CHAPTER 20: SOMEONE WHO IMPORTANT FOR YOU
Natsume dan Eliza berhasil mencapai Shibuya 109, daerah sekeliling mereka terlihat kosong, kemudian dari kejauhan terlihat Ace, Lilithia, Nac dan Nara yang berlari ke arah mereka.
“itu Ace…” ucap Natsume, Eliza mengangguk seraya menatap Ace, Ace dan yang lainnya berhenti di depan Natsume dan Eliza dalam keadaan kehabisan nafas.
“kalau kalian di sini… berarti…” ucap Ace seraya menatap Shibuya 109, Natsume mengangguk.
“kalau begitu tunggu apa lagi?” lanjut Ace seraya meembody pedangnya dan memecahkan kaca pintu mal tersebut, Natsume dan yang lainnya memasuki gedung tersebut tanpa berpikir panjang. Gedung tersebut terlihat kosong dan gelap, kemudian terdengar suara Noctius dari suatu tempat.
“Apocalypse… aku tak menyangka kalian bisa sampai sejauh ini… tapi Time Distortion tidak akan bisa bertahan lebih lama… karena itu aku tidak akan membiarkan kalian menganggu rencana ku lebih jauh… nah selagi aku menjalankan rencana ku lebih jauh… bersenang-senang lah dengan teman bermain kalian” ucap Noctius, kemudian tiba-tiba penerangan di dalam mal tersebut kembali, memperlihatkan Nocturnal dalam jumlah banyak yang memenuhi ruangan tersebut.
“sial… kalau seperti ini…” ucap Natsume seraya meembody Soul Chaser. Nac mengangkat tangannya. Natsume yang melihat Nac menghalangi dirinya terkejut.
“kau, Eliza, dan Ace pergi lah lebih dulu… biarkan aku, Nara, dan Lilithia yang membereskan Nocturnal yang ada di lantai ini…” ucap Nac seraya meembody Dual Deagle. Natsume menatap ke arah Lilithia. Lilithia yang menyadari bahwa dirinya di tatap Natsume mengangguk dan tersenyum.
“baiklah! Ace! Eliza! kita pergi lebih dulu!!” teriak Natsume.
“yosh!!” teriak Ace dan Eliza bersamaan, ketiga orang itu berlari ke arah gerombolan Nocturnal di depannya. Nocturnal yang bergerombol di depan Natsume dan yang lainnya menatap Natsume, Eliza, dan Ace. Kemudian melompat untuk ke arah mereka bertiga.
“jangan halangi jalan mereka!!! Vanguard Blaster!!!” teriak Nac seraya menembakan Double Deaglenya dengan kekuatan penuh, peluru yang melesat dari kedua moncong pistol kembar tersebut melesat dan meledakan gerombolan yang menyerang Natsume dan yang lainnya. Seekor Nocturnal lainnya yang berbentuk seperti naga kembali bangun dan melesat ke arah Natsume, sampai Nara melompat dan menusuk naga tersebut hingga terjatuh dan menghantam lantai di bawahnya.
“thank you Nara!!” teriak Ace seraya melambaikan tangannya, Nara tersenyum seraya membekukan naga yang di tusukannya dan menghancurkannya.
“nah Nac berhubung mereka bertiga sudah pergi ku rasa kita bisa mengamuk sepuasnya sekarang” ucap Nara sambil tersenyum.
“berisik aku sudah tahu itu…” balas Nac seraya mengangkat kedua pistolnya.
“hei bagaimana kalau kita bertanding? Siapa yang paling banyak membunuh Nocturnal di sini dialah pemenangnya?” tanya Nara, Nac hanya diam saja dan tidak menjawab ajakan Nara.
“ummm aku juga akan membantu…” potong Lilithia seraya meembody sebuah tongkat panjang dengan Kristal bewarna ungu di ujungnya.
“baiklah~ kalau begitu pertandingan di mulai!!”
***
Natsume, Ace, dan Eliza berlari di dalam mal yang terlihat kosong tersebut. Tidak ada satu pun orang yang terlihat berlalu lalang di dalam mal, kemudian Eliza menatap Ace dan Natsume.
“hey… kalian berdua… adakah seseorang yang penting bagi kalian?” tanya Eliza tiba-tiba. Ace dan Natsume yang mendengar pertanyaan Eliza terkejut dan hanya bisa saling menatap.
“err Eliza kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” tanya Natsume.
“tidak apa-apa aku hanya penasaran saja…” jawab Eliza, ketiganya kembali ke dalam suasana sunyi tanpa ada satu pun yang berbicara.
“dulu…” ucap Ace tiba-tiba. Eliza dan Natsume menoleh ke arah Ace.
“dulu ada orang yang penting bagi ku… dia adalah adik kandung dari salah satu Aeon…” ucap Ace sambil menatap atap mal tersebut.
“Aeon?” tanya Natsume yang kebingungan.
“Aeon adalah sebutan bagi dua belas pahlawan yang menyelamatkan dunia ini dua puluh tahun yang lalu… dua puluh tahun yang lalu terdapat sebuah organisasi bernama Black Knight yang di pimpin oleh Arcruel Leynsteid, karena ulah mereka dunia berada di ambang kehancuran… kemudian muncul dua belas orang yang memiliki Aeon Shard… mereka di beri julukan Aeon… Brendan Alucard, Sierra Von Dracus, Ryou Kurokaze, Freya, Caesar, Rad Naffil, Kyosuke Kurokaze, Garde Astale, Marcel, Dave, Ashley Lindwurm, dan Claire Elanoire adalah orang yang mendapat julukan tersebut” ucap Eliza, Natsume terkejut mendengar nama yang dia kenal di sebutkan oleh Eliza.
“Ashley Lindwurm dan Claire Elanoire kau bilang?! jadi orang tua ku selama ini adalah overlord dan pahlawan?!!” teriak Natsume yang terkejut.
“hah memangnya kau tidak tahu?” tanya Eliza kebingungan.
“tentu saja!! Orang bertampang bodoh seperti ayah ku bisa jadi pahlawan itu hanya akan terjadi di mimpi!!” teriak Natsume yang terlihat tidak dapat menerima kenyataan ayahnya seorang pahlawan.
“sudah dengarkan dulu cerita Ace…” ucap Eliza yang hanya bisa menghela nafasnya.
“ahahaha tidak apa-apa kok… aku juga sebenarnya tidak ingin mengingatnya lagi… karena orang itu…” ucap Ace pelan.
“ah… maaf Ace aku tidak berniat mengingatkan mu dengan kenangan pahit… aku tidak tahu kalau orang itu sudah tid—“ belum selesai Eliza berbicara tiba-tiba Ace memotongnya.
“pulang ke kampungnya” ucap Ace dengan nada datar dan tampang polos. Seketika juga Eliza dan Natsume terjatuh dan terguling di belakang Ace. Ace yang terkejut menoleh dan melihat Eliza dan Natsume yang terjatuh.
“o-oi kenapa kal—“ tiba-tiba sebuah sabit terayun menebas pipi Ace, Ace yang tertebas berteriak kesakitan dan memegang pipinya.
“o-oi!! Apa-apaan ini!! Kenapa kau tiba-tiba menebas ku!!” teriak Ace sambil menatap Eliza yang memegang sabitnya dan terlihat kesal.
“kau… jangan pernah membuat orang lain merasa bersalah!!” teriak Eliza, Natsume sambil tertawa pelan dengan sigap menahan Eliza sebelum kembali menyerang Ace.
“lagi pula kalau hanya pergi kenapa kau sampai tidak mau mengingatnya lagi?” tanya Natsume yang masih berusaha sekuat tenaga menahan kekuatan Eliza yang besar.
“oh… itu karena dia pergi tanpa mengatakan apa-apa… dan juga karena dia… ah lebih baik kita tidak usah melanjutkan pembicaraan ini, bukan kah kita harus pergi menuju tempat Noctius secepatnya?” tanya Ace, Natsume mengangguk, dan setelah beberapa menit Natsume berusaha setengah mati menahan Eliza, akhirnya Eliza dapat kembali tenang. Mereka bertiga pun kembali melanjutkan perjalanan mencari Noctius.
“Natsume…” ucap sebuah suara, Natsume terkejut dan menoleh ke arah Daichi yang berlumuran darah.
“D-Daichi apa yang terjadi?!” tanya Natsume.
“aku tidak apa-apa… tidak usah khawatirkan aku…” ucap Daichi, tiba-tiba langkah Daichi terhuyung dan terjatuh. Natsume dengan sigap menahan tubuh Daichi tepat sebelum Daichi menyentuh tanah.
“apanya yang tidak apa-apa?!! katakan apa yang terjadi?!!” teriak Natsume yang menopang tubuh Daichi.
“Dream… Plane… Driver… terletak di atap mal ini… mesin itu hanya bisa di aktifkan melalui kekuatan Avalon… karena itu Noctius menculik Riku… dia berniat menggunakan Avalon yang Riku miliki…”
“t-tunggu!! Kau bilang Avalon yang Riku miliki?!! Maksud mu Riku juga memiliki mata seperti yang ku miliki?!!” teriak Natsume yang terlihat kesal, Daichi mengangguk seraya mengangkat tangannya dan memegang tangan Natsume.
“Natsume ku mohon!! Selamatkan Riku!! aku… aku…” ucap Daichi pelan, kemudian Daichi terjatuh tidak sadarkan diri. Natsume menatap Daichi yang tidak sadarkan diri dan menidurkannya di salah satu sofa yang berada tidak jauh di sana. Natsume menatap ke arah Eliza dan Ace dengan tatapan yang tajam.
“kita hentikan Noctius sekarang…” ucap Natsume, Eliza dan Ace mengangguk dan kembali berlari ke arah atap Shibuya 109.
***
Riku terlihat lelah, tubuhnya di ikat di sebuah tiang yang ada di sana, tidak jauh dari tempatnya di ikat terdapat sebuah mesin yang terlihat seperti kokpit pesawat. Noctius menyadari bahwa Riku sudah sadar dan berjalan ke arahnya.
“ah tuan putri… akhirnya kau sadar juga…” ucap Noctius seraya mengangkat dagu Riku.
“apa mau mu?” tanya Riku yang menatap Noctius dengan perasaan jijik.
“tatapan itu… tatapan yang memandang rendah kami… jangan sekali-kali kau menatap ku seperti itu!” teriak Noctius seraya menampar wajah Riku. Riku hanya terdiam dan kembali menatap Noctius.
“sudah ku bilang berhenti menatap ku seperti itu!!!” teriak Noctius seraya memukul Riku berkali-kali, Riku yang terus di hajar oleh Noctius mulai muncul lebam di sekujur tubuhnya. Riku memuntahkan darah tetapi dia kembali menatap Noctius dengan tatapan yang sama. Noctius mulai terlihat makin kesal, kemudian dia memegang wajahnya dengan tangannya dan mulai tertawa.
“ahahaha… ahahahahahaha!!! Benar juga… lebih baik aku ambil mata mu sekarang! Agar kau berhenti menatap ku seperti itu! lagi pula aku hanya memerlukan mata mu!” teriak Noctius seraya mengarahkan tangannya ke arah mata Riku. Ekspressi Riku berubah, dari ekspressi yang berani menjadi ketakutan. Noctius yang melihat perubahan ekspressi Riku tersenyum.
“nah sekarang ucapkan perpisahan mu dengan mata ki—“ belum selesai Noctius berbicara tiba-tiba pintu yang menghubungkan atap Shibuya 109 dengan tangga yang menuju ke bawah meledak. Noctius yang terkejut berbalik dan melihat Natsume dan Eliza yang berjalan keluar dari pintu tersebut.
“Apocalypse…” ucap Noctius dengan nada yang terdengar kesal, dia melepaskan tangannya dari Riku dan meembody sebuah cannon bewarna hitam pekat.
“Eliza Ravenhalt… Natsume Lindwurm… ada baiknya kalian meninggalkan ku sekarang… karena aku bisa dengan mudah menghabisi kalian…” ucap Noctius seraya mengarahkan cannonnya ke arah Natsume. Natsume menatap ke arah Riku dan tersenyum, kemudian Natsume meembody Soul Chaser, begitu juga dengan Eliza yang meembody sabitnya.
“aku ke sini untuk mengakhiri rencana mu… dan menyelamatkan Riku!!!”
TO BE CONTINUED
No comments:
Post a Comment