Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 24: FAREWELL

CHAPTER 24: FAREWELL

Natsume mencium wangi sampo di dekatnya, dia merasakan rasa pusing di kepalanya dan berusaha membuka matanya dan menyadari bahwa dia sedang tertidur di sebuah kasur di kamar, kemudian dia melihat daerah sekelilingnya dan yang dia lihat adalah atap kayu dan lampu yang tergantung di atap kamar tersebut.

“di mana ini?” ucap Natsume seraya berbalik kemudian Natsume terkejut melihat Eliza yang tertidur di sebelahnya dengan pulasnya.

“Eliza…” ucap Natsume yang menatap wajah Eliza yang terlihat tenang dan tertidur dengan pulas. Natsume mengusap wajah Eliza dan menaikan rambutnya yang tergerai menutupi wajahnya.

“kemaren… aku tidak sadarkan diri karena memaksa melaksanakan kontrak dengan mu… mungkinkah kau yang membawa ku ke sini?” bisik Natsume. Natsume bangun dari kasurnya seraya membuka jendela kamar tersebut, kemudian dia menyadari bahwa dirinya berada di sebuah hotel di Shibuya, terdengar ketukan pintu kamar, Natsume yang terkejut berbalik dan membuka pintu kamarnya. Di belakang pintu tersebut Riku dan Daichi berdiri.

“yo” ucap Natsume sambil tersenyum, Riku hanya terdiam, kemudian Daichi menatap Natsume.


Natsume kami ingin member tahu mu sesuatu… kita berdua sudah menyimpan terlalu banyak rahasia yang tidak kau ketahui…” ucap Daichi, Natsume terdiam kemudian mengangguk.

“tapi apapun yang kalian katakan, kalian masih akan menjadi teman ku” ucap Natsume sambil tersenyum.

“terima kasih Natsume…” ucap Riku yang wajahnya memerah.

“jadi bagaimana? Kalian ingin berbicara di mana?” tanya Natsume yang kebingungan.

“ikut aku… di bawah ada kafe yang lumayan nyaman untuk berbicara…” balas Daichi. Natsume mengangguk dan mengikuti Daichi dan Riku meninggalkan kamar tersebut. Setelah pintu tertutup dengan rapat, Eliza yang berpura-pura tidur membuka matanya, wajahnya memerah, tanpa sadar dia memegang rambutnya.

“Natsume…” ucap Eliza pelan dan teringat dengan kejadian kemaren. Eliza berdiri dari kasurnya dan mengganti pakaiannya, dia menatap ke arah jaket Brendan yang sudah di cucinya dan di gantungnya di lemari kamar hotel tersebut. jaket hitam itu terlihat bersih tanpa ada noda darah sekalipun.

“hei Brendan… kalau aku bahagia di sini… apakah kau juga akan bahagia di sana?” tanya Eliza sambil terus menatap jaket hitam milik Brendan, setelah itu Eliza berjalan keluar dari kamarnya, dia melihat Sieg yang berdiri tidak jauh dari sana dan menatapnya.

“Sieg? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eliza. Sieg berjalan ke arah Eliza dan berhenti di depannya.

“aku sudah mendengarnya dari Maria… ayah dia…” ucap Sieg yang menggenggam tangannya dengan kuat, Eliza hanya bisa tersenyum lemah.

“aku tidak apa-apa… kau lebih baik mengkhawatirkan diri mu sendiri… setelah kehilangan ayah mu apa yang akan kau lakukan tuan muda?” ucap Eliza sambil tersenyum.

“aku akan melindungi ibu dan Maria!! aku! Aku juga akan melindungi mu!!” teriak Sieg, Eliza terdiam mendengar perkataan Sieg, kemudian dia tersenyum.

“hoo? Sayangnya… sepertinya aku tidak akan pernah merasakan hal itu…” ucap Eliza sambil tersenyum lemas.

“kenapa?” tanya Sieg penasaran, Eliza hanya tersenyum seraya memandang ke arah langit, dia dapat melihat burung yang berterbangan di langit.

“awalnya aku berpikir setelah kehilangan Brendan apa yang akan ku lakukan… apakah aku sudah kehilangan tujuan hidup ku? Tetapi orang itu… dia memberikan ku harapan… dia memberikan ku kehidupan… dia memberikan ku tujuan hidup ku yang baru…” ucap Eliza yang mengangkat tangannya dan menutupi matanya dari sinar matahari.

“sinar ini… mereka terlalu terang untuk ku… tetapi… sampai kapan pun… apa pun yang terjadi aku akan dengan senang hati menyambut sinar ini… menyambut hari-hari ku sampai aku bertemu dengannya lagi suatu saat nanti…” lanjut Eliza.

“memangnya apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“aku akan melindungi anak itu… aku akan menjaganya sampai dia tumbuh besar seperti sekarang… agar dia dapat memberikan harapan lebih banyak ke orang lain…” ucap Eliza yang menatap burung-burung bertebangan di atasnya.

***

Daichi dan Riku terlihat menundukan kepalanya, Natsume hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.

“sebenarnya kalian tidak perlu sampai merasa bersalah seperti ini” ucap Natsume sambil tersenyum.

“tapi kita berdua sudah menyembunyikan ini dari dulu… aku Daichi adalah Acursed milik Riku… dan…” ucap Daichi sambil menatap Riku, Riku mengangguk seraya menatap Natsume, kemudian Riku memperlihatkan mata kirinya yang menjadi Avalon.

“aku juga menyembunyikan bahwa aku adalah pemilik Avalon…” ucap Riku.

“hei apa sebenarnya Avalon itu?” tanya Natsume.

“Avalon… sebenarnya di ciptakan untuk ku… aku yang sudah memiliki Acursed sejak kecil bisa di bilang sedikit special… dan aku tidak akan bisa mengendalikan Acursed ku yaitu Daichi… karena itu… salah satu Profesor di yang aku kenal bernama Marcel menciptakan Avalon untuk ku agar aku bisa mengendalikan Daichi… tapi… waktu itu kau kecelakaan… dan kehilangan sebelah mata mu… karena itu aku memberikan salah satu Avalon yang aku miliki dan belum terpasang kepada ku sebagai pengganti mata mu…” ucap Riku.

“begitu… tapi aneh juga ya, bukan kah seharusnya seluruh tubuh ku dan kedua mata ku remuk kalau jatuh dari ketinggian setinggi itu?” tanya Natsume sambil tertawa, Riku terlihat kebingungan dan menatap Natsume.

“ada apa?” tanya Natsume yang kebingungan melihat reaksi Riku.

“apa yang kau maksud Natsume? Ketika kau terjatuh dua belas tahun yang lalu… ada seorang perempuan yang menyelamatkan mu… karena itu yang terkena hantaman dan remuk hanya bagian kanan tubuh mu sementara bagian kiri mu baik-baik saja… tidak hanya itu bahkan menurut Marcel yang menjadi dokter mu selama kau koma, menurut dia perempuan itu mengunjungi mu tiap hari” ucap Riku, Natsume yang mendengar itu terkejut.

“Maria… apa benar dia yang melakukan itu… mengunjungi ku setiap hari?” pikir Natsume. ketika Natsume berpikir, terlihat Maria yang berjalan ke arah Natsume.

“hei Natsume! Sudah saatnya kita pulang ke zaman kita! Drounendal sudah menyiapkan portal menuju dimensi kita!!” teriak Maria. Natsume terkejut dan menatap Daichi dan Riku, Daichi dan Riku mengangguk seraya berdiri berjalan meninggalkan Natsume. Natsume yang melihat kedua temannya sudah berdiri juga ikut berdiri dan berjalan menuju Maria.

“Maria mau berjalan bersama sampai kita mencapai tempat Drounendal berada?” tanya Natsume.

“tentu saja kenapa tidak?” ucap Maria sambil tersenyum, Natsume mengangguk dan berjalan bersama Maria.

“hei Maria… terima kasih karena kau sudah menyelamatkan ku dua belas tahun yang lalu… dan mengunjungi ku tiap hari di rumah sakit…” ucap Natsume, Maria yang mendengar ucapan Natsume terkejut dan terlihat kebingungan.

“hah? Apa yang kau maksud? Ketika kau mengejar ku dua belas tahun yang lalu aku memang kabur… tetapi ketika kau tidak juga menemukan ku, aku menjadi khawatir… aku pun mencari mu… dan saat itu aku menemukan mu tergeletak di bawah tebing berlumuran darah, dan di dekat mu terdapat siluet seorang perempuan berdiri… awalnya aku kira dia yang melakukan itu kepada mu… tetapi dia menoleh ke arah ku dengan air mata memenuhi matanya… dia kemudian tersenyum melihat ku dan akhirnya pergi meninggalkan aku dan kamu yang terluka parah…” ucap Maria, Natsume yang mendengar perkataan Maria terkejut.

“tunggu kalau dia bukan Maria… kalau begitu siapa perempuan itu?” ucap Natsume dalam hati.

“nah kita sudah sampai, dan kelihatannya semuanya juga sudah berkumpul” ucap Maria, Natsume menoleh ke arah sebuah mesin portal yang terlihat tersambung dengan kabel yang ada di ruangan tersebut, Drounendal berdiri di dekat portal tersebut. Kemudian Natsume menatap ke arah Lilithia, Nac, Nara, Ace, Daichi, dan Riku.

“ke mana Sieg dan Eliza?” tanya Natsume.


mereka sebentar lagi akan sampai tenang saja…” ucap Drounendal dengan tenang, kemudian pintu ruangan tersebut terbuka, Eliza dan Siegfred memasuki ruangan tersebut.

“maaf aku telat…” ucap Sieg, Natsume dapat melihat mata Sieg yang terlihat seperti baru saja menangis.

“apa yang terjadi?” tanya Natsume, Sieg hanya menggelengkan kepalanya.

“tidak apa-apa…” jawab Sieg.

“baiklah karena semuanya sudah di sini, harap berkumpul di tengah portal” ucap Drounendal, yang lainnya mengangguk dan berjalan ke tengah portal.

“sebelum itu Ace-kun…” ucap Drounendal, Ace terkejut dan menatap ke arah Drounendal, Drounendal mengeluarkan sebuah kantung kulit dan menyerahkannya kepada Ace.

“ini adalah relic dan inti dari time magic milik ku… dengan menggunakan ini… kau bisa menyembuhkan teman mu… dan menggunakan kekuatan ku…” ucap Drounendal, Ace membuka kantung tersebut dan melihat sebuah cincin bewarna perak di dalamnya.

“terima kasih Drounendal” ucap Ace, Drounendal mengangguk. Kemudian Ace berjalan ke tengah portal bersama dengan yang lainnya.

“baiklah karena semuanya sudah siap… Time Reversal!!” teriak Drounendal, kemudian daerah sekeliling Natsume dan yang lainnya bersinar.

“akhirnya kami bisa pul—“ belum selesai Natsume berbicara Natsume sudah di kejutkan dengan apa yang di lihatnya.

“h-hei… kau bercanda kan!! Apa yang kau lakukan di situ Eliza!!” teriak Natsume yang melihat Eliza berada di luar lingkaran sinar tersebut, Eliza hanya tersenyum dengan ekspressi yang sedih ke arah Natsume.

“oi!! Eliza cepat ke sini!!” teriak Natsume yang berusaha keluar dari lingkaran tersebutt, tetapi Natsume sama sekali tidak dapat menembus lingkaran itu, Sieg menahan Natsume, Natsume yang di tahan terkejut.

“itu sudah keputusannya… aku juga tidak bisa menghentikannya… dia ingin tinggal di sini…” ucap Sieg sambil menangis. Natsume yang mendengar perkataan Sieg terkejut.

“a-apa maksud mu?!! Eliza!! kau bercanda kan?!! Kalau kau tinggal di sini apa artinya kontrak yang ku lakukan dengan mu?!!” teriak Natsume yang meneteskan air matanya.

“ini adalah pilihan ku Natsume… justru karena kontrak itu lah aku memilih untuk tinggal di sini… aku akan melindungi mu… sampai kapan pun” ucap Eliza sambil tersenyum dan meneteskan air matanya, tiba-tiba rasa sakit kepala yang kuat menyerang Natsume, Natsume terjatuh berlutut menahan sakit di kepalanya.

“Eliza ku mohon…” ucap Natsume yang menangis.

“Natsume… kadang aku berpikir… kenapa kau begitu mengkhawatirkan ku… pada awalnya aku menanggap itu semua karena kita adalah teman… tapi aku salah Natsume… aku… benar-benar bahagia telah bertemu dengan mu… aku benar-benar bahagia bisa bersama mu… karena itu akhirnya aku menyadarinya sekarang… aku… aku… aku menyukai mu Natsume” ucap Eliza sambil meneteskan air matanya, Natsume yang di serang oleh rasa sakit kepala kembali memegang kepalanya dan berteriak.

“apa yang sebenarnya terjadi dengan Natsume?” tanya Maria yang terlihat khawatir.

“menurut Marcel… karena benturan di kepalanya… Natsume kehilangan sebagian ingatannya… dia tidak dapat mengingat apa yang sebenarnya terjadi dua belas tahun yang lalu… mungkin ingatan dia mulai kembali…”

“Eliza…” ucap Natsume pelan, kemudian sebagian ingatannya Natsume yang menghilang kembali.

***

“Natsume!!!” teriak sebuah suara.

“suara siapa itu? ayah? Ibu? Apakah aku akan mati? Aku pasti mati dari ketinggian setinggi ini…” ucap Natsume kecil yang terjatuh.

“Natsume aku tidak akan membiarkan mu mati di sini!!” teriak suara yang sama, kemudian sesosok perempuan melompat dari jurang tempat Natsume terjatuh, perempuan itu mengenakan jaket hitam yang merupakan jaket milik Brendan, dan perempuan itu juga mengenakan pakaian bewarna hitam pula, dia juga mengenakan celana ketat pendek, perempuan itu berambut hijau dan bermata merah darah.

“siapa kau? Ku mohon selamatkan aku!” teriak Natsume kecil sambil menangis, perempuan itu dengan sigap memeluk tubuh Natsume kecil dengan erat dan terjatuh bersamanya, tidak beberapa lama kemudian terdengar suara dentuman yang keras di sertai darah yang bermuncratan ke daerah sekitar, Natsume kecil tidak dapat merasakan sebagian tubuh sebelah kanannya, dengan sisa tenaga yang ada Natsume kecil menatap ke arah perempuan yang tadi memeluknya. Perempuan itu juga mendapatkan luka yang sama parahnya dengan Natsume. Perempuan itu menangis dan menatap Natsume.

“ku mohon Natsume jangan mati di sini… aku tidak ingin kau mati di sini… hiduplah… sampai kita bertemu lagi dalam keadaan ketika kita berpisah… ku mohon Natsume!!” teriak perempuan itu.

“siapa di sana!!” teriak suara lainnya, perempuan itu terkejut dan menoleh ke arah Maria kecil yang berkeringat dan kehabisan nafas.

“ojou-sama… ya dia yang akan menolong Natsume… hei Natsume… berjanjilah… kalau kita bertemu lagi nanti… berikan jawaban dari pertanyaan ku ketika kita berpisah enam tahun yang lalu” ucap perempuan itu sambil tersenyum dan berlari meninggalkan Natsume kecil. Maria yang melihat perempuan tersebut pergi, berlari ke arah Natsume dan meneteskan air matanya.

***

Setelah itu pikiran Natsume kembali berkabut dan tidak dapat lagi mengingat apa yang terjadi setelah itu, tetapi kemudian dia mendapatkan sebagian ingatannya yang lain, ingatan ketika dia berada di rumah sakit dan lumpuh.

***

Tubuh Natsume tergeletak di kasur rumah sakit dan di penuhi oleh perban, matanya terlihat seperti tidak memiliki semangat hidup, yang dia lihat hanyalah atap rumah sakit yang putih, kemudian perempuan berambut hijau yang menyelamatkannya datang dan menyapanya.

“hei Natsume, ku rasa ojou-sama benar-benar berhasil menyembuhkan mu” ucap perempuan itu sambil tersenyum dan duduk di sebelah Natsume kecil.

“hai Natsume… walaupun kau bukan lah Natsume yang aku tahu… tapi apakah hati kita masih tersambung melalui kontrak itu? hah apa yang aku tanyakan… aku benar-benar ingin bertemu dengan mu… hati ku… terasa sakit setiap saat… karena itu… Natsume aku akan melindungi mu sampai kau tumbuh seperti kau pada saat kita berpisah enam tahun yang lalu… aku akan selalu berada di sisi mu… sampai kapan pun juga, karena kau lah yang memberikan ku harapan”

***

“Eliza? perempuan yang menyelamatkan ku dua belas tahun… perempuan yang menjenguk ku setiap hari di rumah sakit… adalah Eliza yang sekarang?” ucap Natsume seraya menoleh ke arah Eliza yang masih berada di luar lingkaran, air mata Natsume keluar tanpa bisa di bendung.

“Eliza!!” teriak Natsume, Eliza menatap Natsume dengan matanya yang di penuhi oleh air mata.

“aku mengerti sekarang kenapa kau ingin tinggal di sini… tapi berjanjilah… delapan belas tahun kemudian… temui lah aku… kau menginginkan jawaban dari ku bukan?!” teriak Natsume, Eliza terkejut, kemudian dia menangis dan terjatuh berlutut.

“terima kasih Natsume… aku benar-benar bahagia sudah pernah bertemu dengan mu” ucap Eliza, kemudian daerah sekeliling Natsume berubah menjadi putih dan dalam sekejap pemandangan berubah menjadi halaman sekolah Hanabiri Gakuen di sore hari, air mata Natsume tidak bisa berhenti, dia menatap tanah yang ada di bawahnya.

“berjanjilah Eliza… kau akan menemui ku…”

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment