Wednesday, 15 December 2010

Chapter 3: a Hero or a Slacker

CHAPTER 3: A HERO OR A SLACKER



Natsume bangun dari tidurnya dia memandang jam dan terkejut melihat jamnya yang menujukan jam enam pagi, dengan cepat dia mengganti seluruh pakaiannya menjadi seragam sekolahnya.



“bu? Apakah tadi Riku kesini?!” teriak Natsume dari kamarnya.



“ya, cuman tadi ibu suruh dia berangkat lebih dulu! Karena kamu belum bangun!” balas Claire yang suaranya terdengar dengan jelas dari bawah, setelah itu Natsume berlari turun dari kamarnya mengambil roti yang ada di meja, dan setelah itu pergi meninggalkan rumahnya setelah berpamitan ke ibunya, dan tidak menyapa ayahnya yang dari tadi berusaha mengganggunya, dalam perjalanannya Natsume melihat anak laki-laki yang kemaren di lihatnya ketika dia menuju ruang OSIS.



“yo Natsume-san” ucap Sarchex, tetapi Natsume tidak memedulikannya dan terus berjalan.



“begitukah kau apabila di sapa? Padahal aku ingin memberitahu mu informasi soal orang yang kau cari” ucap Sarchex, Natsume berhenti kemudian dia berbalik.



“aku tidak punya banyak waktu, apa mau mu?” ucap Natsume seraya memperlihatkan tatapannya yang serius.



“santai saja Natsume, pertama-tama biarkan aku memperkenalkan diri nama ku adalah Ace Sarchex anggota OSIS oh kau bisa memanggil ku dengan panggilan Ace saja” ucap Ace.



“ya, ya, cukup dengan basa-basinya jadi apa yang kau tahu tentang orang yang aku cari? Dan apa maksud kata-kata mu kemaren, soal ada pengkhianat di antara teman-teman ku?”



“bukan kah sudah ku bilang untuk santai saja, soal penkhianat di antara teman mu adalah maksud ku di antara errr siapa namanya? Ah ya Daichi dan Riku ada satu orang yang ak—“ tiba-tiba Natsume terkejut mendengar nama Daichi dan Riku, dengan cepat dia berlari ke arah Ace mencekik lehernya dan mengangkatnya di udara.



“jangan pernah menyebut mereka pengkhianat” ucap Natsume, Ace memperlihatkan senyum.



“kekuatan ini… ku rasa ojou-sama memang benar-benar melakukan itu” ucap Ace sambil tersenyum, Natsume melepaskan cekikannya dan berjalan mengambil tasnya.



“baiklah aku ke sini hanya ingin memperkenalkan diri ku, soal informasi tentang orang yang kau cari itu, orang yang kau cari berada di sekolah yang sama dengan mu, ku sarankan kau mencari orang itu di informasi siswa itupun apabila kau bisa menemukannya” ucap Ace yang berjalan meninggalkan Natsume yang terpaku.



“perempuan itu ada satu sekolah dengan ku?” pikir Natsume, kemudian Natsume menggenggam tangannya dan berlari ke arah sekolahnya, berharap mendapatkan informasi mengenai orang yang dia cari.



***



Bel istirahat berbunyi, Natsume dengan sigap berlari meninggalkan kelas dia tetap berlari walaupun Daichi memanggilnya.



“ada apa dengan dia si Natsume?” Tanya Daichi ke Riku, Riku hanya bisa menggelengkan kepalanya.



Natsume yang berlari melihat Dave yang akan memasuki ruang guru, kemudian Natsume memanggil Dave, Dave yang sadar bahwa dia di panggil Natsume berbalik dan menoleh ke arah Natsume, setelah berhasil mengejar Dave, Natsume mengambil udara yang ada untuk bernapas, dia terlihat kelelahan dan berkeringat.



“ada apa Natsume?” Tanya Dave yang kebingungan.



“maaf pak kalau boleh tahu apakah saya bisa melihat daftar siswa sekolah ini?” Tanya Natsume dengan polosnya.



“sayangnya tidak bisa… data siswa adalah rahasia milik sekolah dan tidak ada yang boleh melihatnya…” Natsume menghela napas menandakan kekecewaannya, kemudian dia berbalik dan berjalan meninggalkan Dave.



“tapi, mungkin ketua OSIS bisa membantu mu kalau kau mencari data seorang atau dua orang siswa” ucap Dave seraya memasuki ruang guru sambil tersenyum.



“terima kasih pak!” ucap Natsume yang berlari dengan kecepatan penuh menuju ruang OSIS, sesampainya di sana, Natsume mendobrak pintu sampai terbuka, di dalamnya terdapat dua orang perempuan sebaya dengannya, yang satu berkaca mata, berambut poni hitam, dan terlihat seperti satu tingkat di bawah julukan meronko, sementara yang satu lagi berambut hijau, dan kebalikannya dari perempuan yang di sebelahnya perempuan yang ini memiliki karakteristik pettan, dan bermata merah, keduanya menggunakan seragam sekolah yang sama, hanya saja keduanya menggunakan jaket OSIS bewarna merah, yang berambut hijau juga mengenakan pita merah di rambut bagian belakangnya.



Natsume sempat terpesona dengan penampilan si rambut hijau, tubuhnya terlihat kecil seperti gadis rapuh, dan kulitnya terlihat pucat, begitu juga dengan wajahnya yang manis dan cantik, beberapa orang akan mengira bahwa dia baru berumur enam belas tahun.



“keliatannya kau ada tamu Hirasawa-san jadi kurasa aku akan pergi dulu” ucap si rambut hijau seraya berdiri.



“baiklah… jangan lupa pesan ku… oh ya Eliza kalau bisa, bisakah kau memberikan ini ke pak Garde dalam perjalanan mu ke kelas” Tanya si rambut hitam yang bernama Hirasawa seraya mengeluarkan secarik kertas.



“ok, sebenarnya aku agak malas tapi baiklah” ucap Eliza yang mengambil kertas yang di berikan oleh Hirasawa dan berjalan keluar ruangan, ketika di berpapasan dengan Natsume dia menatap Natsume seraya mengedipkan matanya dan berkata.



“berjuanglah aku sudah memberikan waktu untuk mu berdua dengannya hehehe” ucap Eliza dengan nada yang menggoda dan pergi meninggalkan Natsume, sekilas wajah Natsume memerah, setelah itu Natsume kembali bisa mengendalikan dirinya.



“ada perlu apa?” Tanya Hirasawa, suara Hirasawa sepertinya berhasil menyadarkan Natsume dari renungannya.



“a-ah maaf apakah kaichou ada?” Tanya Natsume.



“dia sedang pergi keluar mungkin sebentar lagi dia akan kembali”



“b-begitu? B-boleh ku tunggu dia? Di sini?” Tanya Natsume, Hirasawa hanya menjawab dengan anggukan seraya mengambil salah satu buku yang ada di tumpukan buku di dekatnya, Natsume melihat ke arah salah satu buku yang terletak tidak jauh di tumpukan tersebut, tetapi kondisi buku tersebut masih terlihat bagus seperti di jaga dengan baik, Natsume melihat judul buku tersebut.



“Castor Legacy?” ucap Natsume seraya membuka buku tersebut.



“buku favorit ku… pengarangnya adalah Ryou Kurokaze salah satu dari Ae—“ tiba-tiba Hirasawa menghentikan ucapannya.



“Ae?” Tanya Natsume kebingungan, Hirasawa dengan cepat membereskan bukunya, mengambil ‘Castor Legacy’ miliknya dan berjalan keluar.



“lupakan apa yang ku katakan barusan, oh kau tunggu saja di sini mungkin beberapa menit lagi kaichou datang” ucap Hirasawa seraya berjalan meninggalkan ruangan, Natsume duduk di salah satu sofa di ruangan itu, beberapa menit setelah dia terdiam, Maria memasuki ruangan tersebut, dan terkejut melihat Natsume.



“Natsume? Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Maria yang kebingungan.



“ah kaichou, sebenarnya aku ingin meminta bantuan mu…”



“bantuan ku? Memangnya kau memerlukan apa dari ku?” Tanya Maria seraya duduk di mejanya di tengah ruangan tersebut.



“sebenarnya aku… err bagaimana yah…”



“tidak usah basa-basi cepat katakan!” tegur Maria.



“b-baik! Sebenarnya aku mencari data seorang siswa… tetapi aku tidak tahu namanya, menurut anggota OSIS bernama Ace dia bilang katanya orang itu bersekolah di sini…”



“haah? Kau mau meminta bantuan ku mencari data seorang siswa tapi kau sendiri tidak tahu namanya? Bagaimana mungkin aku bisa membantu mu?”



“tapi aku tahu ciri-ciri orang itu, dia berambut perak sama seperti ketua hanya saja mata dia bewarna merah, dan rambutnya di kepang menjadi dua”



“baiklah akan ku bantu semampu ku tapi aku tidak janji bisa menemukannya yah…” ucap Maria seraya berbalik dan mengambil sebuah buku besar di raknya, dia membuka buku tersebut serta membalik halaman demi halaman.



“memangnya kenapa kau ingin mencari orang ini?” Tanya Maria yang masih sibuk membalik halaman-halaman buku tersebut”



“kenapa ya? Sebenarnya dua belas tahun yang lalu aku pernah bertemu dengannya”



“lalu…”



“tetapi perempuan tersebut lari begitu melihat ku mungkin karena memang wajah ku jelek dulu”



“terus…”



“aku mencoba mengejarnya tetapi alih-alih menemukan dia aku malah terkena kecelakaan dan koma selama dua belas tahun”



“dan kenapa kau mencarinya, bukan kah itu berarti dia yang menyebabkan kecelakaan mu?”



“masalahnya waktu itu dia menangis melihat aku yang terluka, wajahnya waktu itu terlihat manis, bahkan aku masih ingat wajahnya dua belas tahun yang lalu… dan aku kira mungkin sebenarnya aku mencintainya… karena kadang jantung ku berdebar kalau mengingatnya, ahahaha terdengar seperti anak kecil yah?” Tanya Natsume, kemudian Natsume mendengar sebuah buku terjatuh, dan terdengar sangat keras, Natsume yang terkejut melihat ke arah Maria yang menjatuhkan bukunya dan memegang tanganya.



“ada apa Maria?!”



“t-tidak apa-apa, tadi tangan ku keseleo sebelum ke sini jadi masih sakit, dan sepertinya tidak terlalu kuat untuk mengangkat buku besar ini” ucap Maria sambil memegang tangannya.



“biar ku bantu!” ucap Natsume yang mengambil dan menaruh buku yang terjatuh tersebut ke atas meja.



“Natsume… jadi kau sudah menyukai seseorang ya?” Tanya Maria dengan nada pelan, Natsume yang mendengar itu terkejut.



“ya mungkin, mungkin perempuan tersebut adalah cinta pertama ku… makanya aku ingin menemukannya…”



“begitu… oh ya setelah ku cari tidak ada siswa yang memiliki ciri-ciri seperti itu, mungkin Ace salah memberi mu informasi… biar ku tegur dia nanti bagaimana pun juga sekarang sudah saatnya masuk ke kelas! Jadi cepat kau kembali ke kelas mu!” teriak Maria seraya mendorong Natsume keluar dari ruangan OSIS dan mengunci ruangan tersebut.



“baka Natsume…” ucap Maria pelan sambil meneteskan air mata.



***



Natsume berjalan ke arah kelasnya, kemudian dia bertemu dengan Ace yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan.



“yo bagaimana sudah ketemu orang yang kau cari itu?” Tanya Ace.



“tidak… berhentilah memberi ku informasi palsu!” ucap Natsume dengan nada kesal.



“haaa? Padahal aku yakin aku pernah melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti itu di sekolah ini… atau mungkin kau belum mencarinya dengan sungguh-sungguh?” Tanya Ace.



“lagipula bagaimana kau bisa tahu ciri-ciri orang yang aku cari? Memangnya kau paranormal apa?”



“bukan! Tapi karena ak—“ tiba-tiba terdengar suara ledakan yang besar dari luar sekolah, Ace dan Natsume yang terkejut saling pandang.



“suara apa itu!” teriak Natsume yang berlari ke arah lapangan sekolah, kemudian dia melihat sesosok naga hitam sedang mendarat di sana.



“n-naga mustahil! Bukan kah itu hanya legenda fiksi saja?!!” ucap Natsume yang terkejut.



“cish Nocturnal” bisik Ace, Natsume menoleh ke arah Ace.



“kau tahu ini mahluk apa?!!” Tanya Natsume.



“sedikit”



“apa maksud mu sedikit?!!” kemudian naga itu meraung dan menembakan bola api ke arah Natsume, Natsume menutup matanya dan dia mendengar ledakan besar, Natsume yang merasa api tersebut tidak menyentuhnya membuka matanya, dan melihat Ace berdiri dengan pose tangan kiri di kantung celananya dan tangan kanan memegang pedang dalam posisi yang terbalik, cara dia berdiri terlihat seperti orang yang sangat santai.



“nah karena dia sudah mulai menyerang berarti ini saatnya sang pahlawan membalas dan beraksi!! Come on it’s show time!!”



TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment