CHAPTER 26: I ALWAYS WITH YOU ALL THIS TIME
“ada apa kau sedang mencari seseorang?” tanya Edea.
“ya aku mencari teman ku… aku kira mungkin dia ada di sini barusan…” jawab Natsume yang teringat dengan pedang berbentuk sabit yang baru saja menolongnya.
“hmm? Dari tadi cuman ada kita berdua loh” ucap Edea, kemudian Natsume kembali berjalan.
“ya… mungkin ini hanya imajinasi ku… tadi kau bilang kau Lycan dan teman ayah kan? Apa kau ingin bertemu dengan ayah?” tanya Natsume, Edea kemudian tersenyum.
“sebenarnya aku lebih tertarik bertemu dengan mu hehehe, bercanda kok, aku memang ingin bertemu dengan ibu mu, bisa kah kau memberi tahu rumah mu?” tanya Edea, Natsume terdiam kemudian dia mengangguk.
“hah, baiklah kebetulan aku juga sedang berjalan pulang” ucap Natsume sambil berjalan meninggalkan Edea. Edea menoleh ke arah gang yang tersembunyi di belakang salah satu rumah di sana dan tersenyum.
“kau yakin tidak ingin menemuinya?” tanya Edea, kemudian suasana menjadi sunyi.
“bersikap dingin eh? Atau kau hanya sebatas tidak ingin Natsume menyadari keberadaan mu? yang mana saja aku tidak peduli, tapi menurut ku ada baiknya kau menemuinya bukan? Tapi itu terserah kepada mu” lanjut Edea seraya berlari mengejar Natsume.
“tch!” ucap seseorang yang bersender di belakang tembok gang tersebut, orang itu kemudian berjalan pergi meninggalkan tembok itu.
***
“aku pulang” ucap Natsume seraya membuka pintu, Claire berjalan menyambut anaknya ke arah pintu rumah.
“ah Natsume kau sudah pulang?” tanya Claire, kemudian Edea yang mengikuti Natsume tiba-tiba melompat ke arah Claire.
“Claire-san!!” teriak Edea seraya memeluk Claire.
“E-Edea? Kenapa kau ada di sini?” tanya Claire yang terkejut melihat Edea.
“kakak terlalu sibuk dengan urusannya sebagai pemimpin ras yang baru, jadi karena aku bosan aku jalan-jalan ke sini” ucap Edea sambil tersenyum.
“dank au masih persis terlihat sama seperti dulu, aku jadi iri dengan mu dan Sierra yang tidak menua dan tetap memiliki penampilan muda” ucap Claire sambil tersenyum.
“lupakan itu! aku sudah lapar sekarang apakah kau punya makanan?” tanya Edea.
“berisik sekali perempuan ini” pikir Natsume sambil menggaruk kepalanya.
“bu? Ayah di mana?” tanya Natsume, seraya menatap ibunya.
“ayah? Dia sedang berada di halaman belakang rumah” ucap Claire.
“terima kasih” jawab Natsume sambil berjalan meninggalkan ibunya bersama Edea. Natsume dapat mendengar suara teriakan Edea yang berbicara dengan Claire. Natsume menatap ke arah punggung ayahnya yang menyender di pintu kaca yang menhubungkan rumah dengan halaman belakang, kemudian Natsume membuka pintu tersebut membuat ayahnya terjatuh ke belakang.
“bodoh! Apa yang kau lakukan? Aku sedang bersender tahu?!” ucap Ashley yang kembali bangun.
“hah? Harusnya aku yang bertanya begitu, apa yang kau lakukan di sini? Tidak biasanya kau duduk sendirian di tempat seperti ini” ucap Natsume seraya duduk di sebelah Ashley.
“suara gaduh di depan rumah itu… pasti ada seorang perempuan bernama Edea yang sangat berisik di depan” ucap Ashley sambil bergumal.
“ya begitulah, dia teman mu bukan?” tanya Natsume, Ashley hanya diam saja sambil menatap halaman belakang rumahnya.
“kau ke sini bukan hanya untuk berbicara dengan ku kan?” tanya Ashley. Natsume kemudian mengambil album yang tadi siang di berikan Ashley. Ashley menatap album tersebut dan mengambilnya.
“aku ingin kau menjelaskan semuanya… ku rasa ini saatnya kau memberi tahu anak mu semua rahasia yang kau sembunyikan dan rahasia ibu” ucap Natsume sambil menatap Ashley dengan tajam.
“hah merepotkan, apakah itu sebegitu pentingnya?”
“tentu saja! Di belakang itu ada foto Eliza!! berarti kau sudah tahu kalau Brendan akan mati bukan?! Tidak lebih tepatnya Brendan harusnya juga sudah tahu kalau dirinya akan mati bukan?!! Kalau dia tahu itu seharusnya dia memiliki suatu cara untuk menyelamatkan Eliza tanpa perlu membunuh dirinya!” teriak Natsume, Ashley terdiam dan menatap ke arah salah satu foto di album tersebut, foto dirinya bersama Brendan, dan Ryou.
“lalu yang kedua, sebenarnya apa hubungan mu dengan Brendan? kalau ayah memang saudaranya, berarti harusnya ayah juga adalah seorang dracus dan seharusnya tidak menua seperti ini…” lanjut Natsume. Ashley kemudian menghela nafasnya dan memukul Natsume.
“kalau ingin bertanya tanyakan satu-satu bodoh, kau tidak bisa menanyakan dua pertanyaan sekaligus seperti itu” ucap Ashley. Natsume memegang kepalanya yang di pukul dan mengusapnya.
“aku akan menjawab pertanyaan pertama mu terlebih dahulu…” ucap Ashley seraya mengambil sepuntung rokok dan menghisapnya.
“memang benar… aku mengetahui mengenai kematian Brendan… tetapi sayangnya Brendan tidak mengetahui hal itu… delapan belas tahun yang lalu, Eliza dan Drounendal menemui ku… mereka menjelaskan bahwa mereka berasal dari masa depan… dan mereka mengatakan bahwa mereka datang bersama anak ku… awalnya aku tidak percaya, kemudian aku menyadari satu hal… Eliza yang aku temui delapan belas tahun yang lalu, sifatnya jauh berbeda dari Eliza yang biasa aku temui… karena itu aku mulai mempercayainya… dan pada kenyataannya dia adalah orang yang mengasuh mu sampai umur mu mencapai lima tahun… dan dia juga yang selalu menjenguk mu ketika kau di rawat di rumah sakit milik Marcel…”
“apa maksud mu dengan Brendan tidak mengetahuinya?” tanya Natsume.
“ketika aku bertemu dengan Eliza waktu itu… Drounendal memberitahu ku… bahwa aku harus merahasiakan keberadaan Eliza dari siapa pun sampai waktu tertentu… dan agar aku tidak memberi tahu siapa pun mengenai masa depan Brendan yang mati di tangan Noctius… karena kalau aku memberitahu orang lain mengenai hal itu… terutama Brendan itu sendiri maka sejarah akan berubah… Eliza tidak akan tinggal di masa lalu… kau tidak akan selamat dan kehilangan kedua mata mu... dan berbagai macam hal lainnya… Drounendal yang mengalami time loop tersebut mengetahui hal itu karena itu dia memberi tahu ku…”
“Drounendal mengalami time loop? Apa maksud mu?”
“Drounendal… tugas dia yang sebenarnya adalah menjaga time loop ini tetap berjalan semestinya… karena itu dia hidup bersama Eliza selama delapan belas tahun, kemudian ketika Chronos muncul dia bergabung dengan Chronos, dan setelah itu dia menyeting semuanya agar Ravenhalt atau lebih tepatnya Eliza sebelum memasuki time loop kembali ke masa lalu, dan dia juga menyeting agar kalian Apocalypse juga ikut kembali ke masa lalu bersama Brendan, dan setelah itu dia kembali hidup bersama Eliza selama delapan belas tahun dan mengulangi langkah tersebut ratusan… tidak mungkin ribuan kali…” ucap Ashley.
“jadi maksud mu Drounendal itu?”
“ya Drounendal dia bukanlah Acursed seperti yang kau bayangkan… Drounendal adalah eksistensi yang di ciptakan oleh Eliza yang berada di timeloop pertama, dia menugaskan Drounendal untuk terus menjaga time loop tersebut dan tidak merusaknya… itulah Drounendal, dia bisa di bilang bagian dari Eliza yang menjaga waktu”
“bagaimana dengan pertanyaan ku yang kedua?”
“aku dan Brendan bukan lah saudara kembar… kami mirip bukan karena kami adalah saudara kembar… tapi karena Brendan adalah cloning dari ku… dia adalah ciptaan Vraniel Lindwurm… kakek mu… dan ayah ku… Vraniel memiliki teman bernama Alucard yang merupakan kakek dari Maria, pada saat itu Alucard bertarung dengan Arcruel dan mendapatkan luka yang parah… Alucard tahu dirinya tidak akan selamat, tapi dia masih harus mengejar Arcruel yang telah membunuh orang yang di sayanginya Sierra Fein Veinstern, karena itu Vraniel membantu Alucard dengan cara mengambil sample sel Alucard dan sample sel diri ku, dia menyatukan keduanya dan dari situ lah terlahir Brendan… Brendan memiliki penampilan seperti ku… tetapi jiwa yang bersemayam di dalam dirinya adalah milik Alucard…”
“Sierra Fein Veinstern… jadi itulah Eliza yang sebenarnya…” ucap Natsume, Ashley menatap Natsume dengan seksama.
“terima kasih ayah…” ucap Natsume yang berdiri, dan berbalik membuka pintu kaca di belakangnya.
“oi” panggil Ashley, Natsume berbalik dan Ashley melempar sebuah kunci ke arah Natsume. Natsume mengambil kunci tersebut.
“kunci apa ini?” tanya Natsume yang kebingungan.
“di sebelah kamar mu ada kamar kosong yang selalu terkunci kan? Waktu itu kau sempat menanyakan kamar apa itu, dan aku sempat menjawab bahwa itu hanyalah gudang yang sudah tidak terpakai… tapi sebenarnya, Eliza yang datang delapan belas tahun yang lalu menggunakan kamar itu… jadi bisa di bilang itu adalah kamar Eliza sampai dia meninggalkannya beberapa minggu yang lalu… lebih tepatnya ketika kau keluar dari rumah sakit setelah menyelesaikan rehabilitasi mu dan kembali tinggal di sini” ucap Ashley. Natsume yang mendengar itu terkejut dan berlari ke lantai dua ke arah kamarnya, dia berlari ke arah pintu yang tidak jauh dari pintu kamarnya, dia memasukan kunci yang di berikan Ashley ke dalam lubang kunci pintu tersebut dan membukanya.
“i-ini…” ucap Natsume terkejut melihat sebuah kamar yang tertata rapih di depannya, terdapat kasur dengan coverbed bewarna hijau di tengahnya, meja rias yang berada tidak jauh dari kasur tersebut, lemari baju, dan juga meja kerja yang di letakan di dinding pojok kamar. Natsume menatap meja belajar tersebut dan melihat secarik surat, Natsume berlari ke arah surat itu dan membukanya.
Untuk Natsume
Kalau kau membaca surat ini berarti Chronos sudah hancur dan Ashley sudah menceritakan semuanya kepada mu. aku tahu keputusan ku untuk tinggal di masa lalu benar-benar mengejutkan mu dan Maria… tapi kau tidak usah khawatir dalam waktu dekat kita akan bertemu lagi aku berjanji akan hal itu. dan juga selama delapan belas tahun ini aku selalu bersama mu… aku selalu mengawasi mu… walaupun kau tidak tahu itu…
Eliza Ravenhalt
Natsume meremas surat itu.
“ya aku tahu itu… kita pasti akan bertemu lagi…” ucap Natsume seraya meletakan surat itu di meja dan tiduran di kasur Eliza. Natsume melihat ke arah pita merah Eliza yang sudah terkoyak karena pertarungan dengan Noctius, melihat keadaanya yang sudah sangat parah, Natsume tahu kalau pita itu berumur delapan belas tahun lebih tua dari dirinya.
“Eliza…” ucap Natsume seraya menutup matanya dan tertidur di kasur Eliza.
TO BE CONTINUED
No comments:
Post a Comment