Wednesday, 15 December 2010

Chapter 2: the Nocturnal

CHAPTER 2: THE NOCTURNAL



Sesosok lelaki berjubah dan bertudung hitam sedang berdiri di atap gedung Hanabiri Gakuen dan menatap langit kelam yang di hiasi oleh bulan yang bercahaya. Lelaki tersebut kemudian menoleh ke arah Natsume yang sedang di hadang oleh banteng hitam.



“Siegfred-san? Apa kau yakin ingin menyerang anak laki-laki itu?” Tanya sebuah suara perempuan di belakangnya, Siegfred tersenyum.



“ah kau sudah datang rupanya Elena… dari mana saja kamu? Hampir saja kau ketinggalan tontonan yang seru ini…” ucap pria bertudung tersebut seraya menoleh ke arah perempuan berambut biru panjang dan mengenakan kaca mata. Elena mengenakan jubah hitam dan juga pakaian serba hitam.



“aku baru saja melihat saudara kembar mu Siegfred-san, kelihatannya dia mulai bergerak, dan saat ini dia menuju ke sana” ucap Elena seraya menunjuk ke arah Natsume, Siegfred tertawa seraya membuka tudungnya memperlihatkan mukanya yang bewarna pucat, bermata merah darah, dan berambut perak.



“memangnya apa yang bisa dia lakukan?! Dia tidak akan bisa menghentikan rencana ku… begitu juga dengan ayah dan ibu…”



“tapi Siegfred-san kalau tuan Br—“



“jangan sebut namanya!! Sudah berapa kali ku bilang jangan pernah sebut namanya lagi… dia sudah bukan siapa-siapa ku lagi… nah nee-chan tunjukan apa yang akan kau lakukan…” ucap Siegfred seraya berbalik dan berjalan meninggalkan tempat dia berdiri tadi, di ikuti oleh Elena.



***



Natsume terkejut melihat sesosok banteng raksasa berdiri di depannya, tubuhnya bergetar pikirannya terus berteriak bahwa dia harus lari secepatnya dan sejauh mungkin, Natsume berusaha menggerakan tubuhnya yang bergetar dan setelah dia merasa sudah dapat mengontrol tubuhnya kembali dengan cepat Natsume berbalik dan berlari meninggalkan banteng tersebut, banteng tersebut meraung seraya mengejar Natsume dan berusaha menyeruduknya, Natsume yang tahu dirinya di kejar berlari semakin kencang, setelah itu dia melihat belokan di depannya, Natsume dengan sigap melempar tubuhnya dan berguling ke dalam gang tersebut sementara banteng yang mengejarnya terus berlari melewati gang tersebut.



“mahluk apa barusan?! Tapi ku rasa dia sudah tidak mengejar ku lagi…” pikir Natsume seraya berdiri dan berjalan menelusuri gang tersebut, sampai Natsume mendengar suara ledakan besar di belakangnya dan melihat banteng yang tadi mengejarnya menghancurkan gedung yang menghimpit gang tersebut, dan memaksa tubuhnya masuk.



“oh god!!” teriak Natsume seraya berlari meninggalkan gang tersebut, Natsume dapat mendengar suara gedebum keras yang merupakan suara langkah kaki mahluk yang mengejarnya, Natsume terus berlari dan dia menyadari bahwa dia keluar di daerah sekitar Shibuya 109, orang-orang berlalu-lalang di depannya memperlihatkan dunia malam di Shibuya.



“damnit… kalau di tempat seperti!!” pikir Natsume, kemudian Banteng yang mengejarnya menyeruduk keluar dari gang dan menghantam beberapa gedung di depannya, orang-orang di sekitar tempat itu berteriak, dan berlarian menghindari tempat banteng tersebut menyeruduk.



“ada apa?!! apa yang terjadi apakah ada bom!!” teriak salah satu orang yang berlari, Natsume yang mendengar itu terkejut dan melihat ke arah orang-orang yang berlarian di bawah banteng raksasa tersebut tanpa menyadari keberadaan banteng itu.



“apa yang terjadi sebenarnya? Mereka tidak dapat melihat mahluk itu” ucap Natsume yang kebingungan, mahluk tersebut kembali meraung dan berlari ke arah Natsume.



“kalau mahluk itu tidak bisa di lihat dan di sentuh berarti…” pikir Natsume, Natsume berdiam diri di tempatnya membiarkan mahluk tersebut menyeruduk ke arahnya, mahluk itu menyeruduk Natsume, Natsume merasakan hantaman yang keras di perutnya.



“tidak mungkin dia bisa menyentuh ku?!! Tapi kenapa!!” teriak Natsume yang terlempar dan menghantam dinding gedung di belakangnya, seorang laki-laki berjalan ke arah Natsume dan mengulurkan tangannya.



“kau tidak apa-apa! cepat kita pergi dari sini sepertinya ada bom di sini!!” ucap laki-laki tersebut, kemudian Ryou melihat banteng tersebut kembali bergerak ke arahnya, Natsume menepis tangan laki-laki itu dan kembali berlari meninggalkan daerah Shibuya 109.



“terlalu berbahaya di tempat yang banyak orang… walaupun mahluk itu tidak dapat di lihat tetapi dia bisa menyebabkan kerusakan di tempat sekitar dan bahkan bisa melukai manusia lainnya… tapi bagaimana mungkin?” Natsume memutar otaknya mencoba mencari jalan keluar dari situasi aneh ini, kemudian Natsume melihat tanah yang di pagar yang di dalamnya sedang ada proyek pembangunan gedung, Natsume mendobrak pagar tersebut menggunakan badanya, dan berlari memasuki tanah yang di penuhi oleh pondasi-pondasi gedung yang akan di bangun tersebut, kemudian dia kembali mendengar rauman, Natsume berbalik dan melihat ke arah banteng yang ada di depannya, kemudian Natsume menyadari bahwa jalan di belakangnya adalah jalan buntu.



“heh ku rasa aku sudah tidak bisa lari lagi…” ucap Natsume, kemudian banteng tersebut kembali meraung dan berlari ke arah Natsume, Natsume menutup matanya dan tiba-tiba dia mendengar suara ledakan, Natsume yang terkejut kembali membuka matanya dan melihat ke arah kepala banteng tersebut yang di penuhi oleh kepulan asap, banteng tersebut kembali meraung dengan suara yang terdengar lebih keras, peluru lain kembali melesat ke arah banteng tersebut meledakan kakinya, Banteng tersebut terjatuh dan berusaha bangun kembali, Natsume menoleh dan melihat sesosok perempuan berambut perak berkuncir dua yang mengenakan pakaian gothic dan rok pendek yang memegang revolver dan mengarahkannya ke arah banteng yang menyerang Natsume dan berdiri di atas salah satu pondasi gedung, perempuan tersebut berkulit pucat dan bermata merah darah, kemudian Natsume kembali teringat akan kejadian dua belas tahun yang lalu, perempuan tersebut kembali menembakan revolvernya memberikan banyak ledakan di tubuh banteng tersebut yang akhirnya banteng tersebut mengeluarkan raungan kecil dan tubuhnya menghilang menjadi asap hitam yang menguap dan menghilang, perempuan itu menatap Natsume dengan tatapan sinis, setelah itu dia melompat turun dan berlari ke arah gerbang konstruksi bangunan itu.



“perempuan itu tidak salah lagi!!” teriak Natsume seraya berlari mengejar perempuan itu, Natsume berjalan keluar dari konstruksi bangunan dan berbelok ke arah tikungan tempat perempuan itu menghilang, setelah itu Natsume menabrak seseorang hingga jatuh, orang yang di tabrak natsume menjatuhkan sekumpulan kertas.



“maafkan aku! Aku tidak sengaja!” ucap Natsume seraya membantu orang itu membereskan kertas yang terjatuh.



“Natsume-kun?” ucap suara yang di kenal Natsume, Natsume menoleh dan melihat ke arah Maria yang juga sedang mengumpulkan kertas yang berjatuhan, Maria mengenakan kemeja hitam dan rok pendek hitam.



“k-kaichou?!!” ucap Natsume yang tiba-tiba teringat akan kejadian siang tadi, muka Natsume memerah.



“hei! Kenapa muka mu memerah?! Apa yang kau pikirkan!!” teriak Maria dengan muka yang juga memerah.



“t-tidak aku tidak memikirkan apa-apa kok… ngomong-ngomong sedang apa kaichou di sini?” Tanya Natsume seraya menyerahkan kertasnya.



“aku? Aku dari rumah teman ku sekaligus wakil ketua OSIS untuk mengambil data murid yang besok harus di serahkan kepada kepala sekolah…” jawab Maria seraya merapihkan kertas-kertas itu, kemudian Maria melihat ke arah Natsume yang masih mengenakan seragam.



“kau sendiri sedang apa malam-malam begini dan masih mengenakan seragam?” Tanya perempuan berambut perak dan bermata amber itu.



“aku tadi membantu pak Dave membereskan dokumennya dan ah aku terkena sedikit kecelakaan di jalan, jadi aku belum pulang…” ucap Natsume yang berpikir bahwa dia pasti akan di tertawakan oleh Maria kalau dia bercerita bahwa dia baru saja di kejar banteng di tengah kota, walaupun menurut dia itu tidak lebih aneh dari seorang pria yang menggunakan stang motor di kudanya.



“kecelakaan? Aku tidak melihat luka?” balas Maria dengan tatapan curiga.



“ah bukan kecelakan besar sih ahahaha, oh iya bagaimana kalau kau ku antar pulang?” Tanya Natsume, Maria terdiam memikirkan ajakan Natsume kemudian akhirnya dia mengangguk, dan berjalan bersama Natsume meninggalkan tempat itu, keduanya berjalan di pinggir sepanjang jalan Shibuya yang di penuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang, setelah itu Natsume menghampiri salah satu vending machine yang di temuinya dan membeli dua kopi, yang salah satunya di berikan kepada Maria, keduanya saling berbicara dan bercanda selama perjalanan, akhirnya keduanya berhenti di sebuah apartemen di pinggiran kota Shibuya.



“di sini kah kau tinggal? Kau tinggal sendirian?” Tanya Natsume seraya melihat ke arah gedung apartemen tersebut.



“iya sudah dari dulu aku tinggal sendirian…”



“hebat… kau menakjubkan kaichou! Selain cantik dan pintar kau juga mandiri!” goda Natsume.



“tidak juga kok…” ucap Maria yang berjalan ke arah apartemen itu, kemudian Maria berbalik dan melambaikan tangannya ke arah Natsume.



“sampai jumpa besok pagi Natsu!” teriak Maria seraya memasuki apartemennya, sebelum meninggalkannya Natsume sempat membalas lambaian tangan Maria, kemudian Natsume meremas tangannya.



“perempuan itu… perempuan dua belas tahun yang lalu… dia ada di kota ini!” ucap Natsume yang berbicara sendiri, setelah itu Natsume berbalik dan berjalan meninggalkan apartemen Maria.



***



“Siegfred-san salah satu Nocturnal ciptaan kita telah hancur… dan seperti biasa yang menhancurkannya adalah kakak anda…” ucap Elena yang memasuki sebuah ruangan dengan membawa seorang pria yang terlihat despressi di tangannya.



“biarkan dia… nee-chan tidak akan pernah dan tidak akan bisa menjadi pengganggu dalam rencana ku…” ucap Siegfred seraya memainkan origami di tangannya.



“kalau begitu kita apakan orang ini? Setelah Nocturnal miliknya hancur dia tidak lebih dari sekedar manusia stress biasa” ucap Elena seraya melempar pria yang di bawanya ketengah ruangan.



“ku mohon!! Ampuni aku!! Walaupun aku adalah sampah masyarakat tapi aku masih mau hidup!!” ucap pria tersebut seraya mencium kaki Siegfred.



“menjijikan… dasar penjilat… sampah masyarakat seperti mu tidak di butuhkan di dunia ini…” ucap Siegfred seraya mengeluarkan pedangnya dan menebas kepala orang itu, kepala pria tersebut terlempar dan terguling di ruangan itu.



“Elena beri tahukan kepada Blitz dan Regnel bahwa pesta kita akan segera di mulai…” ucap Siegfred yang mengambil secarik foto yang memperlihatkan foto anak kembar berbeda gender, yang laki tersenyum dan melambai ke arah kamera, sementara yang perempuan memangku tangannya dan menolak untuk melihat kamera, di belakang kedua anak itu terlihat sepasang perempuan dan laki-laki berambut perak, keduanya terlihat seperti baru berumur sembilan belas tahun, Elena menundukan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.



“nee-chan… terkadang aku berpikir… bahwa takdir kita berdua sangat kejam…” ucap Siefred seraya menatap ke arah bulan.



***



“ojou-sama sepertinya adik anda sudah mulai menjalankan rencananya…” ucap perempuan berambut hijau bernama Eliza ke arah perempuan yang di panggilnya ojou-sama.



“aku sudah tahu…” balas ojou-sama seraya menatap bulan yang bersinar di atasnya.



“Siegfred dan aku… kami berdua sangat identik tetapi sangat berbeda…”



Seorang pria berambut hitam dengan sisiran ke belakang memasuki ruangan tersebut bersama dengan dua pria lainnya.



“Sarchex… seperti rencana awal kau coba dekati Natsume dan mengajaknya bergabung dengan kita… sementara Ciel awasi seluruh daerah kita”



“haah~ jadi tugas ku hanya lah mencoba menuntun bayi ke tempat kita?” ucap pria dengan rambut hitam tersebut, kemudian ojou-sama menatap Sarchex dengan tatapan sinis.



“ok-ok!! Baiklah akan ku coba!!” teriak Sarchex seraya berjalan meninggalkan ruangan tersebut.



Kemudian pria berambut merah mengangguk dan berjalan ke arah pintu ruangan.



“tugas ku hanya menjaga daerah sekitar kan? Tugas yang sangat mudah…”ucap pria berambut merah bernama Ciel itu.



“Wilson? Bagaimana dengan penelitian mu?” Tanya ojou-sama ke arah pria yang satu lagi, yang sedang menyender ke tembok, pria tersebut sama sekali tidak menjawab.



“bertindak keren seperti biasa hah? Atau kau hanya…” ucap Eliza seraya berjalan ke arah Wilson yang masih menyender dan terdiam, kemudian Eliza mengangkat tangannya.



“bangun tukang tidur sialan!!” teriak Eliza menampar Wilson dan membuatnya terlempar ke sisi ruangan yang lain.



“what the fuck!! Hei aku sedang mimpi indah!!” teriak Wilson yang bangun dan memegang pipinya yang memerah.



“ojou-sama bertanya tentang penelitian mu!! dasar kau itu!!” teriak Eliza gregetan.



“oh itu… menurut Nara terdapat siswa lain yang juga memiliki potensi besar nama siswa itu adalah” ucap Wilson seraya mengeluarkan secarik kertas dari balik jubah hitamnya, dan melemparnya ke arah ojou-sama, ojou-sama menangkap kertas tersebut dan melihat foto seorang anak laki-laki berambut coklat dan bermata coklat.



“Nac Merfield…” ucap Wilson, kemudian ojou-sama menyimpan kertas tersebut.



“baiklah Apocalypse… kita akan mulai bergerak…”



TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment