CHAPTER 7: THE BEGINNING OF THE BATTLE
Natsume dan Lilithia mengucapkan selamat tinggal kepada Freya dan berjalan meninggalkan apartemen Ryou, Natsume menghela napasnya.
“hah ke mana Ciel dan tuan Ryou…” ucap Natsume, kemudian Natsume melirik ke arah Lilithia yang mengenakan pakaian yang di berikan oleh Freya.
“pakaian itu cocok untuk mu…” ucap Natsume, wajah Lilithia memerah.
“terima kasih Natsume-kun” ucap Lilithia.
“apakah kau benar-benar Nocturnal yang tercipta dari penderitaan ku?”
“i-iya… tapi aku berbeda dengan mereka Natsume-kun… aku tidak akan melukai mu dan teman-teman mu…”
“hooo” ucap Natsume seraya mengelus kepala Lilithia.
“aku percaya kok kalau tidak kau tidak akan membantu ku kan?” ucap Natsume sambil tersenyum, Lilithia terlihat menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah, kemudian mereka berdua berjalan kembali di tengah kota Shibuya, ketika sedang berjalan Natsume melihat Eliza yang sedang duduk di depan toko es krim sendirian.
“ah ikut aku sebentar” ucap Natsume seraya menarik Lilithia, Natsume berlari ke arah Eliza yang sedang duduk, Eliza yang menyadari Natsume sedang berjalan ke arahnya menatapnya, kemudian dia menatap Lilithia, setelah Natsume sampai di depan Eliza dia kehabisan napasnya karena lelah berlari, setelah mengatur napasnya Natsume hendak berbicara.
“dia masih di sekolah” ucap Eliza.
“hah?”
“kau ingin bertanya soal ojou-sama kan di masih di sekolah karena Garde menyuruhnya melakukan sesuatu” lanjut Eliza, kemudian Eliza melirik ke arah Lilithia dan tersenyum.
“heeeh? Sekarang aku mengerti kenapa ojou-sama menangis, kau jahat juga ya Natsume-kun” ucap Eliza dengan nada menggoda, kemudian Natsume menyadari kalau dia masih menggenggam tangan Lilithia, Natsume refleks langsung melepaskan tangan Lilithia begitu juga dengan Lilithia.
“i-ini bukan seperti yang kau bayangkan” ucap Lilithia, Eliza terlihat semakin senang melihat wajah Lilithia yang semakin merah.
“oh ya? Aku tahu kok, aku hanya ingin menggoda kalian” ucap Eliza sambil tertawa kecil, kemudian sebuah tangan terlihat dari belakang Eliza, tangan tersebut memberikan sebuah es krim ke Eliza, Eliza yang menyadari tangan tersebut, mengambil es krim itu.
“kau sudah kembali ternyata” ucap Eliza, Natsume melihat wajah Eliza yang terlihat agak memerah, kemudian Natsume menatap ke arah anak laki-laki berambut perak yang terlihat lebih tua sedikit darinya, sekitar Sembilan belas tahunan, pria tersebut tersenyum melihat Natsume dan Lilithia, sementara Eliza mulai menjilati es krimnya.
“teman Eliza ya, perkenalkan nama ku Brendan” ucap pria itu.
“hee? Kakak pacarnya Eliza ya?” Tanya Natsume dengan polosnya, seketika juga Eliza memuntahkan es krimnya dan terbatuk, Brendan hanya tertawa kecil seraya duduk di sebelah Eliza.
“iya aku pacarnya Eliza” ucap Brendan, kemudian Eliza menginjak kaki Brendan dengan kencang, mukanya memerah dan dia menatap ke arah lain.
“ah!! Sakit tahu!!” teriak Brendan seraya memegang kakinya, Eliza menatap Brendan dengan sinis.
“kalau ku beri tahu kalimat mu yang tadi ke orang itu, aku ingin tahu bagaimana reaksinya” ucap Eliza datar, Brendan langsung terdiam, terlihat keringat mengucur dari sekujur tubuhnya.
“o-oi kalau kau kasih tahu dia, kau juga akan di marahi loh” ucap Brendan gugup.
“oh ya? aku rasa tidak, berhubung kau yang mengatakan itu bukan aku” ucap Eliza dengan nadanya yang khas, Natsume terlihat kebingungan, kemudian terdengar suara dari belakang Brendan.
“kalian sedang membicarakan siapa?” ucap suara tersebut, muka Brendan terlihat pucat, Natsume menoleh dan melihat seorang perempuan berambut perak di belakangnya, yang terlihat seumuran dengan Brendan, dan selain itu mukanya membuat dia teringat kembali dengan Maria, perempuan tersebut tersenyum.
“S-Sierra? Sejak kapan kau di sana, dan jangan-jangan kau mendengar pembicaraan kita?” Tanya Brendan.
“yaa kira-kira dari pas anak ini menanyakan status mu dan Eliza” ucap Sierra masih tersenyum, tetapi jelas terasa sesuatu yang aneh memancar dari Sierra.
“baguslah aku sudah tidak perlu menceritakan apa-apa lagi nanti” ucap Eliza seraya kembali menjilati es krimnya.
“ah bagaimana pun juga aku dan Lilithia harus pergi” ucap Natsume yang teringat dengan Maria kembali, kemudian Natsume berlari seraya menarik Lilithia, Sierra dan Brendan menatap Natsume yang menjauh.
“kau mengenalnya?” Tanya Sierra ke Eliza.
“dia adalah orang yang nyawanya di selamatkan oleh Maria dua belas tahun yang lalu” ucap Eliza, seraya menatap ke arah Lilithia yang pergi bersama dengan Natsume.
***
“Maria…” ucap Natsume dalam hati, dia terus berlari ke arah sekolah, setelah sampai di depan sekolah, Natsume membuka gerbangnya dan memasuki halaman sekolah.
“Natsume mau ke mana?” Tanya Lilithia yang kelelahan mengejar Natsume, Natsume menoleh ke arah Lilithia.
“maaf bisa kah kau menunggu ku di sini?” Tanya Natsume, Lilithia terlihat berpikir kemudian akhirnya dia mengangguk, kemudian Natsume berlari memasuki gedung sekolah, dan berjalan ke arah ruangan OSIS, Natsume membuka pintu ruangan OSIS dan terkejut melihat ruangan tersebut berantakan, kertas-kertas bertebaran, jendela yang pecah dan seorang pria tua mengenakan kaca mata tergeletak di pojok ruangan dalam keadaan bersimbah darah, Natsume berlari ke arah pria tua tersebut.
“hei kau tidak apa-apa?!!” teriak Natsume seraya membalikan pria itu.
“apa yang terjadi?!”
“ergh… kau anak Ashley bukan? Brendan… cari orang bernama Brendan… katakan bahwa Maria telah di culik oleh Siegfred… aku—“ ucap pria tersebut yang kemudian tidak sadarkan diri.
“Siegfred…” bisik Natsume, kemudian dia teringat dengan laki-laki berambut panjang perak yang waktu itu berniat menyerang Maria.
“Siegfred!!!” teriak Brendan, seraya berlari keluar sekolah ke arah Lilithia.
“Natsume ada apa?” Tanya Lilithia kebingungan.
“Brendan… orang yang bersama Eliza itu… kita harus mencari dia… Siegfred dia…” ucap Natsume.
“tidak usah mencari dia, dia bisa kelabakan sendiri mendengar Maria di culik, aku akan membantu mu…” ucap sebuah suara, Natsume menoleh dan melihat ke arah Eliza yang sedang berdiri.
“Eliza kenapa kau ada di sini?”
“karena Dave menelpon ku, dia sedang mengejar Siegfred sekarang”
“Dave? apa maksud mu pak Dave sedang mengejar Siegfred?”
“tidak ada waktu untuk menjelaskan… sebentar lagi mereka datang”
“mereka? Mereka siapa?”
“yang di maksud olehnya adalah aku dan Ciel” ucap Sarchex yang sedang berjalan bersama Ciel ke arah Eliza, di belakang mereka berjalan seorang lelaki lain yang di kenal Natsume.
“anda? Tuan Ryou?” ucap Natsume terkejut.
“yo tadi Ciel sedang bersama ku ketika menerima SMS dari Eliza jadi aku berniat membantu” ucap Ryou.
“memangnya kau juga overlord?” Tanya Natsume, Ryou hanya mengangguk.
“sudah lama tidak berjumpa Ryou Kurokaze” ucap Eliza sambil tersenyum.
“oh hai Eliza Ravenhalt, sudah lama aku tidak bertemu dengan mu juga, sudah berapa lama? Dua puluh tahun bukan? Waktu itu kau masih seperti boneka, tidak memiliki ekspressi dan jarang berbicara”
“dua puluh tahun? Jadi umur Eliza benar-benar!!” teriak Natsume yang terkejut.
“sudah ku katakan kan? Kalau umur dia itu lebih tua dari penampilannya, dan wow aku pingin tahu Eliza yang tidak memiliki ekspressi dan jarang berbicara ini” ucap Ace sambil bersiul, Eliza menatap Ace dan Natsume dengan sinis.
“err kami hanya bercanda kok jangan di pikirkan…” lanjut Ace.
“bagaimana pun juga, Ryou apa sudah ada kabar dari Dave?” Tanya Eliza, kemudian Ryou mengangguk.
“menurut Dave, Siegfred dan yang lainnya sedang menuju bandara Narita mereka berniat meninggalkan Jepang dengan membawa Maria, kita harus bertindak cepat, dan jangan sampai Brendan tahu kalau anaknya sudah di culik apalagi oleh adiknya sendiri”
“Maria anak Brendan? Maksud mu Brendan yang tadi itu? Tapi bukan kah dia baru berumur sama dengan ku? Memangnya dia sudah punya anak sejak bayi apa?!” teriak Natsume.
“ahahahahaha umur Brendan lebih tua dari yang terlihat, kau tidak akan percaya umur aslinya, begitu juga dengan umur Eliza” ucap Ryou.
“maaf tuan Ryou sebisa mungkin jangan pernah mengungkit perihal umur saya…”
“apakah kita di sini hanya untuk mengobrol? Kalau ya, aku akan berangkat lebih dulu dari kalian…” ucap Ciel.
“tapi apakah akan sempat?” ucap Natsume dengan perasaan khawatir.
“heh untuk itu tenang saja” balas Ace, kemudian terdengar suara mobil yang di pacu dengan kecepatan penuh dan tiba-tiba sebuah mobil Lamborgini hitam berhenti di depan mereka.
“perkenalkan ini adalah mobil kesayangan ku” ucap Ace, kemudian seorang pria tua keluar dari mobil tersebut.
“tuan Sarchex semuanya sudah siap…” ucap pria itu, kemudian Ace memasuki mobil tersebut.
“ayo apalagi yang kalian tunggu?” Tanya Ace, kemudian Natsume mengangguk dan memasuki mobil tersebut, begitu juga dengan Ryou, Lilithia, dan Eliza.
“ah Ciel sepertinya mobil ku tidak dapat memuat lebih banyak orang” ucap Ace, Ciel berbalik dan berjalan ke arah sekolah.
“jalan lah duluan” ucap Ciel, kemudian Ace menancap gasnya dan memacu mobilnya dengan kecepatan penuh ke arah bandara Narita.
“kau yakin meninggalkan Ciel sendiri?” Tanya Natsume yang memegang apa yang bisa dia pegang menggunakan kedua tangannya, Lamborgini hitam tersebut menyelip mobil di depannya satu persatu.
“nanti juga kau akan tahu” ucap Ace, kemudian Natsume mendengar suara motor yang tidak kalah kencangnya dari belakang mobil hitam yang di naikinya.
“jangan-jangan…” ucap Natsume seraya menatap ke arah kaca spion, Natsume melihat motor hitam dengan sticker api menghiasi body motor tersebut, di atasnya Ciel sedang mengendarai motor tersebut dengan kecepatan penuh, Ciel mengangkat roda depan motornya menaiki bagasi mobil di depannya dan melompat menggunakan bagasi mobil tersebut, terdengar umpatan dari pemilik mobil itu, Ciel mendarat tepat di depan mobil Ace dan kembali memacu motornya jauh meninggalkan Ace.
“lihat kan walaupun terlihat seperti kita meninggalkannya sebenarnya dia yang akan meninggalkan kita” ucap Ace yang juga memacu mobilnya semakin cepat.
“Natsume-kun!! Aku merasakan Nocturnal dalam jumlah banyak di depan kita!!” teriak Lilithia.
“bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Natsume dan Ace berbarengan.
“dia adalah Accursed, Nocturnal yang tercipta dengan penderitaan yang lebih kuat dari yang seharusnya, maka tidak aneh kalau dia dapat merasakan kehadiran mahluk sejenisnya” jawab Eliza.
“tunggu dia bukan manusia?!! Dan kenapa aku baru sadar ada dia di sini?!! Dan juga bagaimana caranya kau bisa tahu kalau dia Accursed?!! Kau juga baru tahu kan Natsume? Tuan Ryou?” Tanya Ace yang kebingungan.
“err dia Accursed yang tercipta dari penderitaan ku jadi aku tahu…” jawab Natsume.
“kalau aku sudah bisa merasakan auranya yang berbeda” lanjut Ryou.
“dan kenapa kau bisa tahu oi tante girang?!!” Tanya Ace, kemudian Ace merasakan sesuatu menempel di lehernya, dan dia melihat sabit yang sudah menempel di lehernya, Ryou tertawa melihat itu.
“o-oi bahaya mengeluarkan benda seperti itu di sini!! Aku hanya bercanda!! Bercanda oke!!”
“jangan pernah menyebut ku dengan sebutan itu lagi…” ucap Eliza.
“okay!! Okay!!!” teriak Ace, kemudian Eliza meunembodykan sabitnya, dan membuka pintu mobil.
“hoi apa yang mau kau lakukan!!” teriak Ace.
“ah jawaban dari pertanyaan mu tadi, mungkin karena insting” ucap Eliza seraya melompat keluar dari mobil dan memanjat ke atap mobil itu, Eliza meembodykan sabitnya kembali.
“let’s play shall we?” ucap Eliza, kemudian di depan mobil tersebut muncul beribu-ribu asap hitam yang membentuk berpuluh-puluh Nocturnal yang terbang ke arah mobil itu, Eliza menebas semua Nocturnal yang terbang ke arahnya dan juga ke mobil tersebut.
“aku juga akan membantu!!” teriak Lilithia yang juga membuka pintu mobil dan melompat keluar, Lilithia mengembangkan sayap hitamnya sehingga dia dapat terbang, kemudian Lilithia menembakan bola-bola listrik ke arah Nocturnal yang berada di luar jangkauan Eliza.
“ku rasa kita bisa tenang untuk saat ini…” ucap Natsume yang melihat Nocturnal yang berjatuhan satu-persatu, kemudian seekor Nocturnal hinggap di kaca depan mobil, Ace yang terkejut membanting setirnya ke kanan, tetapi tiba-tiba sebuah sabit menghantam Nocturnal tersebut bersamaan dengan kaca depan mobil itu, sehingga kaca tersebut pecah, dan sabit itu hampir menusuk kepala Ace.
“mobil ku!!! Tidak aku tidak bisa tenang!! Pokoknya kau harus ganti!!!” teriak Ace ke Eliza, dan terdengar suara Eliza dari atas.
“ya-ya percepat saja laju mobil ini” ucap Eliza, Ace kembali memacu mobil tersebut semakin kencang.
***
Mobil lamborgini hitam yang di naiki oleh Ace, Natsume, Lilithia, Eliza, dan Ryou berhenti di depan bandara Narita yang sudah terlihat kosong, Ace melihat motor hitam milik Ciel yang di parkir di sana.
“dia sudah sampai rupanya… dan tempat ini… ini terlalu kosong…” ucap Ace seraya meembody pedangnya.
“Natsume! Mereka juga ada di sini!!” teriak Lilithia, kemudian di sekeliling mereka bermunculan berpuluh-puluh Nocturnal.
“heh sepertinya tidak ada waktu untuk beristirahat…” ucap Eliza seraya meembody sabitnya, Natsume ikut meembodykan pedangnya.
“biar aku yang mengurus mereka, kalian pergi saja duluan ke dalam airport!” teriak Ryou seraya meembodykan Kusanagi.
“tuan yakin tidak apa-apa sendirian?” Tanya Natsume.
“dia bisa menangani ini sebaiknya kita cepat mencari Maria di dalam!!” teriak Eliza, kemudian Ace mengangguk, Natsume dan Ace berlari ke arah airport, begitu juga dengan Eliza dan Lilithia.
“Eliza, Lilithia…” panggil Ryou, Eliza dan Lilithia berhenti dan mereka berdua menatap ke arah Ryou.
“sebenarnya aku mengetahui ini dari teman ku yang seorang dokter… dialah yang merawat Natsume selama dua belas tahun, nama dia adalah Marcel… menurut Marcel mata yang ada di mata kanan milik Natsume adalah mata palsu yang merupakan artifact berharga ciptaan Claire ibunya… nama mata itu adalah the eye of Avalon… mata itu memberikan kemampuan kepada pemiliknya untuk dapat menggunakan kekuatan dari Accursed, aku ingin tahu apakah dia bisa mengalahkan Siegfred jika memiliki kekuatan Accursed yang kuat…” ucap Ryou.
“hmmm tuan Ryou sebenarnya aku sudah mengetahui tentang hal ini karena itu aku dapat memberikan kekuatan kepada Natsume… tetapi kenapa kau juga memberi tahu ini kepada nona Eliza?” Tanya Lilithia yang kebingungan, Eliza tersenyum.
“heh aku tahu apa yang kau maksud, serahkan itu pada ku” ucap Eliza sambil melambaikan tangannya dan berlari ke arah airport, Lilithia yang kebingungan ikut berlari mengejar Eliza.
“hmmm nona Eliza apa yang di maksud oleh tuan Ryou?” Tanya Lilithia.
“bukan apa-apa, lagipula itu bukan hal yang penting” ucap Eliza.
***
Ciel berjalan di dalam bandara sendirian, dia berjalan menuju terminal tempat pesawat melakukan transit, di sana dia melihat sosok yang dia kenal, sosok banteng yang berdiri dengan kedua kakinya, sesosok beastmen.
“yo, Ciel bukan kah ini saat yang tepat? Untuk membuktikan siapa yang terkuat?” ucap Reigner.
“Reigner… katakan apa yang telah kau lakukan kepada Aria?” Tanya Ciel.
“hah apa yang telah ku lakukan? Aku hanya mengenalkannya kepada teman ku” ucap Reigner sambil tertawa, Ciel mengeluarkan kedua pisaunya.
“Reigner!! Aku bersumpah akan membunuh mu!! aku akan menghancurkan mu!!!” teriak Ciel.
“ahahaha!! Bukan kah itu bagus!!! bencilah aku Ciel!! Bunuh lah aku!! Dengan begitu kau tidak akan main-main lagi dengan ku!!!” teriak Reigner.
TO BE CONTINUED
No comments:
Post a Comment