Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 21: FURIOUS DANCE OF THE DEATH GODDESS

CHAPTER 21: FURIOUS DANCE OF THE DEATH GODDESS

“Sierra… Fein Veinsteirn…” ucap Natsume dengan takjub yang menatap ke arah Eliza yang rambutnya berubah menjadi perak.

“baiklah Sierra… mari kita lihat sekuat apa diri mu…” ucap Noctius sambil tersenyum. Eliza menghilang dan kembali muncul di belakang Noctius seraya mengayunkan sabit di tangan kanannnya, Noctius dengan sigap menahan serangan Eliza dengan pedangnya.

“jangan panggil aku dengan nama itu… walau itu nama asli ku… tapi nama ku tetap Eliza Ravenhalt!!! Itu adalah satu-satunya nama ku yang di berikan oleh orang yang paling ku sayangi!!!” teriak Eliza seraya menarik sabitnya dan membuat pedang Noctius terpental, kemudian Eliza mengayunkan sabit di tangan kirinya ke arah Noctius. Noctius menahan tebasan tersebut menggunakan salah satu tangannya.

“Exceed Mode!!!” teriak Eliza, dan dalam sekejap kornea mata Eliza berubah menjadi hitam pekat, dan pupil matanya yang bewarna merah darah menyala terang. Darah menyembur keluar dari punggung Eliza, tetapi tidak lama kemudian darah tersebut mengambang dan membentuk sepasang sayap bewarna merah darah di belakang Eliza. Eliza pun kembali mendorong sabitnya dan berhasil memotong salah satu tangan Noctius. Noctius yang tangannya terpotong meraung seraya mengayunkan pedangnya yang ada di tangan lainnya ke arah Eliza. Eliza menahan tebasan tersebut dan terdorong beberapa meter ke belakang.

“ahahaha, kau kira aku akan kalah hanya karena kau memotong satu tangan ku? Aku masih memiliki tiga tangan lainnya!!!” teriak Noctius, Eliza kembali berdiri dan berjalan ke arah potongan tangan Noctius yang terjatuh, Eliza mengambil tangan tersebut dan membuka mulutnya, terlihat dua taring yang terlihat lebih tajam dan panjang dari taring mungil yang biasa Natsume lihat.

“inikah… Eliza…” ucap Natsume yang bergetar. Eliza menggigit tangan tersebut, terlihat darah menetes dan mengalir dari mulut Eliza, tidak lama kemudian tangan tersebut hancur menjadi pasir.

“darah mu tidak enak… sayangnya karena Exceed Mode aku mau tidak mau harus meminumnya…” ucap Eliza seraya kembali mengangkat kedua sabit di tangannya. Eliza menatap Noctius dengan tajam dan melesat ke arahnya.

“Eliza Ravenhalt!! Kau akan mati di sini!!!” teriak Noctius seraya menghantamkan pedangnya yang satu lagi, Eliza melompat menghindari hantaman tersebut. Noctius yang melihat Eliza yang menghindari serangannya kembali mengangkat pedangnya dan menebaskannya kembali ke arah Eliza. Eliza melompat mundur dan mendarat di belakang pedang Noctius yang tadi terjatuh, dia menendang pedang tersebut menggunakan kakinya dan membuatnya terlempar serta menghantam pedang Noctius yang lain dan melucutinya.


“kau!!!” teriak Noctius seraya menciptakan bola api raksasa dan menembakannya ke arah Eliza. Eliza mengayunkan salah satu sabitnya dan menebas bola api tersebut, kemudian Eliza kembali melesat ke arah Noctius.

“Blood Bombardment!!” teriak Eliza. Sayap darah Eliza berubah bentuk menjadi seperti tentakel yang menjulur dan melesat ke arah Noctius.

“kau kira serangan seperti itu dapat mengalahkan ku? Hah!!!” teriak Noctius seraya menciptakan bola api lainnya dan melemparkannya ke arah Eliza. Tentakel di belakang Eliza dalam sekejap melindungi Eliza dari api tersebut dan kembali melesat ke arah Noctius, Noctius berusaha menghindari tentakel-tentakel tersebut, tetapi tentakel tersebut memiliki kecepatan yang di luar dugaan dan berhasil menusuk sebagian besar bagian tubuh Noctius, Noctius mengerang kesakitan dan terjatuh, sementara Eliza hanya menatap dari jauh.

“hehehe… ahahahahaha!! Aku!! Aku tidak akan kalah di sini!! Aku tidak mau kalah di sini!! Aku harus menang!!!” teriak Noctius seraya menghancurkan tentakel darah milik Eliza yang mengekangnya. Eliza yang melihat itu terkejut.

“Eliza Ravenhalt sekarang saatnya kau meninggalkan dunia ini!!” teriak Noctius seraya menciptakan lingkaran sihir dalam jumlah banyak di depannya.

“i-itu!! sial!!! Noctius!!!” teriak Eliza seraya melesat ke arah Noctius.

“semuanya terlambat!!! Inilah akhir dari mu!!! Eliza!!! Overdrive!!! Zenith Buster!!” teriak Noctius yang menghempaskan energy sihir dalam jumlah banyak dan menghancrukan semua yang ada di depannya.

“Eliza!!!” teriak Natsume yang melihat Eliza terjebak di dalam energy sihir tersebut, darah dalam jumlah banyak bermuncratan ke daerah sekeliling tempat Eliza sebelumnya berada, dan setelah Zenith Buster menghilang, tidak terlihat sedikit pun tanda kehidupan dari Eliza selain darahnya yang berserakan di mana-mana, beserta robekan bajunya.

“Eliza…” ucap Natsume terkejut melihat gumpalan darah di depannya.

“tidak!!!!” teriak Maria seraya meneteskan air matanya.

“o-oi tante girang kau tidak benar-benar mati kan?” tanya Ace dengan nada tidak kepercayaannya.

“keberadaannya… aku sama sekali tidak merasakan aura Eliza dari manapun…” ucap Hirasawa seraya melepaskan pelukannya dari Maria dan mengeluarkan katananya.

“kalau Eliza-dono juga sudah jatuh… berarti kita tidak ada pilihan lain selain untuk menggunakan kekuatan penuh kita…” ucap Hirasawa. Maria yang menangis mengusap air matanya.

“Noctius… aku tidak akan memaafkan mu…” ucap Maria seraya mengangkat revolvernya.

“ufufufufu… ahahahahaha!!! Acursed pertama dia bilang?!! dia terlalu lemah untuk menjadi lawan ku!! Kalian juga majulah!! Kalau kalian merasa bisa mengalahkan ku!! Akan kubunuh kalian satu persatu!!”

“lancing sekali bicara mu… akan ku robek mulut mu sekarang juga!!!” teriak Ace seraya melesat ke arah Noctius.

“hooo? Darkness Bind!!” teriak Noctius, dan rantai bewarna hitam pekat muncul entah dari mana dan mengikat Ace, Maria, Hirasawa, dan Natsume.

“apa ini!!” teriak Natsume yang tidak bisa menggerakan tubuhnya.

“sihir pengikat… sial kalau begini kita…” ucap Hirasawa.

“jangan pengecut kau Noctius!!!! Lawan aku satu lawan satu!!!” teriak Ace yang meronta berusaha melepaskan dirinya dari ikatan Noctius.

“heh, berisiknya kalian… ku rasa sudah saatnya aku juga menghabisi kalian…” ucap Noctius seraya kembali menciptakan lingkaran sihir dalam jumlah banyak.

“i-itu… Zenith Buster…” ucap Maria yang ketakutan.

“matilah!! Zen—“ belum selesai Noctius berbicara tiba-tiba seluruh lingkaran sihir yang di ciptakan Noctius menghilang, dan tiba-tiba muncul luka dalam jumlah banyak di tubuh Noctius, darah menyembur keluar dari luka tersebut, Noctius yang melihat itu terkejut. Darah milik Noctius kemudian melayang dan menggumpal membentuk Eliza yang tidak mengenakan pakaian, Natsume yang melihat itu terkejut dan wajahnya memerah.

“k-kau!! Eliza Ravenhalt?! Bagaimana mungkin?!! Dan kenapa darah ku!! Graah!!!” teriak Noctius yang darahnya kembali menyembur dan melayang ke arah Eliza dan menjadi pakaian gaun bewarna merah darah yang menutupi tubuhnya, Eliza membuka matanya dan memandang ke arah mata Noctius, dalam sekejap Noctius dapat merasakan jantungnya yang berhenti berdetak beberapa saat.

“darah mu?” tanya Eliza seraya berjalan ke arah Noctius. Noctius yang di dekati Eliza tidak dapat menggerakan tubuhnya sama sekali, kemudian dengan sekuat tenaga Noctius berusaha mengangkat tangannya dan melayangkan tinjunya ke arah Eliza.

“berhenti…” ucap Eliza pelan, dan tangan Noctius pun berhenti bergerak.

“a-apa!! apa yang kau lakukan kepada ku?!!!” teriak Noctius yang bergetar, Eliza berjalan mendekati Noctius dan meletakan jarinya di mata Noctius.

“Blood Phantasm… adalah satu-satu kekuatan untuk mengendalikan regerenasi darah dan memanipulasinya… kemampuan itu adalah kemampuan yang di miliki oleh keturunan keluarga Veinstern… Sierra Von Dracus yang merupakan anak dari diri ku yang sebelumnya dapat menggunakan kemampuan tersebut untuk menghidupkan Brendan kembali… begitu juga dengan Maria… dengan menggunakan kemampuan tersebut… aku dapat memasukan sel darah ku ke dalam tubuh milik mahluk hidup lainnya, dan aku juga dapat meningkatkan kemampuan regerenasi sel darah tersebut sampai seribu kali lipat dan sehingga sel darah tersebut memakan sel darah mahluk hidup yang di jadikan inang darah ku… dan kau tahu apa yang terjadi kalau darah mahluk tersebut telah di dominasi oleh darah ku?” tanya Eliza sambil tersenyum.

“ya… mereka akan menuruti semua perintah ku… lebih tepatnya tubuh mereka… karena berkat darah lah mereka dapat menggerakan tubuh mereka… dan juga selama darah ku masih ada di dunia ini aku dapat melakukan regerenasi berapa kalipun… walaupun aku sudah kehilangan tubuh ku sekalipun menggunakan darah di mahluk tersebut” ucap Eliza.

“t-tapi!! Kapan kau memasukan darah mu?!!!”

“kau tidak ingat?” tanya Eliza, kemudian tiba-tiba Noctius teringat ketika tubuhnya tertusuk oleh tentakel darah milik Eliza.

“waktu itu…” ucap Noctius yang bergetar, keringat dingin mengucur dari tubuhnya.

“hei Noctius setelah aku melakukan regerenasi dalam keadaan tanpa tubuh… aku sangat lapar dan haus sekarang… jadi bagaimana kalau kau diam saja dan menjadi makanan ku di sini!!” teriak Eliza yang memperlihat senyuman yang terlihat kejam, kemudian Eliza mencabut bola mata kanan Noctius. Noctius yang kehilangan matanya berteriak kesakitan, kemudian dia kembali dapat mengendalikan tubuhnya dan terbang menjauhi Eliza. Maria dan yang lainnya yang melihat itu terkejut.

“ya larilah Noctius… kalau tidak perburuan ini tidak akan seru…” ucap Eliza seraya memasukan bola mata Noctius kedalam mulutnya dan memakannya, Eliza melesat ke arah Noctius yang terbang tinggi di atasnya dan tersenyum.

“jatuh…” ucap Eliza pelan, dan dalam sekejap tubuh Noctius berhenti bergerak dan terjatuh ke bawah.

“mungkin ini akan lebih seru kalau kau kehilangan kedua mata mu…” ucap Eliza yang mendarat di atas Noctius dan menginjak kepalanya.

“j-jangan!! Ku mohon!!” teriak Noctius, Eliza meletakan jarinya di mata kiri Noctius dan kembali mencabutnya, Noctius kembali berteriak, setelah itu Eliza kembali memakan mata tersebut.

“h-hentikan!!” teriak Noctius yang melepaskan diri dari Eliza. Noctius berusaha terbang walaupun dia tidak dapat melihat apapun lagi.

“Eliza... apakah ini Eliza?” tanya Natsume yang bergetar ketakutan melihat senyuman Eliza, dan mulutnya yang di penuhi oleh darah Noctius.

“Noctius kemarilah… kau tidak ingin membuatku lelah setelah berusaha membentuk tubuh ku kembali bukan?” tanya Eliza yang tersenyum. Dan tanpa di sadari oleh Noctius, tubuhnya kembali terbang ke arah Eliza.

“kenapa! kenapa tubuhku tidak bisa ku gerakan!!” teriak Noctius.

“aku tidak bisa melihatnya lagi!!!” teriak Natsume yang melepaskan diri dari ikatan Noctius dan berlari ke arah Eliza.

“hentikan!! Eliza!!!” teriak Natsume yang menampar Eliza tiba-tiba, ketika di tampar kendali Eliza atas tubuh Noctius menghilang sesaat sehingga Noctius terjatuh dan terguling.

“apa yang kau lakukan hah!! Kau!! Bukan kah kau berjanji kepadanya untuk tidak membunuh siapa pun?!!” teriak Natsume, Eliza menggigit bibirnya.

“apa yang kau ketahui!!!” teriak Eliza seraya menghantam wajah Natsume. Natsume yang di pukul terkejut.

“apa yang kau ketahui tentangnya!! Tanpa dia!! Tanpa dia aku!!! Dia lah yang mengajari ku hidup!! Dia yang mengajari ku semuanya!! Aku tidak akan bisa memaafkan orang ini semudah itu!!” teriak Eliza.

“tapi bukan berarti kau harus menyiksa dan membunuhnya bukan?!!!” teriak Natsume.

“kau tidak tahu apa!! kau tidak tahu apa yang ku rasakan!! Jangan menganggap kau tahu semuanya!!” teriak Eliza.

“kalau begitu kau bisa menceritakannya bukan!! Tidak ada yang menyuruh mu untuk memikul penderitaan mu sendirian!!!” teriak Natsume. Maria, Hirasawa, dan Ace hanya bisa terdiam melihat Natsume dan Eliza yang berengkar.

“Brendan… Brendan dia…” ucap Eliza yang meneteskan air matanya dan terjatuh, Natsume dengan sigap menahan tubuh Eliza.

“aku tidak tahu siapa yang harus ku sayangi lagi… aku tidak tahu apa tujuan hidup ku lagi… aku tidak siapa yang harus ku cintai lagi…” ucap Eliza sambil menangis, Natsume kemudian memeluk Eliza.

“mungkin aku bukan siapa-siapa bagi mu… tapi Eliza mulai sekarang… kalau ada apa-apa kau bisa mengandalkan ku… karena itu jangan menangis… karena kalau kau menangis… aku juga sedih… kita semua juga sedih…” ucap Natsume sambil mengelus kepala Eliza, Eliza yang mendengar itu terkejut.

“karena itu jangan bersedih… karena kalau kau bersedih… aku juga akan sedih”

Air mata Eliza kembali mengalir kemudian dia memeluk Natsume.

“terima kasih Natsume…” ucap Eliza yang menangis, Natsume tersenyum dan mengangguk. Kemudian Eliza melepaskan pelukannya dan menatap Noctius dengan tajam.

“aku tidak akan memaafkan mu sampai kapan pun… tapi aku juga tidak akan menyiksa mu… karena itu… matilah…” ucap Eliza, dan dalam sekejap tubuh Noctius membesar.

“a-apa yang terjadi!! Apa yang kau lakukan!! Darah ku terasa mendidih!! Seperti akan meleda—“ belum selesai Noctius berbicara dalam sekejap tubuh Noctius meledak dan menghamburkan seluruh darahnya ke daerah sekeliling, dan setelah itu sisa tubuhnya menghilang menjadi pasir.

“ini adalah akhir dari Chronos…” ucap Eliza seraya menatap langit yang kelam.

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment