Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 17: BEGIN ASSAULT!

CHAPTER 17: BEGIN ASSAULT!

Daichi melompat dan menghindari tembakan dari Noctius, Noctius tersenyum seraya melihat ke arah Daichi.

“Noctius… tidak akan ku biarkan kau mengubah sejarah!! Katakan di mana ‘Dream Plane Driver’ berada!! Kau akan menggunakan benda itu untuk merubah sejarah bukan?!!” teriak Daichi seraya mengumpulkan cahaya di tangannya dan menciptakan pedang menggunakan cahaya tersebut.

“tidak akan ku beri tahu… tapi akan ku pastikan tuan putri mu tahu… karena kami membutuhkannya untuk mengaktifkan D.P.D” jawab Noctius, kemudian Daichi mendengar teriakan Riku, Daichi yang terkejut menoleh ke tempat Riku berada dan terkejut melihat Neulaide yang menjambak Riku.

“Riku!!” teriak Daichi yang melesat ke arah Riku, kemudian wajah Riku terlihat terkejut.

“Daichi!!! Belakang mu!!!” teriak Riku, Daichi yang terkejut menoleh dan melihat Noctius yang sudah mengumpulkan cahaya di cannonnya.

“seharusnya kau belajar!! Jangan pernah memalingkan wajah mu dari musuh mu!!!” teriak Noctius yang menembakan cannonnya, Daichi yang terkejut tidak sempat untuk menghindari tembakan tersebut dan terkena hantaman tersebut, Daichi memuntahkan darah dan terjatuh, dia menatap Riku, Daichi berusaha mengangkat tangannya seakan-akan berusaha menggapai Riku, kemudian kesadarannya perlahan menghilang.

“Ri… ku…” ucap Daichi seraya menutup matanya, dia dapat mendengar Noctius yang tertawa.

***

“aku mungkin tidak bisa menyelamatkan mu… tapi aku akan menyelamatkan anak itu”

Eliza membuka matanya, tubuhnya berkeringat, dan dia menyadari bahwa dia sedang tidur di sebuah kasur.

“mimpi itu lagi… mimpi dari ‘diri’ ku yang sebelumnya… yang seharusnya tidak perlu ku ingat…” ucap Eliza pelan, kemudian dia menyadari dia sedang mengenakan piyama berwarna putih dan badannya yang di penuhi oleh perban, pendarahan di punggungnya juga sepertinya sudah berhenti, kemudian Eliza mendengar suara dari pojok kamar tersebut, Eliza yang terkejut menoleh dan melihat Natsume yang tertidur di pojok kamar, Natsume memegang sesuatu di tangannya yang adalah pita milik Eliza, Eliza terkejut seraya memegang rambutnya, dan dia menyadari bahwa rambutnya tergerai dan tidak ada pita yang mengikatnya.

“dia… apa dia yang melakukan semua ini…” ucap Eliza, kemudian tiba-tiba wajah Eliza memerah.

“Eliza… kau terlihat lebih imut tanpa mengenakan pita” ucap Natsume yang tertidur tanpa sadar, Eliza yang mendengar itu wajahnya menjadi merah padam, kemudian dia beranjak bangun dari kasurnya dan berjalan ke arah Natsume.

“terima kasih Natsume… tapi pita ini berharga bagi ku…” ucap Eliza, kemudian Eliza melihat wajah Natsume, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Natsume, kemudian Eliza perlahan menutup matanya dan mendekati wajah Natsume, sampai tiba-tiba pintu kamar tersebut di dobrak, Eliza yang terkejut membuka matanya dan menarik wajahnya menjauh dari wajah Natsume seraya menarik pita yang di pegang oleh Natsume.

“oi Nats—oh kau sudah sadar Eliza? Apa yang kau lakukan di sana?” Tanya Ace yang mendadak memasuki ruangan tersebut.

“t-tidak bukan apa-apa, aku hanya ingin mengambil pita ku yang di pegang oleh Natsume” ucap Eliza dengan wajah memerah.

“oh begitu… oh ya bangunkan Natsume, makanan sudah siap di lantai bawah” ucap Ace seraya beranjak meninggalkan kamar tersebut, Eliza terdiam melihat Ace pergi meninggalkannya, kemudian Eliza menepuk pipinya dengan kedua tangannya.

“baka Eliza… apa yang akan kau lakukan barusan…” ucap Eliza masih dengan wajah yang memerah.

“ehmmm” suara sebuah suara, Eliza menoleh ke arah Natsume yang sedang mengucek matanya, kemudian Natsume membuka matanya dan menatap ke arah Eliza, setelah itu Natsume berdiri dan menatap wajah Eliza dengan seksama.

“a-apa?” Tanya Eliza yang tiba-tiba merasa nervous, kemudian tiba-tiba Natsume menempelkan jidatnya di jidat Eliza, Eliza yang terkejut wajahnya memerah, dan langsung mengeluarkan ekspresi grogi.

“badan mu panas? Kenapa wajah mu sangat merah?” Tanya Natsume, Eliza menggenggam tangannya.

“baka!!!” teriak Eliza yang menghajar Natsume dan berlari ke lantai bawah, Natsume memegang wajahnya.

“argh sakit… apa sih masalah perempuan itu!” teriak Natsume seraya berjalan ke bawah mengikuti Eliza.

Di bawah Natsume melihat Freya yang sedang menyiapkan makanan, Ace yang sedang menonton televisi, dan Eliza yang sedang menggigit ujung gagang sendok, dengan kedua tangannya yang menahan kepalanya, dan kedua kakinya yang di ayunkan bergantian, wajahnya masih memerah, Eliza memutuskan untuk tidak menatap Natsume walaupun dia berusaha menyapa Eliza.

“di mana Hirasawa dan Ryou?” Tanya Natsume yang kebingungan.

“keduanya sedang berlatih… mungkin sebentar lagi akan kembali” ucap Freya seraya meletakan piring yang berisi deretan omelette di meja makan.

“oh begitu…” lanjut Natsume yang duduk di meja makan seraya menatap makanan yang di sajikan, kemudian pintu rumah tersebut di buka, Ryou dan Hirasawa memasuki ruangan tersebut, Hirasawa menatap Natsume, Ace, dan Eliza bergantian, kemudian Maria berjalan turun dari lantai dua dalam keadaan mengenakan gaun tidur bewarna hitam.

“ku rasa semuanya ada di sini… kalau begitu biar ku beri tahu informasi yang baru saja ku dapat dengan bantuan Ryou… mengenai letak dari markas Chronos yang sebenarnya di masa ini… dan juga cara mereka mencapai tujuan mereka” ucap Hirasawa.

***

Neulaide berjalan sendirian di tengah kota Shibuya yang di pengaruhi oleh time distortion, Neulaide kemudian berhenti melangkah dan terdiam.

“cukup sudah kalian bertiga sudah mengikuti ku dari tadi… bagaimana kalau kalian memperlihatkan wajah kalian?” ucap Neulaide, kemudian sebuah peluru melesat ke arah Neulaide, Neulaide berbalik dan mengangkat tangannya, sebuah pusaran hitam terbentuk dan menghisap peluru tersebut.

“checkmate!!!!” teriak sebuah suara dari atas, Neulaide kembali mengangkat tangannya dan dari tangannya tercipta sekumpulan debu yang menyatu dan menahan serangan orang yang melompat dan terjun dari langit tersebut, orang tersebut mengenakan tombak di tangannya, Neulaide kemudian menatap mata biru laut milik Nara, Nara tersenyum seraya melompat menjauhi Neulaide dan mendarat di sebelah Nac yang memegang pistolnya yang berasap dan Lilithia yang sedang menatap Neulaide.

“heh kalian… Apocalypse bukan? Apa yang di inginkan sekumpulan orang lemah seperti kalian dengan ku?” ucap Neulaide tersenyum, Nac hanya menatap Neulaide dengan tatapan esnya, sementara Nara hanya tersenyum seraya menatap Neulaide.

“seperti rencana kita… kau aktifkan kemampuan mu… dan lakukan analisis ke Neulaide selagi aku dan Nac menyerangnya… cari kelemahan dan bentuk asli dari kekuatannya” bisik Nara, Lilithia mengangguk, kemudian Nara menatap ke arah Nac.

“nah sekarang kita lihat siapa yang sebenarnya yang paling kuat di antara kita!” teriak Nara seraya melesat ke arah Neulaide, Nac menghela nafasnya.

“sudah ku bilang jangan seenaknya memutuskan bahwa aku adalah rival mu… merepotkan…” ucap Nac seraya mengangkat salah satu pistolnya dan mengarahkannya ke arah Neulaide.

“hoo jadi kalian ingin mengeroyok ku? Tapi aku masih ragu kalian masih bisa menang dari ku hehehehe…” ucap Neulaide seraya mengangkat kedua tangannya, kemudian Nac menatap Neulaide dan menembakan pistolnya beberapa kali menimbulkan bunyi ledakan kecil secara beruntun, beberapa peluru melesat ke arah Neulaide, Nara kemudian melompat dan terjun ke arah Neulaide, Neulaide tersenyum seraya menciptakan sebuah lingkaran hitam yang kembali menghisap peluru-peluru yang melesat dari pistol Nac, kemudian di sekeliling Nara muncul beberapa lingkaran hitam, dan dari lingkaran hitam tersebut muncul sejumlah peluru yang mengarah ke arah Nara, Nara terkejut dan berputar di udara untuk menghindari peluru tersebut, tetapi muncul lubang lainnya di atas Nara, dan satu peluru lain melesat dari lubang itu dan mengenai perut Nara, Nara yang tertembak memuntahkan darah dan terjatuh menghantam tanah, Nac yang melihat itu terkejut.

“bagaimana apakah kalian berpikir masih bisa menang dari ku?” ucap Neulaide sambil tersenyum.

***

Maria dan Hirasawa berlari di sisi lain Shibuya, kemudian Maria menatap tangannya.

“markas mereka berada di 109 Building, tetapi alat untuk melakukan rencana mereka alias Dream Plane Driver berada di tempat lain di Shibuya ini, aku dan Maria akan menyerang 109 Building, Natsume dan Eliza akan mencari letak dari Dream Plane Driver ini, sementara Ace… lakukan patroli di sekeliling Shibuya ini… dan usahakan cari tahu seberapa jauh effect time distortion menjangkau wilayah lain”

“Maria? Kau tidak apa-apa?” Tanya Hirasawa, Maria terkejut dan tersadar dari lamunannya.

“tidak aku tidak apa-apa…” ucap Maria, Hirasawa terdiam melihat Maria, kemudian keduanya berhenti di depan 109 Building.

“di sini kah?” Tanya Maria seraya meembody revolver hitam miliknya, Hirasawa mengangguk, kemudian dari dalam gedung muncul seorang kakek-kakek botak dengan janggut yang panjang.

“nama ku Drounendal… apa bila kalian ingin memasuki gedung ini… kalian harus terlebih dahulu…” ucap Drounendal.

“berisik kakek tua!!” teriak Maria seraya menembakan revolver miliknya, tetapi Maria terkejut melihat peluru Maria yang berjalan lambat, dan tiba-tiba Drounendal muncul di belakang Maria, Maria yang melihat itu terkejut.

“tidak mungkin kakek tua ini… kecepatannya melebihi kecepatan dracus?!!!” teriak Maria, kemudian Drounendal menciptakan bola energi dan menghantamkan bola tersebut ke punggung Maria, Maria terlempat dan terguling tidak jauh dari sana, kemudian Hirasawa menatap Drounendal.

“Maria biar aku yang hadapi orang ini… aku akan memenangkannya…” ucap Hirasawa, kemudian Hirasawa menutup matanya dan kembali membukanya memperlihatkan matanya yang bewarna emas.

“akan ku gunakan kemampuan ku sebagai Accursed sekarang” ucap Hirasawa yang menatap ke arah Drounendal.

***

Natsume dan Eliza sedang berjalan di pinggiran Shibuya, Eliza masih memilih untuk tidak berbicara dengan Natsume sedikit pun.

“oi Eliza kenapa kau marah?” Tanya Natsume, tetapi Eliza tidak menjawab pertanyaan tersebut dan hanya mengemut lollipop yang di berikan Freya kepadanya, Natsume menghela nafasnya, kemudian Natsume kembali menatap Shibuya yang suasananya seperti kota mati.

“hei Eliza… aku baru sadar kalau kita berjalan berdua di tengah kota seperti ini… terlihat seperti orang yang sedang berkencan” ucap Natsume, Eliza terkejut mendengar perkataan Natsume, dan tanpa sengaja menggigit lolipopnya menggunakan taring di mulutnya sehingga lollipop tersebut hancur-hancur berkeping-keping, wajahnya merah padam.

“hahaha hanya bercanda” ucap Natsume sambil tertawa.

“ka-kau… lain kali pikirkan kata-kata mu!!!” teriak Eliza seraya berusaha memukul Natsume kembali, tetapi Natsume berhasil menahan tangan Eliza sambil tertawa.

“Natsume… kau kah itu?” ucap sebuah suara, Natsume dan Eliza terkejut mendengar suara tersebut, kemudian Natsume terkejut melihat anak laki-laki berlumuran darah yang sedang tersender di dinding gedung di dekat Natsusme dan Eliza berada.

“t-tidak mungkin, bagaimana mungkin kau bisa berada di sini… Daichi!!”

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment