Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 18: LIGHTNING SPEED

CHAPTER 18: LIGHTNING SPEED

Neulaide tersenyum melihat Nac, Lilithia, dan Nara yang berdiri di depannya dengan memegang senjata mereka masing-masing.

“ada apa kenapa diam saja? Kalian tidak bisa mengalahkan ku hanya dengan berdiam diri bukan?”

Nara menatap ke arah Nac dan kemudiang mengangguk. Nara berlari ke arah Neulaide kemudian melompat seraya mengayunkan Brionac miliknya, sebuah bongkahan es melesat dari udara kosong menuju Neulaide. Neulaide mengangkat tangannya dan menciptakan sebuah dark hole yang menghancurkan bongkahan es tersebut dan menelannya.

“Lilithia!!” teriak Nara, Lilithia mengangguk, kemudian matanya berubah menjadi hijau.

“identifikasi kekuatan musuh di mulai! Nara-kun, Nac-kun! Jangan berhenti menyerangnya aku membutuhkan data lebih untuk menentukan jenis serangan musuh!!” teriak Lilithia, Nara dan Nac mengangguk.

“hoo jadi kalian berniat mengetahui kekuatan ku? Hmph… ahahahaha!!! Kalian memang menarik! Tetapi setelah mengetahui kekuatan ku apa yang akan kalian lakukan? Takdir kalian untuk kalah di sini tidak akan berubah!!” teriak Neulaide seraya menciptakan bola hitam di tangannya dan melemparnya ke arah Nara.

“bola hitam itu!! Nara-kun jangan sampai terkena bola itu!! Kalau kau terkena kau akan terhisap ke dalam bola tersebut!! karena bola itu adalah dark hole mini!!” teriak Lilithia. Bola tersebut semakin mendekati Nara yang sedang berada di udara dan tidak dapat menghindarinya.

“sial!!” teriak Nara. Kemudian sebuah bola api melesat dan menghantam bola hitam tersebut dan menciptakan ledakan kecil, tetapi dalam sekejap ledakan tersebut terhisap ke dalam lubang hitam yang terbentuk dan menghilang. Neulaide yang melihat bola api tersebut menoleh ke arah Nac yang mengangkat salah satu pistolnya.

“kau kan yang menantang dua lawan satu tadi? Karena itu… aku tidak akan ragu!!” teriak Nac seraya mengancungkan kedua pistolnya ke arah Neulaide. Kemudian kedua pistol tersebut menembakan bola api dalam jumlah banyak ke arah Neulaide.

“hehehe ahahaha! Memang ini yang ku tunggu!!!” teriak Neulaide seraya menciptakan beberapa dark hole sekaligus di sekelilingnya yang menghisap semua bola api yang di tembakan Nac.

“bodoh!! Belakang mu terbuka!!!!” teriak Nara yang muncul di belakang Neulaide seraya mengangkat tombaknya.

“benarkah?” tanya Neulaide seraya berbalik dan menciptakan hantaman tekanan udara yang melempar Nara yang bersiap menebas Neulaide.

“dark hole… kemudian kekuatan untuk memanipulasi tekanan udara… kekuatan ini…” ucap Lilithia yang masih berusaha menganalisa kekuatan Neulaide.

“kita lihat apakah dark hole mu bisa menghisap serangan yang ini?” tanya Nac seraya menekan pelatuknya selama beberapa menit, kemudian perlahan-lahan api mulai berkumpul di ujung pistol kanan Nac, sementara sebuah bola cahaya bewarna biru mulai berkumpul di pistol sebelah kiri Nac. Tangan kiri Nac yang memegang pistol yang sedang menciptakan bola cahaya bewarna biru terlihat membeku perlahan-lahan.

“sepertinya serangan yang ini memang terlihat berbahaya… tapi kau tidak ada pertahanan sama sekali ketika menahan pelatuk pistol mu!!” teriak Neulaide yang berlari ke arah Nac.

“kalau dia tidak dapat bertahan maka aku yang akan menjadi tamengnya!!” teriak Nara yang muncul di depan Neulaide.

“keras kepala!” teriak Neulaide yang menciptakan tekanan udara dan menghempaskannya ke arah Nara. Nara melompat dan menghindari hempasan tekanan udara tersebut dan kembali mendarat di belakang Neulaide.

“jangan kira serangan yang sama akan mengenai ku untuk kedua kalinya!!!” teriak Nara yang mengayunkan tombaknya. Neulaide menciptakan sebuah pelindung hampa udara yang mengelilinginya sehingga tombak Nara tidak dapat menyentuh Neulaide secara langsung, pelindung milik Neulaide perlahan-lahan membeku dan memperlihatkan wujudnya dalam bentuk kubah es yang mengelilingi Neulaide.

“jangan meremehkan Brionac milik ku…” ucap Nara seraya menghantamkan tombaknya dengan kekuatan penuh ke kubah es tersebut dan menghancurkannya beserta dinding pelindung milik Neulaide.

“Nac!! sekarang!!” teriak Nara yang melompat menjauhi Neulaide. Neulaide menoleh ke arah Nac yang sudah selesai menciptakan bola es dan bola api di kedua pistolnya.

“overdrive!! Elemental Divide!!!” teriak Nac yang melepaskan kedua bola berukuran besar tersebut. Nac yang melepaskan kedua bola itu terdorong ke belakang karena daya dorong yang besar dari kedua bola tersebut. Kedua bola itu melesat dengan kecepatan penuh dan menghantam Neulaide, membekukan daerah sekeliling Neulaide sekaligus menciptakan pilar api yang membakar Neulaide. Tetapi tiba-tiba pilar api dan es tersebut mulai berpusar dan masuk ke dalam udara kosong, memperlihatkan Neulaide yang tidak terluka.

“mustahil!!” teriak Nara dan Nac bersamaan, Neulaide memperlihatkan senyumannya dan menatap Nara dan Nac dengan tajam.

“Nara-kun! Nac-kun! Aku sudah mengetahui tipe serangannya! Serangan miliknya adalah tipe void! Tipe yang sangat jarang, dengan menggunakan void dia dapat menciptakan dark hole maupun memanipulasi ruang hampa udara! Walaupun begitu setelah dia menggunakan kemampuannya terdapat waktu satu setengah detik sebelum dia dapat menggunakannya kembali! Kalian bisa mengenainya di saat itu!!” teriak Lilithia.

“satu setengah detik? Secepat apa pun serangan ku dan Nac kita tidak akan bisa mengenainya!” teriak Nara.

“ya… apapun yang kalian lakukan kalian tidak akan bisa mengalahkan ku… karena itu bagaimana kalau kalian menyerah?”

“menyerah sayangnya kami tidak akan menyerah semudah itu!” teriak Nac seraya kembali mengancungkan kedua pistolnya ke arah Neulaide. Kemudian tiba-tiba Neulaide menghilang dan muncul di belakang Nac dan menghantamkan tekanan udara yang di ciptakannya ke arah Nac dan membuatnya terlempar ke udara, Nac yang terlempar terkejut.

“k-kau!!!” teriak Nac seraya berputar di udara dan mencoba mengarahkan pistolnya ke arah Neulaide.

“kalian tadi sudah menyerang membabi buta bukan? Kalau begitu sekarang adalah giliran ku untuk menghabisi kalian!!!” teriak Neulaide.

Tiba-tiba Nac merasa tekanan udara di sekitarnya meningkat dan semakin besar, perlahan-lahan darah mengalir keluar dari hidung Nac, dan akhirnya Nac memuntahkan darah dari mulutnya, hidungnya, dan juga telinganya ikut mengeluarkan darah.

“Nac!!!” teriak Nara yang melihat Nac yang terjatuh, kemudian Nara menatap Neulaide dengan penuh kebencian.

“kau!!!!” teriak Nara yang berlari ke arah Neulaide, Neulaide tersenyum seraya mengangkat tangannya.

“seharusnya kau tahu… semakin besar tekanan udara, maka aliran darah di dalam tubuh kalian akan semakin kacau…” ucap Neulaide sambil tersenyum, kemudian Neulaide kembali menciptakan tekanan udara yang besar dan menghempaskan Nara menggunakan tekanan udara tersebut, Nara yang terlempar berhasil mendarat dan menahan tubuhnya sebelum terguling maupun terjatuh, kemudian Neulaide menciptakan sebuah bola bewarna hitam di tangannya dan berlari ke arah Nara.

“mati lah kalian!!! Apocalypse!!!” teriak Neulaide seraya berlari ke arah Nara, kemudian tiba-tiba sebuah petir menyambar tidak jauh di depan Neulaide. Neulaide yang terkejut menahan langkahnya dan menatap petir tersebut.

“yo Lilithia-chan berapa detik yang ku perlukan untuk menghajarnya?” tanya sebuah suara, Lilithia yang mendengar suara itu terkejut.

“s-satu setengah detik… apakah kau mampu… Ace-kun?” tanya Lilithia, petir di depan Neulaide menghilang, memperlihatkan sesosok laki-laki berambut hitam, berseragam sekolah dengan jas bewarna hitam, dan sebuah pedang yang di pegang dengan posisi terbalik di tangan kanannya. Ace menatap ke arah Neulaide.

“satu setengah detik? Heh lebih dari cukup untuk menghajar mu” ucap Ace sambil tersenyum.

“hah? Jangan membual, tidak ada manusia yang dapat bergerak secepat sat—“ tiba-tiba sebuah tangan melesat dan menghantam Neulaide membuatnya terguling beberapa meter ke belakang.

“maaf, apa kau baru saja akan mengatakan sesuatu?” tanya Ace yang baru saja menghantam wajah Neulaide menggunakan tangannya. Neulaide terlihat geram dan berdiri menatap Ace.

“baiklah kalau itu mau mu… akan ku bunuh kau…” ucap Neulaide. Ace tersenyum, aliran listrik mengalir di sekujur tubuh Ace, kemudian aliran tersebut terlihat semakin besar seiring waktu.

“oh ya? Kalau begitu coba lah… itu pun kalau kau bisa mengejar kecepatan ku!! Overdrive!! Intersect Thunderbolt!!” teriak Ace, sebuah petir menyambar Ace dan dalam sekejap seluruh tubuh Ace di aliri oleh listrik. Neulaide yang melihat itu menciptakan sebuah bola gravitasi berukuran besar dan melemparnya ke arah Ace.

“Atomic Crusher!!!” teriak Neulaide seraya menghempaskan bola gravitasi di tangannya, tetapi Ace sudah menghilang dan kembali muncul di belakang Neulaide.

“setengah detik…” ucap Ace seraya menebas punggung Neulaide, Neulaide yang tertebas memuntahkan darah seraya berbalik dan melepaskan tekanan udara berukuran besar. Tetapi lagi-lagi Ace sudah kembali muncul di belakang Neulaide.

“setengah detik lagi!!!” teriak Ace seraya menusuk perut Neulaide.

“apa-apaan kecepatan ini! Kau!! Overdrive!! Meteor Rain!!” teriak Neulaide, kemudian debu di sekeliling Neulaide dan Ace berkumpul di ketinggian udara yang tinggi dan membentuk meteor dalam jumlah banyak. Meteor tersebut perlahan-lahan di bungkus oleh api dan melesat bersamaan ke arah Ace.

“hah kau kira serangan selambat itu dapat menyentuh ku?!!” teriak Ace yang menghilang setiap kali meteor tersebut hampir menyentuhnya. Setelah menghindari semua meteor tersebut, Ace kembali muncul jauh di belakang Neulaide.

“s-sial!!” teriak Neulaide seraya mengarahkan salah satu meteornya ke arah Ace, tetapi Ace dengan mudah menghindari meteor tersebut. Setelah itu Ace berlari seraya menyeret pedangnya yang perlahan-lahan menciptakan gesekan yang menghasilkan aliran listrik. Ace kembali menghilang dan terlihat gesekan aliran listrik yang tercipta oleh gesekan pedang Ace melaju dengan kecepatan yang hampir tidak bisa di kejar oleh mata ke arah Neulaide, Ace kembali muncul di depan Neulaide dengan pedangnya yang sudah bercahaya dan gesekan aliran listrik yang mengikutinya.

“overdrive!! Blade of Judgment!!” teriak Ace seraya menebaskan pedangnya dan menebas Neulaide. Neulaide yang tertebas mengeluarkan darah dalam jumlah banyak dan berteriak setelah itu Neulaide melompat mundur dan menatap Ace.

“kau… aku tidak akan pernah melupakan mu… di pertemuan kita yang berikutnya kau akan ku bunuh…” ucap Neulaide seraya menghilang. Ace menatap tempat Neulaide menghilang selama beberapa detik kemudian dia berbalik dan berjalan ke arah Nac, Lilithia, dan Nara.

“yo kalian tidak apa-apa kan?” tanya Ace, Lilithia hanya mengangguk. Nac menatap Ace dengan tajam.

“kenapa kau tidak langsung membunuh ketika ada kesempatan tadi?” tanya Nac, Ace terkejut dengan pertanyaan Nac.

“kenapa? hmm kenapa ya? Aku hanya merasa ini belum saatnya aku membunuhnya…” ucap Ace, Nac dan Nara menatap Ace. Sementara Lilithia hanya berdiam diri.

“bagaimana pun juga kita harus segera pergi dari sini… Maria mencari kalian… ku rasa lebih baik kalian mengikuti ku…” ucap Ace. Nac dan Nara mengangguk seraya pergi bersama Ace meninggalkan tempat tersebut.

***

Natsume berlari ke arah Daichi dan membantunya berdiri. Daichi menatap Natsume dengan tatapan yang lemah. Darah mengalir dari beberapa luka yang ada di tubuhnya.

“Daichi kenapa kau di sini? Bukan lebih tepatnya… bagaimana kau bisa di sini?” Natsume, Daichi hanya berdiam diri.

“Natsume… anak itu…” ucap Eliza pelan, kemudian Daichi menatap Eliza dan menggelengkan kepalanya.

“biarkan aku saja yang menjelaskannya…” ucap Daichi, Eliza menatap Daichi kemudian mengangguk. Setelah itu Daichi melepaskan diri dari tangan Natsume dan meembody sebuah pedang cahaya. Natsume yang melihat pedang tersebut juga terkejut.

“Daichi… kau juga…”

“Accursed…” ucap Daichi, Natsume yang mendengar itu terkejut.

“Accursed? tapi siapa master mu? jangan bilang!”

“ya Riku… dia lah master ku… tidak hanya itu… dia juga memiliki Eye of Avalon sama seperti mu… dan kita berdua adalah bagian dari association Rozenvile...”

“kalau begitu mana Riku?! di mana dia?!!”

“Riku… dia di culik oleh musuh… mereka membutuhkannya untuk mengaktifkan Dream Plane Driver” ucap Daichi, Eliza yang mendengar nama Dream Plane Driver terkejut.

“Dream Plane Driver kau bilang?!” teriak Eliza, Natsume dan Daichi terkejut melihat reaksi Eliza.

“apa kau mengetahui sesuatu Eliza?” tanya Natsume.

“singkatnya Dream Plane Driver adalah alat untuk mengendalikan dimensi terpisah bernama Inner Sanctum… bukan begitu Eliza Ravenhalt?” ucap sebuah suara, Eliza, Brendan, dan Daichi yang terkejut menoleh ke arah asal suara tersebut dan menatap ke arah seorang lelaki berambut pirang panjang di ikat dan mengenakan kaca mata.

“kau? Kyne Matthew bukan? Baguslah kami membutuhkan bant—“ belum selesai Natsume berbicara, Kyne meembody tombaknya dan mengarahkannya ke arah Natsume.

“aku ke sini untuk membunuh mu Natsume Lindwurm…” ucap Kyne, Natsume yang mendengar itu terkejut.

“kau… kau bagian dari Chronos bukan?” tanya Eliza. Kyne membetulkan kaca matanya dan menatap Eliza dengan tajam.

“sayangnya bukan… aku bukan bagian dari Chronos… aku hanyalah freelancer overlord…”

“apa buktinya?” tanya Eliza seraya meembody sabit peraknya.

“Dream Plane Driver… alat itu terletak di Shibuya 109 beserta teman kalian yang bernama Riku Shiroyume…” ucap Kyne, Daichi yang mendengar itu terkejut.

“kalau begitu kenapa kau ingin membunuh ku?!” tanya Natsume, Kyne terdiam kemudian dia berjalan ke arah Natsume.

“itu… kalau kau menang kau akan ku beri tahu…” ucap Kyne, Natsume meneguk ludahnya, Eliza mengambil ancang-ancang bertarung, tetapi Natsume menahannya.

“biarkan aku yang bertarung… ini urusan ku… Daichi kau pergilah menolong Riku terlebih dahulu… aku dan Eliza akan menyusul” ucap Natsume, Daichi mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan Eliza dan Natsume, mata kiri Natsume bercahaya dan sebuah sabit muncul di sebelah Natsume.

“Avalon activated… Eliza Ravenhalt data Soul Chaser deployed!!!” teriak Natsume yang berlari ke arah Kyne seraya mengangkat tombaknya.

“Kyne!!!!”

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment