Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 12: THE PRELUDE OF CHRONOS

CHAPTER 12: THE PRELUDE OF CHRONOS

Nac menatap ke arah golem hitam di depannya yang telah kehilangan tangan kirinya, golem tersebut meraung, dan tidak beberapa lama kemudian golem tersebut runtuh dan berubah menjadi asap hitam, Noctius menatap Nac dengan tatapan yang terlihat kesal.

“ternyata aku salah menilai mu… sepertinya aku harus menghabisi mu di sini sebelum kau menjadi penghalang rencana Chronos…” ucap Noctius yang meembodykan sebuah launcher berukuran besar, Noctius mengarahkan launcher tersebut ke arah Nac dan menembakannya, sebuah bola api melesat dari mulut launcher tersebut ke arah Nac, Nac melompat menghindari bola api tersebut yang menghantam pohon di belakang Nac dan membakarnya.

Nac mengarahkan pistol di tangan kanannya ke arah Noctius dan menembakannya, Noctius mengayunkan launchernya menahan tembakan dari Nac, kemudian Noctius kembali menembakan bola api ke arah Nac, tetapi Nac menembakan kedua pistolnya ke arah tanah, memberikannya daya dorong ke atas sehingga Nac terlempar ke atas dan berhasil menghindari bola api kedua yang di tembakan Noctius.

“lambat!!” teriak Noctius yang berlari ke arah belakang Nac dan mengarahkan launchernya ke arah punggung Nac.

“shimatta!!” teriak Nac yang tidak dapat menghindari bola api berikutnya yang di tembakan oleh Noctius, Noctius menembakan bola api ketiganya ke arah Nac, tetapi tiba-tiba bola api tersebut terbelah menjadi dua yang keduanya melesat ke dua arah yang berbeda dan meledak.

“mustahil!! Siapa yang dapat melakukan ini?!!” teriak Noctius yang terkejut melihat bola apinya di belah menjadi dua, kemudian di depan Noctius muncul sesosok lelaki bertubuh ramping, berambut pirang, dan bermata biru laut.

“Nara…” ucap Nac yang melihat ke arahNara, Nara meembody sebuah tombak panjang yang ramping dan bewarna biru layaknya tercipta dari es.

“aku… dan juga… aku tidak akan membiarkan mu mengalahkan Nac!! Karena hanya aku lah yang punya hak mengalahkannya!!” teriak Nara yang menebaskan tombaknya ke arah Noctius, Noctius melompat menghindari tebasan Nara, tetapi Nac sudah mengarahkan kedua pistolnya ke arah Noctius, Nac menembakan kedua pistol tersebut ke arah Noctius, Noctius menarik badannya ke samping untuk menghindari peluru yang melesat ke arahnya, salah satu peluru Nac melesat dan tidak mengenai Noctius, sementara yang satu lagi menyerempet pipi Noctius dan menimbulkan luka di pipinya, Noctius terkejut dan memegang luka tersebut.

“kau!!! Baiklah kalau kau menginginkan aku menggunakan seluruh kekuatan ku!!” teriak Noctius, kemudian rambutnya yang menutupi mata kanan Noctius terangkat dan memperlihatkan matanya yang bewarna emas menyala, kemudian Launcher milik Noctius berubah menjadi pedang berukuran raksasa yang menutupi seluruh tangan kanan Noctius, Noctius melesat ke arah Nac dan Nara.

“heh! Kau kira dengan melawan kita berdua kau punya kesempatan menang?!” teriak Nara yang mengangkat tombaknya, kemudian tiba-tiba Nara merasakan sesuatu menahan kakinya, Nara yang terkejut melihat ke arah kakinya yang di selimuti oleh asap hitam, begitu juga dengan kedua tangan Nac yang di selimuti asap hitam.

“i-ini? Apa yang dia lakukan?” pikir Nac yang tidak bisa mengerakan kedua tangannya, Noctius semakin mendekati Nara dan mengangkat pedangnya.

“mati…” ucap Noctius yang menebaskan pedangnya ke arah Nara.

“Nara!!” teriak Nac yang berusaha melepaskan tangannya tetapi tidak bisa, kemudian sesosok siluet muncul di depan Nara dan mengeluarkan sabit, siluet tersebut menahan serangan Noctius, Noctius terkejut melihat seseorang yang dapat menahan serangannya.

“oi!! Kalian tidak apa-apa?!” teriak sebuah suara, Nac menoleh ke arah Natsume yang berlari ke arah mereka, sementara Nara masih terdiam melihat siluet yang menolongnya dan Noctius yang saling beradu kekuatan.

“Eliza-senpai…” ucap Nara yang masih tidak bisa menggerakan kakinya.

“k-kau Eliza the Soul Chaser!” teriak Noctius yang menatap mata merah Eliza yang tersenyum memperlihatkan kedua taring di mulutnya.

“Noctius the Dream Eater… kau tahu kan seberapa pun kau berusaha kau tidak akan bisa menang melawan kekuatan ku, berhubung kemampuan ku adalah kekuatan fisik yang jauh di atas mahluk terkuat di bumi ini sekalipun, sementara kemampuan mu hanya sebatas mengendalikan pikiran orang lain… dengan kata lain ilusi” ucap Eliza, kemudian Eliza mengayunkan sabitnya membuat Noctius terpental dan terdorong.

“untuk bertemu dengan mu di tempat seperti ini… sepertinya aku benar-benar memilih waktu yang salah… sampai jumpa lagi Eliza the Soul Chaser…” ucap Noctius yang berubah menjadi asap hitam dan menghilang, kemudian asap hitam yang menahan kaki dan tangan Nac menghilang, Nara yang bergetar terjatuh berlutut di depan Eliza.

“huff terima kasih Eliza-senpai” ucap Nara sambil tersenyum, kemudian Eliza memegang kepala Nara dan menekannya ke bawah.

“argh!! S-senpai sakit!!” teriak Nara yang kesakitan.

“dasar bodoh sebelum melawan musuh perhatikan dulu kemampuan musuh mu… kau bisa terbunuh tadi kalau aku tidak ada!” tegur Eliza dengan nada yang terdengar kesal.

“i-iya maaf!!” teriak Nara.

“siapa mereka? Apa mereka teman Nara?” pikir Nac, kemudian Eliza menatap Nac.

“kau Nac Merfield ya?” Tanya Eliza dengan ekspressi yang penasaran, kemudian Nac mengangguk.

“baguslah aku tidak perlu mencari kalian berdua lagi… dengar Nara berhubung Nac juga seorang overlord jadi mau tidak mau kita harus memasukannya ke Apocalypse”

“h-hei aku belum menentukan akan masuk atau tidak!” teriak Nac, kemudian Eliza menunjuk ke arah Nac.

“kau tidak memiliki pilihan, setelah menjadi overlord nyawa mu akan selalu berada dalam bahaya, kemudian untuk tim mu…” ucap Eliza seraya melirik ke arah Nara.

“Nara, Nac, Wilson kalian akan menjadi team, lebih baik kau segera laporkan ini ke Hirasawa-san dan beri tahu Wilson…” ucap Eliza, kemudian Nara berdiri dan memberikan hormat ke Eliza dan berlari meninggalkan mereka.

“kau ikut Nac!” ucap Nara yang menarik tangan Nac.

“o-oi sudah ku bilang kan aku belum menentukan akan bergabung atau tidak!” teriak Nac yang di tarik, Eliza dan Natsume hanya bisa melihat Nara dan Nac yang berlari meninggalkan mereka, kemudian Natsume menatap ke arah Eliza.

“err Eliza sepertinya kau dan pria yang tadi saling mengenal satu sama lain…” ucap Natsume, Eliza terdiam seraya melihat ke arah tanah.

“namanya adalah Noctius… dia adalah seorang Accursed… kemampuan yang di milikinya adalah kemampuan untuk mengendalikan pikiran orang dengan kata lain ilusi dan hipnotis, sembilan belas tahun yang lalu… aku membantunya dalam rencana membangkitkan Arcruel… tetapi itu dulu… sekarang sudah bukan masalah lagi… dan aku rasa dia masih belum menyerah dalam menjalankan rencananya” ucap Eliza, Natsume terdiam kemudian kembali menatap Eliza.

“apakah dia orang yang kuat?”

“tidak juga… dia terlahir secara tidak sempurna, dan setelah itu tuannya terbunuh… jadi kemungkinan saat ini dia sudah mulai kehilangan kekuatannya dan akan menghilang…” ucap Eliza yang menatap ke arah langit yang mulai berubah menjadi oranye.

“Noctius… kenapa kau begitu ingin membangkitkan Arcruel?” ucap Eliza dalam hatinya.

***

Lilithia menyentuh pilar es yang ada di depannya, kemudian dia menatap ke arah perempuan berambut biru yang membeku di dalamnya.

“ini sudah tiga hari sejak kita menjalankan penelitian ini… dan aku sudah mulai lelah… bagaimana Lilithia? Apa kau menemukan sesuatu?” Tanya Ciel yang duduk tidak jauh dari tempat Lilithia berdiri, kemudian Lilithia mengangguk, Ciel yang melihat reaksi Lilithia terkejut dan tersentak bangun dari kursinya.

“benar kah? Bagaimana caranya?!!” teriak Ciel, kemudian Lilithia menatap Ciel.

“Frozen Time hanya bisa di hapuskan dengan suatu lost rune bernama Dimension Stream… dengan menggunakan lost rune itu kita bisa mengembalikan keadaan Aria menjadi sebelum dia mecast Frozen Time ke dirinya…” ucap Lilithia.

“Dimension Stream? Bagaimana cara kita mendapatkannya” Tanya Ciel, kemudian pintu ruangan tersebut terbuka.

“mudah… kita hanya perlu menjalankan misi terbaru kita yang akan di jelaskan oleh orang ini…” ucap Ace yang berjalan memasuki ruangan bersama Hirasawa.

“Ace? Dan Hirasawa kenapa kau ada di sini?” Tanya Ciel.

“aku ke sini untuk memberitahu mu dan Ace dengan misi terbaru kalian… dan juga mengenai team kalian…” ucap Hirasawa, kemudian Hirasawa memberitahukan mengenai Chronos dan rencananya, juga mengenai pembagian team.

“tunggu… apa hubungannya misi ini dengan penyembuhan Aria?” Tanya Ciel yang kebingungan.

“maksud mu di Chronos akan ada overlord yang dapat menggunakan kemampuan yang berhubungan dengan waktu dan ada kemungkinan dia memiliki Dimension Stream?” Tanya Lilithia.

“tepat sekali… dengan kata lain kalau kita bisa menemukan dan mengalahkan Chronos ini… mungkin kita bisa memaksa salah satu anggotanya yang memiliki kemampuan atas waktu untuk menyembuhkan Aria” ucap Ace, Ciel terdiam.

“lalu apa yang harus ku lakukan?” Tanya Ciel, Hirasawa terdiam seraya membuka bukunya.

“team mu terdiri dari Ace dan Ciel… tugas mu adalah mencari keberadaan markas Chronos… apabila kita dapat menemukan markas Chronos… maka kita akan lebih mudah untuk menyerangnya… sementara Lilithia… lebih baik kau kembali ke Eliza dan Natsume tugas team kalian adalah untuk menyelidiki kegiatan Chronos lebih lanjut seperti anggota-anggotanya dan juga beberapa hal lainnya…” ucap Hirasawa, Lilithia mengangguk dan berjalan pergi, kemudian Ace juga berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

“serahkan saja masalah ini kepada ku… kau jagalah Aria, aku sendiri tidak masalah dalam mencari markas Chronos…” ucap Ace, kemudian Ciel meneguk ludahnya.

“baiklah… maafkan aku dan terima kasih Ace…”ucap Ciel, Ace melambaikan tangannya dan berjalan keluar.

“oh ya… Ace-kun ada satu informasi lagi yang perlu kau ketahui… Eliza Ravenhalt merupakan mantan anggota Chronos… ada kemungkinan dia mengetahui keberadaan markas Chronos…” ucap Hirasawa.

“Eliza? Tante girang itu? Ok terima kasih untuk informasinya” ucap Ace yang menghilang, setelah itu Hirasawa menunduk ke arah Ciel dan berjalan meninggalkannya.

***

Ace berjalan di tengah kota Shibuya, dia memikirkan cara bagaimana menemukan markas Chronos, kemudian dia melihat Eliza yang berjalan sendirian.

“ah Eli—“ tiba-tiba Ace berhenti memanggil Eliza dia teringat dengan perkataan Hirasawa tadi.

“mungkin kah dia masih berhubungan dengan Chronos?” pikir Ace yang berjalan mengikuti Eliza secara diam-diam, kemudian dia melihat Eliza yang memasuki sebuah stasiun kereta api bawah tanah yang sudah rusak dan tidak di gunakan.

“apa yang dia lakukan di sana?” pikir Ace, kemudian Ace terkejut.

“jangan-jangan stasiun itu!” teriak Ace yang berlari mengejar Eliza ke dalam stasiun kereta api tersebut, stasiun tersebut gelap gulita dan Ace susah melihat daerah sekelilingnya.

“wah-wah ada penyusup rupanya…” ucap sebuah suara, Ace terkejut dan berbalik, dia menatap seorang lelaki tua berjenggot panjang dan berkepala botak, lelaki tersebut mengenakan jubah hitam.

“s-siapa kau?!!” teriak Ace yang meembody pedangnya.

“nama ku adalah Drounendal, kau bisa memanggil ku Droun, dan aku adalah salah satu anggota Chronos” ucap Droun.

“Chronos… berarti Eliza memang masih merupakan anggota dari Chronos eh? Tante girang itu berani-beraninya dia menghianati kita…”

“Eliza? Ah maksud mu Eliza-dono tadi dia memang berkunjung untuk menemui tuan Noctius… tetapi sayangnya mungkin dia sudah terlambat… karena Noctius sudah melakukan perjalanannya untuk membangkitkan Arcruel-sama… dan mungkin Eliza-dono ikut terbawa dalam perjalanan itu…” ucap Droun, tubuh Ace bergetar.

“jangan main-main!! Apa maksud mu dengan perjalanan?!! Katakan di mana Eliza?!! Biar ku hajar dia bersama orang bernama Noctius ini!!”

“sayangnya aku tidak tahu di mana mereka…” ucap Droun, kemudian Droun mengeluarkan bola bewarna hitam dan menembakannya ke arah Ace, Ace yang terkejut menghilang, dan kembali muncul di belakang Droun, tetapi Droun sudah berbalik ke arahnya.

“eh?” ucap Ace yang terkejut.

“aku adalah Drounendal the Flow of Time… Accursed yang memiliki kemampuan mengendalikan waktu… ketika kau memasuki teritori ku… waktu mu sudah ku perlambat menjadi sepuluh kali lipat lebih lambat…” ucap Droun yang kembali mengeluarkan bola hitam dan menembakannya ke arah Ace, Ace berusaha menghindarinya, tetapi gerakannya melambat dan bola hitam yang di tembakan oleh Droun terlihat sangat cepat di matanya, Ace terkena hantaman bola hitam tersebut dan terlempar menjauhi Droun, Ace menahan tubuhnya menggunakan pedangnya dan menatap ke arah Droun.

“oh ya kau ingin mencari Eliza-dono kan? Aku punya ide bagus, kenapa kau tidak mencarinya saja sendiri? Aku akan mengirim mu ke tempat mereka… tenang saja teman-teman mu yang lain juga akan menyusul…” ucap Droun, kemudian tiba-tiba Ace di kurung di dalam sebuah barrier bewarna hitam.

“apa ini!!” teriak Ace yang berusaha menghancurkan barrier tersebut, tetapi tidak bisa, kemudian perlahan-lahan kadar oksigen di dalam barrier tersebut menurun membuat Ace sesak napas.

“kesadaran ku…” ucap Ace yang memegang lehernya, kemudian Ace terjatuh dan menutup matanya secara perlahan-lahan.

“sial… maafkan aku Ciel…” ucap Ace yang menutup matanya.

***

Ace membuka matanya, kepalanya terasa pusing, kemudian dia melihat jam yang ada di tangannya, dia terkejut melihat jamnya yang menunjukan jam delapan pagi, Ace tersentak bangun dan dia juga menyadari bahwa dia tertidur di kursi yang ada di pinggir jalan Shibuya.

“si-sial!! Apa yang di lakukan kakek tua itu?! Kenapa aku bisa tidak sadarkan diri sampai sepagi ini!!” teriak Ace, kemudian Ace melihat ke arah seberang jalan, di sana dia melihat sesosok perempuan yang di kenalnya, perempuan berambut hijau.

“Eliza! Dia harus menjelaskan ini kepada ku!!” teriak Ace, Ace berlari menyebrang jalan dan mengejar Eliza yang berjalan biasa.

“oi!! Eliza!!” teriak Ace, Eliza berbalik dan menatap Ace, kemudian Ace menyadari ada yang aneh dengan Eliza, dia tidak mengenakan pita yang biasanya di pakai olehnya, kemudian dia juga tidak mengenakan pakaian seragam sekolahnya, melainkan hanya mengenakan gaun putih pendek, selain itu ekspressinya juga terlihat aneh, terlihat seperti tidak memiliki ekspressi.

“o-oi tante girang kau tidak apa-apa kan?! Dan kau juga harus menjelaskan mengenai Chro—“

“siapa kau?” Tanya Eliza datar, Ace terkejut.

“e-eh? Kau tidak marah ku panggil tante girang? Dan apa maksud mu dengan siapa kau?” Tanya Ace, kemudian Ace menyadari keanehan lainnya, daerah sekelilingnya tidak terdapat orang sama sekali, padahal seharusnya jam segini Shibuya sudah di penuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang.

“karena itu aku tanya siapa kau? Kalau tidak ada urusan… aku harus pergi…” ucap Eliza yang berbalik dan berjalan meninggalkan Ace, Ace menggigit bibirnya dan berlari, kemudian dia menarik lengan Eliza, Eliza yang terkejut meembodykan sabitnya dan menebaskannya ke arah Ace, Ace meembodykan pedangnya dan menahan tebasan Eliza, tetapi begitu sabit Eliza menghantam pedang Ace, dia merasakan seperti ada tangan raksasa yang menghantam pedangnya, Ace yang terkejut terjatuh dan menghantam tanah.

“i-ini!! Kekuatan aslinya!! Padahal dia tidak pernah mengeluarkan kekuatan aslinya hanya untuk menghukum ku!!” pikir Ace, Ace yang menghantam tanah memuntahkan darah, kemudian Eliza kembali mengangkat sabitnya kembali dan menatap Ace dengan dingin.

“o-oi kau bercanda kan? Aku bisa benar-benar mati loh…” ucap Ace yang ketakutan, kemudian Eliza menebaskan sabitnya ke arah Ace tanpa ragu.

“lari bodoh!!” teriak sebuah suara yang tidak asing dari belakang Ace, kemudian muncul seorang perempuan yang mengenakan tudung berlari dari belakang Ace, Ace tidak dapat melihat wajah perempuan tersebut, perempuan itu meembody sabit bewarna hitam yang tidak jauh berbeda dari sabit yang di gunakan Eliza, dia menahan serangan Eliza dan dalam sekejap tanah yang di injak oleh perempuan tersebut retak dan hancur tercongkel, Ace dapat melihat tangan perempuan tersebut yang bergetar menahan serangan Eliza.

“s-siapa orang ini? Dia dapat menahan kekuatan penuh Eliza?”

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment