Saturday, 9 July 2011

CHAPTER 16: CRUMBLED IDEOLOGY

CHAPTER 16: CRUMBLED IDEOLOGY

“hah kau bercanda kan? Aku memiliki Accursed seperti Brendan dan Eliza? Apa kau dapat memberikan bukti?” Tanya Ryou yang terlihat terkejut, kemudian Hirasawa terdiam dan menatap Ryou.

“nama ku… Luft Flauten, setiap Accursed memiliki nama asli, nama yang mereka gunakan sehari-hari adalah nama palsu mereka, dan yang hanya bisa mengetahui nama asli mereka adalah tuan mereka, kecuali Accursed yang sudah tidak memiliki tuan lagi seperti Noctius dan yang lainnya, walaupun mereka tetap bisa menciptakan kontrak baru dengan orang lain, Eliza Ravenhalt… itu juga adalah nama palsu… dan sepertinya hanya Brendan yang mengetahui nama asli Eliza…” ucap Hirasawa.

“memangnya apa yang terjadi kalau aku mengetahui nama asli mu?” Tanya Ryou, keringat menetes dari keningnya.

“apabila seseorang mengetahui nama asli seorang Accursed dia dapat memaksa Accursed tersebut melaksanakan kontrak dengannya, dan apabila tuannya mengetahui nama asli dari Accursednya maka jiwa mereka akan terikat, dan mereka dapat mencapai tahap tertinggi yang bisa di gapai seorang Accursed dan Manusia” ucap Hirasawa, Ryou yang mendengar itu terdiam.

***

Terjadi ledakan besar di tengah kota Shibuya, Eliza terlihat melompat dari satu gedung ke gedung yang lainnya, darah berceceran dari punggungnya dalam jumlah yang banyak, matanya bewarna hitam pekat dengan bola kornea bewarna merah darah, menandakan bahwa dia sedang dalam exceed mode, di belakangnya Ravenhalt yang merupakan masa lalu dari Eliza mengejarnya, dia juga mengenakan exceed mode miliknya, Eliza mendarat di gedung di bawahnya, tiba-tiba rasa sakit di punggungnya muncul, sehingga Eliza tehenti, Ravenhalt melompat ke arah Eliza seraya mengayunkan sabitnya, Eliza membuang darah di mulutnya kemudian melompat menghindari tebasan Ravenhalt yang membelah gedung tersebut menjadi dua.

“sial… aku tidak bisa berlama-lama di dalam Exceed Mode, kalau tidak aku…” ucap Eliza dalam hati, kemudian Eliza melesat ke arah Ravenhalt seraya menebaskan sabitnya, Ravenhalt menahan tebasan dari Eliza dan di sekelilingnya terjadi gempa yang besar.

“kenapa kau terlihat bahagia? Kau terlihat berbeda dari ku…” ucap Ravenhalt dengan wajahnya yang tanpa reaksi, Eliza terdiam kemudian dia menarik sabitnya seraya melompat menghindari hantaman dari sabit milik Ravenhalt.

“kau juga akan tahu nanti… pria berambut perak itu… dia akan menyelamatkan kita berdua… ya… Brendan juga akan menyelamatkan mu dan mengajari mu arti sebenarnya dari hidup!!” teriak Eliza seraya menebaskan sabitnya kembali ke arah Ravenhalt, Ravenhalt kembali menahan tebasan Eliza, kemudian Ravenhalt mementalkan sabit Eliza seraya menebaskan sabitnya, Eliza menahan tebasan Ravenhalt, kemudian Ravenhalt kembali menebaskan sabitnya yang kembali di tahan oleh Eliza.

“Brendan… aku membenci diri ku karena aku hanya bisa menjadi beban baginya… aku tidak ingin terlahir karena penderitaannya… sebenarnya apa yang ku rasakan ini… hati ku terasa sakit setiap kali aku teringat akan kenyataan bahwa aku tercipta karena penderitaannya…” ucap Ravenhalt, Eliza terdiam, matanya memperlihatkan kesedihan.

“hehehe… aku jadi ingat dengan diri ku di masa lalu… sekarang aku mengerti kenapa aku selalu kesal mengingat diri ku yang di masa lalu…” ucap Eliza sambil tertawa, kemudian Eliza mengayunkan sabitnya dengan kuat dan membuat Ravenhalt terdorong ke belakang.

“overdrive!! Second tier!! Raven Barrage!!” teriak Eliza, kemudian dari belakang Eliza muncul berpuluh-puluh siluet gagak hitam yang terbang dan melesat ke arah Ravenhalt, Ravenhalt yang terkejut mencoba untuk menghindari semua burung gagak tersebut, kemudian Eliza melesat ke arah Ravenhalt, Ravenhalt yang terkejut menebaskan sabitnya ke arah Eliza, tetapi Eliza menghilang dan kembali muncul di belakang Ravenhalt, Eliza melihat ke arah punggung Ravenhalt, kemudian dia tersenyum pahit.

“checkmate” ucap Eliza, kemudian Eliza mengangkat sabitnya, Ravenhalt terkejut dan mencoba untuk berbalik, tetapi Eliza dengan sigap menebaskan sabitnya dengan kekuatan penuh, tebasan tersebut mengenai punggung Ravenhalt, sabit milik Eliza memotong punggung Ravenhalt dari pundaknya sampai pinggangnya, Ravenhalt berteriak kesakitan, matanya kembali seperti semula, kemudian dia terjatuh, kemudian Eliza menahan tubuh Ravenhalt.

“delapan belas tahun lalu… aku bertemu dengan orang yang memiliki wajah yang sama persis dengan ku… karena aku penasaran aku bertarung dengannya… dia mengalahkan ku… dan meninggalkan luka tebasan yang membuat ku tidak dapat menggunakan Exceed Mode sampai maksimal lagi… tidak hanya itu dia membuat ku berjanji untuk tidak menggunakan Exceed Mode sampai bertemu lagi dengannya… tapi siapa yang tahu kalau orang itu adalah aku dari masa depan…” ucap Eliza yang menidurkan Ravenhalt yang tidak sadarkan diri di atap gedung tersebut, kemudian luka di punggung Eliza kembali terasa sakit, rasa sakit tersebut menyengat ke seluruh tubuhnya.

“s-sial…” ucap Eliza yang terjatuh tidak sadarkan diri di sebelah Ravenhalt.

***

“Eliza, Eliza!!” teriak sebuah suara, Eliza membuka matanya dan dia melihat Natsume sedang mengangkatnya dengan wajah yang khawatir.

“N-Natsume? Kenapa kau ada di sini?” Tanya Eliza, Natsume terdiam dan menatap Ravenhalt yang berlumuran darah.

“aku sedang berada di rumah Ryou di masa ini… sampai tiba-tiba aku dan Ace melihat ledakan besar di tengah kota, dan aku dan Ace langsung tahu kalau yang bisa menyebabkan sesuatu seperti itu hanya kamu, Karena itu aku langsung mengarah ke sini… dan aku menemukan mu yang tidak sadarkan diri bersama diri mu di masa lalu…” ucap Natsume sambil tertawa, Eliza tersenyum lemas.

“kemudian luka di punggung mu… Ace sudah menceritakan bahwa kau memiliki luka di punggung… apa itu… kau sendiri yang memberikannya?” Tanya Natsume, Eliza terdiam kemudian dia mengangguk lemas, Natsume yang melihat Eliza mengangguk terkejut.

“apa yang kau pikirkan?! Kenapa kau melakukan hal itu?!! Kenapa kau melukai diri mu sendiri?!” bentak Natsume, Eliza terkejut melihat Natsume yang marah, kemudian dia tersenyum.

“itu karena… aku membenci diri ku… mungkin karena itu aku tidak ragu untuk memberikan diri ku sendiri sebuah luka fatal…” ucap Eliza yang menatap Ravenhalt, Natsume hanya berdiam diri mendengarkan perkataan Eliza, kemudian tiba-tiba Eliza mengeluarkan muntah darah dari mulutnya, Natsume yang melihat itu terkejut.

“kau tidak apa-apa?” Tanya Natsume, kemudian Eliza menatap Natsume, wajahnya memerah.

“N-Natsume… bolehkah aku…” ucap Eliza yang menelan ludahnya.

“apa?” Tanya Natsume, Eliza terdiam.

“aku lapar…” ucap Eliza yang menunduk.

“oh ya sudah kita segera kembali ke rumah Ryou… aku yakin Ryou juga menyiapkan sesuatu” ucap Natsume sambil tersenyum.

“b-baka!! Bukan itu yang ku perlukan! A-aku vampire… jadi… jadi…”ucap Eliza dengan wajah memerahnya, kemudian dia menggigit jarinya sendiri, Natsume tersenyum seraya menatap Eliza.

“baiklah…” ucap Natsume sambil menghela nafasnya.

“terima kasih Natsume…” ucap Eliza yang memeluk Natsume, kemudian Natsume dapat merasakan taring yang menancap dan menusuk lehernya, Natsume meringis kesakitan, dia merasakan darahnya di hisap perlahan oleh Eliza, setelah beberapa lama, Eliza melepaskan taringnya dari Natsume.

“sudah?” Tanya Natsume sambil tersenyum wajah Eliza memerah, kemudian dia kembali menunduk.

“s-sudah…” ucap Eliza, kemudian Natsume mengangkat Eliza dan membawanya pergi dari tempat itu, Eliza menatap Ravenhalt yang tidak sadarkan diri.

“sampai berjumpa lagi… diri ku…” ucap Eliza dalam hati.


***

Noctius dan Drounendal sedang berdiri di depan sebuah gedung, kemudian mereka mendengar suara langkah kaki, Noctius menoleh dan menatap ke arah Daichi dan Riku.

“ah… selamat datang di dunia delapan belas tahun yang lalu… Daichi, Riku…” ucap Noctius sambil tersenyum, Daichi mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke arah Noctius.

“jangan main-main… katakan di mana letak benda itu berada…” ucap Daichi, kemudian Noctius memperlihatkan senyumnya.

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment