Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 10: MISUNDERSTANDING

CHAPTER 10: MISUNDERSTANDING

Natsume menggenggam sabit peraknya dengan kedua tangannya seraya menatap Siegfred, Eliza tertidur dengan pulas di belakang Natsume, sementara Maria hanya bisa menatap Natsume, Natsume berbalik dan menatap Eliza yang tertidur dengan muka yang polos.

“terima kasih Eliza…” ucap Natsume dalam hati.

“begitu jadi kau memiliki kemampuan untuk mendapatkan kekuatan Accursed eh?” ucap Siegfred seraya menggigit bibirnya, kemudian Siegfred mengangkat pedangnya.

“kau masih ingin bertarung? dengan luka yang di berikan Eliza ku rasa sudah saatnya kau mundur, atau luka tersebut akan semakin parah”

“aku tidak butuh belas kasihan mu!! jangan sombong kau!! Hanya dengan mendapatkan sebagian kekuatan Eliza kau kira bisa mengalahkan ku?!” teriak Siegfred yang berlari ke arah Natsume, Natsume menatap ke arah Siegfred yang berlari ke arahnya, Siegfred mengangkat pedangnya dan menebaskannya ke arah Natsume, Natsume dengan mudah menangkis serangan tersebut menggunakan sabitnya.

“lemah…” ucap Natsume seraya menebaskan sabitnya membuat Siegfred terdorong, Natsume melesat ke arah Siegfred dan mengayunkan sabitnya menggunakan satu tangan ke arah Siegfred berkali-kali, Siegfred berusaha menangkis semua serangan Natsume dengan susah payah, kemudian gerakan Siegfred tiba-tiba melambat karena luka yang ada di dadanya, Natsume yang melihat celah tersebut melucuti pedang Siegfred, membuatnya terlempar jauh ke belakangnya, kemudian Natsume menebaskan sabitnya ke arah Siegfred, tetapi Siegfred berhasil melompat dan menjauhi Natsume, Siegfred terlihat kelelahan nafasnya pun mulai memberat.

“apa yang ku katakan? Sudah sebaiknya kita hentikan pertarungan konyol ini…” ucap Natsume, Siegfred hanya bisa menatap Natsume dengan tatapannya yang sudah melemah, kemudian Siegfred meembody pedangnya yang baru.

“jangan main-main kau kira aku akan kalah hanya karena luka ini?” Tanya Siegfred, kemudian mata merah Siegfred meyala, dan luka tebasannya mulai menutup perlahan-lahan sampai akhirnya luka tersebut menghilang, tetapi darah yang berceceran tidak menghilang dan masih tersebar di sekitar Siegfred, Natsume terkejut melihat regerenasi Siegfred yang begitu cepat.

“akan ku tunjukan kepada mu, kekuatan sebenarnya dari dracus…” ucap Siegfred sambil tersenyum, Maria yang mendengat kata-kata Siegfred terkejut.

“jangan!! Jangan kau gunakan itu!! Ayah dan ibu sudah melarang kita untuk menggunakan itu!!” teriak Maria, Siegfred menatap ke arah Maria seraya membuang ludahnya.

“hah ayah? Ibu? Maksud mu kedua orang itu? Orang yang membuang kekuasaan mereka sebagai pemimpin ras surperior, orang seperti mereka… mengatakan hal seperti itu karena mereka lemah dan takut terhadap kekuatan mereka sendiri!!” teriak Siegfred seraya mengangkat tangannya, kemudian seluruh darah milik yang berceceran di seluruh ruangan tersebut melayang dan membentuk sebuah pedang besar, Siegfred mengambil pedang yang tercipta dari darah tersebut.

“Crimson Drive, Blood Sword” ucap Siegfred, kemudian Siegfred melesat ke arah Natsume.

“pedang seperti apa pun yang kau ciptakan akan ku hancurkan menjadi berkeping-keping!!” teriak Natsume yang juga melesat ke arah Siegfred.

Siegfred menebaskan pedang darahnya, Natsume yang melihat arah tebasan tersebut menarik sabitnya dan menahan pedang tersebut, tetapi pedang itu berubah kembali menjadi darah yang melewati sabit Natsume layaknya sebuah cairan, Natsume yang melihat itu terkejut dan setelah itu Siegfred berhasil menebas perut Natsume menggunakan pedang tersebut, Natsume yang tertebas memuntahkan darah, kemudian Siegfred kembali menebaskan pedangnya ke arah Natsume, tetapi Natsume melompat mundur menjauhi tebasan pedang tersebut.

“pedang itu… walaupun dia berbentuk pedang tetapi kenyataan bahwa benda tersebut merupakan cairan bernama darah tidak berubah… begitu… merepotkan juga” pikir Natsume yang masih sibuk menghindari serangan Siegfred.

Kemudian Siegfred berlari ke arah Natsume dan menebaskan pedangnya kembali, Natsume melompat menghindari tebasan tersebut.

“jangan lupa juga… kenyataan bahwa sel darah dracus dapat beregerenasi dengan kecepatan abnormal…” ucap Siegfred, kemudian pedang Siegfred berubah menjadi lebih panjang, dan dengan sigap Siegfred menebaskannya ke atas, menebas Natsume yang melompat.

“m-mustahil!!” teriak Natsume yang kali ini dadanya tertebas, Natsume mendarat di dekat Siegfred, dia memegang lukanya, tetapi Siegfred kembali menebaskan pedangnya ke arah Natsume, Natsume berguling ke belakang menghindari tebasan tersebut, kemudian dia melompat ke arah Siegfred dan menebaskan sabitnya, Siegfred menahan sabit Natsume menggunakan pedangnya yang biasa.

“kenapa kau begitu haus akan kekuasaan sementara kakak mu… tidak bahkan ayah mu sama sekali meninggalkan kekuasaan tersebut” Tanya Natsume, Siegfred terlihat kesal.

“apa… apa yang kau tahu tentang ku?!!!” teriak Siegfred seraya mendorong Natsume menggunakan pedangnya, membuat Natsume terdorong ke belakang.

“ayah sama sekali tidak memedulikan ku!! Dia lebih memedulikan kakak!!! Begitu juga dengan ibu!! Yang memedulikan ku… yang peduli dengan ku…” ucap Siegfred, tubuhnya bergetar, dia teringat dengan wajah tersenyum seorang perempuan.

“hanya Eliza!!! Dia yang selalu menemani ku ketika aku sendirian!!”

“kalau begitu kenapa kau berniat melukainya juga?!!! Kalau memang kau merasa dia memehartikan mu kenapa kau menyerangnya?!!”

“karena dia menghianati ku!!! Ketika aku mengatakan rencana ku untuk mengambil kekuasaan ayah dia tidak setuju dan mencoba menghentikan ku!!”

“tentu saja!! Karena dia mencintai ayah mu!!!” teriak Natsume, kemudian dia teringat apa yang di katakan oleh Eliza dalam perjalanan menemui Siegfred tadi.

“tuan Siegfred dia selalu sendiri… aku selalu menemaninya… tetapi ketika dia mengatakan ingin mengambil kekuasaan ayahnya sebagai pemimpin Dracus… tanpa sadar aku… menyerangnya mungkin karena aku mencintai ayahnya sehingga sekejap aku menjadi marah begitu mendengarnya… aku hanya ingin minta maaf kepadanya…”

“dia ingin minta maaf kepada mu…” ucap Natsume, Siegfred terkejut mendengarnya.

“tidak… tidak mungkin!! Dia sudah menghianati aku!! Kalau memang semuanya tidak ada yang peduli dengan ku!! Maka akan ku hancurkan semuanya!!!” teriak Siegfred, kemudian Siegfred berlari ke arah Natsume.

“overdrive!! First tier!!!” teriak Siegfred yang menebaskan pedang darahnya ke arah Natsume, Natsume menangkis serangan tersebut, kemudian tiba-tiba pedang darah milik Siegfred kembali berubah menjadi darah yang berceceran di sekitar Natsume.

“Natsume!!! Lari!!!” teriak Maria yang menyadari apa yang akan di lakukan oleh Siegfred, Natsume terkejut mendengar instruksi Maria, kemudian tiba-tiba seluruh darah Siegfred yang berceceran mengeluarkan sinar.

“Schweiss Ensetzen!!!” teriak Siegfred, dalam sekejap seluruh darah tersebut berubah menjadi pilar darah yang menusuk Natsume, Natsume yang tertusuk berteriak dan memuntahkan darah, setelah itu pilar darah tersebut berubah menjadi ratusan serpihan bunga sakura yang bertebaran, Natsume terjatuh dan menahan tubuhnya menggunakan kepalan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menahan sabitnya, Siegfred menatap ke arah Natsume.

“masih hidup rupanya…” ucap Siegfred pelan seraya berjalan ke arah Natsume.

“overdrive first tier… Avalon Release…” ucap Natsume pelan seraya menatap Siegfred, Eye of Avalon miliknya bersinar dan tubuhnya di selimuti oleh asap hitam, kemudian semua luka Natsume tertutup dengan kecepatan regerenasi yang luar biasa.

“b-bagaimana mungkin?” ucap Siegfred yang ketakutan.

“Avalon Release memberikan ku kemampuan Accursed yang ku gunakan sebanyak seratus persen… dengan kata lain… regerenasi ku, kecepatan ku, kekuatan ku… semuanya setara dengan kekuatan Eliza dalam keadaan terbaiknya… walaupun aku hanya memiliki lima menit sampai Avalon milik ku kehabisan kekuatannya” ucap Natsume sambil melihat tanganya yang di selimuti oleh asap hitam, Siegfred terlihat takjub dengan Natsume yang di selimuti oleh aura hitam, kemudian dalam sekejap dia melihat bayangan Eliza di sebelah Natsume.

Natsume melesat ke arah Siegfred, Siegfred mengangkat pedang peraknya, tetapi Natsume menebas pedang tersebut dengan mudah, memotongnya seperti memotong mentega, setelah itu Natsume kembali menebaskan sabitnya ke arah dada Siegfred, Siegfred berteriak kesakitan, Natsume mengangkat sabitnya kembali dan menebas perut Siegfred, Siegfred memuntahkan darah, setelah itu Siegfred melompat mundur seraya meembody dua pedang lainnya di kedua tangannya, Natsume kembali melesat ke arah Siegfred, Siegfred mengangkat kedua pedangnya.

“kalau hanya segini kau akan mati... menyerahlah…” ucap Natsume seraya memotong kedua pedang Siegfred dengan mudahnya, setelah itu Natsume mengarahkan sabitnya ke arah kepala Siegfred.

“baiklah kalau kau tidak mau menyerah… kalau begitu mati lah!!!” teriak Natsume seraya menebaskan sabitnya ke arah kepala Siegfred, Siegfred mengangkat kedua tangannya, tetapi tiba-tiba sebuah pedang perak berbentuk salib, menahan tebasan sabit milik Natsume, Siegfred yang melihat pedang tersebut terkejut.

“pedang ini… Sequentia…” ucap Siegfred, kemudian dia melihat ke arah Brendan yang berdiri di depannya dan menahan tebasan Natsume, Brendan menarik pedangnya dan menghantam sabit Natsume, membuat Natsume dan sabitnya terpental jauh ke belakang.

“i-ini kekuatan raja dracus!!” pikir Natsume yang terlempar dan menghantam tembok di dekat Maria, Maria terkejut melihat Natsume yang terlempar.

“Natsume!!” teriak Maria, kemudian Maria merasakan tangan kirinya yang terlepas dari ikatannya, Maria menoleh ke arah Sierra yang berdiri di sebelahnya dan membuka ikatan Maria, Sierra tersenyum ke arah anaknya.

“ibu?”

“tenang saja Maria, ayah tidak serius menyerang Natsume kok, dia akan baik-baik saja” ucap Sierra sambil tersenyum, sementara itu Brendan berbalik dan menatap Siegfred dengan tatapan penuh amarah.

“k-kau!! Untuk apa kau datang ke sini?!!!” teriak Siegfred berusaha menyerang Brendan, tetapi Brendan menghindari serangan Siegfred dengan mudah, kemudian Brendan menendang kaki kiri Siegfred sehingga Siegfred terjatuh, dan di lanjutkan dengan tendangan ke arah perut Siegfred yang membuatnya terlempar ke tembok di bagian lain ruangan tersebut.

Natsume berdiri dari reruntuhan tersebut, dan mengangkat tubuhnya menggunakan sabit miliknya, penglihatannya menjadi buram, dan kepalanya terasa berputar, setelah itu jaket hitam dan sabit perak yang di gunakan oleh Natsume perlahan-lahan berubah menjadi asap hitam dan menghilang, Natsume yang kehilangan sabit yang menahan tubuhnya kembali terjatuh tetapi Maria berlari dan menahan tubuh Natsume.

“Natsume kau tidak apa-apa?” Tanya Maria, Natsume menatap ke arah Maria dan tersenyum.

“maafkan aku Maria… aku mengatakan hal yang kasar tadi di sekolah” ucap Natsume, Maria meneteskan air matanya, kemudian Natsume mengangkat tangannya dan menyapu air mata Maria, muka Maria memerah, kemudian dia mengangguk.

“sekarang biarkan aku tidur…” ucap Natsume yang tertidur, Maria meletakan Natsume yang tertidur di lantai dan melihat ke arah Brendan yang berjalan ke arah Siegfred.

“sekarang aku ingin mendengar penjelasan mu…” ucap Brendan yang menatap Siegfred.

“apa yang ingin kau dengar… lagipula kau sama sekali tidak memerhatikan ku…” jawab Siegfred, kemudian Brendan menghela napasnya, dia menunduk dan mengelus kepala Siegfred, kemudian Siegfred terkejut dan menepis tangan Brendan.

“jangan sok baik” lanjut Siegfred.

“haaah… ok ok, bukannya aku tidak memerhatikan mu… tapi kau sudah besar kan? Lagipula kau adalah laki-laki… apa perlu untuk terus di perhatikan? Kau sudah besar Siegfred… kau sudah tidak perlu lagi menerima perhatian ku maupun Sierra…”

“itu karena kau tidak menyangi ku!!”

“bukan!! Itu karena aku ingin melihat mu bebas!!! Aku ingin melihat mu tidak terbebani oleh status penerus pemimpin ras dracus!!”

“hanya karena itu?!!”

“ya!! Hanya karena itu! Kau tidak butuh jabatan!! Karena yang kau butuhkan adalah teman!! Lakukan lah apa yang kakak mu lakukan!! Buatlah teman… seorang pemimpin tidak bisa di sebut sebagai pemimpin kalau dia sendiri bahkan tidak dapat memimpin dirinya untuk menjalani hidup” ucap Brendan seraya menatap Siegfred.

“aku selalu memerhatikan mu… hanya saja kau yang selalu salah sangka… begitu juga dengan ibu mu… dan kakak mu… kau tahu setelah kau menghilang dan tidak ada kabar… kakak mu itu selalu menangis dan mencoba mencari mu… begitu dia menemukan mu dia sangat senang… tapi sayang kau malah menyerangnya… itu membuatnya tambah sedih kau tahu itu? Bukan kah kalian anak kembar? Seharusnya kalian saling mengerti perasaan satu sama lain…” ucap Brendan sambil menghela napasnya, Siegfred yang mendengar itu terkejut dan menatap ke arah Maria yang sudah berdiri di depannya, Maria menunduk dan memeluk Siegfred.

“maafkan aku Siegfred… aku tidak tahu kalau kau selalu kesepian dan sendiri… seandainya saja aku tahu… maafkan kakak mu ini…” ucap Maria sambil menangis, Siegfred terdiam, air matanya menetes perlahan.

“maafkan aku nee-san… aku yang salah…” ucap Siegfred, Brendan tersenyum melihat Maria dan Siegfred yang saling berpelukan, begitu juga dengan Sierra.

Sementara itu seorang perempuan berambut biru panjang dan berkaca-mata menatap pertarungan Natsume dan Siegfred dari jauh.

“Elena-san? Bagaimana dengan kandidat kita yang baru?” ucap seorang laki-laki berjubah hitam di belakangnya, Elena menatap lelaki tersebut.

“maafkan saya dia mengecewakan…” ucap Elena, laki-laki tersebut mendesah napasnya dan berjalan pergi, begitu juga dengan Elena.

“apa boleh buat kita hanya perlu mencari kandidat yang lain…” ucap laki-laki tersebut.

***

Eliza membuka matanya dia menatap atap putih kamar tempatnya di rawat, dia melihat tangannya yang di tempeli oleh infus, Eliza menghela napasnya seraya mencabut infuse tersebut.

“aku tidak membutuhkan ini…” ucap Eliza seraya melempar jarum infus tersebut, dia mencoba menggerakan tangannya, tetapi dia menyadari tangannya di tahan oleh sesuatu, dia melihat ke arah Siegfred yang tertidur sambil menggenggam tangan Eliza, Eliza menatap Siegfred, kemudian pintu kamar tersebut terbuka, Eliza menatap ke arah Brendan yang memasuki kamar tersebut.

“ah kau sudah bangun rupanya, mau makan? aku bawa es krim kesukaan mu loh” ucap Brendan sambil tersenyum dan mengangkat kantung plastik putih yang di dalamnya terdapat es krim bernama Magnum, Eliza terdiam menatap Brendan.

“ara? Kau tidak mau? tumben kau jadi pendiam sekali hari ini…” ucap Brendan seraya mengeluarkan salah satu es krim tersebut dan memakannya.

“aku ingin bicara dengan mu…” ucap Eliza seraya melepaskan tangannya yang di genggam oleh Siegfred, dan berdiri menarik Brendan keluar dari kamar tersebut.

“o-oi!!” ucap Brendan yang di tarik oleh Eliza, Eliza menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit, kemudian dia menarik Brendan menuju taman rumah sakit tersebut yang di penuhi oleh bunga, dia tidak melihat orang lain di sana, Eliza berbalik dan mengambil es krim yang di emut Brendan dan membuangnya.

“apa-apaan sih!! Es krim itu susah di car—“ tiba-tiba Eliza menarik Brendan sebelum Brendan selesai berbicara dan menciumnya, wajah Brendan berubah merah, setelah beberapa detik Eliza melepaskan ciumannya dan Brendan menyadari Eliza yang meneteskan air mata dan tubuhnya mulai menjadi transparan.

“eh apa yang terjadi?” Tanya Brendan, Eliza menatap tangannya yang berubah menjadi transparan.

“ku rasa ini sudah waktunya… Brendan sebenarnya… sebenarnya aku sebagai Nocturnal harus hidup dengan mengkonsumsi penderitaan mu… aku yang sudah dua puluh tahun tidak mengkonsumsi penderitaan mu… akan menghilang… maafkan aku Brendan aku tidak mengatakan ini sebelumnya” ucap Eliza yang tersenyum.

“o-oi kau bercanda kan?” Tanya Brendan yang terlihat terkejut, Eliza hanya bisa tersenyum, dan mengelus kepala Brendan.

“kau yang bahagia sudah tidak membutuhkan ku lagi… maafkan aku Brendan… aku tidak bisa menepati janji ku” ucap Eliza yang perlahan-lahan menghilang.

“Eliza!! Oi!! El—“ Eliza menutup matanya dan suara Brendan perlahan-lahan menghilang dan sama sekali tidak terdengar.

“maafkan aku Brendan… aku harus meninggalkan mu…” pikir Eliza, dia teringat dengan seluruh kenangannya bersama Brendan.

“untuk mahluk seperti aku… ke manakah aku di kirim? Surga? Neraka? Atau…” ucap Eliza yang mencoba membuka matanya, dia melihat Brendan berdiri di depannya dengan tatapan bosan.

“eh?” pikir Eliza yang kebingungan, kemudian Brendan mengeluarkan Magnum yang satu lagi dan memasukannya ke mulut Eliza secara paksa.

“sudah selesai mimpinya?” Tanya Brendan, Eliza terlihat kebingungan.

“tapi bagaimana mungkin?” Tanya Eliza.

“itu karena kau sudah bukan Nocturnal lagi, tadi kau memang sempat menghilang tetapi itu hanyalah proses rekonstruksi diri mu” ucap sebuah suara, Eliza berbalik dan menatap Claire yang berdiri di belakangnya.

“professor Claire? Apa maksud mu?” Tanya Eliza, Claire tersenyum.

“kau yang sekarang bukanlah manifest dari penderitaan Brendan, tetapi manifest dari kebahagiaan Brendan, kau yang sekarang bukan Accursed melainkan seorang Divinity”

“tapi bagaimana mungkin…”

“itu karena ketika kau tidak sadar, Brendan memberikan cintanya kepada mu” ucap Claire dengan nada menggoda dan tersenyum, muka Eliza memerah.

“c-c-c-cinta? Apa maksud mu?” Tanya Eliza sambil menatap Brendan dengan mukanya yang merah padam.

“err seperti ini dan itu kau tahu” ucap Brendan sambil menggaruk mukanya.

“i-ini dan itu? M-maksud mu?” Tanya Eliza yang memegang dadanya dan menatap tanah, dia dapat merasakan jantungnya yang berdetak semakin kencang, wajahnya semakin merah seakan-akan terbakar, Claire hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Eliza.

“ya aku membantu Claire mengubah komposisi dasar mu sebagai Nocturnal di labnya, dengan kata lain aku membantu Claire mengubah komposisi mu yang terbentuk dari penderitaan ku menjadi komposisi yang di dasari oleh kebahagiaan ku, lagipula dia yang menciptakan Nocturnal jadi itu bukan masalah baginya untuk merubah komposisi mahluk ciptaannya” ucap Brendan dengan santainya, muka Eliza mulai terlihat kesal.

“b-b-baka!! Jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang salah sangka!!” teriak Eliza seraya menghantam wajah Brendan dan membuat terlemparnya, Brendan memuncratkan darah dari mulutnya dan terguling sejauh bermeter-meter dari tempat awalnya, Brendan kemudian berdiri sambil memegang mukanya.

“hei yang mengatakan dengan cinta kan Claire!!” teriak Brendan yang kesakitan.

“bodo!!” balas Eliza yang berlari meninggalkan Brendan, Eliza tersenyum dan meneteskan air matanya.

“mulai sekarang… aku bisa hidup tanpa harus takut lagi…” ucap Eliza dalam hatinya.

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment