Monday, 11 July 2011

CHAPTER 26: I ALWAYS WITH YOU ALL THIS TIME

CHAPTER 26: I ALWAYS WITH YOU ALL THIS TIME

“ada apa kau sedang mencari seseorang?” tanya Edea.

“ya aku mencari teman ku… aku kira mungkin dia ada di sini barusan…” jawab Natsume yang teringat dengan pedang berbentuk sabit yang baru saja menolongnya.

“hmm? Dari tadi cuman ada kita berdua loh” ucap Edea, kemudian Natsume kembali berjalan.

“ya… mungkin ini hanya imajinasi ku… tadi kau bilang kau Lycan dan teman ayah kan? Apa kau ingin bertemu dengan ayah?” tanya Natsume, Edea kemudian tersenyum.

“sebenarnya aku lebih tertarik bertemu dengan mu hehehe, bercanda kok, aku memang ingin bertemu dengan ibu mu, bisa kah kau memberi tahu rumah mu?” tanya Edea, Natsume terdiam kemudian dia mengangguk.

“hah, baiklah kebetulan aku juga sedang berjalan pulang” ucap Natsume sambil berjalan meninggalkan Edea. Edea menoleh ke arah gang yang tersembunyi di belakang salah satu rumah di sana dan tersenyum.

“kau yakin tidak ingin menemuinya?” tanya Edea, kemudian suasana menjadi sunyi.

“bersikap dingin eh? Atau kau hanya sebatas tidak ingin Natsume menyadari keberadaan mu? yang mana saja aku tidak peduli, tapi menurut ku ada baiknya kau menemuinya bukan? Tapi itu terserah kepada mu” lanjut Edea seraya berlari mengejar Natsume.

“tch!” ucap seseorang yang bersender di belakang tembok gang tersebut, orang itu kemudian berjalan pergi meninggalkan tembok itu.

***

“aku pulang” ucap Natsume seraya membuka pintu, Claire berjalan menyambut anaknya ke arah pintu rumah.

“ah Natsume kau sudah pulang?” tanya Claire, kemudian Edea yang mengikuti Natsume tiba-tiba melompat ke arah Claire.

“Claire-san!!” teriak Edea seraya memeluk Claire.

“E-Edea? Kenapa kau ada di sini?” tanya Claire yang terkejut melihat Edea.

“kakak terlalu sibuk dengan urusannya sebagai pemimpin ras yang baru, jadi karena aku bosan aku jalan-jalan ke sini” ucap Edea sambil tersenyum.

“dank au masih persis terlihat sama seperti dulu, aku jadi iri dengan mu dan Sierra yang tidak menua dan tetap memiliki penampilan muda” ucap Claire sambil tersenyum.

“lupakan itu! aku sudah lapar sekarang apakah kau punya makanan?” tanya Edea.

“berisik sekali perempuan ini” pikir Natsume sambil menggaruk kepalanya.

“bu? Ayah di mana?” tanya Natsume, seraya menatap ibunya.

“ayah? Dia sedang berada di halaman belakang rumah” ucap Claire.

“terima kasih” jawab Natsume sambil berjalan meninggalkan ibunya bersama Edea. Natsume dapat mendengar suara teriakan Edea yang berbicara dengan Claire. Natsume menatap ke arah punggung ayahnya yang menyender di pintu kaca yang menhubungkan rumah dengan halaman belakang, kemudian Natsume membuka pintu tersebut membuat ayahnya terjatuh ke belakang.

“bodoh! Apa yang kau lakukan? Aku sedang bersender tahu?!” ucap Ashley yang kembali bangun.

“hah? Harusnya aku yang bertanya begitu, apa yang kau lakukan di sini? Tidak biasanya kau duduk sendirian di tempat seperti ini” ucap Natsume seraya duduk di sebelah Ashley.

“suara gaduh di depan rumah itu… pasti ada seorang perempuan bernama Edea yang sangat berisik di depan” ucap Ashley sambil bergumal.

“ya begitulah, dia teman mu bukan?” tanya Natsume, Ashley hanya diam saja sambil menatap halaman belakang rumahnya.

“kau ke sini bukan hanya untuk berbicara dengan ku kan?” tanya Ashley. Natsume kemudian mengambil album yang tadi siang di berikan Ashley. Ashley menatap album tersebut dan mengambilnya.

“aku ingin kau menjelaskan semuanya… ku rasa ini saatnya kau memberi tahu anak mu semua rahasia yang kau sembunyikan dan rahasia ibu” ucap Natsume sambil menatap Ashley dengan tajam.

“hah merepotkan, apakah itu sebegitu pentingnya?”

“tentu saja! Di belakang itu ada foto Eliza!! berarti kau sudah tahu kalau Brendan akan mati bukan?! Tidak lebih tepatnya Brendan harusnya juga sudah tahu kalau dirinya akan mati bukan?!! Kalau dia tahu itu seharusnya dia memiliki suatu cara untuk menyelamatkan Eliza tanpa perlu membunuh dirinya!” teriak Natsume, Ashley terdiam dan menatap ke arah salah satu foto di album tersebut, foto dirinya bersama Brendan, dan Ryou.

“lalu yang kedua, sebenarnya apa hubungan mu dengan Brendan? kalau ayah memang saudaranya, berarti harusnya ayah juga adalah seorang dracus dan seharusnya tidak menua seperti ini…” lanjut Natsume. Ashley kemudian menghela nafasnya dan memukul Natsume.

“kalau ingin bertanya tanyakan satu-satu bodoh, kau tidak bisa menanyakan dua pertanyaan sekaligus seperti itu” ucap Ashley. Natsume memegang kepalanya yang di pukul dan mengusapnya.

“aku akan menjawab pertanyaan pertama mu terlebih dahulu…” ucap Ashley seraya mengambil sepuntung rokok dan menghisapnya.

“memang benar… aku mengetahui mengenai kematian Brendan… tetapi sayangnya Brendan tidak mengetahui hal itu… delapan belas tahun yang lalu, Eliza dan Drounendal menemui ku… mereka menjelaskan bahwa mereka berasal dari masa depan… dan mereka mengatakan bahwa mereka datang bersama anak ku… awalnya aku tidak percaya, kemudian aku menyadari satu hal… Eliza yang aku temui delapan belas tahun yang lalu, sifatnya jauh berbeda dari Eliza yang biasa aku temui… karena itu aku mulai mempercayainya… dan pada kenyataannya dia adalah orang yang mengasuh mu sampai umur mu mencapai lima tahun… dan dia juga yang selalu menjenguk mu ketika kau di rawat di rumah sakit milik Marcel…”

“apa maksud mu dengan Brendan tidak mengetahuinya?” tanya Natsume.

“ketika aku bertemu dengan Eliza waktu itu… Drounendal memberitahu ku… bahwa aku harus merahasiakan keberadaan Eliza dari siapa pun sampai waktu tertentu… dan agar aku tidak memberi tahu siapa pun mengenai masa depan Brendan yang mati di tangan Noctius… karena kalau aku memberitahu orang lain mengenai hal itu… terutama Brendan itu sendiri maka sejarah akan berubah… Eliza tidak akan tinggal di masa lalu… kau tidak akan selamat dan kehilangan kedua mata mu... dan berbagai macam hal lainnya… Drounendal yang mengalami time loop tersebut mengetahui hal itu karena itu dia memberi tahu ku…”

“Drounendal mengalami time loop? Apa maksud mu?”

“Drounendal… tugas dia yang sebenarnya adalah menjaga time loop ini tetap berjalan semestinya… karena itu dia hidup bersama Eliza selama delapan belas tahun, kemudian ketika Chronos muncul dia bergabung dengan Chronos, dan setelah itu dia menyeting semuanya agar Ravenhalt atau lebih tepatnya Eliza sebelum memasuki time loop kembali ke masa lalu, dan dia juga menyeting agar kalian Apocalypse juga ikut kembali ke masa lalu bersama Brendan, dan setelah itu dia kembali hidup bersama Eliza selama delapan belas tahun dan mengulangi langkah tersebut ratusan… tidak mungkin ribuan kali…” ucap Ashley.

“jadi maksud mu Drounendal itu?”

“ya Drounendal dia bukanlah Acursed seperti yang kau bayangkan… Drounendal adalah eksistensi yang di ciptakan oleh Eliza yang berada di timeloop pertama, dia menugaskan Drounendal untuk terus menjaga time loop tersebut dan tidak merusaknya… itulah Drounendal, dia bisa di bilang bagian dari Eliza yang menjaga waktu”

“bagaimana dengan pertanyaan ku yang kedua?”

“aku dan Brendan bukan lah saudara kembar… kami mirip bukan karena kami adalah saudara kembar… tapi karena Brendan adalah cloning dari ku… dia adalah ciptaan Vraniel Lindwurm… kakek mu… dan ayah ku… Vraniel memiliki teman bernama Alucard yang merupakan kakek dari Maria, pada saat itu Alucard bertarung dengan Arcruel dan mendapatkan luka yang parah… Alucard tahu dirinya tidak akan selamat, tapi dia masih harus mengejar Arcruel yang telah membunuh orang yang di sayanginya Sierra Fein Veinstern, karena itu Vraniel membantu Alucard dengan cara mengambil sample sel Alucard dan sample sel diri ku, dia menyatukan keduanya dan dari situ lah terlahir Brendan… Brendan memiliki penampilan seperti ku… tetapi jiwa yang bersemayam di dalam dirinya adalah milik Alucard…”

“Sierra Fein Veinstern… jadi itulah Eliza yang sebenarnya…” ucap Natsume, Ashley menatap Natsume dengan seksama.

“terima kasih ayah…” ucap Natsume yang berdiri, dan berbalik membuka pintu kaca di belakangnya.

“oi” panggil Ashley, Natsume berbalik dan Ashley melempar sebuah kunci ke arah Natsume. Natsume mengambil kunci tersebut.

“kunci apa ini?” tanya Natsume yang kebingungan.

“di sebelah kamar mu ada kamar kosong yang selalu terkunci kan? Waktu itu kau sempat menanyakan kamar apa itu, dan aku sempat menjawab bahwa itu hanyalah gudang yang sudah tidak terpakai… tapi sebenarnya, Eliza yang datang delapan belas tahun yang lalu menggunakan kamar itu… jadi bisa di bilang itu adalah kamar Eliza sampai dia meninggalkannya beberapa minggu yang lalu… lebih tepatnya ketika kau keluar dari rumah sakit setelah menyelesaikan rehabilitasi mu dan kembali tinggal di sini” ucap Ashley. Natsume yang mendengar itu terkejut dan berlari ke lantai dua ke arah kamarnya, dia berlari ke arah pintu yang tidak jauh dari pintu kamarnya, dia memasukan kunci yang di berikan Ashley ke dalam lubang kunci pintu tersebut dan membukanya.

“i-ini…” ucap Natsume terkejut melihat sebuah kamar yang tertata rapih di depannya, terdapat kasur dengan coverbed bewarna hijau di tengahnya, meja rias yang berada tidak jauh dari kasur tersebut, lemari baju, dan juga meja kerja yang di letakan di dinding pojok kamar. Natsume menatap meja belajar tersebut dan melihat secarik surat, Natsume berlari ke arah surat itu dan membukanya.

Untuk Natsume
Kalau kau membaca surat ini berarti Chronos sudah hancur dan Ashley sudah menceritakan semuanya kepada mu. aku tahu keputusan ku untuk tinggal di masa lalu benar-benar mengejutkan mu dan Maria… tapi kau tidak usah khawatir dalam waktu dekat kita akan bertemu lagi aku berjanji akan hal itu. dan juga selama delapan belas tahun ini aku selalu bersama mu… aku selalu mengawasi mu… walaupun kau tidak tahu itu…

Eliza Ravenhalt

Natsume meremas surat itu.

“ya aku tahu itu… kita pasti akan bertemu lagi…” ucap Natsume seraya meletakan surat itu di meja dan tiduran di kasur Eliza. Natsume melihat ke arah pita merah Eliza yang sudah terkoyak karena pertarungan dengan Noctius, melihat keadaanya yang sudah sangat parah, Natsume tahu kalau pita itu berumur delapan belas tahun lebih tua dari dirinya.

“Eliza…” ucap Natsume seraya menutup matanya dan tertidur di kasur Eliza.

TO BE CONTINUED

CHAPTER 25: ADOLESCENCE

CHAPTER 25: ADOLESCENCE

Natsume membuka matanya, dia sedang tertidur di kamarnya, kemudian dia melirik ke arah jam di atas meja sebelah kasurnya yang menunjukan jam 8.00 AM dan tanggal 22 Oktober. Natsume kembali teringat dengan kejadian kemaren, tanpa sadar air mata menetes dari matanya.

“bodoh kenapa aku menangis… aku pasti bertemu lagi dengannya…” ucap Natsume seraya beranjak bangun dari kasurnya.

“oi!! Natsume sampai kapan kau mau tidur!! Turun sebentar walau ini hari Minggu bukan berarti kau bisa tidur seharian!!” teriak Ashley.

“iya!! Aku mengerti!!! Pelankan suara mu sedikit!!” balas Natsume seraya mengganti pakaiannya. Natsume kemudian beranjak keluar dari kamarnya dan berlari ke lantai satu. Natsume di kejutkan dengan kehadiran Sierra dan Maria yang ada di ruang tamu.

“Maria? tante? Sedang apa di sini?” tanya Natsume yang kebingungan.

“tidak apa-apa aku hanya ingin berbicara dengan ayah mu mengenai Brendan… bagaimana pun juga dia dan Brendan adalah saudara kembar?” ucap Sierra sambil tersenyum, Natsume dapat melihat mata Sierra yang terlihat habis mengeluarkan air mata semalaman, Natsume tahu kenapa Sierra terlihat sedih, itu semua karena kematian orang yang di cintainya, yaitu Brendan.

“m-maaf aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyele—“ belum selesai Natsume berbicara, tiba-tiba Ashley memukul kepala Natsume dengan kuat.

“argh!! Buat apa itu?!!” teriak Natsume yang kesakitan dan memegang kepalanya, kemudian Natsume terkejut melihat Lilithia di belakang Ashley.

“Li— kenapa kau ada di sini?” tanya Natsume.

“mulai sekarang dia tinggal di sini bersama kita, bagaimana pun dia Acursed mu yak an Natsume?” ucap Claire yang muncul dari dapur dan membawakan sandwitch ke ruang tamu.

“kau tidak apa-apa dengan keputusan itu Lilithia?” tanya Natsume, Lilithia mengangguk dan tersenyum.

“sebaliknya aku bahagia bisa tinggal bersama mu Natsume-san” ucap Lilithia.

“ah! Sudahlah Lilithia kau bantu Claire masak di dapur, aku ada urusan dengan Sierra jadi kalian berdua!” ucap Ashley sambil menunjuk Maria dan Natsume, Maria dan Natsume yang di tunjuk terkejut.

“pergilah berjalan-jalan!” teriak Ashley, Maria menatap ibunya, Sierra mengangguk dan tersenyum.

“baiklah! Aku juga tidak mau di rumah bersama ayah seberisik diri mu!” ucap Natsume seraya mengambil sandalnya, kemudian tiba-tiba sebuah buku melayang ke arah Natsume, Natsume yang terkejut mengambil sesuatu yang terlihat seperti buku itu yang di lempar oleh Ashley.

“hei apa ini!! Kau hampir saja melukai anak mu!!” teriak Natsume yang terlihat kesal.

“itu adalah album masa kecil mu, kau belum pernah melihatnya kan? Ya memang aku sengaja menyimpannya sih, tapi kalau kau mau melihatnya lihat lah, jangan salah sangka aku tidak ingin memperlihatkan sesuatu yang bisa meringankan hati mu! aku hanya… aku hanya ingin kau melihatnya!!” teriak Ashley.

“berhenti bertingkah seperti seorang tsundere!! Baka!! Aku pergi!!” teriak Natsume seraya keluar dari rumahnya dan membanting pintu rumahnya, Maria mengucapkan salamnya kepada Ashley dan ibunya, kemudian menyusul Natsume.

“Natsume! Tunggu aku!” teriak Maria yang beranjak keluar dari rumah Natsume dan mengejar Natsume, tidak jauh di belakang mereka terlihat seekor anjing berukuran besar dengan mata bewarna biru menatap mereka dan bulu hitam, kemudian anjing hitam itu berjalan mengikuti mereka tanpa di sadari oleh mereka.

***

Natsume duduk di sebuah taman yang di lalui oleh orang dalam jumlah banyak, hal tersebut tidak aneh karena pada hari minggu biasanya daerah sekeliling Shibuya di penuhi oleh orang yang berlalu lalang menghabisi hari minggu mereka, kemudian Maria berjalan ke arah Natsume dan menawarkan sebuah minuman, Natsume mengambil minuman tersebut dan meminumnya, sementara Maria duduk di sebelah Natsume.

“hei Natsume kau terlihat tidak memiliki hubungan baik dengan ayah mu…” ucap Maria sambil meminum minumannya.

“itu karena dia bertingkah bodoh setiap saat… sehingga aku sendiri sering kesal melayaninya… lagi pula apa yang hendak dia tunjukan dari album lama ini?” jawab Natsume sambil memainkan album dengan cover kulit coklat tersebut di tangannya.

“hei… kenapa kita tidak membukanya saja? Aku juga penasaran dengan diri mu ketika masih bayi, hehehe” ucap Maria sambil tertawa kecil, wajah Natsume memerah, kemudian dia menatap album itu.

“baiklah kalau kau mau melihatnya…” ucap Natsume seraya membuka album tersebut, halaman pertama album itu di penuhi oleh foto Claire yang sedang mengandung.

“ku rasa di sini juga ada foto ibu mu ketika dia masih mengandung mu…” ucap Maria, Natsume mengangguk seraya membuka halaman keduanya, di halaman kedua terdapat foto Ashley yang masih muda, dia tersenyum sambil mengangkat Natsume yang masih bayi.

“dan ayah mu ternyata wajahnya ketika masih muda memang mirip dengan ayah ku…” ucap Maria, Natsume juga melihat banyak kesamaan di antara Brendan dan Ashley, kemudian Natsume kembali membuka halaman-halaman berikutnya yang di penuhi oleh foto-fotonya selagi bayi.

“hei bukan kah itu foto ibu ku!” teriak Maria sambil menahan Natsume sebelum kembali membalikan halaman album itu.

“ya kau benar… ini foto ibu mu…” ucap Natsume sambil menyentuh foto Sierra yang menggendong bayi Natsume dengan Claire di sebelahnya. Natsume kembali membalik halaman-halaman tersebut, di halaman tersebut terdapat banyak foto-foto bayinya bersama dengan orang lain yang sepertinya merupakan teman-teman ayahnya, bahkan ada salah satu foto yang menurutnya sedikit aneh karena foto tersebut di bubuhi oleh tanda tangan dari orang bernama ‘Arif’ dan di bawahnya terdapat tulisan ‘jadilah lolicon sukses di masa depan!’. Natsume kembali membuka halaman di album tersebut, dia dapat melihat berbagai macam fotonya yang bersama dengan orang yang dia kenal, ada yang bersama Dave, dan ada juga yang bersama Garde.

“hehehe kau benar-benar lucu Natsume ketika masih bayi, dan sepertinya banyak orang yang menyukai mu” ucap Maria sambil tertawa.

“d-diam” jawab Natsume yang wajahnya memerah, kemudian Natsume membuka halaman terakhir dan terkejut dengan foto yang dia temukan, begitu juga dengan Maria. Natsume menggenggam cover album tersebut dengan kuat, tangannya bergetar dan air mata menetes dari matanya.

“i-ini bukan kah orang ini…” ucap Natsume.

“ya tidak salah lagi orang yang ada di foto ini adalah orang itu…” ucap Maria seraya melihat ke arah foto di halaman terakhir tersebut, foto yang ada di halaman terakhir tersebut adalah foto bayi Natsume yang sedang di gendong oleh perempuan berambut hijau zamrud, perempuan itu mengenakan jaket hitam yang Natsume dan Maria kenali sebagai jaket Brendan, perempuan itu tersenyum bahagia.

“setidaknya kita tahu sampai sebelas tahun yang lalu Eliza masih sehat dan bahagia…” ucap Maria.

“i-ini tidak lucu! Kepada ayah menyembunyikan ini?!” teriak Natsume sambil memeluk buku tersebut, Maria hanya bisa tersenyum dan memeluk Natsume.

“mungkin karena kalau kau tahu… kau akan menghalangi Eliza waktu itu dan mungkin kau tidak akan bersama kita di sini…” ucap Maria sambil memeluk Natsume. Maria kemudian melihat ke arah seekor anjing hitam yang menatapnya dan menjulurkan lidahnya, buntutnya bergoyang-goyang melihat Natsume dan Maria.

“hei Natsume! Lihat anjing ini lucu sekali!” teriak Maria seraya berjalan ke arah anjing hitam itu dan mengelusnya.

“arf! Arf!” gonggong Anjing itu sambil berguling di tanah dan membiarkan Maria mengelus perutnya, Natsume menatap anjing itu sambil tersenyum.

“hei bagaimana kalau kita berjalan-jalan bersama anjing ini?” tanya Natsume, Maria tersenyum dan mengangguk.

“ayo ikut bersama kami berjalan-jalan” ucap Maria, tetapi anjing itu kemudian kembali bangun dan berlari meninggalkan Natsume dan Maria.

“ah dia pergi…” ucap Maria.

“jadi bagaimana? Mau di kejar?” tanya Natsume, Maria menggelengkan kepalanya.

“kita lanjutkan saja jalan-jalan kita” ucap Maria, Natsume mengangguk dan berjalan bersama Natsume.

***

“baiklah Natsume terima kasih untuk hari ini, ibu tadi berkata dia sudah kembali ke rumah, jadi ku rasa kita berpisah di sini untuk saat ini” ucap Maria sambil tersenyum.

“baiklah, hati-hati di jalan Maria, kalau ada apa-apa telepon saja aku” ucap Natsume sambil tersenyum, Maria mengangguk dan pergi meninggalkan Natsume, kemudian Natsume berbalik dan berjalan ke arah rumahnya.

“kalau foto Eliza di album itu benar… berarti ayah pasti tahu apa yang terjadi dengan Eliza…” ucap natsume sambil berjalan ke arah rumahnya, ketika melewati sebuah gang Natsume mendengar suara, Natsume yang penasaran menoleh ke arah gang tersebut, kemudian dia terkejut melihat segerombolan Nocturnal berbentuk serigala. Nocturnal itu menyadari kehadiran Natsume dan dengan sigap berlari ke arah Natsume.

“s-sial! Kenapa ada Nocturnal di saat seperti ini!!” teriak Natsume seraya berlari secepat mungkin berusaha kabur dari kejaran Nocturnal di belakangnya, Natsume dapat mendengar raungan Nocturnal di belakangnya.

“sial!! Lilithia di rumah!! Aku tidak bisa mengaktifkan Avalon ku kalau tidak ada Lilithia di dekat ku!!” teriak Natsume yang berusaha mencari senjata di sekelilingnya, kemudian dia menatap ke arah tong sampah di dekatnya. Natsume berlari ke arah tong itu dan menendangnya ke arah Nocturnal di belakangnya.

“makan ini!!” teriak natsume seraya menendang tong sampah tersebut, tetapi gerombolan Nocturnal itu dengan mudah menghindari tong tersebut dan melesat ke arah Natsume.

“sial!! Apa saja yang bisa di jadikan senjata!!” teriak Natsume seraya mengangkat tangannya, kemudian terdengar suara Avalon dari dalam kepala Natsume.

“A v a l o n S t a n d – By P a r t n e r f o u n d w i t h i n 5 m e t e r” ucap Avalon, Natsume yang terkejut menggenggam tangannya.

“apa pun!! Senjata apa pun tidak masalah!!” teriak Natsume seraya menarik cahaya yang muncul di tangannya, mata kanan Natsume bercahaya dan cahaya di tangannya berubah menjadi sebuah pedang dengan mata pedang yang berbentuk seperti sabit.

“majulah! Kalian mahluk sialan!!!” teriak Natsume seraya menebaskan pedang di tangannya dan memotong sebagian serigala tersebut, kemudian sesosok serigala berhasil lolos dari tebasan Natsume dan menyerang Natsume dari belakang.

“sial!! Aku tidak sempat!!” ucap Natsume dalam hati, kemudian anjing hitam yang di temuinya tadi muncul di belakang Natsume dan berubah menjadi perempuan berambut hitam pekat dan bermata biru, perempuan itu tersenyum seraya menciptakan api hitam di tangan kanannya dan menghajar Nocturnal tersebut yang akhirnya terbakar oleh api hitam ciptaan perempuan itu.

“k-kau, anjing tadi kan? Kenapa kau bisa jadi manusia siapa kau?” tanya Natsume yang menebas Nocturnal terakhir.

“nama ku adalah Edea Naffil, aku adalah salah satu teman ayah mu dan seorang Lycan” ucap Edea sambil tersenyum.

“Lycan?” tanya Natsume, kemudian pedang dengan mata pedang yang berbentuk sabit itu menghilang dari tangan Natsume.

“jangan-jangan pedang tadi…” ucap Natsume sambil menatap Edea, Edea hanya menggelengkan kepalanya.

“sudah ku bilang bukan aku ini Lycan bukan Acursed” ucap Edea sambil tersenyum.

“kalau bukan kau siap—“ tiba-tiba Natsume teringat dengan seseorang, dia berbalik dan berusaha mencari keberadaan orang yang di carinya, tetapi dia tidak dapat menemukan siapa pun selain dirinya dan Edea.

“apa mungkin… Eliza?”

TO BE CONTINUED

Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 24: FAREWELL

CHAPTER 24: FAREWELL

Natsume mencium wangi sampo di dekatnya, dia merasakan rasa pusing di kepalanya dan berusaha membuka matanya dan menyadari bahwa dia sedang tertidur di sebuah kasur di kamar, kemudian dia melihat daerah sekelilingnya dan yang dia lihat adalah atap kayu dan lampu yang tergantung di atap kamar tersebut.

“di mana ini?” ucap Natsume seraya berbalik kemudian Natsume terkejut melihat Eliza yang tertidur di sebelahnya dengan pulasnya.

“Eliza…” ucap Natsume yang menatap wajah Eliza yang terlihat tenang dan tertidur dengan pulas. Natsume mengusap wajah Eliza dan menaikan rambutnya yang tergerai menutupi wajahnya.

“kemaren… aku tidak sadarkan diri karena memaksa melaksanakan kontrak dengan mu… mungkinkah kau yang membawa ku ke sini?” bisik Natsume. Natsume bangun dari kasurnya seraya membuka jendela kamar tersebut, kemudian dia menyadari bahwa dirinya berada di sebuah hotel di Shibuya, terdengar ketukan pintu kamar, Natsume yang terkejut berbalik dan membuka pintu kamarnya. Di belakang pintu tersebut Riku dan Daichi berdiri.

“yo” ucap Natsume sambil tersenyum, Riku hanya terdiam, kemudian Daichi menatap Natsume.


Natsume kami ingin member tahu mu sesuatu… kita berdua sudah menyimpan terlalu banyak rahasia yang tidak kau ketahui…” ucap Daichi, Natsume terdiam kemudian mengangguk.

“tapi apapun yang kalian katakan, kalian masih akan menjadi teman ku” ucap Natsume sambil tersenyum.

“terima kasih Natsume…” ucap Riku yang wajahnya memerah.

“jadi bagaimana? Kalian ingin berbicara di mana?” tanya Natsume yang kebingungan.

“ikut aku… di bawah ada kafe yang lumayan nyaman untuk berbicara…” balas Daichi. Natsume mengangguk dan mengikuti Daichi dan Riku meninggalkan kamar tersebut. Setelah pintu tertutup dengan rapat, Eliza yang berpura-pura tidur membuka matanya, wajahnya memerah, tanpa sadar dia memegang rambutnya.

“Natsume…” ucap Eliza pelan dan teringat dengan kejadian kemaren. Eliza berdiri dari kasurnya dan mengganti pakaiannya, dia menatap ke arah jaket Brendan yang sudah di cucinya dan di gantungnya di lemari kamar hotel tersebut. jaket hitam itu terlihat bersih tanpa ada noda darah sekalipun.

“hei Brendan… kalau aku bahagia di sini… apakah kau juga akan bahagia di sana?” tanya Eliza sambil terus menatap jaket hitam milik Brendan, setelah itu Eliza berjalan keluar dari kamarnya, dia melihat Sieg yang berdiri tidak jauh dari sana dan menatapnya.

“Sieg? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eliza. Sieg berjalan ke arah Eliza dan berhenti di depannya.

“aku sudah mendengarnya dari Maria… ayah dia…” ucap Sieg yang menggenggam tangannya dengan kuat, Eliza hanya bisa tersenyum lemah.

“aku tidak apa-apa… kau lebih baik mengkhawatirkan diri mu sendiri… setelah kehilangan ayah mu apa yang akan kau lakukan tuan muda?” ucap Eliza sambil tersenyum.

“aku akan melindungi ibu dan Maria!! aku! Aku juga akan melindungi mu!!” teriak Sieg, Eliza terdiam mendengar perkataan Sieg, kemudian dia tersenyum.

“hoo? Sayangnya… sepertinya aku tidak akan pernah merasakan hal itu…” ucap Eliza sambil tersenyum lemas.

“kenapa?” tanya Sieg penasaran, Eliza hanya tersenyum seraya memandang ke arah langit, dia dapat melihat burung yang berterbangan di langit.

“awalnya aku berpikir setelah kehilangan Brendan apa yang akan ku lakukan… apakah aku sudah kehilangan tujuan hidup ku? Tetapi orang itu… dia memberikan ku harapan… dia memberikan ku kehidupan… dia memberikan ku tujuan hidup ku yang baru…” ucap Eliza yang mengangkat tangannya dan menutupi matanya dari sinar matahari.

“sinar ini… mereka terlalu terang untuk ku… tetapi… sampai kapan pun… apa pun yang terjadi aku akan dengan senang hati menyambut sinar ini… menyambut hari-hari ku sampai aku bertemu dengannya lagi suatu saat nanti…” lanjut Eliza.

“memangnya apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“aku akan melindungi anak itu… aku akan menjaganya sampai dia tumbuh besar seperti sekarang… agar dia dapat memberikan harapan lebih banyak ke orang lain…” ucap Eliza yang menatap burung-burung bertebangan di atasnya.

***

Daichi dan Riku terlihat menundukan kepalanya, Natsume hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.

“sebenarnya kalian tidak perlu sampai merasa bersalah seperti ini” ucap Natsume sambil tersenyum.

“tapi kita berdua sudah menyembunyikan ini dari dulu… aku Daichi adalah Acursed milik Riku… dan…” ucap Daichi sambil menatap Riku, Riku mengangguk seraya menatap Natsume, kemudian Riku memperlihatkan mata kirinya yang menjadi Avalon.

“aku juga menyembunyikan bahwa aku adalah pemilik Avalon…” ucap Riku.

“hei apa sebenarnya Avalon itu?” tanya Natsume.

“Avalon… sebenarnya di ciptakan untuk ku… aku yang sudah memiliki Acursed sejak kecil bisa di bilang sedikit special… dan aku tidak akan bisa mengendalikan Acursed ku yaitu Daichi… karena itu… salah satu Profesor di yang aku kenal bernama Marcel menciptakan Avalon untuk ku agar aku bisa mengendalikan Daichi… tapi… waktu itu kau kecelakaan… dan kehilangan sebelah mata mu… karena itu aku memberikan salah satu Avalon yang aku miliki dan belum terpasang kepada ku sebagai pengganti mata mu…” ucap Riku.

“begitu… tapi aneh juga ya, bukan kah seharusnya seluruh tubuh ku dan kedua mata ku remuk kalau jatuh dari ketinggian setinggi itu?” tanya Natsume sambil tertawa, Riku terlihat kebingungan dan menatap Natsume.

“ada apa?” tanya Natsume yang kebingungan melihat reaksi Riku.

“apa yang kau maksud Natsume? Ketika kau terjatuh dua belas tahun yang lalu… ada seorang perempuan yang menyelamatkan mu… karena itu yang terkena hantaman dan remuk hanya bagian kanan tubuh mu sementara bagian kiri mu baik-baik saja… tidak hanya itu bahkan menurut Marcel yang menjadi dokter mu selama kau koma, menurut dia perempuan itu mengunjungi mu tiap hari” ucap Riku, Natsume yang mendengar itu terkejut.

“Maria… apa benar dia yang melakukan itu… mengunjungi ku setiap hari?” pikir Natsume. ketika Natsume berpikir, terlihat Maria yang berjalan ke arah Natsume.

“hei Natsume! Sudah saatnya kita pulang ke zaman kita! Drounendal sudah menyiapkan portal menuju dimensi kita!!” teriak Maria. Natsume terkejut dan menatap Daichi dan Riku, Daichi dan Riku mengangguk seraya berdiri berjalan meninggalkan Natsume. Natsume yang melihat kedua temannya sudah berdiri juga ikut berdiri dan berjalan menuju Maria.

“Maria mau berjalan bersama sampai kita mencapai tempat Drounendal berada?” tanya Natsume.

“tentu saja kenapa tidak?” ucap Maria sambil tersenyum, Natsume mengangguk dan berjalan bersama Maria.

“hei Maria… terima kasih karena kau sudah menyelamatkan ku dua belas tahun yang lalu… dan mengunjungi ku tiap hari di rumah sakit…” ucap Natsume, Maria yang mendengar ucapan Natsume terkejut dan terlihat kebingungan.

“hah? Apa yang kau maksud? Ketika kau mengejar ku dua belas tahun yang lalu aku memang kabur… tetapi ketika kau tidak juga menemukan ku, aku menjadi khawatir… aku pun mencari mu… dan saat itu aku menemukan mu tergeletak di bawah tebing berlumuran darah, dan di dekat mu terdapat siluet seorang perempuan berdiri… awalnya aku kira dia yang melakukan itu kepada mu… tetapi dia menoleh ke arah ku dengan air mata memenuhi matanya… dia kemudian tersenyum melihat ku dan akhirnya pergi meninggalkan aku dan kamu yang terluka parah…” ucap Maria, Natsume yang mendengar perkataan Maria terkejut.

“tunggu kalau dia bukan Maria… kalau begitu siapa perempuan itu?” ucap Natsume dalam hati.

“nah kita sudah sampai, dan kelihatannya semuanya juga sudah berkumpul” ucap Maria, Natsume menoleh ke arah sebuah mesin portal yang terlihat tersambung dengan kabel yang ada di ruangan tersebut, Drounendal berdiri di dekat portal tersebut. Kemudian Natsume menatap ke arah Lilithia, Nac, Nara, Ace, Daichi, dan Riku.

“ke mana Sieg dan Eliza?” tanya Natsume.


mereka sebentar lagi akan sampai tenang saja…” ucap Drounendal dengan tenang, kemudian pintu ruangan tersebut terbuka, Eliza dan Siegfred memasuki ruangan tersebut.

“maaf aku telat…” ucap Sieg, Natsume dapat melihat mata Sieg yang terlihat seperti baru saja menangis.

“apa yang terjadi?” tanya Natsume, Sieg hanya menggelengkan kepalanya.

“tidak apa-apa…” jawab Sieg.

“baiklah karena semuanya sudah di sini, harap berkumpul di tengah portal” ucap Drounendal, yang lainnya mengangguk dan berjalan ke tengah portal.

“sebelum itu Ace-kun…” ucap Drounendal, Ace terkejut dan menatap ke arah Drounendal, Drounendal mengeluarkan sebuah kantung kulit dan menyerahkannya kepada Ace.

“ini adalah relic dan inti dari time magic milik ku… dengan menggunakan ini… kau bisa menyembuhkan teman mu… dan menggunakan kekuatan ku…” ucap Drounendal, Ace membuka kantung tersebut dan melihat sebuah cincin bewarna perak di dalamnya.

“terima kasih Drounendal” ucap Ace, Drounendal mengangguk. Kemudian Ace berjalan ke tengah portal bersama dengan yang lainnya.

“baiklah karena semuanya sudah siap… Time Reversal!!” teriak Drounendal, kemudian daerah sekeliling Natsume dan yang lainnya bersinar.

“akhirnya kami bisa pul—“ belum selesai Natsume berbicara Natsume sudah di kejutkan dengan apa yang di lihatnya.

“h-hei… kau bercanda kan!! Apa yang kau lakukan di situ Eliza!!” teriak Natsume yang melihat Eliza berada di luar lingkaran sinar tersebut, Eliza hanya tersenyum dengan ekspressi yang sedih ke arah Natsume.

“oi!! Eliza cepat ke sini!!” teriak Natsume yang berusaha keluar dari lingkaran tersebutt, tetapi Natsume sama sekali tidak dapat menembus lingkaran itu, Sieg menahan Natsume, Natsume yang di tahan terkejut.

“itu sudah keputusannya… aku juga tidak bisa menghentikannya… dia ingin tinggal di sini…” ucap Sieg sambil menangis. Natsume yang mendengar perkataan Sieg terkejut.

“a-apa maksud mu?!! Eliza!! kau bercanda kan?!! Kalau kau tinggal di sini apa artinya kontrak yang ku lakukan dengan mu?!!” teriak Natsume yang meneteskan air matanya.

“ini adalah pilihan ku Natsume… justru karena kontrak itu lah aku memilih untuk tinggal di sini… aku akan melindungi mu… sampai kapan pun” ucap Eliza sambil tersenyum dan meneteskan air matanya, tiba-tiba rasa sakit kepala yang kuat menyerang Natsume, Natsume terjatuh berlutut menahan sakit di kepalanya.

“Eliza ku mohon…” ucap Natsume yang menangis.

“Natsume… kadang aku berpikir… kenapa kau begitu mengkhawatirkan ku… pada awalnya aku menanggap itu semua karena kita adalah teman… tapi aku salah Natsume… aku… benar-benar bahagia telah bertemu dengan mu… aku benar-benar bahagia bisa bersama mu… karena itu akhirnya aku menyadarinya sekarang… aku… aku… aku menyukai mu Natsume” ucap Eliza sambil meneteskan air matanya, Natsume yang di serang oleh rasa sakit kepala kembali memegang kepalanya dan berteriak.

“apa yang sebenarnya terjadi dengan Natsume?” tanya Maria yang terlihat khawatir.

“menurut Marcel… karena benturan di kepalanya… Natsume kehilangan sebagian ingatannya… dia tidak dapat mengingat apa yang sebenarnya terjadi dua belas tahun yang lalu… mungkin ingatan dia mulai kembali…”

“Eliza…” ucap Natsume pelan, kemudian sebagian ingatannya Natsume yang menghilang kembali.

***

“Natsume!!!” teriak sebuah suara.

“suara siapa itu? ayah? Ibu? Apakah aku akan mati? Aku pasti mati dari ketinggian setinggi ini…” ucap Natsume kecil yang terjatuh.

“Natsume aku tidak akan membiarkan mu mati di sini!!” teriak suara yang sama, kemudian sesosok perempuan melompat dari jurang tempat Natsume terjatuh, perempuan itu mengenakan jaket hitam yang merupakan jaket milik Brendan, dan perempuan itu juga mengenakan pakaian bewarna hitam pula, dia juga mengenakan celana ketat pendek, perempuan itu berambut hijau dan bermata merah darah.

“siapa kau? Ku mohon selamatkan aku!” teriak Natsume kecil sambil menangis, perempuan itu dengan sigap memeluk tubuh Natsume kecil dengan erat dan terjatuh bersamanya, tidak beberapa lama kemudian terdengar suara dentuman yang keras di sertai darah yang bermuncratan ke daerah sekitar, Natsume kecil tidak dapat merasakan sebagian tubuh sebelah kanannya, dengan sisa tenaga yang ada Natsume kecil menatap ke arah perempuan yang tadi memeluknya. Perempuan itu juga mendapatkan luka yang sama parahnya dengan Natsume. Perempuan itu menangis dan menatap Natsume.

“ku mohon Natsume jangan mati di sini… aku tidak ingin kau mati di sini… hiduplah… sampai kita bertemu lagi dalam keadaan ketika kita berpisah… ku mohon Natsume!!” teriak perempuan itu.

“siapa di sana!!” teriak suara lainnya, perempuan itu terkejut dan menoleh ke arah Maria kecil yang berkeringat dan kehabisan nafas.

“ojou-sama… ya dia yang akan menolong Natsume… hei Natsume… berjanjilah… kalau kita bertemu lagi nanti… berikan jawaban dari pertanyaan ku ketika kita berpisah enam tahun yang lalu” ucap perempuan itu sambil tersenyum dan berlari meninggalkan Natsume kecil. Maria yang melihat perempuan tersebut pergi, berlari ke arah Natsume dan meneteskan air matanya.

***

Setelah itu pikiran Natsume kembali berkabut dan tidak dapat lagi mengingat apa yang terjadi setelah itu, tetapi kemudian dia mendapatkan sebagian ingatannya yang lain, ingatan ketika dia berada di rumah sakit dan lumpuh.

***

Tubuh Natsume tergeletak di kasur rumah sakit dan di penuhi oleh perban, matanya terlihat seperti tidak memiliki semangat hidup, yang dia lihat hanyalah atap rumah sakit yang putih, kemudian perempuan berambut hijau yang menyelamatkannya datang dan menyapanya.

“hei Natsume, ku rasa ojou-sama benar-benar berhasil menyembuhkan mu” ucap perempuan itu sambil tersenyum dan duduk di sebelah Natsume kecil.

“hai Natsume… walaupun kau bukan lah Natsume yang aku tahu… tapi apakah hati kita masih tersambung melalui kontrak itu? hah apa yang aku tanyakan… aku benar-benar ingin bertemu dengan mu… hati ku… terasa sakit setiap saat… karena itu… Natsume aku akan melindungi mu sampai kau tumbuh seperti kau pada saat kita berpisah enam tahun yang lalu… aku akan selalu berada di sisi mu… sampai kapan pun juga, karena kau lah yang memberikan ku harapan”

***

“Eliza? perempuan yang menyelamatkan ku dua belas tahun… perempuan yang menjenguk ku setiap hari di rumah sakit… adalah Eliza yang sekarang?” ucap Natsume seraya menoleh ke arah Eliza yang masih berada di luar lingkaran, air mata Natsume keluar tanpa bisa di bendung.

“Eliza!!” teriak Natsume, Eliza menatap Natsume dengan matanya yang di penuhi oleh air mata.

“aku mengerti sekarang kenapa kau ingin tinggal di sini… tapi berjanjilah… delapan belas tahun kemudian… temui lah aku… kau menginginkan jawaban dari ku bukan?!” teriak Natsume, Eliza terkejut, kemudian dia menangis dan terjatuh berlutut.

“terima kasih Natsume… aku benar-benar bahagia sudah pernah bertemu dengan mu” ucap Eliza, kemudian daerah sekeliling Natsume berubah menjadi putih dan dalam sekejap pemandangan berubah menjadi halaman sekolah Hanabiri Gakuen di sore hari, air mata Natsume tidak bisa berhenti, dia menatap tanah yang ada di bawahnya.

“berjanjilah Eliza… kau akan menemui ku…”

TO BE CONTINUED

CHAPTER 23: HOPE IN YOUR EYES

CHAPTER 23: HOPE IN YOUR EYES

Eliza yang rambutnya kembali seperti semula, berjalan ke arah tempat Brendan tergeletak sebelumnya, jaket hitam Brendan yang di kenakannya sebelum menghilang tergeletak di sana berlumuran dengan darah. Eliza mengambil jaket tersebut dan memeluknya. Natsume dapat melihat air mata Eliza yang menetes, Natsume berjalan mendekati Eliza tetapi tiba-tiba Eliza berdiri dan menatap Brendan dengan matanya yang di penuhi oleh air mata.

“maaf biarkan aku sendiri…” ucap Eliza seraya berjalan memasuki gedung dan meninggalkan yang lainnya.

“Eliza…” ucap Natsume pelan yang melihat kepergian Eliza. Natsume menggenggam tangannya, kemudian Hirasawa menatap Natsume.

“aku jadi kepikiran apa yang akan terjadi kepadanya” ucap Hirasawa.

“dia akan baik-baik saja… aku tahu itu… Eliza bukanlah wanita yang lemah” jawab Natsume.

“bukan itu yang ku maksud… Acursed yang kehilangan tuannya berarti telah kehilangan sumber tenaganya untuk hidup… untuk Acursed yang seperti itu terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi… pertama dia akan menghilang dari dunia ini… atau dia akan terus hidup dengan memakan emosi negative manusia yang ada di sekelilingnya… seperti yang di lakukan oleh Noctius…” ucap Hirasawa, Natsume yang mendengar itu terkejut.

“maksud mu?”

“ya ada kemungkinan Eliza akan mengambil kemungkinan yang pertama… dia tidak akan mau hidup dari melukai orang lain…” ucap Hirasawa.

“sial… perempuan itu!!” teriak Natsume seraya berlari mengejar Eliza.

“apakah kau yakin dapat menolongnya… Natsume Lindwurm?” ucap Hirasawa sambil menatap Natsume yang berlari meninggalkan Hirasawa, Maria, Ace, dan Riku yang tidak sadarkan diri.

***

Effect Time Distortion menghilang, waktu kembali berjalan dan Shibuya kembali di penuhi oleh berbagai macam orang yang berlalu lalang, Eliza berjalan sendirian sambil memeluk jaket Brendan yang masih di penuhi noda darah, tidak beberapa lama kemudian hujan yang turun membasahi Shibuya menjadi semakin deras, orang-orang yang berlalu lalang berlarian mencari tempat untuk berlindung. Eliza berjalan memasuki sebuah gang di antara toko, dia menyender di tembok gang tersebut sambil menangis.

“apa yang kau lakukan di sini?” tanya sebuah suara yang bernada datar. Eliza dapat mengetahui siapa pemilik suara tersebut hanya dengan mendengarnya, suara yang sangat dia kenal. Eliza berbalik dan menoleh ke arah perempuan berambut hijau dengan pandangan yang terlihat tidak memiliki emosi, perempuan tersebut mengenakan gaun putih, dan Eliza dapat melihat perban di belakang baju tersebut yang menutupi punggung perempuan tersebut.

“tidak apa-apa…” ucap Eliza pelan, Ravenhalt menatap Eliza dengan tajam.

“hei… maafkan aku karena telah meninggalkan luka yang tidak akan pernah hilang di punggung mu…” lanjut Eliza yang masih terdiam.

“siapa kau sebenarnya? Kenapa kau begitu mirip dengan ku?” tanya Ravenhalt.

“aku? Bisa di bilang aku adalah kamu… dan kamu adalah aku…” ucap Eliza dengan nada datar.

“kalau begitu beritahu aku nama mu…” ucap Ravenhalt, Eliza terdiam dan menatap ke arah tanah yang di penuhi oleh genangan air.

“Sierra… Seirra Fein Veinstern” ucap Eliza tanpa melihat Ravenhalt sekalipun.

“Sierra… nama mu sangat mirip dengan nama orang yang ku kenal…”

Eliza tersenyum kemudian tertawa kecil.

“itu juga nama mu… bodoh…” ucap Eliza pelan.

“apakah kau baru saja mengatakan sesuatu?” tanya Ravenhalt, Eliza menggelengkan kepalanya.

“aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mu… atau kenapa wajah mu terlihat berbeda dengan sebelumnya… tapi aku tahu perbedaan kita berdua sekarang… aku berusaha memikirkannya dan akhirnya aku menemukannya…” ucap Ravenhalt, Eliza menatap Ravenhalt dengan tajam, kemudian Ravenhalt membalas tatapan Eliza.

“mata mu… mata mu penuh dengan harapan, di banding mata ku… dia memperlihatkan kebahagiaan yang kau miliki… dia memperlihatkan seberapa bahagianya diri mu bersama dengan teman-teman mu… tidak seharusnya kau menyerah bukan? Kau masih memiliki harapan bersama teman-teman mu… tidak seperti diri ku…” ucap Ravenhalt, Eliza terkejut mendengar perkataan dirinya yang ada di masa lalu. Kemudian dia teringat dengan Maria, Hirasawa, Ace, Wilson, Ciel, SIeg, Nac, Lilithia, Nara, dan Natsume.

“Natsume…” ucap Eliza pelan, kemudian dia teringat dengan Natsume, ketika dia pertama kali bertemu dengannya, ketika dia menggodanya, dan ketika dia bersama dengannya, kemudian dia menangis dan memeluk Ravenhalt, Ravenhalt yang di peluk terkejut.

“kau juga… suatu saat nanti… kau akan tahu apa yang namanya kebahagiaan… suatu saat nanti… kau juga akan memiliki harapan dan teman-teman yang akan selalu peduli dengan mu…” ucap Eliza yang memeluk Ravenhalt, Ravenhalt mengangguk dan melepaskan dirinya dari pelukan Eliza.

“Eliza!!!” teriak sebuah suara, Ravenhalt dan Eliza terkejut dan menoleh ke arah asal suara tersebut. Eliza terkejut melihat pemuda berambut perak dan bermata merah berdiri di depan gang tersebut.

“Brendan?” tanya Eliza, dia berniat berlari ke arahnya tetapi kemudian dia berhenti dan menahan gerakannya, Ravenhalt berbalik dan berjalan ke arah Brendan yang dari masa lalu.

“terima kasih Sierra… kau telah memberikan ku harapan…” ucap Ravenhalt seraya berjalan ke arah Brendan, Eliza bisa melihat Brendan yang mengelus kepala Ravenhalt, kemudian tanpa sadar dia memegang kepalanya sendiri.

“bodoh… elusannya yang terakhir… aku masih bisa merasakannya…” ucap Eliza seraya berbalik dan kembali berjalan sampai dia mendengar suara derap langkah kaki yang berlari ke arahnya dan menahan tangannya, Eliza terkejut dan berbalik, terlihat Natsume yang basah kuyup dan menahan tangannya.

“Natsume? Apa yang ka—“ belum selesai Eliza berbicara tiba-tiba Natsume menarik tangan Eliza dan memeluknya.

“bodoh!!! Apa yang kau pikirkan!!! Apa kau berniat menghilang sendiri?!!!” teriak Natsume, Eliza yang mendengar perkataan Natsume terkejut.

“kau… dari mana kau mengetahui itu?” tanya Eliza yang terkejut.

“Hirasawa… dia memberi tahu ku!! Apa yang sebenarnya kau pikirkan Eliza!!! kau kira kau bisa meninggalkan kami begitu saja?!! Kau pikir kalau kau menghilang begitu saja bagaimana dengan perasaan Maria!!! bagaimana dengan perasaan yang lainnya!!! Bagaimana dengan… bagaimana dengan perasaan ku?!!!” teriak Natsume. Eliza hanya bisa terdiam.

“b-bodoh… kau telah merebut ciuman pertama ku dan kau mau menghilang begitu saja?” ucap Natsume yang wajahnya memerah, Eliza yang mendengar ucapan Natsume tiba-tiba wajahnya langsung memerah dan tingkah lakunya langsung grogi.

“l-lepaskan!!” teriak Eliza yang menarik tangannya dan berbalik membelakangi Natsume.

“lagipula apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak bisa melakukan apa-apa… aku juga tidak ingin hidup dengan memangsa penderitaan orang lain…” ucap Eliza.

“aku bisa melakukan sesuatu…” ucap Natsume dengan yakinnya, kemudian Natsume menarik Eliza dan membisikan sesuatu di kupingnya, Eliza yang mendengar bisikan Natsume terkejut dan menepis tangan Natsume.

“b-bodoh!!! Apa yang kau pikirkan!!! Kau kira kau bisa melakukan sesuatu seperti itu?!! kalaupun bisa mental mu tidak akan kuat!! Dan kau bisa mengalami mental breakdown?!!”

“aku tidak peduli!! Selama aku bisa menyelamatkan mu!! aku tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada ku!! Jadi bagaimana Sierra Fein Veinstern?! Apa kau mau menerimanya atau tidak?!”

“jangan panggil aku dengan nama itu!!!” teriak Eliza yang berniat melayangkan pukulannya, tetapi Natsume menahan tangan Eliza.

“heh kau kira kau punya pilihan?!! Kau sendiri yang mengatakannya sebelumnya!! Kalau selama aku tahu nama mu aku bisa memaksa mu untuk melakukan hal tersebut!! Sierra Fein Veinstern!!!” teriak Natsume. Dan sebuah spell insignia raksasa bewarna emas terbentuk di bawah Natsume dan Eliza.

“h-hei!! Hentikan ini!! Aku tidak ingin membebani siapa pun lagi!!!” teriak Eliza yang meneteskan air matanya, Natsume kemudian memeluk Eliza dengan kuat.

“kau tidak akan membebani siapa pun lagi!! Ini adalah pilihan ku!!!” teriak Natsume, Eliza berusaha melepaskan tubuhnya, air mata menetes dari matanya.

“ku mohon hentikan Natsume!! Aku tidak ingin melukai mu! dan aku juga tidak ingin kehilangan siapa pun lagi!!” teriak Eliza.

“lalu bagaimana dengan ku?!! Aku juga tidak ingin kehilangan mu!! Eli— graaah!!” ketika Natsume berbicara, tiba-tiba kepala Natsume terasa sakit seakan-akan kepalanya akan terbelah menjadi dua.

“N-Natsume!! Kau tidak apa?! sudah ku bilang hentikan ini bukan?!” teriak Eliza yang menahan tubuh Natsume agar tidak terjatuh, Natsume memegang kepalanya dengan kuat. Ekspressinya memperlihatkan rasa kesakitan yang amat sangat.

“graaaahhhh!!!!!” teriak Natsume yang terjatuh berlutut.

“Natsume!! Hentikan ini!! Atau aku terpaksa menghentikan mu!!” teriak Eliza.

“diam!! Aku tidak akan membiarkan teman ku menderita!!!” bentak Natsume, kemudian insignia emas tersebut bersinar terang menciptakan pilar bewarna emas, penduduk yang melihat sinar tersebut terkejut, pilar sinar tersebut bercahaya sampai menembus awan kelam, setelah itu hujan di Shibuya berhenti dan di gantikan oleh sinar terang dari matahari, Natsume terlihat berkeringat dingin dan bernafas dengan berat, Eliza menggigit bibirnya hingga berdarah, kemudian dia menampar Natsume, Natsume yang di tampat terjatuh.

“apa yang kau pikirkan! kau bisa saja mati karena melakukan hal tersebut!!” teriak Eliza, Natsume memegang wajahnya dan berdiri.

“sekarang aku dapat merasakannya… rasa sedih mu… penderitaan mu… kebahagiaan mu… semuanya--“ ucap Natsume yang terjatuh dan tidak sadarkan diri, Eliza menahan tubuh Natsume. Kemudian dia memeluk Natsume yang tidak sadarkan diri tersebut dan meneteskan air matanya.

“memaksa ku untuk menjadi Acursed mu… kau yang sekarang memiliki dua Acursed yang terikat dengan mu… apa kau kira kau benar-benar bisa menahan beban dari dua Acursed tersebut?” Eliza semakin erat memeluk Natsume.

“tapi… tapi aku benar-benar berterima kasih Natsume… terima kasih karena kau mau mengkhawatirkan ku… terima kasih untuk memberikan ku kesempatan hidup…”

TO BE CONTINUED

CHAPTER 21: FURIOUS DANCE OF THE DEATH GODDESS

CHAPTER 21: FURIOUS DANCE OF THE DEATH GODDESS

“Sierra… Fein Veinsteirn…” ucap Natsume dengan takjub yang menatap ke arah Eliza yang rambutnya berubah menjadi perak.

“baiklah Sierra… mari kita lihat sekuat apa diri mu…” ucap Noctius sambil tersenyum. Eliza menghilang dan kembali muncul di belakang Noctius seraya mengayunkan sabit di tangan kanannnya, Noctius dengan sigap menahan serangan Eliza dengan pedangnya.

“jangan panggil aku dengan nama itu… walau itu nama asli ku… tapi nama ku tetap Eliza Ravenhalt!!! Itu adalah satu-satunya nama ku yang di berikan oleh orang yang paling ku sayangi!!!” teriak Eliza seraya menarik sabitnya dan membuat pedang Noctius terpental, kemudian Eliza mengayunkan sabit di tangan kirinya ke arah Noctius. Noctius menahan tebasan tersebut menggunakan salah satu tangannya.

“Exceed Mode!!!” teriak Eliza, dan dalam sekejap kornea mata Eliza berubah menjadi hitam pekat, dan pupil matanya yang bewarna merah darah menyala terang. Darah menyembur keluar dari punggung Eliza, tetapi tidak lama kemudian darah tersebut mengambang dan membentuk sepasang sayap bewarna merah darah di belakang Eliza. Eliza pun kembali mendorong sabitnya dan berhasil memotong salah satu tangan Noctius. Noctius yang tangannya terpotong meraung seraya mengayunkan pedangnya yang ada di tangan lainnya ke arah Eliza. Eliza menahan tebasan tersebut dan terdorong beberapa meter ke belakang.

“ahahaha, kau kira aku akan kalah hanya karena kau memotong satu tangan ku? Aku masih memiliki tiga tangan lainnya!!!” teriak Noctius, Eliza kembali berdiri dan berjalan ke arah potongan tangan Noctius yang terjatuh, Eliza mengambil tangan tersebut dan membuka mulutnya, terlihat dua taring yang terlihat lebih tajam dan panjang dari taring mungil yang biasa Natsume lihat.

“inikah… Eliza…” ucap Natsume yang bergetar. Eliza menggigit tangan tersebut, terlihat darah menetes dan mengalir dari mulut Eliza, tidak lama kemudian tangan tersebut hancur menjadi pasir.

“darah mu tidak enak… sayangnya karena Exceed Mode aku mau tidak mau harus meminumnya…” ucap Eliza seraya kembali mengangkat kedua sabit di tangannya. Eliza menatap Noctius dengan tajam dan melesat ke arahnya.

“Eliza Ravenhalt!! Kau akan mati di sini!!!” teriak Noctius seraya menghantamkan pedangnya yang satu lagi, Eliza melompat menghindari hantaman tersebut. Noctius yang melihat Eliza yang menghindari serangannya kembali mengangkat pedangnya dan menebaskannya kembali ke arah Eliza. Eliza melompat mundur dan mendarat di belakang pedang Noctius yang tadi terjatuh, dia menendang pedang tersebut menggunakan kakinya dan membuatnya terlempar serta menghantam pedang Noctius yang lain dan melucutinya.


“kau!!!” teriak Noctius seraya menciptakan bola api raksasa dan menembakannya ke arah Eliza. Eliza mengayunkan salah satu sabitnya dan menebas bola api tersebut, kemudian Eliza kembali melesat ke arah Noctius.

“Blood Bombardment!!” teriak Eliza. Sayap darah Eliza berubah bentuk menjadi seperti tentakel yang menjulur dan melesat ke arah Noctius.

“kau kira serangan seperti itu dapat mengalahkan ku? Hah!!!” teriak Noctius seraya menciptakan bola api lainnya dan melemparkannya ke arah Eliza. Tentakel di belakang Eliza dalam sekejap melindungi Eliza dari api tersebut dan kembali melesat ke arah Noctius, Noctius berusaha menghindari tentakel-tentakel tersebut, tetapi tentakel tersebut memiliki kecepatan yang di luar dugaan dan berhasil menusuk sebagian besar bagian tubuh Noctius, Noctius mengerang kesakitan dan terjatuh, sementara Eliza hanya menatap dari jauh.

“hehehe… ahahahahaha!! Aku!! Aku tidak akan kalah di sini!! Aku tidak mau kalah di sini!! Aku harus menang!!!” teriak Noctius seraya menghancurkan tentakel darah milik Eliza yang mengekangnya. Eliza yang melihat itu terkejut.

“Eliza Ravenhalt sekarang saatnya kau meninggalkan dunia ini!!” teriak Noctius seraya menciptakan lingkaran sihir dalam jumlah banyak di depannya.

“i-itu!! sial!!! Noctius!!!” teriak Eliza seraya melesat ke arah Noctius.

“semuanya terlambat!!! Inilah akhir dari mu!!! Eliza!!! Overdrive!!! Zenith Buster!!” teriak Noctius yang menghempaskan energy sihir dalam jumlah banyak dan menghancrukan semua yang ada di depannya.

“Eliza!!!” teriak Natsume yang melihat Eliza terjebak di dalam energy sihir tersebut, darah dalam jumlah banyak bermuncratan ke daerah sekeliling tempat Eliza sebelumnya berada, dan setelah Zenith Buster menghilang, tidak terlihat sedikit pun tanda kehidupan dari Eliza selain darahnya yang berserakan di mana-mana, beserta robekan bajunya.

“Eliza…” ucap Natsume terkejut melihat gumpalan darah di depannya.

“tidak!!!!” teriak Maria seraya meneteskan air matanya.

“o-oi tante girang kau tidak benar-benar mati kan?” tanya Ace dengan nada tidak kepercayaannya.

“keberadaannya… aku sama sekali tidak merasakan aura Eliza dari manapun…” ucap Hirasawa seraya melepaskan pelukannya dari Maria dan mengeluarkan katananya.

“kalau Eliza-dono juga sudah jatuh… berarti kita tidak ada pilihan lain selain untuk menggunakan kekuatan penuh kita…” ucap Hirasawa. Maria yang menangis mengusap air matanya.

“Noctius… aku tidak akan memaafkan mu…” ucap Maria seraya mengangkat revolvernya.

“ufufufufu… ahahahahaha!!! Acursed pertama dia bilang?!! dia terlalu lemah untuk menjadi lawan ku!! Kalian juga majulah!! Kalau kalian merasa bisa mengalahkan ku!! Akan kubunuh kalian satu persatu!!”

“lancing sekali bicara mu… akan ku robek mulut mu sekarang juga!!!” teriak Ace seraya melesat ke arah Noctius.

“hooo? Darkness Bind!!” teriak Noctius, dan rantai bewarna hitam pekat muncul entah dari mana dan mengikat Ace, Maria, Hirasawa, dan Natsume.

“apa ini!!” teriak Natsume yang tidak bisa menggerakan tubuhnya.

“sihir pengikat… sial kalau begini kita…” ucap Hirasawa.

“jangan pengecut kau Noctius!!!! Lawan aku satu lawan satu!!!” teriak Ace yang meronta berusaha melepaskan dirinya dari ikatan Noctius.

“heh, berisiknya kalian… ku rasa sudah saatnya aku juga menghabisi kalian…” ucap Noctius seraya kembali menciptakan lingkaran sihir dalam jumlah banyak.

“i-itu… Zenith Buster…” ucap Maria yang ketakutan.

“matilah!! Zen—“ belum selesai Noctius berbicara tiba-tiba seluruh lingkaran sihir yang di ciptakan Noctius menghilang, dan tiba-tiba muncul luka dalam jumlah banyak di tubuh Noctius, darah menyembur keluar dari luka tersebut, Noctius yang melihat itu terkejut. Darah milik Noctius kemudian melayang dan menggumpal membentuk Eliza yang tidak mengenakan pakaian, Natsume yang melihat itu terkejut dan wajahnya memerah.

“k-kau!! Eliza Ravenhalt?! Bagaimana mungkin?!! Dan kenapa darah ku!! Graah!!!” teriak Noctius yang darahnya kembali menyembur dan melayang ke arah Eliza dan menjadi pakaian gaun bewarna merah darah yang menutupi tubuhnya, Eliza membuka matanya dan memandang ke arah mata Noctius, dalam sekejap Noctius dapat merasakan jantungnya yang berhenti berdetak beberapa saat.

“darah mu?” tanya Eliza seraya berjalan ke arah Noctius. Noctius yang di dekati Eliza tidak dapat menggerakan tubuhnya sama sekali, kemudian dengan sekuat tenaga Noctius berusaha mengangkat tangannya dan melayangkan tinjunya ke arah Eliza.

“berhenti…” ucap Eliza pelan, dan tangan Noctius pun berhenti bergerak.

“a-apa!! apa yang kau lakukan kepada ku?!!!” teriak Noctius yang bergetar, Eliza berjalan mendekati Noctius dan meletakan jarinya di mata Noctius.

“Blood Phantasm… adalah satu-satu kekuatan untuk mengendalikan regerenasi darah dan memanipulasinya… kemampuan itu adalah kemampuan yang di miliki oleh keturunan keluarga Veinstern… Sierra Von Dracus yang merupakan anak dari diri ku yang sebelumnya dapat menggunakan kemampuan tersebut untuk menghidupkan Brendan kembali… begitu juga dengan Maria… dengan menggunakan kemampuan tersebut… aku dapat memasukan sel darah ku ke dalam tubuh milik mahluk hidup lainnya, dan aku juga dapat meningkatkan kemampuan regerenasi sel darah tersebut sampai seribu kali lipat dan sehingga sel darah tersebut memakan sel darah mahluk hidup yang di jadikan inang darah ku… dan kau tahu apa yang terjadi kalau darah mahluk tersebut telah di dominasi oleh darah ku?” tanya Eliza sambil tersenyum.

“ya… mereka akan menuruti semua perintah ku… lebih tepatnya tubuh mereka… karena berkat darah lah mereka dapat menggerakan tubuh mereka… dan juga selama darah ku masih ada di dunia ini aku dapat melakukan regerenasi berapa kalipun… walaupun aku sudah kehilangan tubuh ku sekalipun menggunakan darah di mahluk tersebut” ucap Eliza.

“t-tapi!! Kapan kau memasukan darah mu?!!!”

“kau tidak ingat?” tanya Eliza, kemudian tiba-tiba Noctius teringat ketika tubuhnya tertusuk oleh tentakel darah milik Eliza.

“waktu itu…” ucap Noctius yang bergetar, keringat dingin mengucur dari tubuhnya.

“hei Noctius setelah aku melakukan regerenasi dalam keadaan tanpa tubuh… aku sangat lapar dan haus sekarang… jadi bagaimana kalau kau diam saja dan menjadi makanan ku di sini!!” teriak Eliza yang memperlihat senyuman yang terlihat kejam, kemudian Eliza mencabut bola mata kanan Noctius. Noctius yang kehilangan matanya berteriak kesakitan, kemudian dia kembali dapat mengendalikan tubuhnya dan terbang menjauhi Eliza. Maria dan yang lainnya yang melihat itu terkejut.

“ya larilah Noctius… kalau tidak perburuan ini tidak akan seru…” ucap Eliza seraya memasukan bola mata Noctius kedalam mulutnya dan memakannya, Eliza melesat ke arah Noctius yang terbang tinggi di atasnya dan tersenyum.

“jatuh…” ucap Eliza pelan, dan dalam sekejap tubuh Noctius berhenti bergerak dan terjatuh ke bawah.

“mungkin ini akan lebih seru kalau kau kehilangan kedua mata mu…” ucap Eliza yang mendarat di atas Noctius dan menginjak kepalanya.

“j-jangan!! Ku mohon!!” teriak Noctius, Eliza meletakan jarinya di mata kiri Noctius dan kembali mencabutnya, Noctius kembali berteriak, setelah itu Eliza kembali memakan mata tersebut.

“h-hentikan!!” teriak Noctius yang melepaskan diri dari Eliza. Noctius berusaha terbang walaupun dia tidak dapat melihat apapun lagi.

“Eliza... apakah ini Eliza?” tanya Natsume yang bergetar ketakutan melihat senyuman Eliza, dan mulutnya yang di penuhi oleh darah Noctius.

“Noctius kemarilah… kau tidak ingin membuatku lelah setelah berusaha membentuk tubuh ku kembali bukan?” tanya Eliza yang tersenyum. Dan tanpa di sadari oleh Noctius, tubuhnya kembali terbang ke arah Eliza.

“kenapa! kenapa tubuhku tidak bisa ku gerakan!!” teriak Noctius.

“aku tidak bisa melihatnya lagi!!!” teriak Natsume yang melepaskan diri dari ikatan Noctius dan berlari ke arah Eliza.

“hentikan!! Eliza!!!” teriak Natsume yang menampar Eliza tiba-tiba, ketika di tampar kendali Eliza atas tubuh Noctius menghilang sesaat sehingga Noctius terjatuh dan terguling.

“apa yang kau lakukan hah!! Kau!! Bukan kah kau berjanji kepadanya untuk tidak membunuh siapa pun?!!” teriak Natsume, Eliza menggigit bibirnya.

“apa yang kau ketahui!!!” teriak Eliza seraya menghantam wajah Natsume. Natsume yang di pukul terkejut.

“apa yang kau ketahui tentangnya!! Tanpa dia!! Tanpa dia aku!!! Dia lah yang mengajari ku hidup!! Dia yang mengajari ku semuanya!! Aku tidak akan bisa memaafkan orang ini semudah itu!!” teriak Eliza.

“tapi bukan berarti kau harus menyiksa dan membunuhnya bukan?!!!” teriak Natsume.

“kau tidak tahu apa!! kau tidak tahu apa yang ku rasakan!! Jangan menganggap kau tahu semuanya!!” teriak Eliza.

“kalau begitu kau bisa menceritakannya bukan!! Tidak ada yang menyuruh mu untuk memikul penderitaan mu sendirian!!!” teriak Natsume. Maria, Hirasawa, dan Ace hanya bisa terdiam melihat Natsume dan Eliza yang berengkar.

“Brendan… Brendan dia…” ucap Eliza yang meneteskan air matanya dan terjatuh, Natsume dengan sigap menahan tubuh Eliza.

“aku tidak tahu siapa yang harus ku sayangi lagi… aku tidak tahu apa tujuan hidup ku lagi… aku tidak siapa yang harus ku cintai lagi…” ucap Eliza sambil menangis, Natsume kemudian memeluk Eliza.

“mungkin aku bukan siapa-siapa bagi mu… tapi Eliza mulai sekarang… kalau ada apa-apa kau bisa mengandalkan ku… karena itu jangan menangis… karena kalau kau menangis… aku juga sedih… kita semua juga sedih…” ucap Natsume sambil mengelus kepala Eliza, Eliza yang mendengar itu terkejut.

“karena itu jangan bersedih… karena kalau kau bersedih… aku juga akan sedih”

Air mata Eliza kembali mengalir kemudian dia memeluk Natsume.

“terima kasih Natsume…” ucap Eliza yang menangis, Natsume tersenyum dan mengangguk. Kemudian Eliza melepaskan pelukannya dan menatap Noctius dengan tajam.

“aku tidak akan memaafkan mu sampai kapan pun… tapi aku juga tidak akan menyiksa mu… karena itu… matilah…” ucap Eliza, dan dalam sekejap tubuh Noctius membesar.

“a-apa yang terjadi!! Apa yang kau lakukan!! Darah ku terasa mendidih!! Seperti akan meleda—“ belum selesai Noctius berbicara dalam sekejap tubuh Noctius meledak dan menghamburkan seluruh darahnya ke daerah sekeliling, dan setelah itu sisa tubuhnya menghilang menjadi pasir.

“ini adalah akhir dari Chronos…” ucap Eliza seraya menatap langit yang kelam.

TO BE CONTINUED

CHAPTER 21: THE END OF A HERO

CHAPTER 21: THE END OF A HERO

“Apocalypse… akhirnya kalian datang juga… dan ketika aku baru saja mau menyelesaikan Dream Plane Driver? Aku rasa kalian datang di saat yang tepat” ucap Noctius sambil tersenyum.

“Natsume… terima kasih… kau datang ke sini untuk ku…” ucap Riku sambil menangis. Natsume tersenyum seraya mengangkat sabitnya.

“nah Noctius ku rasa aku harus menghentikan mu sekarang” ucap Natsume.

“hei Natsume… kau yakin dengan rencana mu?” bisik Eliza yang ada di belakang Natsume.

“ya… kita tidak tahu seberapa kuat Noctius… masih ada kemungkinan kita kalah di pertarungan ini… karena itu… Ace aku yakin dia bias menjalankan rencana ini” bisik Natsume, Eliza mengangguk seraya mengambil kuda-kuda.

“kalau begitu… aku tidak akan ragu untuk mengeluarkan seluruh kekuatan ku!! Lagi pula aku juga ada masalah pribadi dengan dia!!” teriak Eliza seraya berlari ke arah Noctius.

“datanglah!! Ratu ku Eliza Ravenhalt!!” teriak Noctius yang tersenyum seraya meembody sebuah katana di tangan kanannya. Noctius menurunkan cannonnya kemudian menebaskan katananya dengan kekuatan penuh ke arah Eliza. Eliza dengan mudahnya menangkis tebasan Noctius.

“bodoh!!!” teriak Noctius seraya mengangkat cannonnya dan menembakan bola api berukuran besar ke arah Eliza dan menciptakan ledakan yang besar. Noctius melompat ke belakang dan menjauh dari ledakan tersebut.

“heh dengan tembakan sedekat itu… aku ragu kau masih bertahan hidup Eliza Ravenhalt…” ucap Noctius. Perlahan-lahan gumpalan asap di depan Noctius mulai menipis memperlihatkan sebuah lubang besar di lantai tempat ledakan itu terjadi. Lubang tersebut terlihat terbentuk karena sesuatu yang besar menghantamnya.

“i-itu!!” teriak Noctius yang terkejut, kemudian Noctius mendengar suara retakan di bawah kakinya. Noctius yang terkejut menoleh ke arah lantai yang di injaknya, lantai tersebut terlihat retak, kemudian tidak beberapa lama kemudian lantai tersebut meledak. Eliza melesat keluar dari lantai itu seraya mencekik Noctius dan membawanya melayang ke atas bersamanya.

“jangan pernah meremehkan ku!!” teriak Eliza seraya melempar Noctius ke bawah. Noctius yang terlempat menghantam lantai di bawahnya dan membuatnya runtuh sehingga Noctius terjatuh ke ruangan di bawahnya. Beberapa detik kemudian sebuah bola api melesat dari lubang yang tercipta karena hantaman Noctius. Eliza yang melihat bola api tersebut terkejut dan tidak sempat menghindarinya.

“Eliza!!!” teriak Natsume yang melesat ke arah Eliza, Natsume mengangkat Eliza dengan kedua tangannya kemudian melesat menjauhi tempat Eliza berada sebelumnya, bola api yang di tembakan oleh Noctius melesat menjauhi Natsume dan Eliza.

“kau tidak apa-apa?” Tanya Natsume, Eliza yang di gendong oleh Natsume mukanya memerah, kemudian dia berdiri dan membuang mukanya dari Natsume.

“b-baka aku bisa melindungi diri ku sendiri tadi…” ucap Eliza dengan wajah memerah.

“ah Eliza… apakah dia adalah lelaki yang kau cintai? Padahal aku mencintai mu lebih dulu” ucap Noctius yang melayang keluar dari lubang di bawahnya.

“hah? Dia? Orang yang kau sukai? Aku tidak pernah menyukai orang seperti dia!” teriak Eliza yang wajahnya memerah.

“a, ahahaha” tawa Natsume pelan sambil menggaruk kepalanya.

“apa yang kau tertawakan?!! Baka!!” teriak Eliza seraya menginjak kaki Natsume dengan kencang, Natsume yang kakinya terinjak berteriak kesakitan.

“kau diam saja di situ Natsume! Ini urusan ku dengannya…” ucap Eliza seraya berbalik dan kembali meninggalkan Natsume yang masih memegang kakinya yang kesakitan.

“Noctius!! Teriak Eliza seraya mengayunkan sabitnya, Noctius menahan tebasan dari Eliza menggunakan cannon di tangan kirinya, matanya dan mata Eliza saling menatap.

“delapan belas tahun yang lalu… yang mengundangku ke Chronos… itu kau dari masa yang sekarang kan?” Tanya Eliza seraya menggeram.

“kalau iya kenapa? Dan kalau tidak kenapa?” Tanya Noctius yang tersenyum.

“aku masih ingat dengan perkataan mu delapan belas tahun yang lalu…”

“hoo? Benarkah? Aku merasa tersanjung” ucap Noctius sambil tersenyum.

“aku yang dulu… tidak bisa melakukan apa-apa… tapi aku yang sekarang!!” teriak Eliza seraya mengayunkan sabitnya dengan kekuatan penuh dan membuat Noctius terdorong.

“aku akan mengalahkan mu!!!” teriak Eliza seraya mengangkat sabitnya, kemudian mata Eliza perlahan-lahan berubah menjadi hitam menandakan bahwa dia memasuki Exceed Mode.

“Eliza! Kalau kau menggunakan itu!!” teriak Natsume, kemudian Natsume terkejut melihat darah yang menetes dari bagian belakang pakaian Eliza dalam jumlah banyak, Eliza membuka jas merah sekolahnya dan melemparnya, sehingga dia hanya menggunakan kemeja putih yang merupakan seragam sekolahnya, bagian belakang kemeja tersebut di lumuri oleh warna merah darah segar yang berasal dari luka tebasan Eliza.

“Exceed Mode eh? Ini akan menyusahkan…” ucap Noctius seraya mengangkat cannonnya.

“tapi aku akan menghabisi mu sebelum kau menyentuh ku!!” teriak Noctius yang melepaskan bola api dari cannonnya, Eliza yang melihat bola api yang melesat ke arahnya menghentakan kakinya sehingga lantai di bawahnya tercongkel dan terangkat menjadi batu yang melindunginya dari bola api yang di tembakan Noctius.

“kalau hanya segitu kau tidak bisa menghentikan ku…” ucap Eliza yang tiba-tiba muncul di belakang Noctius, Noctius yang terkejut mengangkat cannonnya, Eliza menebaskan sabitnya memotong cannon milik Noctius menjadi dua. Noctius yang melihat cannonnya terpotong melepaskannya dan melompat menjauhi cannon tersebut, begitu juga dengan Eliza, dan dalam sekejap cannon tersebut meledak menghancurkan semua yang ada di sekelilingnya.

“sial kalau begini!!” ucap Noctius seraya memegang katananya dengan kedua tangannya, kemudian Eliza kembali muncul di depan Noctius seraya mengayunkan sabitnya, Noctius yang terkejut melompat kembali dan menjauhi Eliza, tebasan dari sabit Eliza dengan mudah menghancurkan tempat Noctius tadi berdiri, Eliza menoleh ke arah Noctius yang menjauh seraya menebaskan sabitnya dan melepaskan aura yang berbentuk seperti bulan sabit yang melesat ke arah Noctius. Noctius mengangkat katananya dan berniat menahan aura tersebut, tetapi alih-alih menahannya katana milik Noctius terbelah dua dan aura yang di lepaskan oleh Eliza berhasil menebas dada Noctius. Noctius yang tertebas berteriak dan terjatuh berlutut, kemudian sebuah sabit menempel di leher Noctius, Noctius yang terkejut tertawa sambil menatap ke arah Eliza yang menempelkan sabitnya ke leher Noctius.

“ahahaha, Eliza kau kira kau bisa membunuh ku semudah itu?” Tanya Noctius, Eliza terdiam dan tetap menatap Noctius dengan tajam, kemudian mata Eliza kembali seperti semula dan aliran darah di punggungnya terlihat berhenti mengalir.

“sayingnya aku ke sini bukan untuk membunuh mu… aku ke sini untuk menghentikan rencana mu…” ucap Eliza seraya menurunkan sabitnya, kemudian terdengar suara ledakan dari belakang Noctius. Noctius yang terkejut berbalik dan melihat mesin yang terlihat seperti cockpit hancur dan mengebulkan asap, Ace berdiri di atas mesin itu seraya mencabut pedangnya yang tertancap di atas mesin itu.

“aku juga sudah menyelamatkan Riku… dengan begini misi kita selesai…” ucap Natsume yang berdiri tidak jauh dari belakang Noctius. Riku memeluk Natsume sambil menangis, Noctius terlihat geram kemudian berdiri dan mengangkat katananya yang patah.

“sampai sejauh mana…” ucap Noctius pelan. Natsume, Ace, Eliza, dan Riku menatap Noctius yang kembali berdiri.

“sampai sejauh mana kalian mau menghalangi rencana ku!!! Nocturne Drive!!! Satan Rachen!!” teriak Noctius.

“Nocturne Drive apa yang akan dia lakukan?!!” teriak Ace yang terkejut melihat angin yang tiba-tiba berputar mengelilingi Noctius.

“Nocturne Drive… itu adalah stage di mana seorang Acursed mengeluarkan wujud aslinya dengan menyebutkan nama aslinya… seharusnya Nocturne Drive hanya bisa di aktifkan dengan kehendak tuan dari Acursed tersebut… tapi apabila seorang Acursed sudah tidak memiliki tuan maka mereka dapat menggunakannya sesuka hati mereka…” ucap Eliza yang melihat Noctius yang di gerogoti oleh kegelapan. Kemudian Noctius berubah wujud menjadi sesosok iblis berukuran besar, bersayap enam, bertangan empat, berbuntut dan bertanduk. Noctius mengaum dan dalam sekejap langit di atas Shibuya berubah menjadi gelap.

“Noctius… bukan… Satan Rachen… aku akan mengakhiri mu di sini…” ucap Eliza seraya kembali mengangkat sabitnya.

“kalian!! Aku akan membunuh kalian!!!” teriak Noctius seraya mengayunkan tangannya dan menghantam Natsume dan Riku sehingga membuat mereka berdua terlempar dan menghantam generator listrik yang ada di belakangnya.

“Natsume!! Riku!!” teriak Eliza, kemudian Noctius menghantam Eliza menggunakan tangannya dan membuat Eliza terlempar menjauhi Natsume dan yang lainnya.

“cish!! Aku rasa pada akhirnya harus aku yang menghentikan mahluk ini!! Thunderbolt Intersect!!!” teriak Ace yang tiba-tiba tubuhnya di selimuti oleh aliran listrik, kemudian Ace menghilang dan kembali muncul di atas Noctius.

“matilah kau iblis!!” teriak Ace seraya melesat ke arah Noctius.
“lambat…” ucap Noctius seraya menepis Ace dan membuatnya terlempar dan terguling beberapa meter ke belakang, Eliza yang melihat Ace dan yang lainnya yang terkapar kembali berdiri dan mengangkat sabitnya. Matanya kembali berubah menjadi hitam pekat, tetapi tiba-tiba Eliza memuntahkan darah dan matanya kembali seperti semula.

“s-sial… ku rasa aku sudah mencapai batas pemakaian Exceed… kalau begini aku…” ucap Eliza, Noctius kembali mengaum dan meembody dua pedang yang di pegang oleh dua tangan yang terletak di atas, sementara dua tangan lainnya tetap tidak menggunakan apa-apa sebagai senjata.

“Eliza!!!” teriak Noctius seraya mengayunkan salah satu pedangnya, Eliza melompat menghindari tebasan Noctius yang menghancurkan tempat Eliza sebelumnya berada, kemudian Noctius menebaskan pedangnya yang lain, Eliza dengan sigap mengangkat sabitnya, pedang milik Noctius menghantam sabit milik Eliza. Kekuatan Noctius yang besar tidak dapat di tahan oleh Eliza, sehingga Eliza kembali terlempar.

“kekuatannya… dia semakin bertambah kuat… sial… tanpa Exceed Mode aku…” ucap Eliza pelan dengan nafas yang terengah-engah. Noctius kembali menebaskan pedangnya ke arah Eliza, Eliza yang melihat pedang Noctius melesat ke arahnya berguling menjauhi tempatnya berada dan dalam sekejap pedang Noctius menghancurkan tempat tersebut.

“sekarang matilah Eliza!! Aku tidak akan membiarkan mu mengganggu rencana ku lebih jauh!!” teriak Noctius seraya menusukan pedangnya ke arah Eliza, Eliza berusaha menghindarinya, tetapi tubuhnya tidak mau mengikuti kemauannya, rasa sakit karena menggunakan Exceed Mode menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga Eliza tubuh Eliza terasa mati rasa dan tidak dapat di gerakan. Eliza hanya bisa pasrah melihat pedang yang melesat ke arahnya.

“Eliza!!” teriak Natsume yang berusaha bangun dan melihat Eliza yang akan di tusuk oleh pedang berukuran besar milik Noctius.

“apakah sampai di sini saja? Apakah aku akan mati? Heh ku rasa aku tidak punya pilihan lain… Brendan…” ucap Eliza seraya menutup matanya, setelah beberapa menit terdiam Eliza tidak merasakan apa pun menusuk tubuhnya. Eliza yang penasaran membuka matanya, dan darah dalam jumlah banyak tumpah dan mengalir ke mukanya layaknya ember berisi darah yang di tuangkan ke arahnya. Kemudian Eliza terkejut melihat orang di depannya berdiri melindunginya. Pedang berukuran besar menusuk dan menembus dada dan perut orang itu sekaligus.

“B-Brendan…” ucap Eliza pelan yang melihat Brendan yang berdiri di depannya dan tertusuk oleh pedang Noctius.

“yo, kau baik-baik saja?” Tanya Brendan sambil tersenyum, Noctius menarik pedangnya keluar sehingga Brendan terjatuh di sebelah Eliza, tubuhnya berlumuran darah, darahnya yang mengalir keluar dari lubang yang terbentuk di dada dan perutnya menggenangi daerah sekelilingnya dan membasahi Eliza dengan cairan bewarna merah.

“B-Brendan, a-apa y-yang kau la-lakukan? Kenapa k-kau di sini?” ucap Eliza yang meneteskan air matanya melihat Brendan yang terjatuh di sebelahnya. Brendan mengangkat tangannya dengan sekuat tenaga, kemudian dia mengelus kepala Eliza. Eliza dapat merasakan tangan Brendan yang bergetar di kepalanya.

“untuk a-pa? ehehehe ten-tu saj-ja… un-tuk melindungi mu…” ucap Brendan yang tersenyum lemas. Eliza tahu hanya dari melihat senyum Brendan bahwa untuk tersenyum saja Brendan terlihat seperti mengeluarkan tenaga dalam jumlah yang banyak.

“hei E-liza… aku tidak dapat merasakan tubuh ku lagi… dan aku mulai kehilangan tenaga ku…” ucap Brendan, mata Eliza di genangi oleh air mata, hatinya terasa sakit seakan-akan di tusuk oleh ribuan pedang mendengar Brendan mengatakan itu.

“b-bodoh! Apa yang kau katakan? Kau tidak mungkin mati kan?” Tanya Eliza yang menangis.
“aku tidak tahu… tapi aku sudah mati dua kali… ku rasa kali ini aku akan benar-benar mati” ucap Brendan sambil tersenyum dan mengelus kepala Eliza.

“b-bodoh gunakan sisa tenaga mu untuk bernafas!! Berhenti mengelus kepala ku!!” teriak Eliza yang menangis.

“hei Eliza… apakah menurut mu… aku pantas di sebut pahlawan?” ucap Brendan dengan lemas.

“Brendan… Brendan… kau… adalah pahlawan ku… dan pahlawan Sierra… juga pahlawan anak-anak mu… jadi… jadi…” ucap Eliza yang tidak dapat menahan air matanya, tiba-tiba tangan Brendan terjatuh dan terkulai di lantai, Eliza tidak dapat mendengar suara nafas Brendan sama sekali.

“ayah!!” teriak Maria yang baru sampai di atap gedung tersebut bersama Hirasawa, kemudian Maria terkejut melihat Brendan yang tergelatak tak bernyawa di sebelah Eliza dan berlumuran darah. Maria yang terkejut terjatuh berlutut, air mata mengalir dari matanya.

“tidak mungkin ayah…” ucap Maria, Hirasawa memeluk Maria, dan mengelus punggungnya.

“ayah… ayah!! Ayah!!!!” teriak Maria yang memukul lantai di bawahnya menggunakan kedua tangannya dan menagisi kepergian ayahnya. Eliza berusaha sekuat tenaga menggerakan tangannya dan menggenggam tangan Brendan yang berlumuran darah.

“hei apakah kau memiliki nama?”

“kalau begitu bagaimana dengan Eliza Ravenhalt?”

Genggaman Eliza semakin kuat, air mata yang menetes dari matanya semakin banyak.

“membunuh? Membunuh adalah mengambil nyawa seseorang seperti yang akan kau lakukan sekarang”

“Brendan… Brendan…” ucap Eliza pelan.

“hei apa yang sedang kau lakukan sendirian di sini?”

“aku akan mengajarkan mu arti sebenarnya dari sebuah hidup”

“kau adalah bagian dari diri ku… karena itu jangan pernah memperlihatkan wajah itu lagi… jangan pernah menganggap diri mu tidak berguna!!”

“bukan kah… kau berjanji kalau kau tidak akan meninggalkan ku…” ucap Eliza seraya menggenggam tangan Brendan dengan kedua tangannya, tubuh Brendan perlahan-lahan menjadi debu dan pasir yang berterbangan, air menetes dari langit yang berubah menjadi hitam. Tidak lama kemudian hujan turun membasahi Shibuya.

“hei Eliza… apakah menurut mu aku adalah seorang pahlawan?”

“hmm aku tak menyangka membunuh orang itu semudah ini? Aku kira dia adalah orang yang kuat… hah pahlawan! Orang selemah itu tidak akan menjadi pahlawan!” teriak Noctius.

Eliza yang mendengar ucapan Noctius menggertakan giginya, tangannya mencengkram lantai tempat Brendan sebelumnya berada dan menghancurkannya.

“bukan pahlawan kau bilang?” ucap Eliza, pitanya yang terkoyak karena pertarungan dengan Noctius terlepas dari rambutnya, sehingga rambut hijau Eliza tergerai.

“i-itu warna rambut Eliza…” ucap Natsume yang terkejut melihat rambut Eliza yang warnanya perlahan-lahan berubah.

“itu adalah Nocturne Drive milik Eliza… apabila Eliza menggunakan Nocturne Drivenya… rambut dia akan berubah warna dan memperlihatkan warna aslinya…” ucap Maria yang masih meneteskan air matanya.

“tapi warna itu… warna itu bukankah?” ucap Natsume yang bergetar.

“ayah pernah menceritakannya kepada ku… dua puluh tahun yang lalu dia bertarung dengan anggota Black Knight bernama Julius… dia dan ibu mu Claire Elanoire adalah orang yang menciptakan Nocturnal pertama di dunia ini… dan Eliza adalah salah satu dari prototype Nocturnal tersebut…”

“ibu ku pencipta Nocturnal kau bilang?” Tanya Natsume yang terkejut, Maria mengangguk.

“tapi ketika Julius berniat menciptakan Acursed dari penderitaan ayah dengan tujuan menggunakannya untuk melawan ayah… dia melakukan fatal error dalam penciptaan Acursed tersebut… ayah yang menyelesaikan ujian dari Heaven Altar, jiwanya bersatu dengan jiwa kakek… yaitu Alucard Von Dracus… tapi tanpa di sadari oleh ayah… terdapat satu jiwa lainnya yang ikut terbawa bersama dengan jiwa Alucard… ketika Julius menciptakan Acursed, dia melakukan satu kesalahan… dia gagal mengextract penderitaan ayah… sebagai gantinya dia mengextract jiwa tersebut yang merupakan sumber dari semua penderitaan ayah dan kakek… dengan kata lain Eliza… dia adalah manifesti dari jiwa yang secara tidak sengaja tertarik keluar tersebut” ucap Maria, Natsume yang mendengar cerita Maria hanya bisa takjub, kemudian dia kembali melihat ke arah Eliza yang rambutnya berubah menjadi perak seutuhnya, Eliza yang berambut perak menatap Noctius dengan tajam.

“embody… Soul Devourer…” ucap Eliza, kemudian dua buah sabit berukuran besar muncul di sebelah kanan dan kiri Eliza. Eliza mengambil kedua sabit itu sambil tetap menatap Noctius.

“sebenarnya aku tidak ingin menggunakan ini… karena aku tidak ingin menjadi orang lain… tapi apa boleh buat…” ucap Eliza.

“rambut perak itu… Eliza Ravenhalt… ku rasa sudah waktunya kau memberi tahu ku nama asli mu… anggap saja sebagai ganti karena aku sudah memberi tahu nama asli ku… aku Satan Rachen… siapakah nama asli mu Eliza Ravenhalt?” Tanya Noctius, Eliza menggigit bibirnya, darah mengalir dari bibir Eliza yang di gigit.

“Sierra… Sierra Fein Veinstern”

TO BE CONTINUED

CHAPTER 20: SOMEONE WHO IMPORTANT FOR YOU

CHAPTER 20: SOMEONE WHO IMPORTANT FOR YOU

Natsume dan Eliza berhasil mencapai Shibuya 109, daerah sekeliling mereka terlihat kosong, kemudian dari kejauhan terlihat Ace, Lilithia, Nac dan Nara yang berlari ke arah mereka.

“itu Ace…” ucap Natsume, Eliza mengangguk seraya menatap Ace, Ace dan yang lainnya berhenti di depan Natsume dan Eliza dalam keadaan kehabisan nafas.

“kalau kalian di sini… berarti…” ucap Ace seraya menatap Shibuya 109, Natsume mengangguk.

“kalau begitu tunggu apa lagi?” lanjut Ace seraya meembody pedangnya dan memecahkan kaca pintu mal tersebut, Natsume dan yang lainnya memasuki gedung tersebut tanpa berpikir panjang. Gedung tersebut terlihat kosong dan gelap, kemudian terdengar suara Noctius dari suatu tempat.

“Apocalypse… aku tak menyangka kalian bisa sampai sejauh ini… tapi Time Distortion tidak akan bisa bertahan lebih lama… karena itu aku tidak akan membiarkan kalian menganggu rencana ku lebih jauh… nah selagi aku menjalankan rencana ku lebih jauh… bersenang-senang lah dengan teman bermain kalian” ucap Noctius, kemudian tiba-tiba penerangan di dalam mal tersebut kembali, memperlihatkan Nocturnal dalam jumlah banyak yang memenuhi ruangan tersebut.

“sial… kalau seperti ini…” ucap Natsume seraya meembody Soul Chaser. Nac mengangkat tangannya. Natsume yang melihat Nac menghalangi dirinya terkejut.

“kau, Eliza, dan Ace pergi lah lebih dulu… biarkan aku, Nara, dan Lilithia yang membereskan Nocturnal yang ada di lantai ini…” ucap Nac seraya meembody Dual Deagle. Natsume menatap ke arah Lilithia. Lilithia yang menyadari bahwa dirinya di tatap Natsume mengangguk dan tersenyum.

“baiklah! Ace! Eliza! kita pergi lebih dulu!!” teriak Natsume.

“yosh!!” teriak Ace dan Eliza bersamaan, ketiga orang itu berlari ke arah gerombolan Nocturnal di depannya. Nocturnal yang bergerombol di depan Natsume dan yang lainnya menatap Natsume, Eliza, dan Ace. Kemudian melompat untuk ke arah mereka bertiga.

“jangan halangi jalan mereka!!! Vanguard Blaster!!!” teriak Nac seraya menembakan Double Deaglenya dengan kekuatan penuh, peluru yang melesat dari kedua moncong pistol kembar tersebut melesat dan meledakan gerombolan yang menyerang Natsume dan yang lainnya. Seekor Nocturnal lainnya yang berbentuk seperti naga kembali bangun dan melesat ke arah Natsume, sampai Nara melompat dan menusuk naga tersebut hingga terjatuh dan menghantam lantai di bawahnya.

“thank you Nara!!” teriak Ace seraya melambaikan tangannya, Nara tersenyum seraya membekukan naga yang di tusukannya dan menghancurkannya.

“nah Nac berhubung mereka bertiga sudah pergi ku rasa kita bisa mengamuk sepuasnya sekarang” ucap Nara sambil tersenyum.

“berisik aku sudah tahu itu…” balas Nac seraya mengangkat kedua pistolnya.

“hei bagaimana kalau kita bertanding? Siapa yang paling banyak membunuh Nocturnal di sini dialah pemenangnya?” tanya Nara, Nac hanya diam saja dan tidak menjawab ajakan Nara.

“ummm aku juga akan membantu…” potong Lilithia seraya meembody sebuah tongkat panjang dengan Kristal bewarna ungu di ujungnya.

“baiklah~ kalau begitu pertandingan di mulai!!”

***

Natsume, Ace, dan Eliza berlari di dalam mal yang terlihat kosong tersebut. Tidak ada satu pun orang yang terlihat berlalu lalang di dalam mal, kemudian Eliza menatap Ace dan Natsume.

“hey… kalian berdua… adakah seseorang yang penting bagi kalian?” tanya Eliza tiba-tiba. Ace dan Natsume yang mendengar pertanyaan Eliza terkejut dan hanya bisa saling menatap.

“err Eliza kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” tanya Natsume.

“tidak apa-apa aku hanya penasaran saja…” jawab Eliza, ketiganya kembali ke dalam suasana sunyi tanpa ada satu pun yang berbicara.

“dulu…” ucap Ace tiba-tiba. Eliza dan Natsume menoleh ke arah Ace.

“dulu ada orang yang penting bagi ku… dia adalah adik kandung dari salah satu Aeon…” ucap Ace sambil menatap atap mal tersebut.

“Aeon?” tanya Natsume yang kebingungan.

“Aeon adalah sebutan bagi dua belas pahlawan yang menyelamatkan dunia ini dua puluh tahun yang lalu… dua puluh tahun yang lalu terdapat sebuah organisasi bernama Black Knight yang di pimpin oleh Arcruel Leynsteid, karena ulah mereka dunia berada di ambang kehancuran… kemudian muncul dua belas orang yang memiliki Aeon Shard… mereka di beri julukan Aeon… Brendan Alucard, Sierra Von Dracus, Ryou Kurokaze, Freya, Caesar, Rad Naffil, Kyosuke Kurokaze, Garde Astale, Marcel, Dave, Ashley Lindwurm, dan Claire Elanoire adalah orang yang mendapat julukan tersebut” ucap Eliza, Natsume terkejut mendengar nama yang dia kenal di sebutkan oleh Eliza.

“Ashley Lindwurm dan Claire Elanoire kau bilang?! jadi orang tua ku selama ini adalah overlord dan pahlawan?!!” teriak Natsume yang terkejut.

“hah memangnya kau tidak tahu?” tanya Eliza kebingungan.

“tentu saja!! Orang bertampang bodoh seperti ayah ku bisa jadi pahlawan itu hanya akan terjadi di mimpi!!” teriak Natsume yang terlihat tidak dapat menerima kenyataan ayahnya seorang pahlawan.

“sudah dengarkan dulu cerita Ace…” ucap Eliza yang hanya bisa menghela nafasnya.

“ahahaha tidak apa-apa kok… aku juga sebenarnya tidak ingin mengingatnya lagi… karena orang itu…” ucap Ace pelan.

“ah… maaf Ace aku tidak berniat mengingatkan mu dengan kenangan pahit… aku tidak tahu kalau orang itu sudah tid—“ belum selesai Eliza berbicara tiba-tiba Ace memotongnya.

“pulang ke kampungnya” ucap Ace dengan nada datar dan tampang polos. Seketika juga Eliza dan Natsume terjatuh dan terguling di belakang Ace. Ace yang terkejut menoleh dan melihat Eliza dan Natsume yang terjatuh.

“o-oi kenapa kal—“ tiba-tiba sebuah sabit terayun menebas pipi Ace, Ace yang tertebas berteriak kesakitan dan memegang pipinya.

“o-oi!! Apa-apaan ini!! Kenapa kau tiba-tiba menebas ku!!” teriak Ace sambil menatap Eliza yang memegang sabitnya dan terlihat kesal.

“kau… jangan pernah membuat orang lain merasa bersalah!!” teriak Eliza, Natsume sambil tertawa pelan dengan sigap menahan Eliza sebelum kembali menyerang Ace.

“lagi pula kalau hanya pergi kenapa kau sampai tidak mau mengingatnya lagi?” tanya Natsume yang masih berusaha sekuat tenaga menahan kekuatan Eliza yang besar.

“oh… itu karena dia pergi tanpa mengatakan apa-apa… dan juga karena dia… ah lebih baik kita tidak usah melanjutkan pembicaraan ini, bukan kah kita harus pergi menuju tempat Noctius secepatnya?” tanya Ace, Natsume mengangguk, dan setelah beberapa menit Natsume berusaha setengah mati menahan Eliza, akhirnya Eliza dapat kembali tenang. Mereka bertiga pun kembali melanjutkan perjalanan mencari Noctius.

“Natsume…” ucap sebuah suara, Natsume terkejut dan menoleh ke arah Daichi yang berlumuran darah.

“D-Daichi apa yang terjadi?!” tanya Natsume.

“aku tidak apa-apa… tidak usah khawatirkan aku…” ucap Daichi, tiba-tiba langkah Daichi terhuyung dan terjatuh. Natsume dengan sigap menahan tubuh Daichi tepat sebelum Daichi menyentuh tanah.

“apanya yang tidak apa-apa?!! katakan apa yang terjadi?!!” teriak Natsume yang menopang tubuh Daichi.

“Dream… Plane… Driver… terletak di atap mal ini… mesin itu hanya bisa di aktifkan melalui kekuatan Avalon… karena itu Noctius menculik Riku… dia berniat menggunakan Avalon yang Riku miliki…”

“t-tunggu!! Kau bilang Avalon yang Riku miliki?!! Maksud mu Riku juga memiliki mata seperti yang ku miliki?!!” teriak Natsume yang terlihat kesal, Daichi mengangguk seraya mengangkat tangannya dan memegang tangan Natsume.

“Natsume ku mohon!! Selamatkan Riku!! aku… aku…” ucap Daichi pelan, kemudian Daichi terjatuh tidak sadarkan diri. Natsume menatap Daichi yang tidak sadarkan diri dan menidurkannya di salah satu sofa yang berada tidak jauh di sana. Natsume menatap ke arah Eliza dan Ace dengan tatapan yang tajam.

“kita hentikan Noctius sekarang…” ucap Natsume, Eliza dan Ace mengangguk dan kembali berlari ke arah atap Shibuya 109.

***

Riku terlihat lelah, tubuhnya di ikat di sebuah tiang yang ada di sana, tidak jauh dari tempatnya di ikat terdapat sebuah mesin yang terlihat seperti kokpit pesawat. Noctius menyadari bahwa Riku sudah sadar dan berjalan ke arahnya.

“ah tuan putri… akhirnya kau sadar juga…” ucap Noctius seraya mengangkat dagu Riku.

“apa mau mu?” tanya Riku yang menatap Noctius dengan perasaan jijik.

“tatapan itu… tatapan yang memandang rendah kami… jangan sekali-kali kau menatap ku seperti itu!” teriak Noctius seraya menampar wajah Riku. Riku hanya terdiam dan kembali menatap Noctius.

“sudah ku bilang berhenti menatap ku seperti itu!!!” teriak Noctius seraya memukul Riku berkali-kali, Riku yang terus di hajar oleh Noctius mulai muncul lebam di sekujur tubuhnya. Riku memuntahkan darah tetapi dia kembali menatap Noctius dengan tatapan yang sama. Noctius mulai terlihat makin kesal, kemudian dia memegang wajahnya dengan tangannya dan mulai tertawa.

“ahahaha… ahahahahahaha!!! Benar juga… lebih baik aku ambil mata mu sekarang! Agar kau berhenti menatap ku seperti itu! lagi pula aku hanya memerlukan mata mu!” teriak Noctius seraya mengarahkan tangannya ke arah mata Riku. Ekspressi Riku berubah, dari ekspressi yang berani menjadi ketakutan. Noctius yang melihat perubahan ekspressi Riku tersenyum.

“nah sekarang ucapkan perpisahan mu dengan mata ki—“ belum selesai Noctius berbicara tiba-tiba pintu yang menghubungkan atap Shibuya 109 dengan tangga yang menuju ke bawah meledak. Noctius yang terkejut berbalik dan melihat Natsume dan Eliza yang berjalan keluar dari pintu tersebut.

“Apocalypse…” ucap Noctius dengan nada yang terdengar kesal, dia melepaskan tangannya dari Riku dan meembody sebuah cannon bewarna hitam pekat.

“Eliza Ravenhalt… Natsume Lindwurm… ada baiknya kalian meninggalkan ku sekarang… karena aku bisa dengan mudah menghabisi kalian…” ucap Noctius seraya mengarahkan cannonnya ke arah Natsume. Natsume menatap ke arah Riku dan tersenyum, kemudian Natsume meembody Soul Chaser, begitu juga dengan Eliza yang meembody sabitnya.

“aku ke sini untuk mengakhiri rencana mu… dan menyelamatkan Riku!!!”

TO BE CONTINUED