Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 23: HOPE IN YOUR EYES

CHAPTER 23: HOPE IN YOUR EYES

Eliza yang rambutnya kembali seperti semula, berjalan ke arah tempat Brendan tergeletak sebelumnya, jaket hitam Brendan yang di kenakannya sebelum menghilang tergeletak di sana berlumuran dengan darah. Eliza mengambil jaket tersebut dan memeluknya. Natsume dapat melihat air mata Eliza yang menetes, Natsume berjalan mendekati Eliza tetapi tiba-tiba Eliza berdiri dan menatap Brendan dengan matanya yang di penuhi oleh air mata.

“maaf biarkan aku sendiri…” ucap Eliza seraya berjalan memasuki gedung dan meninggalkan yang lainnya.

“Eliza…” ucap Natsume pelan yang melihat kepergian Eliza. Natsume menggenggam tangannya, kemudian Hirasawa menatap Natsume.

“aku jadi kepikiran apa yang akan terjadi kepadanya” ucap Hirasawa.

“dia akan baik-baik saja… aku tahu itu… Eliza bukanlah wanita yang lemah” jawab Natsume.

“bukan itu yang ku maksud… Acursed yang kehilangan tuannya berarti telah kehilangan sumber tenaganya untuk hidup… untuk Acursed yang seperti itu terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi… pertama dia akan menghilang dari dunia ini… atau dia akan terus hidup dengan memakan emosi negative manusia yang ada di sekelilingnya… seperti yang di lakukan oleh Noctius…” ucap Hirasawa, Natsume yang mendengar itu terkejut.

“maksud mu?”

“ya ada kemungkinan Eliza akan mengambil kemungkinan yang pertama… dia tidak akan mau hidup dari melukai orang lain…” ucap Hirasawa.

“sial… perempuan itu!!” teriak Natsume seraya berlari mengejar Eliza.

“apakah kau yakin dapat menolongnya… Natsume Lindwurm?” ucap Hirasawa sambil menatap Natsume yang berlari meninggalkan Hirasawa, Maria, Ace, dan Riku yang tidak sadarkan diri.

***

Effect Time Distortion menghilang, waktu kembali berjalan dan Shibuya kembali di penuhi oleh berbagai macam orang yang berlalu lalang, Eliza berjalan sendirian sambil memeluk jaket Brendan yang masih di penuhi noda darah, tidak beberapa lama kemudian hujan yang turun membasahi Shibuya menjadi semakin deras, orang-orang yang berlalu lalang berlarian mencari tempat untuk berlindung. Eliza berjalan memasuki sebuah gang di antara toko, dia menyender di tembok gang tersebut sambil menangis.

“apa yang kau lakukan di sini?” tanya sebuah suara yang bernada datar. Eliza dapat mengetahui siapa pemilik suara tersebut hanya dengan mendengarnya, suara yang sangat dia kenal. Eliza berbalik dan menoleh ke arah perempuan berambut hijau dengan pandangan yang terlihat tidak memiliki emosi, perempuan tersebut mengenakan gaun putih, dan Eliza dapat melihat perban di belakang baju tersebut yang menutupi punggung perempuan tersebut.

“tidak apa-apa…” ucap Eliza pelan, Ravenhalt menatap Eliza dengan tajam.

“hei… maafkan aku karena telah meninggalkan luka yang tidak akan pernah hilang di punggung mu…” lanjut Eliza yang masih terdiam.

“siapa kau sebenarnya? Kenapa kau begitu mirip dengan ku?” tanya Ravenhalt.

“aku? Bisa di bilang aku adalah kamu… dan kamu adalah aku…” ucap Eliza dengan nada datar.

“kalau begitu beritahu aku nama mu…” ucap Ravenhalt, Eliza terdiam dan menatap ke arah tanah yang di penuhi oleh genangan air.

“Sierra… Seirra Fein Veinstern” ucap Eliza tanpa melihat Ravenhalt sekalipun.

“Sierra… nama mu sangat mirip dengan nama orang yang ku kenal…”

Eliza tersenyum kemudian tertawa kecil.

“itu juga nama mu… bodoh…” ucap Eliza pelan.

“apakah kau baru saja mengatakan sesuatu?” tanya Ravenhalt, Eliza menggelengkan kepalanya.

“aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mu… atau kenapa wajah mu terlihat berbeda dengan sebelumnya… tapi aku tahu perbedaan kita berdua sekarang… aku berusaha memikirkannya dan akhirnya aku menemukannya…” ucap Ravenhalt, Eliza menatap Ravenhalt dengan tajam, kemudian Ravenhalt membalas tatapan Eliza.

“mata mu… mata mu penuh dengan harapan, di banding mata ku… dia memperlihatkan kebahagiaan yang kau miliki… dia memperlihatkan seberapa bahagianya diri mu bersama dengan teman-teman mu… tidak seharusnya kau menyerah bukan? Kau masih memiliki harapan bersama teman-teman mu… tidak seperti diri ku…” ucap Ravenhalt, Eliza terkejut mendengar perkataan dirinya yang ada di masa lalu. Kemudian dia teringat dengan Maria, Hirasawa, Ace, Wilson, Ciel, SIeg, Nac, Lilithia, Nara, dan Natsume.

“Natsume…” ucap Eliza pelan, kemudian dia teringat dengan Natsume, ketika dia pertama kali bertemu dengannya, ketika dia menggodanya, dan ketika dia bersama dengannya, kemudian dia menangis dan memeluk Ravenhalt, Ravenhalt yang di peluk terkejut.

“kau juga… suatu saat nanti… kau akan tahu apa yang namanya kebahagiaan… suatu saat nanti… kau juga akan memiliki harapan dan teman-teman yang akan selalu peduli dengan mu…” ucap Eliza yang memeluk Ravenhalt, Ravenhalt mengangguk dan melepaskan dirinya dari pelukan Eliza.

“Eliza!!!” teriak sebuah suara, Ravenhalt dan Eliza terkejut dan menoleh ke arah asal suara tersebut. Eliza terkejut melihat pemuda berambut perak dan bermata merah berdiri di depan gang tersebut.

“Brendan?” tanya Eliza, dia berniat berlari ke arahnya tetapi kemudian dia berhenti dan menahan gerakannya, Ravenhalt berbalik dan berjalan ke arah Brendan yang dari masa lalu.

“terima kasih Sierra… kau telah memberikan ku harapan…” ucap Ravenhalt seraya berjalan ke arah Brendan, Eliza bisa melihat Brendan yang mengelus kepala Ravenhalt, kemudian tanpa sadar dia memegang kepalanya sendiri.

“bodoh… elusannya yang terakhir… aku masih bisa merasakannya…” ucap Eliza seraya berbalik dan kembali berjalan sampai dia mendengar suara derap langkah kaki yang berlari ke arahnya dan menahan tangannya, Eliza terkejut dan berbalik, terlihat Natsume yang basah kuyup dan menahan tangannya.

“Natsume? Apa yang ka—“ belum selesai Eliza berbicara tiba-tiba Natsume menarik tangan Eliza dan memeluknya.

“bodoh!!! Apa yang kau pikirkan!!! Apa kau berniat menghilang sendiri?!!!” teriak Natsume, Eliza yang mendengar perkataan Natsume terkejut.

“kau… dari mana kau mengetahui itu?” tanya Eliza yang terkejut.

“Hirasawa… dia memberi tahu ku!! Apa yang sebenarnya kau pikirkan Eliza!!! kau kira kau bisa meninggalkan kami begitu saja?!! Kau pikir kalau kau menghilang begitu saja bagaimana dengan perasaan Maria!!! bagaimana dengan perasaan yang lainnya!!! Bagaimana dengan… bagaimana dengan perasaan ku?!!!” teriak Natsume. Eliza hanya bisa terdiam.

“b-bodoh… kau telah merebut ciuman pertama ku dan kau mau menghilang begitu saja?” ucap Natsume yang wajahnya memerah, Eliza yang mendengar ucapan Natsume tiba-tiba wajahnya langsung memerah dan tingkah lakunya langsung grogi.

“l-lepaskan!!” teriak Eliza yang menarik tangannya dan berbalik membelakangi Natsume.

“lagipula apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak bisa melakukan apa-apa… aku juga tidak ingin hidup dengan memangsa penderitaan orang lain…” ucap Eliza.

“aku bisa melakukan sesuatu…” ucap Natsume dengan yakinnya, kemudian Natsume menarik Eliza dan membisikan sesuatu di kupingnya, Eliza yang mendengar bisikan Natsume terkejut dan menepis tangan Natsume.

“b-bodoh!!! Apa yang kau pikirkan!!! Kau kira kau bisa melakukan sesuatu seperti itu?!! kalaupun bisa mental mu tidak akan kuat!! Dan kau bisa mengalami mental breakdown?!!”

“aku tidak peduli!! Selama aku bisa menyelamatkan mu!! aku tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada ku!! Jadi bagaimana Sierra Fein Veinstern?! Apa kau mau menerimanya atau tidak?!”

“jangan panggil aku dengan nama itu!!!” teriak Eliza yang berniat melayangkan pukulannya, tetapi Natsume menahan tangan Eliza.

“heh kau kira kau punya pilihan?!! Kau sendiri yang mengatakannya sebelumnya!! Kalau selama aku tahu nama mu aku bisa memaksa mu untuk melakukan hal tersebut!! Sierra Fein Veinstern!!!” teriak Natsume. Dan sebuah spell insignia raksasa bewarna emas terbentuk di bawah Natsume dan Eliza.

“h-hei!! Hentikan ini!! Aku tidak ingin membebani siapa pun lagi!!!” teriak Eliza yang meneteskan air matanya, Natsume kemudian memeluk Eliza dengan kuat.

“kau tidak akan membebani siapa pun lagi!! Ini adalah pilihan ku!!!” teriak Natsume, Eliza berusaha melepaskan tubuhnya, air mata menetes dari matanya.

“ku mohon hentikan Natsume!! Aku tidak ingin melukai mu! dan aku juga tidak ingin kehilangan siapa pun lagi!!” teriak Eliza.

“lalu bagaimana dengan ku?!! Aku juga tidak ingin kehilangan mu!! Eli— graaah!!” ketika Natsume berbicara, tiba-tiba kepala Natsume terasa sakit seakan-akan kepalanya akan terbelah menjadi dua.

“N-Natsume!! Kau tidak apa?! sudah ku bilang hentikan ini bukan?!” teriak Eliza yang menahan tubuh Natsume agar tidak terjatuh, Natsume memegang kepalanya dengan kuat. Ekspressinya memperlihatkan rasa kesakitan yang amat sangat.

“graaaahhhh!!!!!” teriak Natsume yang terjatuh berlutut.

“Natsume!! Hentikan ini!! Atau aku terpaksa menghentikan mu!!” teriak Eliza.

“diam!! Aku tidak akan membiarkan teman ku menderita!!!” bentak Natsume, kemudian insignia emas tersebut bersinar terang menciptakan pilar bewarna emas, penduduk yang melihat sinar tersebut terkejut, pilar sinar tersebut bercahaya sampai menembus awan kelam, setelah itu hujan di Shibuya berhenti dan di gantikan oleh sinar terang dari matahari, Natsume terlihat berkeringat dingin dan bernafas dengan berat, Eliza menggigit bibirnya hingga berdarah, kemudian dia menampar Natsume, Natsume yang di tampat terjatuh.

“apa yang kau pikirkan! kau bisa saja mati karena melakukan hal tersebut!!” teriak Eliza, Natsume memegang wajahnya dan berdiri.

“sekarang aku dapat merasakannya… rasa sedih mu… penderitaan mu… kebahagiaan mu… semuanya--“ ucap Natsume yang terjatuh dan tidak sadarkan diri, Eliza menahan tubuh Natsume. Kemudian dia memeluk Natsume yang tidak sadarkan diri tersebut dan meneteskan air matanya.

“memaksa ku untuk menjadi Acursed mu… kau yang sekarang memiliki dua Acursed yang terikat dengan mu… apa kau kira kau benar-benar bisa menahan beban dari dua Acursed tersebut?” Eliza semakin erat memeluk Natsume.

“tapi… tapi aku benar-benar berterima kasih Natsume… terima kasih karena kau mau mengkhawatirkan ku… terima kasih untuk memberikan ku kesempatan hidup…”

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment