Wednesday, 15 December 2010

Chapter 4: Association Apocalypse

CHAPTER 4: ASSOCIATION APOCALYPSE



Ace berdiri di depan Natsume sambil memegang pedangnya dengan posisi terbalik dan tangan kirinya di kantung celananya, Natsume yang melihat pedang yang di pegang oleh Ace terkejut.



“itu kan senjata tajam? Sejak kapan kau membawanya? Seingat ku kau tidak membawa apa-apa tadi?” Tanya Natsume yang kebingungan.



“tidak ada waktu untuk menceritakannya, kau berlindung lah” balas Ace.



Setelah itu Ace menghilang dan muncul di atas naga tersebut seraya menebas naga itu, naga itu meraung mencoba mengigit Ace, tetapi Ace kembali menghilang dan muncul di bawah perut naga tersebut seraya menebasnya kembali, dan ketika naga itu menghantamkan cakarnya ke arah Ace, lagi-lagi Ace kembali menghilang dan muncul di depan kepala naga itu, Ace menendang kepala naga tersebut dengan kuat, membuat naga tersebut terjatuh dan setelah itu Ace kembali berpindah tempat ke punggungnya kali ini Ace menusuk punggung naga tersebut, naga itu meronta seraya melebarkan sayapnya, Ace kembali berpindah tempat ke daratan dan melompat menjauhi naga tersebut.



“h-hebat… dia seperti bukan manusia gerakannya sama sekali tidak tertangkap oleh mata…” ucap Natsume yang takjub melihat Ace menyerang naga tersebut.



“Ace Sarchex, salah satu dari anggota terkuat di Apocalypse, tittlenya adalah Hero’s Reincarnation” ucap sebuah suara yang di kenal Natsume, Natsume menoleh ke arah asal suara tersebut dan melihat si rambut hijau yang mengedipkan matanya.



“perkenalkan nama ku adalah Eliza Ravenhalt”



“Eliza? Kenapa kau memberitahukan hal itu kepada ku?” Tanya Natsume yang kebingungan.



“itu karena kau juga memiliki kemampuan yang sama dengannya, kau adalah seorang overlord” balas Eliza.



“overlord… aku?” ucap Natsume seraya melihat tangannya.



“tidak kah kau berpikir kenapa kau masih hidup sampai sekarang? Apakah kau kira bertahan hidup itu gratis? Sebagai ganti untuk hidup yang di berikan kepada mu… kehidupan mu sebagai manusia biasa telah berakhir dua belas tahun yang lalu, kau yang sekarang bukan lah manusia, kau yang sekarang memiliki sebagian kemampuan ras ku”



“ras mu… tunggu! Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sekarat dua belas tahun yang lalu?!!”



“bukan sekarat, tapi mati, ya kau sudah mati Natsume Lindwurm” ucap Eliza sambil tersenyum.



“aku mati? Musta—“ kemudian terdengar ledakan dari belakang Natsume, Natsume menoleh dan melihat ke arah Ace yang terhempas ke tanah dan menghantam tanah.



“haah itulah akibatnya karena dia terlalu banyak main-main” ucap Eliza seraya meembody sebuah scytche bewarna hitam, Natsume yang melihatnya terkejut.



“itu sama seperti Ace?” ucap Natsume yang terkejut, kemudian Eliza melesat ke arah naga tersebut dan melompat ke arah kepalanya, seraya menembakan bola api ke arah kepala naga tersebut, naga tersebut kembali meraung dan membalas serangan Eliza dengan cara menembakan napas apinya ke arah Eliza, Eliza menciptakan tembok es raksasa yang menahan serangan tersebut, setelah itu Eliza menebas tembok es tersebut, membuatnya pecah dan serpihannya berhamburan ke naga itu, naga itu meraung, darah bermuncratan dari luka naga tersebut.



“sekarang Ace!!”



“cish dasar tante girang… aku tidak perlu bantuan mu” ucap Ace seraya berlari sambil menyeret pedangnya di tanah, gesekan pedang tersebut menimbulkan api besar yang mengikuti laju gesekan pedang Ace.



“overdrive!! first tier!! Blade of Punishment!!” teriak Ace seraya menebaskan pedangnya ke atas dan mengirimkan serangan api berukuran besar ke arah naga tersebut, serangan tersebut memotong tubuh naga itu menjadi dua, setelah itu naga tersebut berubah menjadi asap hitam yang menghilang perlahan-lahan, Eliza mendarat di dekat Ace dan berjalan menuju Ace.



“Ace-kun tadi kau memanggil ku apa?” ucap Eliza sambil tersenyum.



“tante girang?” jawab Ace dengan polos.



“haah? Aku tidak mendengarnya?” balas Eliza lagi, terlihat ekspressi marah di mukanya.



“err maaf menganggu tapi aku tidak melihat Eliza lebih tua dari ku malah aku rasa dia lebih muda… maksud ku bukan kah dia baru berumur enam belas tahun?” Tanya Natsume yang kebingungan.



“kau saja yang belum tahu, sebenarnya dia ini berumur empat pu—“ tiba-tiba sebuah sabit tertebas ke arah Ace dan hampir memotong kepala Ace, Ace yang terkejut langsung tidak melanjutkan kalimatnya.



“maaf tangan ku kepleset” ucap Eliza sambil tersenyum.



“wanita ini menakutkan…” pikir Ace yang memegang lehernya yang berdarah.



“lalu apa yang kau maksud dengan aku sudah mati?” ucap Natsume yang berjalan ke arah Eliza dan Ace, Eliza juga berjalan mendekati Natsume, memegang dagunya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Natsume, wajah Natsume terlihat memerah melihat wajah Eliza dari dekat.



“nee Natsume-chan menurut ku aku ini apa?” Tanya Eliza sambil tersenyum.



“manusia bukan?”



“sayangnya kau salah, aku bukan manusia, aku dracus, atau orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan vampire, lihat…” ucap Eliza seraya membuka mulutnya dan memperlihatkan dua taring kecil yang menonjol dari deretan giginya.



“sudah ku bilang kan dia itu vampire makanya umur di—“ tiba-tiba Eliza mengayunkan sabitnya kembali dan berhenti tepat di depan hidung Ace.



“kau masih mau hidup kan?” Tanya Eliza yang mulai terlihat kesal.



“i-iya ok, ok aku diam…” ucap Ace yang ketakutan.



“vampire? Mahluk seperti itu ada dan nyata?!! Bukan kah itu mustahil?!!” teriak Natsume seraya berjalan mundur menjauhi Eliza.



“oh ya mustahil? Hahahaha kenapa kau tidak Tanya ayah mu saja mustahil atau tidaknya?”



“a-ayah? Apa hubungannya dengan ayah?!!”



“kau lugu sekali ya Natsume? Ayah mu sama seperti kita seorang overlord begitu juga dengan ibu mu, apa dia tidak pernah menceritakannya? Lalu!” ucap Eliza seraya mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arah Natsume.



“kau sendiri bukan manusia… dan juga seorang overlord, dua belas tahun lalu, perempuan yang kau temui itu adalah seorang dracus, dan dia adalah orang yang menyelematkan mu, dia memberikan sebagian darahnya untuk memberikan kemampuan regerenasi kepada mu…”



“aku seorang dracus?” Tanya Natsume, kemudian Eliza menggeleng kepalanya.



“kau bukan seorang dracus, kau hanya memiliki kemampuan regerenasi milik dracus, ya itu membuat mu orang pertama yang menjadi half dracus, dan orang yang menyelematkan mu itu adalah pemimpin tertinggi dari Apocalypse, association tempat aku dan Ace berada”



“association?”



“pendeknya association adalah perkumpulan overlord yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan, dan association kita bernama Apocalypse” ucap Eliza.



“the hell?!! Kau kira aku akan percaya dengan semua bualan mu?!! aku hidup bukan karena aku berubah menjadi suatu mahluk khayalan!! Aku hidup karena memang takdirku adalah untuk terus hidup!!” teriak Natsume seraya berlari meninggalkan Eliza dan Ace.



“oi nggak apa-apa tuh?” Tanya Ace.



“nanti dia akan mengerti sendiri, dan ketika dia bisa menerima hidupnya yang baru dia akan datang sendiri ke kita” balas Eliza yang melihat Natsume berlari meninggalkannya.



***



Natsume terus berlari, dia tidak tahu sudah berapa lama dia berlari, tapi dia tahu bahwa dia tidak memiliki tujuan, dan bahwa dia sudah terlambat untuk masuk ke dalam kelas, setelah sampai di halaman belakang sekolah Natsume bersender di salah satu pohon dan duduk di bawah pohon tersebut.



“dracus… apakah yang di katakan perempuan itu benar… kalau begitu… apakah mata ini juga…” bisik Natsume seraya memegang mata kanannya, kemudian Natsume menghantam pohon di belakangnya menggunakan kepalan tangannya.



“sial!! Aku tidak tahu apa-apa!! lagipula aku sudah tidak memiliki tujuan hidup dari awal!! Seandainya aku mati saja waktu itu mungkin itu memang lebih baik daripada terus hidup tapi tidak mengerti apa-apa sama sekali!!” teriak Natsume, kemudian Natsume teringat dengan perempuan berambut perak yang di temuinya dua belas tahun lalu.



“di mana kau… siapa kau… dan apa yang sebenarnya kau lakukan dua belas tahun lalu…” ucap Natsume.



“itu lah tujuan hidup mu…” ucap sebuah suara yang berasal dari belakang pohon, Natsume tidak perlu melihat siapa yang berbicara, karena dia tahu siapa orang itu.



“apa mau mu? jangan ganggu aku, dan kalau tujuan mu adalah untuk menceritakan cerita bualan lain seperti teman mu itu lebih baik kau pergi saja” ucap Natsume ke Ace yang sedang bersender di sisi lain pohon tempat dia duduk.



“Nocturnal adalah manifesti dari penderitaan manusia, semakin menderita seseorang, semakin kuat Nocturnal yang di ciptakan, kau tahu maksud ku?”



“apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”



“jangan menyimpan penderitaan mu sendiri… kau memiliki teman bukan, berbagilah penderitaan itu kepada teman-teman mu… oh kau tidak ingin pikiran mu menciptakan Nocturnal kan? Karena kalau ya, sebaiknya jangan lakukan itu, orang yang seorang master dari Nocturnal akan terus di liputi penderitaan di dirinya”



“aku tidak akan menciptakan mahluk seperti itu…”



“yakin sekali kau…”



Keduanya terdiam, kemudian terdengar suara lagu dari suatu tempat.



“itu handphone ku” ucap Ace yang mengambil handphonenya dan mengangkat telpon untuknya, beberapa saat kemudian terdengar suara Eliza yang berteriak.



“Ace di mana kamu!! Bantu aku dan Wilson!! Musuh telah menunjukan dirinya!!!” teriak Eliza dari handphone tersebut.



“argh!! Berisik tenangkan diri mu!!” balas Ace.



“bagaimana bisa tenang!! Ada siswa lain di sini!!”



“siapa sih?”



“Maria!! Kita harus memberikan perlindungan kepadanya” Natsume yang mendengar nama Maria terkejut.



“Maria dia dalam bahaya” pikir Natsume.



“di mana?!!” Tanya Ace.



“atap gedung sekolah!!” balas Eliza, setelah mendengar posisi Maria, Natsume berdiri dan berlari menuju ke arah atap sekolah.



“o-oi!! Natsume!!” teriak Ace.



“ada Natsume di sana?!” Tanya Eliza.



“begitulah dan dia berlari ke arah mu sekarang…” ucap Ace, Eliza terdiam dan setelah beberapa menit dia kembali berbicara.



“biarkan dia… yang penting kau cepat ke sini orang ini jauh lebih kuat dari dugaan ku” balas Eliza, setelah itu Eliza menutup telponnya, Ace hanya bisa menghela napas dan berjalan dengan santainya ke arah atap sekolah.



***



Seorang lelaki berambut perak panjang tersenyum melihat Eliza dan seorang anak laki-laki bernama Wilson yang menggunakan Glaive terdesak, Eliza memasukan teleponnya ke kantung bajunya dan kembali mengangkat sabitnya, di belakang Eliza terdapat Maria yang sedang membantu Hirasawa yang terluka.



“apa mau mu Siegfred-sama?” Tanya Eliza.



“mau ku? Mungkin melihat mu memakai seragam lama mu, seragam maid itu, ahahaha aku hanya bercanda kok” ucap Siegfred, Eliza terlihat murka dan sudah bersiap untuk menyerang Siegfred.



“Wilson…” ucap Eliza pelan, kemudian Wilson mengangguk dan berlari ke arah Siegfred mengangkat glaivenya dan menghantamkannya ke arah Siegfred, Siegfred menahan hantaman glaive Wilson hanya dengan menggunakan satu tangan, setelah itu Wilson melompat, dan di belakangnya muncul bola api yang mengarah ke arah Siegfred, Siegfred meembodykan sebuah broadsword dan menebas bola api tersebut menjadi dua, setelah itu Siegfred kembali muncul di depan Eliza sambil memegang dagu Eliza.



“Eliza padahal kau bagitu cantik, tidak cocok kalau kau marah” ucap Siegfred, kemudian Eliza menebaskan sabitnya kembali ke arah Siegfred, Siegfred melompat menghindari serangan Eliza, kemudian Wilson terjun dari atas seraya mengarahkan glaivenya ke arah Siegfred.



“Siegfred!!!” teriak Wilson, Siegfred menebaskan broadswordnya dan membuat Wilson terlempar dan terguling, setelah itu Siegfred menancapkan broadswordnya ke tanah.



“cukup main-mainnya! Aku ke sini hanya untuk menjemput nee-san, bagaimana kalau kalian berhenti menganggu ku dan—“ tiba-tiba pintu di dekat Maria di dobrak terbuka, Natsume keluar dari pintu itu dan berlari ke arah Maria.



“Maria!! Kau tidak apa-apa?” Tanya Natsume yang membantu Maria meletakan tubuh Hirasawa yang tidak sadarkan diri.



“Natsume kenapa kau di sini?” Tanya Maria kebingungan.



“panjang ceritanya yang penting kita harus segera pergi dari sini di sini berbahaya!” ucap Natsume, Eliza dan Wilson hanya melihat ke arah Natsume yang mengajak Maria pergi dari situ.



“oi, oi, apa-apaan kau tiba-tiba masuk dan kau ingin pergi begitu saja? Kau kira kau akan ku biarkan pergi begitu saja?” Tanya Siegfred seraya mencabut broadswordnya dan menembakan api hitam ke arah Natsume, Natsume yang terkena api hitam tersebut terlempar ke arah pagar pembatas atap sekolah.



“Siegfred-sama!!” teriak Eliza yang menyerang Siegfred tiba-tiba, Siegfred menahan serangan Eliza dan menendang perutnya membuat Eliza juga terlempar dan terjatuh di dekat Maria.



“Eliza-san kau tidak apa-apa?” Tanya Maria yang khawatir melihat Eliza yang terluka.



“jadi kau yang ingin melukai teman ku? Majulah aku akan melawan mu!!” teriak Natsume yang berjalan ke arah Siegfred dengan keadaan terluka.



“Natsume hentikan kau tidak akan mampu melawan Siegfred-sama apalagi kemampuan mu sebagai overlord belum bangkit” ucap Eliza.



“apa-apaan kau manusia? Sombong sekali kau!!” teriak Siegfred seraya menebas Natsume, Natsume yang tertebas mengeluarkan darah yang banyak dan terjatuh, tetapi dia kembali berdiri dan tersenyum.



“k-kau?!! Kau mau mati ya?!!” teriak Siegfred yang menebas Natsume berkali-kali tetapi Natsume sama sekali tidak tumbang.



“hehehe bagaimana pun juga seharusnya aku sudah mati dua belas tahun lalu… ku rasa kalau aku mati lagi tidak masalah tapi setidaknya aku ingin melakukan sesuatu sebelum mati lagi…” ucap Natsume seraya mengangkat tangannya dan menghantam muka Siegfred, membuat Siegfred terlempar.



“kekuatan ini!! Siapa dia?!!” pikir Siegfred yang terlempar.



“yaitu menghajar mu!” ucap Natsume, kemudian Siegfred tertawa dan kembali berdiri, dia mengangkat pedangnya menciptakan api hitam raksasa di atas pedangnya.



“hehehe ahahaha!! Baiklah kalau kau ingin benar-benar mati!! Overd—“



“hentikan!!!” teriak Maria, Siegfred terkejut mendengar teriakan Maria, dan melihat ke arahnya, begitu juga denga Natsume.



“Eliza…” ucap Maria pelan.



“ada apa?! pergilah selagi bisa!! bawa Natsume bersama mu! berbahaya di sini” ucap Eliza.



“Eliza…” ulang Maria.



“apa yang kau tunggu kau tidak ingin mati kan?!!”



“Eliza!!!” teriak Maria dengan suara yang lebih kencang, Eliza terdiam, begitu juga dengan Wilson dan Natsume, Eliza mengangguk.



“dasar kau ini banyak maunya… padahal kau sendiri yang menyuruhku untuk diam…” ucap Eliza seraya mengambil dua ikat rambut dari kantung roknya.



“maaf dan terima kasih…” ucap Maria seraya mengambil ikat rambut tersebut.



“ahahahaha!! Ada apa?!! apakah kau sudah capek bersandiwara?!! Eh nee-san?!!” teriak Siegfred.



“nee-san apa maksudnya?” pikir Natsume, yang juga melihat ke arah Maria, Maria berdiri seraya mengenakan ikat rambut yang di berikan Eliza, Maria mengikat rambutnya menjadi dua, dan setelah itu menaruh jarinya di matanya mengeluarkan contact lensnya, dia memberikan contact lens tersebut ke Eliza, Eliza hanya bisa tersenyum melihat Maria yang berdiri, dan Natsume akhirnya menyadari sesuatu, bahwa selama ini orang yang dia cari selalu ada di dekatnya dan selalu bersamanya.



“k-kau? Maria? Kau dua belas tahun la-lalu?” ucap Natsume yang terkejut, Maria melihat ke arah Natsume dengan tatapan sedih.



“maaf aku menyembunyikannya Natsume…” ucap Maria, kemudian Maria menatap Siegfred.



“bukan kah aku yang kau inginkan?!! Majulah Siegfred!!” teriak Maria seraya meembody revolver hitam dan mengarahkannya ke arah Siegfred.



“Maria… dan perempuan yang aku cari selama ini adalah orang yang sama?” bisik Natsume, kemudian dia teringat perbincangan dia dengan Maria siang tadi, dan dia teringat ketika Maria menjatuhkan buku data siswanya, seketika juga wajah Natsume berubah menjadi merah padam seperti daging yang sedang di rebus.



TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment