Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 6: THE FLAME EMPEROR & THE WATER MISTRESS

CHAPTER 6: THE FLAME EMPEROR & THE WATER MISTRESS

“Aria aku tidak pernah mendengar nama itu?” ucap Blitz dengan ekspressi yang tidak senang, Natsume melihat ke arah Ciel dengan tatapan yang lemah.

“k-kau?” Tanya Natsume, Ciel tidak memedulikan Natsume dan berlari ke arah Blitz.

“kau ingin bertarung!! Baiklah!!!” teriak Blitz seraya mengangkat kedua tangannya, kemudian dari tanah muncul asap hitam yang menciptakan berpuluh-puluh Nocturnal, Ciel terus menerobos Nocturnal dan membunuh mereka satu-persatu, setelah itu Ciel melompat dan terjun ke arah Blitz seraya menebaskan pisaunya ke arah Blitz, Blitz yang terkejut melompat dan terjatuh, Ciel berputar seraya menebaskan pisaunya dan berhenti tepat sebelum mengenai leher Blitz.

“katakan bagaimana cara menyembuhkan Aria?” ucap Ciel.

“ah aku ingat sekarang Aria, Aria, ya! Perempuan berambut biru yang membeku itu kan? Reigner yang membawanya kepada ku dia bilang lakukan apa saja yang ku mau kepadanya”

“Reigner… apa yang kau lakukan padanya katakan?!”

“ya dia sangat cantik, baik hati, dan ah sangat polos, jadi aku benar-benar tidak sabar ingin melakukan ini dan itu dengannya, tapi sialnya dia membekukan dirinya menggunakan Frozen Time, jadi kurasa tidak ada cara menyembuhkannya, padahal aku benar-benar ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan kepadanya!” ucap Blitz, ekspresi Ciel terlihat murka, ketenangannya mulai pudar.

“kau!! Brengsek!! Aku akan membunuh mu!! aku bersumpah!!” teriak Ciel seraya mengarahkan pisaunya ke arah kepala Blitz dan menebaskannya, Blitz berguling kebelakang dan menghindari serangan Ciel.

“baka~ kau kira aku akan semudah itu di bunuh!!” teriak Blitz, kemudian Blitz mengangkat salah satu tangannya, semua Nocturnal yang masih ada kembali menjadi asap hitam dan menggumpal menjadi satu gumpalan asap raksasa yang membentuk golem, golem tersebut menghantamkan tangannya ke arah Ciel, Ciel melompat dan menginjak tangan golem tersebut, kemudian Ciel berlari ke arah kepala golem tersebut menggunakan tangannya sebagai pijakan, tetapi tiba-tiba tangan golem tersebut berubah menjadi asap, menghilangkan pijakan Ciel dan membuatnya terjatuh, setelah itu dia kembali membentuk tangannya dan menghantam Ciel, Ciel yang terjatuh tidak bisa menghindari hantaman tersebut dan terkena serangan golem itu, membentur tanah dan memuntahkan darah, Natsume merasakan tenaganya sudah mulai kembali tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa melihat Ciel di hantam oleh golem tersebut berkali-kali.

“s-seandainya, seandainya aku bisa bertarung! Seandainya aku memiliki kekuatan seperti mereka!!” teriak Natsume dalam hati, kemudian terdengar suara perempuan yang yang di dengarnya ketika dia tidak sadarkan diri di pikirannya.

“apakah kau ingin kekuatan? Apabila kau masuk ke dunia ini lebih jauh kau tidak akan bisa kembali… apa kau yakin? Hidup mu akan berubah sepenuhnya…” Natsume terkejut mendengar suara perempuan itu.

“heh hidup ku sudah berubah sejak dua belas tahun yang lalu”

“baiklah kalau itu mau mu…” ucap perempuan itu, kemudian salib milik Maria yang di kenakannya bercahaya.

“salibnya?” ucap Natsume pelan seraya menarik salib tersebut, kemudian gumpalan asap hitam yang merupakan perwujudan dari penderitaan Natsume tertarik masuk ke dalam salib tersebut.

“aku Lilithia Serenade akan melayani anda” ucap perempuan itu lagi, kemudian salib tersebut berubah menjadi sesosok perempuan berambut pendek ungu, bermata ungu, bertubuh mungil, dan berpakaian minim putih, terdapat sepasang sayap kecil hitam di punggungnya.

“yosh! Akhirnya aku bisa merasakan udara segar” ucap perempuan itu.

“k-kau?” Tanya Natsume kebingungan, perempuan tersebut menoleh ke arah Natsume dan tersenyum.

“nama ku Lilithia Serenade” ucap perempuan tersebut sambil tersenyum, Ciel yang melihat itu terkejut begitu juga dengan Blitz.

“t-tidak mungkin!! Kau adalah Nocturnal tapi kenapa?!!” teriak Blitz, kemudian Ciel tersenyum hambar.

“sayang sekali Blitz… perempuan tersebut bukan lah Nocturnal, keberadaannya lebih tinggi dari Nocturnal walaupun dia memiliki esensi yang sama dengan Nocturnal, ya dia adalah Accursed, dan sepertinya dia lebih memilih Natsume sebagai tuannya di banding kamu”

“nah sekarang sesuai janji ku aku akan membangkitkan kekuatan mu!” ucap Lilithia seraya mengangkat wajah Natsume dan menciumnya, wajah Natsume memerah, kemudian mata sebelah kirinya berubah menjadi merah darah, sementara sebelah kanannya bercahaya, setelah beberapa detik Lilithia melepaskan ciumannya.

“terima kasih…” ucap Natsume, kemudian Natsume berdiri dan meembody sebuah pedang bewarna perak, Natsume berlari ke arah Blitz.

“berhenti jangan mendekat!!” teriak Blitz, golem tersebut mengangkat tangannya dan mengarahkan pukulannya ke arah Natsume, Natsume melompat memutar tubuhnya seraya memotong tangan golem tersebut, golem itu meraung seraya mengangkat tangan yang satu lagi, kemudian sebuah bola listrik melesat dan menghantam tangan golem tersebut, menghancurkannya, Natsume terkejut dan melihat ke arah Lilithia yang menembakan bola listrik tersebut, kemudian Natsume tersenyum seraya mendarat di depan Blitz, Natsume menebaskan pedangnya ke arah Blitz, kemudian asap hitam keluar dari Blitz, membentuk sesosok perempuan berambut pirang panjang, dan mengenakan gaun hitam, perempuan tersebut membuka matanya dan mengeluarkan pedang hitam yang menangkis serangan Natsume.

“itu? Dia juga memiliki Accursed!!” teriak Ciel yang terkejut, kemudian perempuan tersebut menebaskan pedangnya dan membuat Natsume terlempar.

“Natsume!” teriak Lilithia seraya menangkap Natsume yang terlempar.

“keh!! Kalian benar-benar membuat ku kesal! Aku akan mundur dulu hari ini tapi, aku tetap menginginkan Accursed mu! hehehe ahahaha!!” ucap Blitz, kemudian Ciel berdiri.

“tunggu!! Katakan bagaimana cara menyembuhkan Aria!! Bagaimana mungkin kau tidak tahu!!” teriak Ciel yang mencoba berjalan.

“dasar keras kepala” ucap Blitz, seraya pergi bersama Accursednya.

“ku bilang tunggu!!” teriak Ciel, kemudian Ciel terjatuh, mata Natsume kembali seperti semula dan pedangnya menghilang, Natsume kemudian berlari ke arah Ciel.

“kau tidak apa-apa?” Tanya Natsume, Ciel menepis tangan Natsume.

“aku tidak apa-apa” ucap Ciel.

“wah wah ada apa ini?” ucap sebuah suara, Ciel, Natsume, dan Lilithia menoleh ke arah asal suara tersebut yang berasal dari seorang lelaki paruh baya berambut hitam pekat, pria tersebut terkejut melihat tubuh Ciel yang penuh luka, setelah itu pria tersebut berlari ke arah Ciel.

“kau tidak apa-apa?” Tanya pria itu.

“sudah ku katakan aku tidak apa-apa!” balas Ciel.

“hmm keadaan mu tidak terlihat seperti itu, lebih baik kalian ikut dengan ku…” ucap pria itu, kemudian dia melihat ke arah Lilithia.

“ah nona, kau tidak ingin keluar dalam keadaan seperti itu kan?” ucap pria itu seraya mengeluarkan sebuah jaket panjang dari tasnya, dan memberikannya ke Lilithia.

“eh sebenarnya aku tidak apa-apa sep—“

“pakailah…” ucap Natsume dengan suara yang di tekankan.

“baiklah kalau Natsume yang menyuruh teehe” ucap Lilithia seraya menggunakan pakaiannya, setelah itu mereka berjalan meninggalkan gang itu ke tengah kota.

“ah maaf aku belum memperkenalkan diri ku, nama ku adalah Ryou Kurokaze, aku tinggal tidak jauh di sini” ucap Ryou sambil tersenyum.

“kau bukan manusia biasa bukan? Kalau iya kenapa kau mengeluarkan aura yang begitu besar?” Tanya Ciel.

“apa maksud mu? aku tidak mengerti apa yang kau katakan” ucap Ryou, mereka berempat telah sampai dan berhenti di depan sebuah apartemen kecil, setelah itu mereka menaiki apartemen tersebut sampai mencapai lantai lima, dan berhenti di depan sebuah kamar, Ryou memencet bel kamar tersebut, kemudian terdengar suara perempuan dari dalam kamar itu.

“tunggu!” ucap suara tersebut, pintu kamar itu terbuka dan seorang perempuan berambut pirang panjang mengintip keluar.

“Ryou kau sudah pulang? Dan siapa mereka?” Tanya perempuan itu dengan nada curiga.

“mereka terluka di jalan jadi aku membawa mereka ke sini”

“begitu… tapi kenapa mereka… tidak usah pedulikan masuk lah…”

“oh iya sebelum itu, perempuan ini bernama Freya dia istriku, dan hmm kalian belum memberitahu ku siapa nama kalian?”

“nama pria berambut merah ini Ciel, sementara perempuan ini… mungkin terdengar aneh aku juga baru bertemu dengannya…. Nama dia Lilithia Serenade, atau setidaknya dia yang mengatakan begitu, sementara aku… nama ku Natsume Lindwurm…” terlihat keterkejutan di muka Freya dan Ryou, Natsume menyadari keterkejutan mereka.

“maaf ada yang aneh dengan nama saya?”

“tidak! Tidak apa-apa!! ahahaha” tawa Ryou seraya mengajak mereka masuk, tetapi Ciel berbalik dan berjalan.

“maaf aku ada urusan lain…” ucap Ciel seraya berjalan meninggalkan Ryou dan yang lain, Ryou memandang Ciel dari jauh selama beberapa detik dan akhirnya mengajak Natsume dan Lilithia masuk.

***

Seorang anak laki-laki berambut merah sedang tertidur di taman yang di penuhi oleh rumput, anak itu terlihat baru berumur lima belas tahu, kemudian seorang anak perempuan berambut biru mendekati anak itu.

“Ciel-kun? Ciel-kun? Bangun ini sudah sore” ucap anak perempuan tersebut, Ciel membuka matanya dan menatap ke arah perempuan berambut biru di sebelahnya, perempuan tersebut tersenyum ke arah Ciel.

“Aria-tan kenapa kau di sini?” Tanya Ciel.

“semuanya mencari mu, bibi dan paman juga mencari mu ke mana-mana” ucap Aria tersenyum.

“a-aku hanya menjadi penganggu… tidak ada yang mau bersama ku…” balas Ciel dengan muka memerah melihat senyuman Aria.

“kau tidak boleh mengatakan itu Ciel… aku akan dengan senang hati menemani mu sampai kapan pun juga…” ucap Aria, seraya mencium mulut Ciel.

“A-Aria!” ucap Ciel terjatuh.

“ahaha Ciel ternyata lucu juga…” ucap Aria, sambil tertawa, kemudian Ciel juga mulai tertawa bersama Aria.

***

Ciel berdiri di depan sebuah toko musik, Aria berlari ke arahnya.

“m-maaf aku sudah membuat mu menunggu” ucap Aria sambil menarik napasnya.

“tidak apa-apa kok? ke mana saja kamu?” ucap Ciel sambil tersenyum dan mengelus kepala Aria, wajah Aria memerah.

“C-Ciel-kun… kalau sesuatu terjadi kepada ku apa yang akan kau lakukan?” Tanya Aria.

“hah? Pertanyaan apa itu? Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi kepada mu! aku akan melindungi mu” ucap Ciel sambil tertawa.

“Ciel sebenarnya aku…”

“hm?”

“tidak apa-apa lupakan saja” ucap Aria sambil tersenyum.

***

“apa maksud mu Aria belum kembali?!!” teriak Ciel ke seorang pria tua di depannya.

“begitulah tuan Ciel, nona pergi bersama tuan Reigner dan sampai sekarang belum kembali” ucap pria itu.

“Aria…” ucap Ciel dengan nada khawatir, kemudian pintu di dobrak terbuka dan Sarchex memasuki ruangan tersebut.

“Ciel!! Aku menemukan Aria!!” teriak Sarchex, Ciel terkejut mendengar berita dari Sarchex.

“di mana?!!” teriak Ciel, Sarchex kemudian terdiam sambil melihat ke arah pintu, Ciel tersenyum, dan berlari ke arah pintu.

“Aria! Kau benar-benar membuat—“ tiba-tiba Ciel membisu, di depannya terdapat pilar es dan di dalamnya terdapat Aria yang membeku.

“Aria? Aria!!!” teriak Ciel.

***

Ciel berjalan di atap apartemen Ryou, dia menatap langit, dan setelah itu menghantam tembok di tempat tersebut menggunakan tangan kosongnya.

“brengsek!! Reigner!!!!” teriak Ciel, kemudian terdengar suara langkah kaki di belakangnya, Ciel menoleh dan melihat ke arah Ryou.

“sebenarnya aku tahu kalau kau tahu bahwa aku adalah overlord sama seperti mu… tapi aku hanya tidak ingin membuat dua anak lainnya terkejut…” ucap Ryou sambil tersenyum.

“mereka juga overlord kok… bahkan perempuan tersebut… tidak usah di pikirkan…”

“hei bagaimana kalau kita sparring?” Tanya Ryou.

“hmm apa yang bisa kau lakukan orang tua… mood ku sedang jelek kau bisa terluka kau tahu itu?” Tanya Ciel.

“oh iya? Terdengar menarik” ucap Ryou sambil tertawa, Ciel menggigit bibirnya, kemudian mengeluarkan kedua pisaunya.

“baiklah! Tapi mood ku sedang jelek, jadi apabila kau terluka parah jangan salahkan aku!!!” teriak Ciel seraya melempar pisaunya ke arah Ryou, Ryou dapat menghindari pisau tersebut dengan mudah, kemudian Ciel semakin geram dan berlari ke arah Ryou, Ryou menyelengkat Ciel membuatnya terjatuh, Ciel kembali berdiri dan berusaha menendang Ryou, tetapi Ryou melompat ke belakang.

“kau!!! Overdrive!! Second tier!! Ignis Blaze!!!” teriak Ciel, Ciel menyatukan kedua pisaunya dan membentuk pedang api raksasa, setelah itu Ciel mengayunkan pedang tersebut ke arah Ryou.

“Kusanagi” ucap Ryou seraya meembody pedang bergagang emas, Ryou menebaskan pedang tersebut ke arah Ignis Blaze dan mematahkan Ignis dengan mudah, Ciel yang melihat itu terkejut.

“coba lihat apa kau bisa menghindari yang ini!! Overdrive first tier!! Meteor Blast!!” teriak Ciel seraya melempar kedua pisaunya yang berubah menjadi merah, kemudian Ciel meembody dua pisau lainnya.

“overdrive second tier!! Ignis Blaze!!” lanjut Ciel seraya menciptakan pedang api lainnya, Ryou melompat menghindari kedua pisau yang di lempar oleh Ciel, setelah itu Ciel kembali menebaskan Ignis Blaze miliknya, tetapi Ryou kembali dengan mudah menghancurkan Ignis Blaze, setelah itu Ryou mendarat di belakang Ciel, dan mengangkat Kusanaginya.

“hanya menggunakan overdrive tidak akan bisa mengalahkan ku, Divine Raid!! Kami Goroshi, Kami Taberu!!” teriak Ryou, kemudian tiba-tiba daerah sekeliling Ciel dan Ryou terlihat berpusar dan seakan-akan memasuki kusanagi milik Ryou, kemudian seluruh pemandangan di sekitar menghilang ke dalam kusanagi di gantikan oleh pemandang hitam pekat. Ryou mengangkat pedangnya lebih tinggi dan menebaskannya ke arah Ciel, melepaskan ledakan cahaya putih yang besar, dan memotong kegelapan tersebut menjadi dua, menghancurkannya dan memperlihatkan pemandangan seperti semula, Ciel yang tertebas terlempar dan menghantam tembok di dekat pintu menuju ke lantai bawah.

“k-kekuatan apa ini?! Bagaimana mungkin ada kekuatan seperti ini?!” ucap Ciel terkejut seraya memegang luka tebasannya tetapi tidak ada luka tebasan di sana.

“terkejut? Seperti namanya Kami Taberu hanya bisa melukai dewa, kau tidak akan terluka karena kau bukan dewa… sadari lah masih ada langit di atas langit… bukan kau yang terkuat… dan apabila ada sesuatu yang ingin kau gapai, jangan hanya berdiam diri dan memaki, tetapi berusahalah capai tujuan mu itu…” ucap Ryou sambil berjalan pergi meninggalkan Ciel, tubuh Ciel bergetar, Ciel meneteskan air mata.

“Aria… sial! Sial! Sial! Sial!!!!” teriak Ciel sambil menatap ke arah langit.

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment