CHAPTER 5 : THE RONDO OF THUNDER GOD & FLAME EMPEROR
“bukan kah aku yang kau inginkan?” ucap Maria seraya mengarahkan revolvernya ke arah Siegfred, kemudian Siegfred tertawa.
“nee-san apakah kau yakin bisa menyakiti adik mu ini?” Tanya Siegfred seraya tersenyum, tangan Maria bergetar dan sama sekali tidak menekan pelatuk revolver miliknya.
“sudah ku duga tidak bisa kan?” ucap Siegfred yang muncul di depan Maria seraya mengangkat broadswordnya, dan mengayunkannya ke arah Maria.
“ojou-sama!!!” teriak Eliza yang berusaha bangun tetapi tidak bisa.
“cish Maria-tan” teriak Wilson yang juga berlari ke arah Siegfred, tetapi tiba-tiba muncul sesosok binatang yang terjun dari langit dan berdiri dengan kedua kakinya, binatang tersebut berbentuk banteng, dia juga memilik tangan seperti manusia, mahluk tersebut menahan glaive Wilson.
“jangan ganggu tuan Siegfred…” ucap mahluk tersebut.
“kau beastman, Reigner?!!” ucap Wilson yang berusaha menarik glaivenya, Natsume yang melihat Maria akan di tebas berusaha menggerakan tubuhnya tetapi luka yang terdapat di sekujur tubuhnya membuatnya susah untuk bergerak.
“tenang saja nee-san kau tidak akan mati, aku hanya perlu membuat mu tidak bisa melawan!!” teriak Siegfred.
“Maria!!!” teriak Natsume, tiba-tiba di depan Siegfred muncul siluet hitam, siluet tersebut menahan serangan Siegfred.
“kau?!!” ucap Siegfred terkejut yang melihat pria berambut hitam, dan berseragam hitam di depannya.
“Ace?!” ucap Natsume melihat Ace yang menahan serangan Siegfred.
“Ace? Jangan-jangan kau Thunder God Sarchex yang seharusnya menghilang beberapa tahun yang lalu?!” teriak Siegfred.
“hah siapa dia? Aku tak mengenalnya” ucap Ace seraya menjedukan kepalanya ke kepala Siegfred membuat Siegfred terdorong, kemudian Ace menebaskan pedangnya menciptakan hempasan angin yang besar dan membuat Siegfred terdorong.
“Thunder God apa maksudnya?” Tanya Natsume yang kebingungan, kemudian Eliza tersenyum.
“ada empat orang overlord yang mendapat julukan sesuai nama element dasar di dunia ini, mereka mendapatkan julukan tersebut karena mereka seperti memiliki kemampuan dari masing-masing elemen, Thunder God Sarchex, Flame Emperor Ciel, Earth Cluster Reigner, dan Water Mistress Aria, dua tahun lalu Sarchex menantang Ciel, tetapi dia di kalahkan dengan mudah oleh Ciel, karena itu dia membuang julukan Thunder God sebelum dia berhasil mengalahkan Ciel, itulah yang dia katakan waktu itu” ucap Eliza, kemudian Ace menghilang, Siegfred yang terkejut mencoba mencari keberadaannya tetapi tidak menemukannya.
“aku di sini~” ucap Ace dari belakang Siegfred seraya menebas punggung Siegfred, Siegfred meringis seraya menebaskan broadswordnya ke belakang tetapi Ace sudah kembali menghilang.
“hei kau lihat ke mana!!” teriak Ace yang menendang Siegfred dari atas, Siegfred kembali menebaskan pedangnya ke atas, dan Ace kembali menghilang.
“hah? Ada apa kau tidak bisa mengejar ku?” Tanya Ace yang kembali muncul di belakang Siegfred dan kembali menebas Siegfred.
“kau!!!” teriak Siegfred menghantamkan pedangnya ke tempat Ace yang sudah kembali menghilang.
“cuman segini kemampuan mu?” ucap Ace yang muncul di depan Siegfred dan menghantam muka Siegfred menggunakan kakinya dan membuatnya terhempas, Reigner yang melihat Siegfred terlempar mencoba menangkapnya sampai tiba-tiba sebuah pisau melesat ke arahnya dan tertancap di tanah dekat kakinya, Reigner terkejut dan melihat ke arah pria berambut merah yang berdiri di atas pagar pembatas atap sekolah.
“Ciel!!” teriak Reigner yang terlihat kesal.
“kau yang mengatakan agar tidak menganggu Siegfred kan? Kalau gitu ku katakan hal yang sama Reigner, jangan ganggu Sarchex…” ucap Ciel dengan tenang, kemudian Reigner tertawa.
“hehehe baiklah kalau itu memang mau mu! Aku juga ada urusan dengan mu, orang-orang mengatakan bahwa di antara kita berempat kau yang terkuat, tapi kali ini akan kubuktikan kalau aku lebih kuat dari mu!!” teriak Reigner yang melompat ke arah Ciel, kemudian Reigner menghantamkan tinjunya ke arah pagar tempat Ciel berdiri, Ciel melompat dan menginjak kepala Reigner.
“dasar bodoh…” ucap Ciel seraya melempar pisaunya ke arah Reigner, pisau tersebut meledak begitu mengenai Reigner, Reigner meraung dan berbalik ke arah Ciel.
“Ciel!!!” teriak Reigner yang berlari ke arah Ciel.
“orang-orang itu salah… bukan aku yang kuat, tapi kau yang lemah…” ucap Ciel seraya mengeluarkan dua pisau di tangannya, Ciel melempar kedua pisau itu ke kaki Reigner, kedua pisau tersebut menahan dan menusuk kaki Reigner, membuat Reigner tidak dapat berjalan.
“overdrive , first tier, Meteor Blast…” ucap Ciel seraya melompat ke atas dan melempar kedua pisaunya ke arah Reigner, kedua pisau tersebut di lapisi oleh aura bewarna merah menyala, ketika kedua pisau tersebut menusuk Reigner, kedua pisau itu meledak menciptakan ledakan yang jauh lebih besar dari ledakan sebelumnya Reigner kembali meraung dan terjatuh, setelah itu Reigner mencoba kembali berdiri.
“sudah Reigner hentikan! Untuk sementara kita mundur dulu!” teriak Siegfred, Reigner terlihat tidak setuju dengan ucapan Siegfred, tetapi dia tetap berjalan ke arah Siegfred, keduanya di selimuti oleh cahaya putih.
“Ciel berikutnya kita bertemu akan ku buktikan bahwa aku jauh lebih kuat dari diri mu!!” teriak Reigner.
“tunggu!!” seru Wilson seraya berlari ke arah Siegfred dan Reigner, tetapi keduanya sudah menghilang di telan cahaya tersebut, Wilson berhenti dan terjatuh.
“sial!!” teriak Wilson seraya memukul tanah.
“Ciel aku tidak mengira kau akan datang!” teriak Ace seraya berjalan ke arah Ciel dan tersenyum, tetapi Ciel menatap Ace dengan sinis seraya berjalan meninggalkannya.
“Karena kalau aku tidak datang, pelawak seperti kalian berdua tidak akan bisa apa-apa” ucap Ciel yang pergi meninggalkan Ace dan Wilson.
“apa kau bilang?!! Hei urusan kita juga belum selesai!!” teriak Ace yang hanya bisa melihat Ciel pergi.
Natsume merasa kesadarannya mulai hilang, dia menutup matanya, sebelum terjatuh, dia dapat mendengar suara Maria dan Eliza yang memanggilnya, kemudian semua yang ada di sekelilingnya menjadi gelap.
***
Natsume membuka matanya dia berada di kegelapan pekat kemudian dia mendengar suara seorang perempuan.
“di mana ini? Kenapa aku di sini?”
Natsume yang mendengar suara tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri tetapi dia tidak bisa melihat apa-apa.
“kenapa aku lahir? Tidak… aku tidak ingin lahir jika untuk hidup saja aku harus membebani orang itu”
Natsume mencoba memanggil pemilik suara tersebut.
“siapa di sana!!” teriak Natsume, tetapi tidak ada jawaban, setelah Natsume terdiam, Natsume kembali mendengar suara tersebut.
“kau? Kenapa kau di sini? Kau tidak seharusnya berada di sini!”
“apa maksud mu siapa kamu?”
“aku adalah diri mu…”
“hah? Di mana kau berada?” Tanya Natsume lagi seraya mencoba berjalan, tetapi tiba-tiba kegelapan di bawahnya mulai menelan kakinya dan perlahan-lahan menelan Natsume.
“apa yang terjadi?! Graah!!” teriak Natsume yang tertelan oleh kegelapan tersebut sepenuhnya.
***
Natsume terbangun dan terkejut menyadari dirinya tertidur di atas sebuah kasur, kemudian dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, dan dia melihat seluruh tubuhnya yang di perban, Natsume mencoba menggerakan tangannya, tetapi dia merasa tangannya di tahan oleh sesuatu, kemudian Natsume menoleh dan melihat Maria yang tertidur dan memegang tangannya menggunakan kedua tangan miliknya, muka Natsume memerah melihat Maria yang tertidur.
“hee apa yang kau pikirkan sampai muka mu jadi merah begitu?” ucap sebuah suara dari belakang Natsume, Natsume terkejut dan melihat Eliza yang tersenyum dan berdiri di dekatnya.
“ah maaf lanjutkan imajinasi mu aku tidak akan menganggu kok” ucap Eliza sambil tertawa kecil.
“a-aku tidak memikirkan apa-apa!!” teriak Natsume sambil membuang mukanya dari Eliza.
“oh ya? Kau yakin? Bukan kah kau sudah menyatakan cinta mu ke ojou-sama?” Tanya Eliza, muka Natsume semakin memerah, dia teringat kembali dengan kejadian siang tadi.
“a-apa maksud mu? aku tidak pernah melakukan itu!!” teriak Natsume lagi.
“oh ya? Bukan kah itu kau yang mengatakan cinta kepada perempuan yang dulu kau temui dua belas tahun lalu, di depan perempuan itu sendiri dan lucunya tanpa kau sadari?” ucap Eliza yang meledek Natsume.
“b-berhenti meledek ku!!”
Kemudian Natsume merasakan gerakan di tangannya, kelihatannya Maria akan bangun kapan saja, kemudian Eliza tertawa dan berjalan ke arah pintu ruangan tersebut.
“ahahaha kau memang sangat menyengkan untuk di goda” ucap Eliza seraya membuka pintu ruangan itu.
“oh ya Natsume… menurut ku kalau kau ada masalah, ada baiknya kau menceritakan itu ke orang lain, kau tahu?” ucap Eliza yang melihat ke arah Natsume sebelum keluar, Natsume yang mendengar itu terdiam, kemudian Eliza pergi meninggalkan Natsume, Maria terbangun dari tidurnya dan melihat Natsume.
“kau sudah sadar Natsume?” Tanya Maria yang mengucek matanya, rambutnya sudah di gerai kembali, dan kelihatannya dia juga sudah mengenakan contact lensnya.
“kenapa kau tidak pernah memberitahu ku…” ucap Natsume seraya memandang ke arah lain, ekspresi Maria berubah, terlihat ekspressi bersalah di mukanya.
“dua belas tahun lalu… kecelakaan itu… semuanya aku penyebabnya… karena aku lah kau tidak sadarkan diri selama dua belas tahun”
“itu bukan salah mu…”
“tapi kalau seandainya kau tidak mengejar ku…”
“sudah ku bilang itu bukan salah mu…”
“kalau saja kau tidak bertemu deng—“
“sudah ku bilang kan!! Itu bukan kesalahan mu!!” teriak Natsume tiba-tiba, Maria terdiam mendengar teriakan Natsume.
“itu bukan salah siapa-siapa, itu salah ku yang tidak hati-hati… lalu yang di katakan Eliza itu…” ekspresi Maria memperlihatkan keterkejutan.
“dia tidak menceritakan apa-apa kan?” Tanya Maria.
“apa yang kau lakukan dua belas tahun lalu Maria?! Kenapa aku masih hidup?!” bentak Natsume, Maria kembali terdiam.
“begitu… sepertinya Eliza menceritakan semuanya… mengertilah Natsume… aku tidak ingin kau mati jadi aku…”
“memberikan sebagian kekuatan mu atau kutukan mu?” Tanya Natsume, Maria terkejut mendengar ucapan Natsume, perlahan dia meneteskan air matanya, Natsume bangun dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu ruangan tersebut.
“aku ingin mencari udara segar…” ucap Natsume seraya mengenakan seragamnya dan membanting pintu, Maria hanya terdiam, dan menangis .
Ciel terdiam dan bersender di luar jendela ruangan tersebut, dia mencuri dengar pembicaraan Maria dan Natsume tanpa di sadari oleh mereka berdua, setelah itu Ciel berjalan meninggalkan Maria yang menangis.
***
Natsume berjalan meninggalkan sekolah setelah mengambil tasnya dia izin pulang cepat ke Dave dengan alasan terjatuh dari tangga, dia berjalan di tengah kota Shibuya sendirian di antara ribuan orang yang berlalu lalang di sana, Natsume melihat ke arah vending machine tempat dia membeli kopi untuk Maria dan dirinya kemarin malam, dia membeli sebotol kopi di sana dan duduk di kursi kayu di dekatnya, seorang pria setengah baya berambut pirang dan berkaca mata duduk di sebelahnya.
“yo anak muda boleh ku duduk di sini?” ucap pria tersebut tersenyum, Natsume hanya terdiam dan memandang pria itu dengan tatapan sinis.
“hah anak muda zaman sekarang tidak ada yang sopan ya?”
“apa mau mu? ku rasa kau tidak hanya duduk di sebelah ku hanya karena ingin duduk kan?”
“wow! anak muda zaman sekarang juga hebat ternyata”
“heh lame, jadi apa yang kau mau?”
“kau sedang banyak pikiran kan? Mau ku bantu refresing?”
“hah? Buat apa? aku tidak butuh bantuan mu?”
“kalau begitu bagaimana kalau aku bilang kau akan mendapatkan kekuatan yang sama dengan mereka?” ucap pria itu sambil tersenyum, Natsume menjatuhkan minumannya.
“dari mana kau tahu mengenai mereka?” ucap Natsume dengan ekspresi yang terlihat marah dan bisa meledak sewaktu-waktu.
“tidak penting, bagaimana kau berminat?” Tanya pria tersebut, Natsume terdiam, kemudian dia teringat ketidak berdayaan dirinya melihat Maria yang akan di lukai oleh Siegfred.
“baiklah” ucap Natsume, pria tersebut terlihat senang.
“bagus!! Perkenalkan nama ku adalah Blitz! Sekarang bisa kah kau mengikuti ku?” Tanya Blitz, Natsume mengangguk dan berjalan mengikuti Blitz, mereka berjalan menjauhi keramaian kota Shibuya dan menuju sebuah gang kecil di antara dua buah gedung kumuh.
“oh sebelum itu aku ingin memberi tahu mu sesuatu…” ucap Blitz sambil tersenyum.
“ada apa?”
“bisa kah kau ke sini sebentar?” Tanya Blitz, Natsume berjalan ke arah Blitz, dan tiba-tiba Blitz memegang kepala Natsume menggunakan satu tangan dan mengangkatnya, Natsume meronta dan mencoba melepaskan dirinya.
“k! kau!!!” teriak Natsume yang meronta.
“aku ingin memberi tahu mu kalau aku… aku bohong! Wee!!” teriak Blitz seraya menjulurkan lidah.
“a-apa?!!”
“ternyata benar apa yang di katakan Reigner dan Siegfred!! Kau adalah manusia yang penuh oleh penderitaan!! Dan aku sangat bahagia menemui mu!!!” teriak Blitz sambil tertawa, perlahan-lahan asap hitam keluar dari seluruh tubuh Natsume.
“k-kau!!! Apa yang kau mau!!!” teriak Natsume masih mencoba melepaskan diri.
“yang aku mau? mengextract penderitaan mu dan menciptakan binatang peliharaan ku!! lahirlah!!! Nocturnal terkuat!!” teriak Blitz, seketika Natsume merasakan sesuatu menjulur keluar dari dalam hatinya, setelah itu terjadi ledakan asap hitam di tubuh Natsume, tubuh Natsume menjadi lemas dan asap hitam yang keluar dari tubuhnya mulai bergumpal membentuk sesuatu.
“terima kasih atas Nocturnalnya!!” ucap Blitz yang melihat ke arah gumpalan asap hitam seraya menjatuhkan badan Natsume yang tidak berdaya, kemudian Blitz mendengar langkah kaki di belakangnya, Blitz menoleh dan melihat Ciel.
“maaf aku mengganggu mu… tapi kau tidak akan ku biarkan pergi begitu saja… aku butuh informasi dari mu… dari Siegfred…” ucap Ciel.
“siapa kau?” Tanya Blitz, Ciel mengeluarkan salah satu pisaunya.
“Flame Emperror Ciel, orang yang bersumpah akan melindungi Water Mistress Aria, perempuan yang pernah kau jadikan bahan percobaan mu…”
TO BE CONTINUED
“what will happen to the boy? The despair had been extracted, Can the boy face his own nocturne?”
No comments:
Post a Comment