CHAPTER 19: THE TRUTH BEHIND THE LIES
“Kyne!!!” teriak Natsume yang berlari ke arah Kyne, Natsume menebaskan sabitnya yang di tahan oleh tombak milik Kyne.
“apa sebenarnya tujuan mu?! bukan kah Trishula yang mengajak Apocalypse bekerja sama?! Bukan kah kau ketua dari Trishula?!” tanya Natsume. Kyne membetulkan kaca matanya dan menatap Natsume dengan tajam.
“itu semua hanyalah bagian dari rencana ‘orang itu’ untuk menarik kalian bertemu dengan Chronos… orang itu ingin mengetahui siapa kah yang lebih cocok… Apocalypse atau Chronos…”
“siapa yang kau maksud orang itu? dan cocok untuk apa?” tanya Natsume kembali, Kyne menebaskan tombaknya dan membuat Natsume terdorong.
“untuk itu aku tidak bisa memeberitahu mu… lagipula daripada memedulikan hal itu bukan kah lebih baik kalau kau fokus di pertarungan melawan ku? Kalau kau kalah kau tidak akan bisa menolong teman mu loh…” ucap Kyne.
“Natsume, apakah kau memerlukan bantuan ku?” tanya Eliza. Natsume terdiam sambil menatap Kyne dengan tajam, setelah itu Natsume menggelengkan kepalanya. Eliza hanya bisa mendesah, kemudian dia melompat dan berdiri di atas salah satu atap bangungan di tempat itu.
“baiklah aku akan menonton… karena kalau aku terlalu jauh dari mu maka kemampuan Soul Chaser akan menghilang bukan… tapi kalau kau dalam bahaya aku tidak akan ragu menolong mu” ucap Eliza. Natsume mengangguk menandakan bahwa dia setuju dengan apa yang di katakana Eliza, Kyne menatap Natsume dan mengangkat tombaknya.
“kalau begitu mari kita mulai pertarungan ini…” ucap Kyne seraya mengangkat tombaknya yang bersinar kemudian menebaskan tombaknya yang melepaskan sebuah cahaya berbentuk bulan sabit ke arah Natsume. Natsume melompat menghindari cahaya tersebut yang menghancurkan tempatnya berdiri beberapa saat yang lalu. Natsume berputar di udara dan menjatuhkan tubuhnya di atas Kyne seraya menebaskan sabitnya, Kyne dengan santainya mengangkat tombaknya dan menahan tebasan Natsume.
“hanya segini kemampuan mu Natsume Lindwurm?”
“heh… ini bahkan belum setengah dari kekuatan asli ku! Jangan sombong kau Kyne!” teriak Natsume seraya menarik sabitnya dan kembali menebaskannya ke arah perut Kyne. Kyne melompat dan menginjak sabit Natsume hingga terjatuh dan menghantam tanah, setelah itu Kyne menendang wajah Natsume. Natsume yang tertendang terlempar dan tanpa sengaja melepaskan pegangannya dari gagang sabitnya yang di tahan oleh kaki Kyne, Natsume yang terlempar menghantam dinding gedung di belakangnya.
“Natsume!!” teriak Eliza yang bersiap melompat ke arah Natsume, tetapi Natsume mengangkat tangannya dan memberikan tanda ke Eliza agar tidak menolongnya, Eliza yang melihat itu menggigit bibirnya, Kyne mengambil sabit milik Natsume yang di injaknya, dia menatap sabit tersebut kemudian melemparnya ke arah Natsume, sabit tersebut menghantam dan menancap di dinding sebelah Natsume.
“berdiri… kau masih bisa bertarung bukan?” tanya Kyne. Natsume mengangkat tangannya dan memegang sabit yang menancap di sebelahnya, dia berdiri menggunakan sabit tersebut sebagai bantuan dan perlahan-lahan mencabut sabit tersebut.
“kenapa kau mengembalikan senjata ku? Padahal tanpa senjata kau bisa mengalahkan ku dengan mudah…” ucap Natsume yang menarik keluar sabitnya dari dinding di sebelahnya dan mengayunkannya.
“karena aku ingin pertarungan yang adil antara kita…” ucap Kyne. Natsume menelan ludahnya dan kembali berlari ke arah Kyne. Natsume menebaskan sabitnya ke arah Kyne, tetapi Kyne dengan mudahnya merubah arah tebasan Natsume menggunakan tombaknya yang di ayunkan memukul gagang sabit Natsume. Natsume kembali merubah arah tebasan sabit miliknya ke arah Kyne, tetapi Kyne dengan cepat menebas punggung Natsume sehingga Natsume meringis dan serangannya melambat dan mudah di tepis oleh Kyne.
“lemah… kalau hanya segini aku tidak merasakan sedikit pun tantangan… Brandish…” ucap Kyne seraya mengangkat tombaknya yang bercahaya, Kyne kembali menebaskan tombaknya dan yang kembali melesatkan cahaya berbentuk bulan sabit. Cahaya tersebut menebas dada Natsume, Natsume yang tertebas memuntahkan darah dan terjatuh, tetapi sebelum menyentuh tanah Natsume dengan sigap menahan tubuhnya menggunakan sabit miliknya, Natsume menatap Kyne dengan lemah. Kyne yang melihat keadaan Natsume meunembodykan tombaknya dan berbalik.
“kau… masih belum sebanding dengan ku… tidak ada gunanya membunuh orang yang lebih lemah selain membuang waktu… Natsume Lindwurm, ketika kau bertambah kuat kembalilah kepada ku… untuk saat ini aku akan menonton dan menyaksikan kalian bertarung melawan Chronos, sampai jumpa…” ucap Kyne seraya berbalik dan berjalan meninggalkan Natsume.
“tunggu!!” teriak Natsume. Kyne menghentikan langkahnya dan menatap Natsume yang berusaha berdiri dan meunembodykan sabitnya. Avalon miliknya perlahan-lahan menghilang.
“aku berjanji ketika aku bertambah kuat aku akan mengalahkan mu… kemudian… kenapa kau membantu ku dan Daichi dengan memberitahukan tempat persembunyian Chronos? Bukan kah kau ada di sisi mereka?” tanya Natsume. Kyne terdiam kemudian kembali menoleh ke depan.
“aku bukan di sisi Chronos bukan juga di Apocalypse… dan aku juga tidak ada niat untuk membantu salah satu dari kalian…” ucap Kyne seraya melompat ke atap gedung di depannya dan meninggalkan Natsume yang hanya bisa melihat Kyne dari jauh.
***
Kyne mendarat di salah satu gedung yang ada di dekat Shibuya 109, kemudian dia menoleh ke arah Neulaide yang terluka dan menatap ke arahnya.
“aku melihat mu bersama Natsume tadi… Kyne… siapa sebenarnya kau?” tanya Neulaide yang berlumuran darah.
“itu bukan urusan mu… kau tidak berhak mengetahui identitas ku” jawab Kyne.
“oh ya? Kau kira aku akan membiarkan mu pergi begitu saja setelah tahu kau menghianati kami?!!” teriak Neulaide seraya menciptakan bola gravitasi berukuran raksasa dan melemparnya ke arah Kyne.
“kau… Accursed jangan sombong!!” teriak Kyne seraya meembody tombaknya dan membelah bola gravitasi tersebut menjadi dua. Kyne berjalan ke arah Neulaide seraya mengangkat tombaknya.
“aku kira aku juga tidak bisa membiarkan mu hidup setelah melihat semua ini” ucap Kyne. Tubuh Neulaide bergetar.
“k-kau!!!” teriak Neulaide seraya menciptakan bola gravitasi lainnya.
“berisik sekali ku rasa aku harus membuat mu diam” ucap Kyne seraya mencekek Neulaide. Neulaide yang tercekek mengalami kesulitan bernafas dan mulutnya terbuka, setelah itu Kyne mengangkat tombaknya dan mengarahkannya ke arah mulut Neulaide.
“j-jan—janga--- n-“ ucap Neulaide yang kesulitan berbicara. Kyne kemudian memasukan tombaknya ke dalam mulut Neulaide dan menusuknya menembus tenggorokan ke dalam dadanya, darah bermuncratan keluar dari dalam mulut Neulaide. Seketika Neulaide kehilangan nyawanya dan terkulai lemas. Kyne menebas tubuh Neulaide menjadi dua untuk mengeluarkan tombaknya yang berlumuran darah, setelah itu Kyne kembali meunembodykan tombaknya dan menatap ke arah Tokyo 109.
“Natsume… aku akan melihat sampai sejauh mana kau akan berkembang…”
***
“Natsume kau tidak apa-apa?!” teriak Eliza yang berlari ke arah Natsume yang berlumuran darah, tiba-tiba Natsume berjalan terhuyung dan terjatuh. Eliza dengan sigap berlari dan menahan tubuh Natsume yang terjatuh.
“kau tidak apa-apa?” tanya Eliza yang memandang Natsume dengan khawatir. Natsume menganggukan kepalanya.
“kita harus cepat ke Shibuya 109… kita harus membantu Daichi…” ucap Natsume yang berdiri dan terhuyung.
“tidak dengan tubuh seperti itu! kau harus beristirahat terlebih dahulu dan di obati!” teriak Eliza seraya menahan tangan Natsume, Natsume menarik tangannya.
“tapi kalau kita tidak cepat-cepat kita tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Riku dan Daichi!! Aku akan menolong mereka berdua!!! Apa pun yang terjadi!!” bentak Natsume, Eliza yang di bentak terkejut.
“sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini…” ucap Eliza pelan. Natsume memandang Eliza dengan penasaran, bersiap apabila Eliza tiba-tiba menyerangnya. Tetapi alih-alih menyerangnya Eliza menggigit tangannya sendiri dan menghisap darahnya sendiri, terlihat darah mengalir dari mulut Eliza dan dari luka gigitannya. Setelah beberapa detik Eliza melepaskan gigitannya.
“o-oi apa yang kau lakukan?” tanya Natsume, tiba-tiba Eliza berlari ke arah Natsume. Natsume mengangkat tangannya, tetapi Eliza menepisnya kemudian menarik wajah Natsume, Natsume yang wajahnya di tarik terkejut. Eliza tanpa ragu mencium mulut Natsume, Natsume yang di cium dapat merasakan darah segar mengalir ke dalam tenggorokannya, setelah semua darah yang ada di mulut Eliza mengalir ke tenggorokan Natsume. Eliza melepaskan ciumannya, wajah Natsume dalam sekejap menjadi merah padam.
“k-k-k-kau menciu—“ belum selesai Natsume berbicara, Eliza memukul wajah Natsume dengan kencang.
“diam!! Jangan katakan apa yang baru saja aku lakukan!! Karena aku sendiri tidak mau mengingatnya lagi!!” teriak Eliza yang wajahnya memerah. Natsume hanya bisa mengusap wajahnya yang kesakitan, kemudian dia terkejut melihat luka di dada dan di punggungnya menutup dengan cepat.
“ini… apa yang terjadi?” tanya Natsume ke Eliza.
“itu sama yang seperti Maria lakukan kepada mu dua belas tahun yang lalu… hanya saja aku hanya memberikan sebagian kecil darah ku, sehingga aku tidak menularkan vampirism yang aku miliki” ucap Eliza, Natsume terkejut mendengar perkataan Eliza.
“kalau begitu… seberapa banyak darah yang Maria berikan kepada ku dua belas tahun yang lalu untuk membuat ku bertahan hidup?” tanya Natsume yang menatap tangannya yang bergetar.
“sangat banyak… dia pulang dalam keadaan berlumuran darah dan tepat ketika dia mencapai gerbang rumah dia terjatuh tidak sadarkan diri… Brendan dan Sierra sangat khawatir waktu itu karena Maria tidak sadarkan diri selama beberapa hari hanya untuk menunggu regerenasi sel darahnya selesai…”
“Maria…” ucap Natsume dalam hati.
“bagaimana pun juga bukan kah kau ingin kita pergi ke Shibuya 109 secepatnya?” tanya Eliza, Natsume mengangguk. Kemudian keduanya menatap ke arah Shibuya 109 yang tidak jauh dari sana.
***
Maria dan Hirasawa menatap Drounendal dengan tajam. Kemudian Maria meembody revolvernya begitu juga dengan Hirasawa yang meembody katananya.
“kau bagian dari Chronos bukan?” tanya Maria, Drounendal terdiam. Kemudian dia menatap Maria.
“betul… aku adalah bagian dari Chronos… tapi aku ke sini bukan untuk bertarung dengan kalian…” ucap Drounendal, Maria terdiam tetapi dia tidak menurunkan pertahanannya.
“kalau begitu apa mau mu?” tanya Maria. Drounendal menatap Maria, kemudian berjalan ke arah Maria. Maria yang terkejut mengangkat revolvernya ke arah Drounendal.
“berhenti!” teriak Maria, Drounendal mengangkat tangannya yang tua dan menurunkan revolver Maria.
“tenanglah nona Maria… pertama biarkan aku memperkenalkan diri ku… aku adalah anggota Chronos yang paling tua… sekaligus salah satu teman terbaik nona Eliza ketika dia berada di Chronos dulu… dan aku ada di pihak kalian, lebih tepatnya aku akan mendukung nona Eliza di mana pun dia berada… aku ke sini untuk membantu kalian… dan aku juga membawa satu orang lagi bersama ku…” ucap Drounendal. Seorang laki-laki berambut perak berjalan di belakang Drounendal, Maria yang melihat itu terkejut.
“ayah!! Kenapa kau bisa di sini?” tanya Maria yang terkejut melihat Brendan, Brendan tersenyum.
“Shibuya delapan belas tahun yang lalu… benar-benar nostalgia…” ucap Brendan sambil memandang gedung di sekelilingnya.
“ayah jawab pertanyaan ku! Apa yang ayah lakukan di sini, dan bagaimana dengan ibu?” tanya Maria.
“ayah datang untuk membantu kita nee-chan… dan Kyne Matthew… dia pengkhianat…” ucap sebuah suara, Maria menoleh dan terkejut melihat Sieg yang berjala dengan keadaan badannya yang masih penuh perban.
“Kyne tapi dia…” ucap Maria.
“yang menyerang ku dan mengirim ku ke sini adalah dia… Kyne Matthew… dia adalah musuh yang sebenarnya!!!”
TO BE CONTINUED
No comments:
Post a Comment