Ace dan Natsume yang terkejut saling pandang.



“suara apa itu!” teriak Natsume yang berlari ke arah lapangan sekolah, kemudian dia melihat sesosok naga hitam sedang mendarat di sana.



“n-naga mustahil! Bukan kah itu hanya legenda fiksi saja?!!” ucap Natsume yang terkejut.



“cish Nocturnal” bisik Ace, Natsume menoleh ke arah Ace.



“kau tahu ini mahluk apa?!!” Tanya Natsume.



“sedikit”



“apa maksud mu sedikit?!!” kemudian naga itu meraung dan menembakan bola api ke arah Natsume, Natsume menutup matanya dan dia mendengar ledakan besar, Natsume yang merasa api tersebut tidak menyentuhnya membuka matanya, dan melihat Ace berdiri dengan pose tangan kiri di kantung celananya dan tangan kanan memegang pedang dalam posisi yang terbalik, cara dia berdiri terlihat seperti orang yang sangat santai.



“nah karena dia sudah mulai menyerang berarti ini saatnya sang pahlawan membalas dan beraksi!! Come on it’s show time!!”



TO BE CONTINUED

Chapter 2: the Nocturnal

CHAPTER 2: THE NOCTURNAL



Sesosok lelaki berjubah dan bertudung hitam sedang berdiri di atap gedung Hanabiri Gakuen dan menatap langit kelam yang di hiasi oleh bulan yang bercahaya. Lelaki tersebut kemudian menoleh ke arah Natsume yang sedang di hadang oleh banteng hitam.



“Siegfred-san? Apa kau yakin ingin menyerang anak laki-laki itu?” Tanya sebuah suara perempuan di belakangnya, Siegfred tersenyum.



“ah kau sudah datang rupanya Elena… dari mana saja kamu? Hampir saja kau ketinggalan tontonan yang seru ini…” ucap pria bertudung tersebut seraya menoleh ke arah perempuan berambut biru panjang dan mengenakan kaca mata. Elena mengenakan jubah hitam dan juga pakaian serba hitam.



“aku baru saja melihat saudara kembar mu Siegfred-san, kelihatannya dia mulai bergerak, dan saat ini dia menuju ke sana” ucap Elena seraya menunjuk ke arah Natsume, Siegfred tertawa seraya membuka tudungnya memperlihatkan mukanya yang bewarna pucat, bermata merah darah, dan berambut perak.



“memangnya apa yang bisa dia lakukan?! Dia tidak akan bisa menghentikan rencana ku… begitu juga dengan ayah dan ibu…”



“tapi Siegfred-san kalau tuan Br—“



“jangan sebut namanya!! Sudah berapa kali ku bilang jangan pernah sebut namanya lagi… dia sudah bukan siapa-siapa ku lagi… nah nee-chan tunjukan apa yang akan kau lakukan…” ucap Siegfred seraya berbalik dan berjalan meninggalkan tempat dia berdiri tadi, di ikuti oleh Elena.



***



Natsume terkejut melihat sesosok banteng raksasa berdiri di depannya, tubuhnya bergetar pikirannya terus berteriak bahwa dia harus lari secepatnya dan sejauh mungkin, Natsume berusaha menggerakan tubuhnya yang bergetar dan setelah dia merasa sudah dapat mengontrol tubuhnya kembali dengan cepat Natsume berbalik dan berlari meninggalkan banteng tersebut, banteng tersebut meraung seraya mengejar Natsume dan berusaha menyeruduknya, Natsume yang tahu dirinya di kejar berlari semakin kencang, setelah itu dia melihat belokan di depannya, Natsume dengan sigap melempar tubuhnya dan berguling ke dalam gang tersebut sementara banteng yang mengejarnya terus berlari melewati gang tersebut.



“mahluk apa barusan?! Tapi ku rasa dia sudah tidak mengejar ku lagi…” pikir Natsume seraya berdiri dan berjalan menelusuri gang tersebut, sampai Natsume mendengar suara ledakan besar di belakangnya dan melihat banteng yang tadi mengejarnya menghancurkan gedung yang menghimpit gang tersebut, dan memaksa tubuhnya masuk.



“oh god!!” teriak Natsume seraya berlari meninggalkan gang tersebut, Natsume dapat mendengar suara gedebum keras yang merupakan suara langkah kaki mahluk yang mengejarnya, Natsume terus berlari dan dia menyadari bahwa dia keluar di daerah sekitar Shibuya 109, orang-orang berlalu-lalang di depannya memperlihatkan dunia malam di Shibuya.



“damnit… kalau di tempat seperti!!” pikir Natsume, kemudian Banteng yang mengejarnya menyeruduk keluar dari gang dan menghantam beberapa gedung di depannya, orang-orang di sekitar tempat itu berteriak, dan berlarian menghindari tempat banteng tersebut menyeruduk.



“ada apa?!! apa yang terjadi apakah ada bom!!” teriak salah satu orang yang berlari, Natsume yang mendengar itu terkejut dan melihat ke arah orang-orang yang berlarian di bawah banteng raksasa tersebut tanpa menyadari keberadaan banteng itu.



“apa yang terjadi sebenarnya? Mereka tidak dapat melihat mahluk itu” ucap Natsume yang kebingungan, mahluk tersebut kembali meraung dan berlari ke arah Natsume.



“kalau mahluk itu tidak bisa di lihat dan di sentuh berarti…” pikir Natsume, Natsume berdiam diri di tempatnya membiarkan mahluk tersebut menyeruduk ke arahnya, mahluk itu menyeruduk Natsume, Natsume merasakan hantaman yang keras di perutnya.



“tidak mungkin dia bisa menyentuh ku?!! Tapi kenapa!!” teriak Natsume yang terlempar dan menghantam dinding gedung di belakangnya, seorang laki-laki berjalan ke arah Natsume dan mengulurkan tangannya.



“kau tidak apa-apa! cepat kita pergi dari sini sepertinya ada bom di sini!!” ucap laki-laki tersebut, kemudian Ryou melihat banteng tersebut kembali bergerak ke arahnya, Natsume menepis tangan laki-laki itu dan kembali berlari meninggalkan daerah Shibuya 109.



“terlalu berbahaya di tempat yang banyak orang… walaupun mahluk itu tidak dapat di lihat tetapi dia bisa menyebabkan kerusakan di tempat sekitar dan bahkan bisa melukai manusia lainnya… tapi bagaimana mungkin?” Natsume memutar otaknya mencoba mencari jalan keluar dari situasi aneh ini, kemudian Natsume melihat tanah yang di pagar yang di dalamnya sedang ada proyek pembangunan gedung, Natsume mendobrak pagar tersebut menggunakan badanya, dan berlari memasuki tanah yang di penuhi oleh pondasi-pondasi gedung yang akan di bangun tersebut, kemudian dia kembali mendengar rauman, Natsume berbalik dan melihat ke arah banteng yang ada di depannya, kemudian Natsume menyadari bahwa jalan di belakangnya adalah jalan buntu.



“heh ku rasa aku sudah tidak bisa lari lagi…” ucap Natsume, kemudian banteng tersebut kembali meraung dan berlari ke arah Natsume, Natsume menutup matanya dan tiba-tiba dia mendengar suara ledakan, Natsume yang terkejut kembali membuka matanya dan melihat ke arah kepala banteng tersebut yang di penuhi oleh kepulan asap, banteng tersebut kembali meraung dengan suara yang terdengar lebih keras, peluru lain kembali melesat ke arah banteng tersebut meledakan kakinya, Banteng tersebut terjatuh dan berusaha bangun kembali, Natsume menoleh dan melihat sesosok perempuan berambut perak berkuncir dua yang mengenakan pakaian gothic dan rok pendek yang memegang revolver dan mengarahkannya ke arah banteng yang menyerang Natsume dan berdiri di atas salah satu pondasi gedung, perempuan tersebut berkulit pucat dan bermata merah darah, kemudian Natsume kembali teringat akan kejadian dua belas tahun yang lalu, perempuan tersebut kembali menembakan revolvernya memberikan banyak ledakan di tubuh banteng tersebut yang akhirnya banteng tersebut mengeluarkan raungan kecil dan tubuhnya menghilang menjadi asap hitam yang menguap dan menghilang, perempuan itu menatap Natsume dengan tatapan sinis, setelah itu dia melompat turun dan berlari ke arah gerbang konstruksi bangunan itu.



“perempuan itu tidak salah lagi!!” teriak Natsume seraya berlari mengejar perempuan itu, Natsume berjalan keluar dari konstruksi bangunan dan berbelok ke arah tikungan tempat perempuan itu menghilang, setelah itu Natsume menabrak seseorang hingga jatuh, orang yang di tabrak natsume menjatuhkan sekumpulan kertas.



“maafkan aku! Aku tidak sengaja!” ucap Natsume seraya membantu orang itu membereskan kertas yang terjatuh.



“Natsume-kun?” ucap suara yang di kenal Natsume, Natsume menoleh dan melihat ke arah Maria yang juga sedang mengumpulkan kertas yang berjatuhan, Maria mengenakan kemeja hitam dan rok pendek hitam.



“k-kaichou?!!” ucap Natsume yang tiba-tiba teringat akan kejadian siang tadi, muka Natsume memerah.



“hei! Kenapa muka mu memerah?! Apa yang kau pikirkan!!” teriak Maria dengan muka yang juga memerah.



“t-tidak aku tidak memikirkan apa-apa kok… ngomong-ngomong sedang apa kaichou di sini?” Tanya Natsume seraya menyerahkan kertasnya.



“aku? Aku dari rumah teman ku sekaligus wakil ketua OSIS untuk mengambil data murid yang besok harus di serahkan kepada kepala sekolah…” jawab Maria seraya merapihkan kertas-kertas itu, kemudian Maria melihat ke arah Natsume yang masih mengenakan seragam.



“kau sendiri sedang apa malam-malam begini dan masih mengenakan seragam?” Tanya perempuan berambut perak dan bermata amber itu.



“aku tadi membantu pak Dave membereskan dokumennya dan ah aku terkena sedikit kecelakaan di jalan, jadi aku belum pulang…” ucap Natsume yang berpikir bahwa dia pasti akan di tertawakan oleh Maria kalau dia bercerita bahwa dia baru saja di kejar banteng di tengah kota, walaupun menurut dia itu tidak lebih aneh dari seorang pria yang menggunakan stang motor di kudanya.



“kecelakaan? Aku tidak melihat luka?” balas Maria dengan tatapan curiga.



“ah bukan kecelakan besar sih ahahaha, oh iya bagaimana kalau kau ku antar pulang?” Tanya Natsume, Maria terdiam memikirkan ajakan Natsume kemudian akhirnya dia mengangguk, dan berjalan bersama Natsume meninggalkan tempat itu, keduanya berjalan di pinggir sepanjang jalan Shibuya yang di penuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang, setelah itu Natsume menghampiri salah satu vending machine yang di temuinya dan membeli dua kopi, yang salah satunya di berikan kepada Maria, keduanya saling berbicara dan bercanda selama perjalanan, akhirnya keduanya berhenti di sebuah apartemen di pinggiran kota Shibuya.



“di sini kah kau tinggal? Kau tinggal sendirian?” Tanya Natsume seraya melihat ke arah gedung apartemen tersebut.



“iya sudah dari dulu aku tinggal sendirian…”



“hebat… kau menakjubkan kaichou! Selain cantik dan pintar kau juga mandiri!” goda Natsume.



“tidak juga kok…” ucap Maria yang berjalan ke arah apartemen itu, kemudian Maria berbalik dan melambaikan tangannya ke arah Natsume.



“sampai jumpa besok pagi Natsu!” teriak Maria seraya memasuki apartemennya, sebelum meninggalkannya Natsume sempat membalas lambaian tangan Maria, kemudian Natsume meremas tangannya.



“perempuan itu… perempuan dua belas tahun yang lalu… dia ada di kota ini!” ucap Natsume yang berbicara sendiri, setelah itu Natsume berbalik dan berjalan meninggalkan apartemen Maria.



***



“Siegfred-san salah satu Nocturnal ciptaan kita telah hancur… dan seperti biasa yang menhancurkannya adalah kakak anda…” ucap Elena yang memasuki sebuah ruangan dengan membawa seorang pria yang terlihat despressi di tangannya.



“biarkan dia… nee-chan tidak akan pernah dan tidak akan bisa menjadi pengganggu dalam rencana ku…” ucap Siegfred seraya memainkan origami di tangannya.



“kalau begitu kita apakan orang ini? Setelah Nocturnal miliknya hancur dia tidak lebih dari sekedar manusia stress biasa” ucap Elena seraya melempar pria yang di bawanya ketengah ruangan.



“ku mohon!! Ampuni aku!! Walaupun aku adalah sampah masyarakat tapi aku masih mau hidup!!” ucap pria tersebut seraya mencium kaki Siegfred.



“menjijikan… dasar penjilat… sampah masyarakat seperti mu tidak di butuhkan di dunia ini…” ucap Siegfred seraya mengeluarkan pedangnya dan menebas kepala orang itu, kepala pria tersebut terlempar dan terguling di ruangan itu.



“Elena beri tahukan kepada Blitz dan Regnel bahwa pesta kita akan segera di mulai…” ucap Siegfred yang mengambil secarik foto yang memperlihatkan foto anak kembar berbeda gender, yang laki tersenyum dan melambai ke arah kamera, sementara yang perempuan memangku tangannya dan menolak untuk melihat kamera, di belakang kedua anak itu terlihat sepasang perempuan dan laki-laki berambut perak, keduanya terlihat seperti baru berumur sembilan belas tahun, Elena menundukan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.



“nee-chan… terkadang aku berpikir… bahwa takdir kita berdua sangat kejam…” ucap Siefred seraya menatap ke arah bulan.



***



“ojou-sama sepertinya adik anda sudah mulai menjalankan rencananya…” ucap perempuan berambut hijau bernama Eliza ke arah perempuan yang di panggilnya ojou-sama.



“aku sudah tahu…” balas ojou-sama seraya menatap bulan yang bersinar di atasnya.



“Siegfred dan aku… kami berdua sangat identik tetapi sangat berbeda…”



Seorang pria berambut hitam dengan sisiran ke belakang memasuki ruangan tersebut bersama dengan dua pria lainnya.



“Sarchex… seperti rencana awal kau coba dekati Natsume dan mengajaknya bergabung dengan kita… sementara Ciel awasi seluruh daerah kita”



“haah~ jadi tugas ku hanya lah mencoba menuntun bayi ke tempat kita?” ucap pria dengan rambut hitam tersebut, kemudian ojou-sama menatap Sarchex dengan tatapan sinis.



“ok-ok!! Baiklah akan ku coba!!” teriak Sarchex seraya berjalan meninggalkan ruangan tersebut.



Kemudian pria berambut merah mengangguk dan berjalan ke arah pintu ruangan.



“tugas ku hanya menjaga daerah sekitar kan? Tugas yang sangat mudah…”ucap pria berambut merah bernama Ciel itu.



“Wilson? Bagaimana dengan penelitian mu?” Tanya ojou-sama ke arah pria yang satu lagi, yang sedang menyender ke tembok, pria tersebut sama sekali tidak menjawab.



“bertindak keren seperti biasa hah? Atau kau hanya…” ucap Eliza seraya berjalan ke arah Wilson yang masih menyender dan terdiam, kemudian Eliza mengangkat tangannya.



“bangun tukang tidur sialan!!” teriak Eliza menampar Wilson dan membuatnya terlempar ke sisi ruangan yang lain.



“what the fuck!! Hei aku sedang mimpi indah!!” teriak Wilson yang bangun dan memegang pipinya yang memerah.



“ojou-sama bertanya tentang penelitian mu!! dasar kau itu!!” teriak Eliza gregetan.



“oh itu… menurut Nara terdapat siswa lain yang juga memiliki potensi besar nama siswa itu adalah” ucap Wilson seraya mengeluarkan secarik kertas dari balik jubah hitamnya, dan melemparnya ke arah ojou-sama, ojou-sama menangkap kertas tersebut dan melihat foto seorang anak laki-laki berambut coklat dan bermata coklat.



“Nac Merfield…” ucap Wilson, kemudian ojou-sama menyimpan kertas tersebut.



“baiklah Apocalypse… kita akan mulai bergerak…”



TO BE CONTINUED

Chapter 1: the World Will Never be the Same Again

Seorang perempuan berambut perak panjang, di kuncir dua, bermata merah darah, mengenakan pakaian gothic lolita hitam, rok pendek, dan boot bewarna hitam berlari melompat dari satu atap gedung kea tap gedung yang lain di suatu malam dengan bulan purnama yang menghiasi lautan bintang, perempuan tersebut berlari seakan-akan mengarungi langit bewarna hitam kelam di atasnya, di belakangnya terdapat perempuan lain berambut hijau panjang, bermata merah darah, berpakaian gaun gothic bewarna merah, perempuan berambut hijau itu mengikuti perempuan berambut perak di depannya, perempuan berambut perak tersebut berhenti seraya mengeluarkan sebuah kartu.



“Ojou-sama…” ucap perempuan berambut hijau.



“aku sudah tahu…” balas perempuan berambut perak, kemudian di belakang mereka muncul sesosok naga bewarna hitam dan berukuran besar, perempuan berambut perak tersebut dengan sigap berbalik dan mengubah kartu yang di pegangnya menjadi sebuah revolver bewarna hitam.



“Nocturnal sialan!! Jangan pernah main-main dengan ku!!” teriak perempuan tersebut seraya menembakan dua peluru ke arah sayap kanan naga tersebut, kedua peluru tersebut meledak begitu menyentuh sayap naga itu, naga itu meraung dan kehilangan kestabilan tubuhnya.



“Sarchex!! Eliza!!” teriak perempuan tersebut, kemudian dari belakang naga tersebut muncul siluet lelaki yang memegang pedang dengan keadaan mata pedang yang menghadap ke belakang, lelaki tersebut menebas punggun naga itu menggunakan pedangnya, kemudian perempuan berambut hijau di sebelah perempuan berambut perak tersebut menembakan bola api besar yang membakar seluruh tubuh naga tersebut menjadi debu, naga itu kembali meraung sebelum menghilang sepenuhnya, lelaki yang menebas naga tersebut mendarat tidak jauh dari dua perempuan tersebut.



“itu yang kedua puluh enam hari ini! Bisakah kita beristirahat saja aku sudah lelah! Aku bisa mati saking kelelahannya!” ucap pria tersebut, perempuan berambut hijau menatap pria itu dengan tatapan dingin.



“jaga ucapan mu di depan ojou-sama!!” teriak perempuan itu.



“sudah! Sudah! Aku sudah bilang kan tidak formal juga tidak apa-apa! lagipula aku juga sudah lelah”



“t-tapi ojou-sama nanti tuan…”



“jangan bicarakan soal papa di sini! Aku sedang kesal sama papa karena lebih memehartikan mama!” teriak perempuan itu.



“ini dia sifat daddy-complex ojou-sama kita mulai muncul lagi” ucap pria tersebut seraya menghela napas.



“apa kau bilang?!”



“bukan apa-apa, lupakan saja apabila kau mendengar sesuatu tadi”



Tiba-tiba ketiga orang tersebut mendengar suara langkah kaki di belakang mereka, perempuan berambut perak tersebut menoleh dan melihat, pria lainnya, kali ini pria tersebut berambut hitam pekat, dan agak panjang, pria tersebut membisikan sesuatu ke telinga perempuan berambut perak, perempuan tersebut terlihat terkejut, dan memandang bulan purnama di atasnya.



“dua belas tahun hah? Bagaimana keadaan mu… Natsume Lindwurm…” ucap perempuan tersebut.



***



“Natsume-kun!! Cepat nanti kau tertinggal loh!! Daichi sudah jauh meninggalkan kita!!” teriak sebuah suara anak perempuan, sepasang anak kecil sedang berlari di tengah gunung, yang satu adalah anak laki-laki berambut hitam, sementara yang satu lagi berambut coklat dengan jepit rambut di rambut sisi kirinya.



“tunggu aku Riku-chan!! Aku sudah agak lelah!!” teriak anak laki-laki bernama Natsume tersebut, seraya mengejar anak perempuan bernama Riku, Natsume terus berjalan mencoba mengejar Riku di tengah rimbunnya hutan di sebuah gunung yang terletak di belakang sebuah sekolah, Natsume yang berlari mendengar suara ranting kering yang terinjak di belakangnya, kemudian Natsume berbalik dan melihat ke arah seorang anak perempuan berambut perak, bermata merah darah, yang mengenakan gaun putih.



“siapa dia… kenapa ada perempuan berpakaian seperti itu di tempat seperti ini?” pikir Natsume yang menatap perempuan tersebut dengan perasaan kagum di hatinya akan kecantikan perempuan tersebut, perempuan itu menyadari bahwa Natsume sedang menatapnya, wajah perempuan itu memerah, kemudian dia berlari meninggalkan Natsume dan menjatuhkan sebuah kalung berbentuk salib.



“tunggu!!” teriak Natsume yang mengambil kalung yang terjatuh dan mengejarnya, Natsume berusaha mencari perempuan tersebut, mengelilingi hutan itu, tetapi dia tidak dapat menemukannya, namun Natsume terus berlari sampai tanpa sadar dia terpleset di sebuah jurang, Natsume yang sadar bahwa dia terjatuh dari jurang tersebut, melihat ke bawah dan menyadari bahwa ketinggian jurang tersebut cukup untuk membuat seorang anak kecil berumur lima tahun meninggal apabila terjatuh.



“Riku… Daichi…” ucap Natsume yang terjatuh, dia merasakan benturan keras di kepala dan sekujur tubuhnya, dia merasakan cairan bewarna merah membasahi tubuhnya, dia merasakan mata kanannya yang sangat sakit dan telah kehilangan cahayanya, dia merasaka sekujur tubuhnya tidak dapat bergerak, dia telah merasakan kematian, kemudian Natsume melihat perempuan berambut perak yang di carinya, memandangnya, air mata menetes dari kedua mata anak perempuan tersebut, Natsume mencoba mengangkat tangannya yang memegang kalung perempuan tersebut, tetapi tidak bisa, kemudian Natsume tersenyum seraya menutup matanya, mungkin untuk selamanya.



***



Seorang lelaki berambut hitam membuka matanya dengan ekspresi terkejut, tubuhnya di penuhi oleh keringat dingin, dia membasuh keringat di mukanya dan melihat kamarnya yang di penuhi oleh boks-boks coklat yang terdapat tulisan nama jasa pengangkutan barang, lelaki tersebut berjalan ke arah jendela kamarnya, membukanya dan membiarkan cahaya matahari memasuki kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya, dia menatap ke arah matahari seraya menutup matanya menggunakan tangan kanannya.



“Natsume!! Sudah lama tidak bertemu!! Ternyata kau memang sudah kembali dari perawatan mu ya?!!” teriak sebuah suara yang berasal dari bawah kamarnya, Natsume menoleh dan melihat ke arah perempuan berambut coklat, pendek, mengenakan jepit rambut, berpakaian seragam perak dengan rok hitam, serta membawa tas bewarna hijau, sedang melambaikan tangannya



“Riku-chan?! Kau Riku kan?!!” balas Natsume seraya melambaikan tangannya pula, Riku mengangguk sambil tersenyum.



“sudah lama ya… dua belas tahun aku di larikan keluar negeri setelah kecelakaan itu… ya sampai sekarang aku tidak dapat menemukan perempuan itu…” pikir Natsume, kemudian Natsume kembali menoleh ke arah Riku.



“Riku! Masuk saja dulu! Aku mau bersiap-siap dulu!!” teriak Natsume seraya berlari mengganti pakaiannya, kemudian dia berlari ke arah meja di sebelah tempat tidurnya mengambil kalung berbentuk salib yang tergeletak di sana, dan berlari turun ke lantai satu, menghampiri meja makan, yang terdapat piring dengan tumpukan sandwich berisi tuna dan salad di dalamnya, seorang perempuan setengah baya berambut pirang, menghampiri Natsume seraya memberikannya minum.



“terima kasih mom” ucap Natsume seraya melahap sandwich bagiannya.



“tidak usah terburu-buru Natsume, Riku pasti menunggu mu kok” ucap ibu Natsume seraya tersenyum, kemudian Natsume membalas senyuman ibunya seraya mengarahkan tangannya ke arah sandwich terakhir yang dengan sigap di ambil oleh tangan lain dari belakangnya.



“sayang sekali kau kurang cepat anak muda!” ucap lelaki setengah baya di belakang Natsume.



“hey itu bagain ku!!” teriak Natsume berusaha menggapai sandwich yang di pegang ayahnya.



“Ashley!! Cepat berikan sandwich itu ke Natsume!! Dia harus cepat-cepat pergi ke sekolah!!” bentak ibu Natsume.



“oh ini buatan Claire toh, ya sudah nih ambil aku juga kurang yakin dengan rasanya kalau Claire yang buat” balas Ashley dengan nada mengejek, seraya memberikan sandwichnya ke Natsume.



“apa kau bilang!!” teriak Claire yang terlihat kesal, kemudian Natsume dengan cepat mengambil headsetnya dan berlari keluar rumah, terdengar suara piring pecah di belakangnya ketika dia meninggalkan rumah, setelah itu Natsume melihat Riku yang tersenyum.



“ayah dan ibu mu sedang berantem?” Tanya Riku seraya berjalan bersama Natsume.



“begitulah~~ sudah lama aku tidak melihat bertengkar selama dua belas tahun ini…” ucap Natsume seraya menatap kalungnya yang berbentuk salib.



“anu… Natsume…” ucap Riku yang tiba-tiba berhenti dan menatap Natsume, Natsume yang melihat Riku berhenti juga berhenti di sebelahnya dan membalas tatapan Natsume.



“ada apa?” Tanya Natsume yang kebingungan.



“maafkan aku karena tidak dapat menyelamatkan mu dua belas tahun lalu… kau tahu hari itu aku hanya bisa menangis di depan tubuh mu… memang kau hanya mengalami luka ringan dan memar di beberapa bagian tubuh ta—“ Natsume yang mendengar perkataan Riku terkejut dan memegang pundak Riku.



“tunggu memar dan luka ringan?!! Apa maksud mu?!!” teriak Natsume yang terkejut, Riku yang tiba-tiba di bentak bergidik dan menatap Natsume dengan tubuh bergetar.



“m-maafkan aku tiba-tiba membentak mu… tapi apa maksud mu dengan memar dan luka ringan?”



“menurut dokter ketika kamu terjatuh kemungkinan kamu sempat tertahan oleh sesuatu sehingga tidak langsung terbentur dengan tanah dan berhasil selamat…” ucap Riku, kemudian Natsume memegang kepalanya.



“tertahan sesuatu?! Itu tidak mungkin aku merasakannya! Tubuh ku terbentur langsung dengan tanah… semua bagian tubuh ku remuk… aku bersimbah darah… dan mata kanan ku—mata kanan ku?” ucap Natsume ragu-ragu seraya memegang mata kanannya yang dapat melihat Riku yang terlihat khawatir dengan jelas.



“apa maksud mu bersimbah darah Natsume? Kau sama sekali tidak bersimbah darah, seperti yang aku bilang tubuh mu hanya memar dan tulang mu ada yang patah…” ucap Riku, Natsume melepaskan genggamannya di pundak Riku.



“sebenarnya apa yang terjadi dua belas tahun lalu… aku yakin tubuh ku telah remuk… aku yakin mata kanan ku seharusnya sudah tidak bisa melihat… seharusnya aku sudah mati… kenapa aku masih hidup sekarang?” pikir Natsume terdiam memandang tanak di bawahnya, kemudian Natsume merasaka seseorang menembakan karet ke arah lehernya, Natsume mendesis pelan seraya memegang lehernya, dia berbalik dan melihat seorang pria berambut coklat, berbadan atletis dan tinggi berjalan di belakangnya, lelaki tersebut tersenyum ke arah Natsume.



“Daichi! Kau bangun kesiangan lagi ya?” Tanya Riku, Daichi hanya tertawa saja.



“baka Daichi mana bisa bangun pagi!” teriak Natsume seraya melompat dan menghantam wajah Daichi dengan kepalan tangannya.



“ouch!! Apa-apaan kau tiba-tiba memukul ku?” Tanya Daichi seraya memegang wajahnya.



“harusnya juga aku yang Tanya apa-apaan ku menjepret ku dengan karet tiba-tiba?”



“habisnya kalau kalian beneran jadi pasangan kan tidak seru masa hanya aku yang tidak memiliki pasangan!” teriak Daichi, muka Riku dan Natsume memerah mendengar ocehan Daichi, kemudian mereka bertiga mendengar bel sekolah yang berbunyi, Natsume, Daichi, dan Riku yang terkejut berlari ke arah sekolah mereka, setelah sampai di sana Riku dan Daichi berpisah dengan Natsume.



“Natsume-kun aku dan Daichi duluan ke kelas yah! Berhubung kau adalah transfer student jadi kau harus menuju ke faculty office terlebih dahulu!” teriak Riku yang berlari bersama Daichi ke arah kelas mereka masing-masing, Natsume mengancungkan jempolnya dan berjalan ke arah faculty office, dan menemui seorang guru bertubuh kurus dan mengenakan kaca mata.



“ah jadi kau siswa baru itu? Perkenalkan aku wali kelas mu… nama ku Dave guru kimia…” ucap Dave yang melihat formulir dari Natsume.



“senang bertemu dengan anda!” balas Natsume seraya menundukan kepalanya, kemudian Dave mengambil secarik kertas dari barisan filenya dan menyerahkannya ke Natsume.



“bisakah kau memberikan form dan kertas ini ke OSIS?” Tanya Dave.



“bisa pak!” balas Natsume, Dave mengangguk seraya memberikan kertas tersebut ke Natsume dan memberitahukan letak ruang OSIS, setelah itu Natsume berjalan keluar dari faculty office dan berjalan ke arah ruangan OSIS, di perjalanan Natsume berpapasan dengan seorang lelaki berambut hitam yang di sisir ke belakang, lelaki tersebut menatap Natsume.



“berhati-hatilah Natsume… mulai sekarang dunia ini sudah berubah… ojou-sama juga menunggu mu untuk bergabung dengannya… dan juga perhatikanlah… ada pengkhianat di antara teman-teman mu… sampai jumpa partner…” bisik lelaki tersebut, Natsume yang terkejut berbalik dan bermaksud memanggil lelaki tersebut, tetapi lelaki tersebut sudah menghilang dan tidak dapat di temukan di mana-mana.



“siapa orang itu? Dan apa maksudnya dengan pengkhianat?” ucap Natsume dengan ekspresi yang penuh kebingungan, setelah itu Natsume kembali berjalan ke arah ruang OSIS, setelah menemukan ruangan tersebut Natsume mengetuk pintunya tetapi tidak ada jawaban, Natsume yang penasaran mencoba membuka pintu tersebut, dan dia terkejut di karenakan pintu yang tidak di kunci.



“hah kenapa pintu ini tidak di kunci?” pikir Natsume seraya membuka ruangan OSIS, kemudian Natsume di kejutkan dengan keberadaan perempuan berambut perak panjang dan bermata kuning amber sedang membuka bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalam, wajah perempuan tersebut memerah begitu juga dengan wajah Natsume.



“HENTAI!!!” teriak perempuan tersebut seraya menampar Natsume dengan sangat kencang, Natsume yang tertampar terdorong dan terjatuh.



“m-maafkan aku!! A-aku tidak bermaksud!!” ucap Natsume, kemudian Natsume mendengar suara pintu di banting, dan dia menyadari bahwa pintu ruangan OSIS sudah kembali tertutup, setelah beberapa menit terdiam, pintu tersebut kembali terbuka, dan perempuan tersebut mengintip keluar.



“m-masuk lah… m-maafkan aku soal tadi… aku yang salah mengganti pakaian ku di ruangan OSIS” ucap perempuan tersebut, setelah itu Natsume bangun dan memasuki ruangan tersebut, ruangan tersebut adalah ruangan besar dengan dinding bewarna merah dan meja bewarna emas di ujung ruangan tersebut, terdapat lukisan seorang lelaki berkaca mata dengan keempat temannya di dinding ruangan tersebut, kemudian Natsume menyadari bahwa salah satu muka di lukisan tersebut terlihat mirip dengan ayahnya.



“ehem! Jadi ada apa urusan apa anda mendatangi OSIS?” Tanya perempuan tersebut, Natsume tersadar dari lamunannya dan menyodorkan kertas yang tadi di berikan oleh Dave, perempuan tersebut melihat kertas-kertas itu dengan seksama, dan memasukannya ke salah satu file di mejanya.



“begitu jadi kau anak baru? Kenalkan nama ku adalah Maria Frederica, ketua OSIS di sekolah ini… dan m-maafkan aku soal kejadian tadi…” ucap Maria kembali dengan muka memerah.



“t-tidak apa-apa aku juga salah…” ucap Natsume, kemudian suasana kembali hening sampai Maria berdiri dari bangku dan berjalan ke pintu ruangan.



“ah ya aku ingat aku sedang ada kelas! Kau juga sebaiknya kembalilah ke kelas mu! oh ya bawa ini agar guru mu tahu kalau kau murid pindahan!” ucap Maria seraya mengeluarkan kertas lainnya dari kantong bajunya, Natsume mengambil kertas itu seraya mengucapkan terima kasih dan berjalan ke arah kelasnya, sesampainya di kelas Natsume mengetuk pintu kelas dan memasukinya, dia memberikan kertas yang di berikan Maria ke guru tersebut seraya mengenalkan dirinya kepada siswa lain di kelas tersebut, setelah itu Natsume duduk di sebelah Daichi, setelah beberapa jam mengikuti pelajaran, waktu istirahat pun tiba, sebagian anak-anak makan siang di cafeteria, sebagian menuju atap sekolah, dan sebagian hanya berbincang-bincang di dalam kelas, Natsume menghampiri Daichi dan menceritakan apa yang terjadi pagi itu.



“wow!! yang benar saja!! Kau benar-benar melihat tubuh Maria?!! Bagus tidak!!” teriak Daichi yang begitu antusias.



“hantikan Daichi sudah ku katakan bukan? itu hanya kecelakaan! Dan aku tidak benar-benar ingin melhatnya!” balas Natsume, kemudian Dave memasuki kelas dan menatap ke arah Natsume.



“Natsume-kun!” ucap Dave, Natsume yang menyadari namanya di panggil menghampiri Dave, setelah itu Dave meminta bantuan Natsume menyusun berkas-berkas di kantornya, Natsume yang memang ada waktu sepulang sekolah menerima tawaran Dave dan membantunya sepulang sekolah, setelah itu bel kembali berbunyi tanda istirahat telah selesai, dan Natsume kembali duduk di kursinya begitu juga dengan Daichi.



***



Natsume melihat jam tangannya yang menunjukan jam enam sore, kemudian Natsume berlari ke arah gerbang sekolah.



“tidak ku sangka aku akan pulang malam hari ini…” ucap Natsume seraya menghela napasnya dan berjalan keluar sekolah, Natsume yang berjalan mendengar suara dengusan dari belakangnya, Natsume yang terkejut berbalik dan melihat sesosok banteng raksasa berdiri di depannya.



“i-ini apa?!!” teriak Natsume yang terkejut.

TO BE CONTINUED